
Malam ini adalah malam yang menjadi saksi, bagi Raffa dan Mika yang saat ini baru saja saling terbuka satu sama lain dan berjanji untuk memulai hubungan mereka agar lebih baik lagi.
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di rumah milik Arkan, Nayna baru saja masuk ke kamar setelah menemani Rezvan tidur.
"Mas," panggil Nayna pada suaminya yang tengah fokus pada laptop yang ada di pangkuannya.
Dia bergerak menaiki ranjang dan duduk di samping Arkan, dengan memasukkan kakinya ke selimut yang berada di ujung ranjang itu.
"Iya," sahut Arkan singkat, masih fokus pada laptopnya.
"Tadi apa yang Raffa bicarakan pada Mas?" tanya Nayna, jiwa kekepoannya meronta-meronta, ingin tahu tentang pembicaraan Arkan dan Raffa sesaat setelah mereka pulang dari restoran.
"Dia cuma cerita kalau Mika ternyata tidak hamil, Mika sudah mengatakan hal itu sejak lama," terang Arkan menjawab rasa penasaran istrinya itu.
"Kenapa Mika bilang kalau dia hamil sebelumnya?" Nayna menatap Arkan dengan heran.
"Katanya sih, jika dia melakukan hal itu karena takut dengan tekanan papanya yang memang memiliki niat tidak baik padanya, jadi melakukan kebohongan itu untuk berlindung saja."
"Oh gitu ya." Nayna mengangguk paham.
"Kamu bukannya teman dekat Mika, terus kenapa hubungan kalian kelihatannya tidak terlalu baik?"
Arkan mengalihkan perhatian dari layar laptop miliknya itu, dia kemudian menoleh pada Nayna yang terngah menyandar di kepala ranjang.
"Aku juga tidak mengerti Mas, pas kita naik ke kelas 12, sikap Mika berubah drastis, padahal sebelumnya baik-baik saja," sahut Nayna mengangkat bahunya.
"Apa kamu nyinggung dia sebelumnya?"
Nayna berpikir beberapa saat, memikirkan apa yang suaminya katakan itu, dia kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kayaknya tidak deh Mas, tapi tidak tau juga sih kalau aku memang melakukan kesalahan yang tidak sengaja aku lakukan."
"Mungkin emang seperti itu," sahut Arkan, kemudian kembali fokus pada laptopnya itu.
Nayna merubah posisinya, dia menyusupkan kepalanya pada pangkuan suaminya itu, hingga mau tak mau Arkan pun menghentikan pekerjaannya.
Dia menutup laptopnya dan menyimpan pekerjaannya itu ke nakas, kemudian menatap Nayna yang juga tengah menatapnya.
"Kenapa hemmm, kamu belum ngantuk?" tanya Arkan, mengusap lembut rambut Nayna.
"Belum Mas." Nayna menggeleng.
"Terus mau ngapain dulu, biar kamu ngantuk?" tanya Arkan tanpa menghentikan usapan di kepala istrinya itu.
"Tidak perlu ngapa-ngapain Mas, cukup ngobrol aja sampai aku ketiduran," sahut Nayna.
__ADS_1
"Kirain kamu mau olahraga malam dulu, biar bisa ngantuk."
Nayna memutar matanya malas dengan ucapan suaminya itu. "Itu sih pasti maunya kamu."
"Aku emang mau Sayang, udah beberapa hari loh, aku tidak nengokin anakku," ucap Arkan dengan tampang melasnya.
"Tapi aku lagi tidak mood Mas, kamu lupa apa yang dikatakan dokter, jangan terlalu sering, karena dia masih rentan," ucap Nayna mengusap perutnya.
Semenjak hamil, dia memang merasa nafsunya untuk bersenggama dengan suaminya sedikit menurun, tapi setelah menanyakan hal itu pada dokter kandungan, dokter mengatakan jika itu adalah hal yang biasa.
"Baiklah," sahut Arkan dengan lesu.
"Sabar ya Mas, mudah-mudahan ini cepat berlalu," ucap Nayna yang merasa kasihan pada suaminya itu, tapi dia juga tidak dapat memaksakan dirinya.
"Iya Sayang, aku pasti akan sabar, kita sebaiknya tidur sekarang, ini sudah malam,' ucap Arkan dengan lembut.
"Baiklah, ayo kita tidur Mas," sahut Nayna yang mulai membenarkan posisi tidurnya.
Arkan pun mengikuti apa yang Nayna lakukan itu, dia juga ikut merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.
"Selamat tidur istriku tercinta, selamat tidur juga anak Papa," ucap Arkan mengecup kening Nayna, lalu mengusap perut Nayna yang masih rata.
"Selamat tidur juga Papa Sayang," sahut Nayna menyusupkan tubuhnya ke tubuh suaminya.
Setelah mengucapkan selamat tidur, dengan memberikan beberapa kecupan manis, tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun terlelap.
Keesokan paginya.
Suara ketukan di pintu kamar pasangan yang masih tenang dengan mimpinya itu, membuat pasangan akhirnya itu terbangun.
"Ada apa Mas?" tanya Nayna dengan suara serak saat Arkan turun dari ranjangnya.
"Mbak Indah manggil, biar Mas lihat dulu," ucap Arkan, sambil berjalan menjauh dari ranjangnya.
Nayna pun mendudukkan dirinya, dia mengambil ponselnya dan melihat jam di benda pipih itu.
"Sudah subuh ternyata," gumam Nayna yang kemudian menatap ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh Arkan.
"Tuan, maaf mengganggu, tapi Den Rezvan dari tadi nangis mau sama Non Nayna."
Mendengar apa yang Indah ucapkan itu, Nayna pun segera turun dari ranjangnya, dia langsung berjalan ke samping suaminya yang masih berada di depan pintu.
"Rezvan kenapa Mbak?" tanya Nayna dengan panik.
"Den Rezvan badannya panas Non, jadi dia nangis mau sama Non, katanya," terang Indah.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Nayna pun segera berjalan ke arah kamar anaknya, disusul oleh Arkan dan Indah yang berjalan di belakangnya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Nayna sambil mengambil Rezvan yang tengah menangis di ranjang kecilnya.
"Ma-Ma, Lesvan tadi mim-pi buluk," sahut Rezvan dengan nada terputus-putus, karena tangisannya.
"Sttttt, sudah tudak apa-apa sekarang ada Mama sama Papa di sini, lagian itu juga cuma mimpi buruk, kamu tidak perlu takut ya," ucap Nayna berusaha menenangkan anaknya itu.
Rezvan tidak bicara lagi, dia hanya memeluk Nayna dengan erat disertai sisa-sisa tangis yang masih terdengar.
"Kenapa kita tidak mendengar kalau Rezvan nangis ya," ucap Nayna menatap suaminya yang tengah berdiri di sampingnya, mengusap punggung Rezvan.
"Tidak tau, mungkin baby monitor di kamar kita rusak Mas, apa monitor di kamar Mbak berfungsi?" tanya Nayna beralih menatap Indah yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Berfungsi Non, makanya tadi saya langsung ke sini karena Den Rezvan terus nangis sambil manggil-manggil Non Nayna," terang Indah.
"Syukurlah Mbak cepat datang, kalau tidak mungkin Rezvan akan terus nangis," ucap Nayna dengan lega.
"Badannya panas, apa kita anterin ke rumah sakin aja?" tanya Arkan, karena dapat merasakan suhu tubuh Rezvan ketika dia mengusap punggung anak itu.
"Kayaknya tidak perlu deh Mas, kita panggil aja dokternya ke sini, tau sendiri kan, sekarang Rezvan terlihat tidak nyaman kalau dibawa ke rumah sakit," tutur Nayna.
"Ya udah, nanti Mas panggil saja dokternya, kalau gitu Mas ke kamar mandi duluan ya, nanti biar bisa gantian gendong Rezvannya," ucap Arkan.
"Iya Mas." Nayna mengangguk.
Arkan pun mulai pergi kembali ke kamarnya, sementara Nayna masih berusaha menenangkan anaknya.
"Mbak Indah juga pergi dulu aja, nanti kalau aku butuh sesuatu dipanggil lagi." Nayna beralih pada Indah.
"Baiklah Non, kalau gitu saya mau ke bawah dulu ya," pamit Indah.
"Iya Mbak."
Kini tinggal Nayna dan Rezvan saja yang berada di kamar itu, anaknya itu masih memeluknya dengan erat.
"Sayang kamu baring lagi di ranjang ya," ucap Nayna berusaha membujuk anaknya itu.
Namun, Rezvan menggelengkan kepalanya dan semakin melingkarkan tangannya di leher Nayna dengan erat, tidak mau dilepas.
"Baiklah, tapi mamanya boleh duduk 'kan, kaki mama pegel kalau berdiri terus," ucap Nayna.
Rezvan mengangguk pertanda setuju dengan apa yang Nayna ucapkan itu, anak itu masih anteng menyandarkan kepala di pundak Nayna.
"Lesvan mimpi apa emang, sampai ketakutan seperti itu?" tanya Nayna sambil memgusap punggung anaknya itu.
__ADS_1
"Aku mimpi dikejal hantu Ma, hantu yang besal banget," sahut Rezvan.
"Itu cuma mimpi sayang, mimpi adalah bunga tidur," sahut Nayna memberikan beberapa kecupan di puncak kepala anaknya itu.