Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 57


__ADS_3

Arkan segera pulang saat pekerjaannya sudah selesai, sama seperti sebelumnya, di sepanjang perjalanan dia bersenandung ria dengan senyuman yang masih enggan untuk pergi dari wajahnya itu.


Baginya saat ini, dia merasakan jatuh cinta lebih dari dulu dia rasakan saat dia batu saja jadian dengan Listi, baginya kali ini lebih segala-galanya, entah mungkin karena dia memang sudah lupa rasanya, atau kehadiran Nayna benar-benar spesial dalam hidupnya.


"Aku bisa dianggap gila kalau seperti ini terus," gumamnya sambil memggeleng karena tidak memgerti dengan dirinya sendiri.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarainya pun telah sampai di depan rumahnya, dia menghentikan mobilnya dengan apik, setelah itu turun dan segera memasuki rumahnya.


Dia melepaskan jas dan dasi yang masih melekat di tubuhnya itu, setelah itu pergi menuju ke dapur karena dapat mendengar suara ribut dari sana, dia sudah bisa menebak jika saat ini Nayna tengah memasak untuk makan malam mereka.


Saat sampai di pintu dapur, dia tersenyum melihat istrinya yang tengah sibuk dengan peralatan memasak itu, dengan menyandar dan bersedekap di dinding pintu, dia memperhatikan setiap gerakan bumil yang masih belum menyadari keberadaannya itu seksama.


Rasanya tidak sabar, untuk dia bisa seperti suami-istri pada umumnya dengan istrinya itu, tapi dia sadar sekarang masih belum saatnya, harus ada beberapa pertimbangan agar dia tidak sampai salah langkah untuk ke depannya.


Meskipun dia bukan orang yang taat beribadah, tapi dia sadar ada beberapa hal yang harus dia perhatikan, sebagai seorang pria yang menikahi wanita yang berada di posisi Nayna itu.


"Sabar, kurang lebih empat bulanan lagi, kamu baru bisa menjadikannya istri yang sesungguhnya," gumamnya sambil melamun.


"Om udah pulang? Kenapa aku tidak mendengar suara mobil Om?" Nayna yang dapat mendengar suaranya, dia membalikkan badan dan menatapnya heran.


"Kamu terlalu sibuk, bagaimana bisa menyadari kedatangan aku," sahut Arkan yang mulai bergerak mendekati Nayna kemudian menciun keningnya.


"Aku kira Om bakal agak malam lagi pulangnya," sahut Nayna yang kembali menghadap pada kompor setelah menyalami Arkan, karena takut masakannya gosong.


"Bagaimana aku bisa pulang agak malam, kalau dari tadi aja kerja juga dipaksakan untuk fokus," sahut Arkan sambil menghela napas.


"Kenapa gitu Om?" tanya Nayna dengan polos, menatapnya heran.


"Aku terus memikirkanmu, aku bahkan sampai kena omel Ivan karena aku terus tersenyum," cerita Arkan apa adanya.


Nayna yang mendengar hal itu kembali menatap masakannya, dengan pipi yang terasa mulai panas.


"Emang Om kenapa, sampai senyum terus gitu?"


"Karena kamu, hanya mengingatmu saja aku merasa kalau aku seperti jadi orang yang baru mengenal jatuh cinta saja."


Blussss....

__ADS_1


Wajah Nayan semakin terasa panas, dia menggigit bibir bawahnya karena merasa gemas dan malu pada pria dewasa di sampingnya itu, tidak ingin Arkan menyadari hal itu, dia pun berdehem dan menyibukkan dirinya dengan masakannya.


"Om mandi dulu gih, setelah itu makan malam," ucap Nayna berusaha berusaha bersikap biasa saja dan mengalihkan pembicaraan, tanpa melihat ke arahnya.


"Kamu tidak membutuhkan bantuanku?" tanya Arkan.


"Tidak perlua Om, aku bisa sendiri, sebentar lagi beres kok," sahut Nayna menggeleng, tanpa menengok padanya.


"Baiklah, kalu gitu aku mau mandi dulu," sahut Arkan, akhirnya pergi keluar dari dapur, menuju ke kamarnya untuk mengambil baju ganti.


Nayna menghela napas lega, dia kemudian mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa masih panas, ucapan apa adanya dari Arkan itu, seolah air di sungai. Tenang namun menghanyutkan, membuat jantungnya harus bekerja ekstra.


"Kenapa Nay? Kamu kepanasan. Kalau panas biar aku aja yang gantiin."


Suara Arkan yang entah sudah dari kapan berada di belakangnya itu, membuat bumil itu tersentak kaget, dia tidak menyadari kedatangan pria itu ke dapur lagi.


"Eh— ti–tidak kok Om, barusan hanya sedikit panas saja, sekarang udah tidak apa-apa kok," sahut Nayna melihatnya dengan kaku.


"Yakin?" tanya Arkan meyakinkan.


"Iya yakin Om." Nayna mengangguk untuk meyakinkannya.


Setelah Arkan menutup pintunya, Nayna kembali menghela napas lega dan mengusap dadanya, tidak ingin kejadian yang tadi terulang lagi. Dia pun segera menyelesaikan masakannya itu dan menata hasil masakannya ke meja makan.


Dia memastikan jika semuanya siap, setelah yakin semuanya sudah siap. Bumil itu pun mulai mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada di sana, menunggu Arkan sambil memeriksa ponsel.


Ternyata ada sebuah pesan masuk dari Raffa, dia pun segera melihat pesan itu, hanya berisi Raffa yang menanyakan keadannya. Dia pun segera membalasnya.


"Chat-an sama siapa?" tanya Arkan sambil menarik kursi dan duduk di samping Nayna.


"Sama Raffa," ucap Nayna dengan sedikit ragu.


"Oh." Hanya itu sahutan dari Arkan.


"Om tidak merasa terganggu, jika aku dekat dengan Raffa?" selidik Nayna yang curiga dengan respon kalem dari suaminya itu.


"Tidak, karena aku tau, kalian berhubungan hanya demi anak kalian," sahut Arkan. Karena memanga tidak ada yang perlu dia khawatirkan dengan kedekatan Nayna dan keponakannya itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau tiba-tiba saja aku atau Raffa saling suka lagi?"


"Itu tidak mungkin," sahut Arkan dengan nada pelan, terlihat ada kesedihan di wajahnya itu.


"Maaf kalau aku sudah salah ngomong Om," ucap Nayna yang sadar akan perubahan dari Arkan itu.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita makan sekarang," ucap Arkan kembali tersenyum seolah tengah menyembunyikan sesuatu dari Nayna.


Nayna merasa sedikit curiga, dengan Arkan dan Raffa. saat pertemuan terkhir dengan Raffa, laki-laki itu terlihat bersemangat untuk membeli peralatan calon anak mereka.


[Tapi, takutnya aku yang tidak akan sempat.]


Ucapan Raffa itu, seolah terkandung makna lain di dalamnya, tapi dia segera menghilangkan tentang hal itu, dia hanya berdoa jika Raffa segera sembuh dari penyakitnya.


Meskipun bagi manusia hal itu tidak mungkin, tapi bukankah bagi Sang maha pemilik segala-Nya tidak ada hal yang tidak mungkin.


Dia ingin sekali bertanya pada Arkan tentang kondisi Raffa yang sebenarnya, tapi dia tidak ingin menghadirkan celah di antara mereka, apalagi saat ini hubungannya dan Arkan baru saja dimulai.


"Gimana pekerjaannya hari ini Om?" tanya Nayna membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam.


"Semuanya berjalan baik, meskipun hati dan pikiran aku sedang tidak baik," sahut Arkan santai.


"Kenapa gitu Om?" tanya Nayna penasaran.


"Seperti yang aku bilang tadi, kamu adalah sumbernya. Kamu tidak mau pergi dari pikiranku, meskipun hanya untuk sebentar saja."


'Ukhuk … ukhuk.' Nayna langsung tersedak mendengar hal itu, dia mengambil minum sedangkan Arkan dengan sigap mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


Setelah merasa cukup lega, Nayna mengambil oksigen sedalam-dalamnya, dia kemudian melayangkan tatapan kesal dengan bibir yang mengerucut maju.


"Om, jangan gombal saat makan bisa tidak, gara-gara Om aku tersedak jadinya," ucap Nayna dengan nada yang sedikit kesal.


"Siapa yang gombal, itu adalah kenyataannya, untuk apa aku gombal. Aku bukan pria yang pandai menggombal," sahut Arkan tidak terima dikatai gombal oleh Nayna.


Karena memang apa yang dia ucapkan itu benar-benar yang terjadi sebenarnya, bukan sekedar gombal seperti yang Nayna ucapkan tadi.


"Seharian ini aku memang memaksakan diri untuk berkonsentrasi, meskipun pikiranku terus saja memikirkanmu," sambung Arkan lagi.

__ADS_1


"Om sebaiknya makan dulu yang benar deh," ucap Nayna yang sudah tidak kuat mendengar ucapan Arkan lagi, dia masih sayang dengan jantungnya itu.


Mendapatkan prilaku secara intens seperti itu dari Arkan, membuatnya tidak bisa mengendalikan kondisi hatinya itu dengan baik.


__ADS_2