
Secara perlahan Nayna membawa langkah kakinya memasuki tempat makan cepat saji itu, tatapannya lurus pada pasangan yang masih mengobrol dengan akrab dan sesekali saling tersenyum dan tertawa.
Matanya sebenarnya sudah memanas sejak tadi, tapi dia menahan air mata agar tidak turun saat ini, dia tidak boleh terlihat lemah dihadapan pasangan itu, Nayna harus berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan pria itu.
Pria yang memberikannya kenangan indah dan pahit secara bersamaan, pria yang menjadi alasannya menangis karena merenungi nasib, menangis karena menjadi orang yang terasingkan bagi keluarga, bahkan orang-tuanya.
Di saat luka yang dia rasakan belum terobati sama sekali, tapi kini, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat, pria yang menjadi alasan kesedihannya itu, tengah saling bersenda gurau dengan wanita yang entah memiliki hubungan apa dengannya.
Nayna mulai menghentikan langkahnya tepat di depan meja pria yang masih sama, seperti beberapa bulan lalu saat terkhir kali mereka bertemu, tatapan tajam dia layangkan pada pria yang baru saja menyadari keberadaannya itu.
"Nay," panggil Rafa dengan wajah yang terlihat kaget campur gugup, saat melihat keberadaannya itu.
"Jadi ini alasan kamu menghilang tanpa kabar selama ini!" sinis Nayna pada Raffa.
"Aku bisa jelasin Nay," ucap Raffa yang langsung berdiri di hadapan Nayna.
"Aku sudah tidak membutuhkan penjelasan darimu lagi, apa yang aku lihat ini sudah menjelaskan semuanya, aku berdiri di sini bukan untuk mendengar penjelasan atau pembelaan darimu." Nayna menatap Raffa dan wanita yang juga tengah menatapnya dengan santai itu dengan tajam.
"Selamat untuk kalian, dan untukmu, aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita, jangan pernah sekali pun kamu mencoba menghubungi aku lagi!"
Setelah mengatakan hal itu Nayna berbalik, melangkah keluar dari tempat itu, sedangkan Raffa berusaha menahannya, tapi tidak dia hiraukan.
"Nay, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku," ucap Raffa berusaha mengejar Nayna.
Sadar Raffa mengikutinya Nayna berjalan dengan langkah cepat, bahkan setengah berlari, dia bahkan tidak memikirkan bagaimana jika saat ini dirinya jatuh dan membahayakan kandungnya.
Saat ini yang dia inginkan, hanya agar segera menjauh dari pria itu, meskipun beberapa kali menabrak orang lain, tapi dia juga tidak peduli, dia ingin segera pergi dari sana.
"Nay aku mohon, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan, kenapa aku bisa pergi gitu aja," ucap Raffa yang sudah menangkap tangan Nayna, hingga langkah Nayna yang sudah sampai di lobby mall itu terhenti.
Napas Nayna memburu, bukan hanya karena capai, tapi karena rasa marah, kecewa, benci, dan sakit yang timbul di hatinya itu, ingin rasanya dia memaki, mencaci, bahkan menghardik pria yang saat ini tengah memohon untuk didengar olehnya itu.
__ADS_1
Namun, dia tahan berbagai umpatan dan cacian untuk pria itu, dia tidak ingin semua itu berpengaruh pada calon anaknya, dia tidak ingin menjadi dampak buruk pada anaknya yang masih dalam kandungannya itu, jika dia mengatakan hal-hal yang buruk.
"Lepas!" Nayna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Raffa dengan kasar.
"Aku tidak akan lepaskan jika kamu tidak mau mendengarkan penjelasan aku dulu," ucap Raffa menatap Nayna dengan tatapan memohon.
"Baiklah, aku akan mendengarkan, tapi lepaskan tangannku," sahut Nayna menghela napas pasrah.
Cengkraman tangan Raffa secara perlahan mulai terlepas, Nayna masih menunggu apa yang mau dikatakan oleh Raffa selanjutnya.
Sementara Raffa tidak langsung bicara, dia beberapa kali menghela napas dan baru saja dia akan mulai berbicara, wanita yang tadi bersamanya ternyata menyusul mereka, bahkan kini wanita itu dengan berani melingkarkan tangannya di lengan Raffa.
Melihat hal itu membuat Nayna yang semula akan memberikan kesempatan pada Raffa untuk berbicara, menjadi urung, apalagi saat melihat ekspresi Raffa yang terlihat tidak merasa risih sedikit pun dengan apa yang wanita itu lakukan.
Nayna menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan hatinya yang kembali bergejolak, bohong besar jika dia tidak sakit hati melihat pemandangan seperti itu di depan matanya, kini dia semakin yakin, jika memang wanita itulah alasan Raffa meninggalkannya begitu saja.
"Sepertinya kamu tidak perlu menjelaskan apa pun lagi, ingat apa yang aku katakan tadi, jangan pernah menghubungi aku lagi," ucap Nayna membuang pandangan ke arah lain.
"Aku saat ini sudah menikah, aku tidak ingin suamiku berpikiran yang tidak-tidak, jika sampai dia tau, kalau ada pria lain yang menghubungiku!" Nayna memotong ucapan Raffa dengan tegas.
Raffa yang mendengar hal itu, menatap Nayna tidak percaya, dapat dilihat dari ekspresi wajahnya, jika dia sangat kaget dengan apa yang baru saja didengarnya itu.
"Kamu pasti bohong, kan Nay!" lirih Raffa menatap Nayna dalam.
"Tidak ada gunanya aku bohong, saat ini statusku adalah seorang istri, jadi aku harap kamu tau diri dan tidak menghubungi aku lagi." Nayna berusaha bersikap baik-baik saja, agar tidak terlihat menyedihkan di depan Raffa dan wanita yang masih bergelayut mesra di lengannya itu.
Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Nyan pun berniat akan kembali melanjutkan langkahnya, tapi dia kembali berhenti dan menatap Raffa yang masih mematung dan menatapnya tak percaya.
"Dan satu lagi, semoga kamu hidup bahagia."
Setelah mengatakan itu, Nayna benar-benar melanjutkan langkahnya dengan cukup cepat, dia ingin segera sampai di motor Arkan.
__ADS_1
Setelah sampai di motor Arkan, dia segera mengambil helm dan menaiki motor di mana Arkan tengah menunggunya di atas motornya itu.
"Ayo cepat jalan Om," ucap Nayna sambil memakai helm.
"Kamu sudah selesai membeli barang yang kamu butuhkan?" tanya Arkan sambil menghidupkan motornya.
"Sudah," sahut Nayna singkat.
"Baiklah, kalau gitu kita langsung pulang," ucap Arkan tak lama kemudian motornya itu mulai melaju, meninggalkan pelataran mall itu.
Nayna sempat melihat ke belakang, ternyata saat itu Raffa tengah berdiri di tengah parkiran dan menatap ke arahnya, Nayna kemudian mengusap perutnya yang sudah terlihat sedikit membucit itu.
Kita tidak membutuhkannya ya, Nak. Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya, kita jalanin saja kehidupan kita berdua kelak. Batin Nayna.
Ya, Nayna memang masih tetap pada niat awalnya, dia akan pergi dari kehidupan Arkan setelah usia kandungannya sudah lebih besar lagi, dia tidak ingin berada di dekat pria itu dan mengganggu kehidupannya.
Meskipun saat ini hubungan mereka sudah lebih baik, tapi tidak terlintas sedikit pun dalam benaknya, jika dia ingin terus menjadi istri Arkan, dia tidak ingin menjadi batu sandungan Arkan dalam hidupnya.
Walau bagaimanapun, Arkan berhak bahagia dengan kehidupannya, memiliki istri dan anak yang dia cintai dan sayangi, memiliki kehidupan rumah tangga yang normal.
"Apa kamu mau sesuatu lagi?" tanya Arkan dengan suara yang cukup keras.
"Tidak Om, aku mau langsung pulang saja," sahut Nayna.
"Baiklah."
Arkan mulai menjalankan motornya ke arah rumahnya, sementara Nayna sibuk dengan pikirannya, bayangan pertemuan dengan Raffa membuat dadanya terasa sesak, apalagi saat melihat pria itu tampak baik-baik saja dan bahagia dengan wanita di sampingnya.
Bohong besar, jika saat ini dia mengatakan kalau dia baik-baik saja, melihat pria yang masih ada di hatinya tampak bahagia dengan wanita lain, di saat dirinya tengah berjuang mempertahankan anaknya, dia tidaklah sekuat itu.
Nayna menangis dalam diam, berusaha sekuat tenaga untuk tidak bersuara agar Arkan tidak mendengar tangisannya itu.
__ADS_1
Kenapa sesakit ini Tuhan, kenapa engkau hadirkan dia di depanku lagi jika hanya sakit yang kembali kurasakan. Batin Nayna lirih.