Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 40


__ADS_3

'Tuutt … tuutt'


'Halo Nay, ada apa? Apa kamu baik-baik saja.' Sebuah suara yang berasal dari ponselnya itu membuat Nayna tidak langsung menyahutinya.


Wanita hamil itu kini malah diam tanpa suara, mendengar suara khawatir dari orang di seberangnya itu, membuat Nayna beberapa kali menghela napasnya, sebelum akhirnya mulai bersuara.


"Besok bisakah kita ketemu, di cafe …," ucap Nayna tanpa menjawab ucapan Raffa sebelumnya.


'Apa kamu yakin?' tanya Raffa mencoba meyakinkannya.


"Iya, aku tunggu." Setelah mengatakan hal itu Nayna pun mengakhiri panggilan itu, secara sepihak tanpa mendengar sahutan dari Raffa lagi.


Dia mengusap dada dan menghela napas beberapa kali, untuk meyakinkan dirinya, jika apa yang dia lakukan itu sudah benar.


Mendengar penjelasan dari lelaki itu, membuat keyakinan Nayna yang semula ingin menjauh, menjadi goyah, entah kenapa hatinya seolah meminta agar dia memberikan kesempatan untuk lelaki itu.


Bukan kesmpatan sebagai pasangan, lebih tepatnya sebagai ayah dari anaknya, karena meskipun nanti dia dan Arkan berpisah, dia sudah menyusun rencana untuk memulai hidupnya itu dengan fokus pada anaknya, tidak ingin memusingkan diri dengan pasangan.


"Semoga saja keputusan yang sudah coba aku susun tidak goyah dan berubah," gumamannya lagi.


Dia tidak bisa meyakinkan dirinya untuk tetap teguh pada keputusan yang akan dia ambil kedepannya, karena bisa saja nanti dia berubah pikiran, sepertinya hal yang wajar jika di umur saat ini, terkadang masih labil dengan setiap keputusan, bisa saja hari ini memutuskan A dan besoknya berubah menjadi B.


Nayna terus bergumam dengan menatap kosong di depannya, dia lupa menutup pintu kamarnya, hingga apa yang dia gumamkan dan percakapannya dengan Raffa terdengar oleh Arkan yang ternyata sudah pulang.


Melihat Nayna yang tengah asyik dengan dunianya itu, Arkan memilih tidak mengusiknya, dia berlalu memasuki kamarnya, lalu dia pun duduk di pinggir ranjang dengan pikiran melayang.


"Mungkin itu yang terbaik," gumamnya dengan disertai helaan napas yang cukup panjang.


"Om!" panggil Nayna dari balik pintu kamarnya itu sambil mengetuk pintu.


Pria itu pun beranjak ke arah pintu dan segera membukanya, dia menatap bumil muda yang tengah memasang senyum seperti biasa itu, dengan tatapan bertanya.


"Om kapan pulangnya? Kok aku tidak mendengar suara motor Om?" tanya Nayna menatapnya dengan heran.


"Aku baru aja datang, mungkin kamu terlalu sibuk sampai tidak mendengarnya," sahut Arkan santai.


Sementara Nayna merasa lain, dia merasa Arkan saat ini tengah menyindirnya, bumil itu pun yakin, jika barusan pria yang jauh lebih tinggi dan lebih tua darinya itu, mendengar percakapannya di telepon.

__ADS_1


"Maaf Om, tadi aku sedang menelepon seseorang," terang Nayna mendudukkan kepala, tidak enak dengan Arkan.


"Menelepon siapa? Apa itu orang-tuamu?" Pancing Arkan menatap Nayna dengan tatapan menuntut.


"I—itu, eummmm, i–tu adalah mantan pacarku," gugup Nayna yang semakin dalam menunduk, tidak berani menatap Arkan secara langsung.


"Apa itu ayahnyaa?" tanya Arkan, menunjuk perutnya menggunakan isyarat mata.


Secara perlahan bumil muda itu pun mengangguk dengan hati-hati, dia melihat ujung kakinya, takut menunggu apa yang Arkan lakukan selanjutnya, tapi tidak respon apa pun pria itu.


Beberapa detik pun berlalu, Nayna secara perlahan mulai mengangkat kepala dan menatap dalam Arkan.


"Sebenarnya aku udah beberapa kali bertemu dengannya lagi dan sekarang dia sudah tau kalau aku hamil anaknya," terang Nayna.


"Terus?"


"Dia juga beberapa hari yang lalu, menemui aku lagi dan menjelaskan alasan kenapa dulu dia pergi gitu aja, dia juga mengatakan kalau dia ingin bertanggung jawab," sambung Nayna menatapnya dengan cemas, menunggu reaksi yang akan suaminya itu berikan.


"Bagus dong kalau gitu," ucap Arkan dengan santai. seolah secara tidak langsung dia mengijinkan Nayna berhubungan dengan pria lain.


"Ta–tapi Om." Nayna menatapnya tak percaya.


"Apa Om, tidak keberatan jika aku berhubungan dengannya?" tanya Nayna kembali menurunkan pandangannya.


"Kenapa aku harus keberatan, bukankah itu baik jika dia sudah mau bertanggung jawab."


Mendapat sikap Arkan yang seolah acuh tak acuh padanya seperti itu, membuat Nayna tidak senang, dia kemudian memejamkan mata dan menghela napas sedalam-dalamnya menghilangkan rasa kecewa dan sedih yang tiba-tiba hadir.


"Om udah makan belum?" Akhirnya Nayna memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Belum, kamu sendiri? Kamu masak gak hari ini?" Arkan balik bertanya.


"Aku belum masak Om."


"Baiklah kalau gitu, biar aku pesan aja ya," sahut Arkan setelah bergerak mengambil ponselnya dari saku celananya.


Arkan memesan makanan sambil berjalan ke arah sofa, dia kemudian mendudukkan dirinya di sofa, sedangkan Nayna hanya mengekor di belakangnya sambil melamun.

__ADS_1


Apa yang kamu harapkan Nay? Om Arkan tidak setuju dengan niat kamu itu dan melarang kamu berhubungan dengan Raffa gitu, punya alasan kuat apa Om Arkan, hingga harus seperti itu. Batin Nayna yang seolah tidak rela jika Arkan membiarkan dia berhubungan dengan Raffa begitu saja.


Namun, dia harus sadar diri, siapa dirinya itu. Dia hanya seorang yang menarik Arkan untuk masuk ke dalam permainannya dan sekarang, dia harus kembali sadar diri, dengan tidak menyimpan perasaan apa pun pada pria itu.


"Kenapa?"


Mendengar pertanyaan itu, Nayna langsung mengalihkan perhatian pada Arkan yang menatapnya dengan kening mengerut.


"Tidak kenapa-napa Om, oh iya gimana kondisi Fasya?" Nayna segera mengalihkan pertanyaan.


"Dia sudah baik-baik saja, kemarin dia hanya terlalu banyak pikiran, jadi kambuh lagi," ucap Arkan.


"Oh, syukurlah kalau dia baik-baik saja."


"Oh iya, Om katanya mau temuin aku sama dia, kapan Om?" tanya Nayna dengan wajah seriusnya.


Arkan tidak langsung menjawab, dia hanya diam sambil menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak dia mengerti, arti dari tatapan itu.


"Kenapa Om?" tanya Nayan menatapnya dengan heran.


"Tidak kenapa-napa." Geleng Arkan.


"Nanti juga pasti aku akan ajak kamu ketemu sama dia, setelah kondisinya sudah lebih baik dan dia mau ketemu sama kamu," sambung Arkan yang entah kenapa, Nayna merasa ada keraguan dalam ucapannya itu.


"Apa Om sudah menceritakan tentang pernikahan kita ini padanya?" tanya Nayna yang tidak langsung mendapat sahutan dari lawan bicaranya itu.


Melihat reaksi Arkan yang seperti itu, Nayna mengangguk paham. Dia kemudian tersenyum pada pria itu.


"Om pasti tidak menceritakan tentang pernikahan kita pada keponakan Om itu ya," ucap Nayna.


"Aku hanya belum sempat saja, karena akhir-akhir ini kondisinya memang naik turun, tidak stabil," terang Arkan berusaha memberikan penjelasan agar Nayna tidak salah paham.


"Iya tidak apa-apa Om, aku ngerti kok, lagian pernikahan ini juga tidak akan lama lagi, kan?"


"Bukan gitu maksud ak—"


"Kayaknya pengantar makanannya sudah datang Om," potong Nayna karena ada yang mengetuk pintu rumah itu.

__ADS_1


Arkan mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu yang ternyata sudah ada kurir yang mengantarkan makanan yang dipesannya.


__ADS_2