Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 97


__ADS_3

"Non, ini sarapannya," ucap Bibi saat memasuki kamar Raffa.


"Iya, makasih Bi," sahut Mika, lalu mengambil alih makanan itu dari tangan Bibi.


Mika pun mulai menyuapkan makanan itu, sedikit demi sedikit ke mulutnya, sedangkan Bibi menyiapkan air minum dan obat untuknya di nakas.


"Bibi udah sarapan belum?" tanya Mika di tengah-tengah sarapannya.


"Udah Non, Bibi sarapan dulu sebelum mengantarkan sarapan untuk Non," sahut Bibi.


"Syukurlah kalau gitu." Mika meneruskan sarapannya, hingga piringnya kosong.


Dia melanjutkannya dengan meminum obat, setelah itu dia menyimpan kembali gelas yang hampir kosong itu ke nampan, di atas nakas.


"Non gimana kondisinya sekarang?" tanya Bibi yang berdiri di samping ranjang.


"Sudah lebih Baik Bi, tinggal lemesnya aja, Bibi duduklah jangan berdiri kayak gitu," tutur Mika sambil menepuk tempat di pinggir ranjang.


Tanpa membantah, Bibi pun mulai duduk di si pinggir ranjang, berhadapan dengan Mika yang masih menyandar pada tumpukan bantal.


"Oh iya Bi, Bibi udah berapa lama kerja sama Raffa?" tanya Mika, memulai percakapan ketika Bibi sudah duduk.


"Bibi kerja udah cukup lama, dulu Bibi jadi pengasuh Den Raffa dari dia baru lahir, tapi saat kedua orang-tua Den Raffa meninggal, Den Arkan meminta Bibi untuk berhenti dulu, karena dia bilang, kalau dia takut tidak bisa bayar gaji Bibi."


"Terus saat itu, apa Bibi langsung pergi?"


"Bibi terpaksa pergi, karena kebetulan saat itu juga suami Bibi minta buat Bibi berhenti dulu kerja," terang Bibi.


"Apa Bibi tau bagaimana kehidupan Raffa dan omnya itu?"


"Bibi tidak tau dengan pastinya Non, tapi sebelum Bibi berhenti, keadaan mereka tidak begitu baik. Bibi ingat setelah kematian kedua orang-tua Den Raffa, saudara-saudara papanya Den Raffa datang ke sini."


"Untuk apa Bi?"


"Mereka meminta seluruh aset milik papanya Den Raffa dengan mengatakan jika seluruh aset itu adalah milik almarhum kakek Den Raffa."


"Itu artinya setelah itu mereka menjalani hidup yang cukup sulit."


"Pastinya iya Non, itulah alasan kenapa Den Raffa sangat menyayangi Den Arkan, apalagi saat dia mengidap kanker, Den Arkan mati-matian untuk kesembuhan Den Raffa, dan menjaga Den Raffa dengan sungguh-sungguh."


"Apa! Raffa pernah sakit kanker?" Mika menatap Bibi dengan tak percaya.


"Iya, sekitar empat tahun yang lalu, saat Bibi baru bekerja lagi ke sini, Den Raffa saat itu dalam keadaan sakit yang cukup serius, itu sebabnya Den Arkan minta Bibi untuk menjaga Den Raffa," terang Bibi.


"Raffa sakit apa? Apa Bibi tau?"


"Sakit leukemia."


Mika menatap Bibi tak percaya pada wanita di depannya itu, benarkah pria itu pernah mengalami sakit yang cukup parah seperti itu.

__ADS_1


"Terus, apa sekarang dia masih sakit?" tanya Mika menatap lawan bicaranya itu dengan serius.


Semenjak sering bertemu dengan Raffa, dia tidak pernah melihat Raffa yang tidak sehat, pria itu selalu terlihat sehat-sehat aja.


"Sudah tidak lagi Non, tidak lama setelah Non Nayna melahirkan, Den Raffa juga menjalani operasi." Bibi menggelengkan kepalanya.


Mika mengangguk, dia kemudian teringat tentang Nayna dan suaminya yang tidak lain adalah om dari Raffa itu.


"Oh iya Bi, apa Bibi tau kapan omnya Raffa itu menikah?" tanya Mika.


"Saya juga tidak begitu tau kapan yang pastinya, saya taunya saat Den Raffa masuk rumah sakit, Den Arkan datang dengan Non Nayna dan baru tau saat itu, kalau ternyata Den Arkan sudah menikah."


"Oh gitu." Mika kembali mengangguk paham.


"Tapi resepsi pernikahan mereka diadakan setelah Non Nayna melahirkan dan saat Den Raffa sudah mulai sehat."


Mika kembali mengangguk lagi, dia memasang senyum pada wanita yang sudah setengah baya itu.


"Om Arkan benar-benar terlihat sangat menyayangi Raffa ya Bi."


"Iya begitu pun sebaliknya, Den Raffa juga terlihat sangat menyanyangi omnya itu, itu wajar sih karena semenjak kedua orang-tua Den Raffa meninggal, hanya Den Arkan mengurusnya."


"Bibi jadi inget saat Non Nayna mau melahirkan, Den Raffa terlihat benar-benar panik juga khawatir, dia bahkan beberapa kali ingin pergi dari ruangan tempatnya dirawat, padahal beberapa hari sebelum itu Den Raffa sempat koma."


"Raffa terlihat sangat panik?" tanya Mika memastikannya lagi.


"Iya Non, bahkan Bibi berpikir dia seperti seorang suami yang tengah mengahadapi persalinan istrinya dan menunggu kelahiran anaknya," kekeh Bibi.


Mika merasa tak nyaman mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh wanita di depannya itu, ada rasa ngilu samar yang terasa di hatinya.


"Apa Raffa terlihat begitu panik?" monolog Mika dengan tatapan kosong.


"Iya Non, sepertinya dia panik karena saat itu Den Arkan sedang tidak ada di sini, Den Arkan sedang keluar negeri," terang Bibi, berusaha menjelaskan situasi saat itu.


"Apa Bibi dulu sempat melihat interaksi aneh antara Nayna sama Raffa?"


"Tidak ada Non, Non Nayna sama Den Raffa bersikap biasa saja." Bibi menggelengkan kepalanya saat menjawab apa yang Mika tanyakan itu.


"Eumm gitu ya Bi." Mika pun kembali mengangguk paham.


"Oh iya Bi, aku mau istirahat dulu ya," ucap Mika.


"Baiklah Non, istilah lagi saja, nanti kalau butuh apa-apa panggil aja Bibi ya," sahut Bibi mulai bangun dari tempatnya semula.


"Iya Bi, makasih ya."


"Iya sama-sama Non, kalau gitu Bibi ke bawah dulu ya," pamit Bibi sambil mengambil nampan yang berisi piring dan gelas kotor.


"Iya Bi."

__ADS_1


Mika mengangguk, tapi setelah Bibi tidak terlihat lagi bukannya istirahat seperti apa yang dia katakan sebelumnya. Dia malah kembali melamun, memikirkan tentang obrolan dia dan Bibi barusan.


"Apa karena sakit itu ya, Nayna sama Raffa pisah, jika seandainya Raffa tidak sakit, mungkin saat ini mereka sudah bersama."


"Apa sebenarnya mereka masih saling mencintai, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk bersama, hingga mereka bersikap seoleh tidak ada apa pun."


Pikiran Mika melanglang buana, mengira-ngira tentang hubungan Nayna dan Raffa sebelumnya, semakin dipikirkan rasanya membuat dia semakin sedih.


Namun, entah kenapa pikiran seperti itu seolah betah dalam kepalanya, terus terpikir, apalagi ketika melihat Raffa yang begitu menyanyangi Rezvan.


Tidak jarang, dia memergoki Raffa tengah terkekeh sendiri, saat melihat video yang menampilkan Rezvan tengah bermain.


...********...


Saat matahari sudah mulai kembali keperaduan, Mika yang sudah merasa baikan, segera pergi ke dapur saat sudah selesai membersihkan dirinya.


Di tengah-tengah kesibukannya membantu Bibi menyiapkan makan malam, tiba-tiba sebuah suara dari arah pintu dapur mengalihkan atensinya pada asal suara itu.


"Kamu sudah baikan Mik, kok udah berada di dapur?"


Raffa yang masih mengenakan setelah kerja lengkap itu, kini tengah berdiri di ambang pintu dapur menatapnya yang tengah sibuk dengan masakannya.


"Iya nih Den, padahal udah Bibi larang untuk jangan bantuin, tapi maksa mau bantuin Bibi," sahut Bibi yang tengah menatap meja makan.


"Aku udah baik-baik aja, ini buktinya aku udah ada di sini," sahut Mika tersenyum, lalu kembali menyibukkan dirinya dengan kuali yang terisi masakan itu.


"Ya udah kalau gitu," sahut Raffa mengangguk samar.


"Kamu bersih-bersih dulu gih, sebentar lagi makanannya matang, setelah kita langsung makan malam," ucap Mika tanpa melihat ke arahnya lagi.


"Baiklah, aku bersih-bersih dulu kalau gitu."


Raffa pun pergi dari dapur, dia membersihkan dirinya. Sedangkan Mika dan Bibi membereskan makanan mereka, lalu menatanya di meja makan.


Tidak membutuhkan waktu telalu lama, Raffa pun sudah kembali ke meja makan dan mereka pun mulai makan malam mereka, sedangkan Bibi sibuk mencuci peralatan kotor di wastafel.


"Gimana kerjaan kamu Raf?" tanya Mika memulai percakapan di tengah-tengah makan mereka.


"Baik kok," sahut Raffa.


"Kapan acara wisuda kamu?" tanya Mika lagi.


"Sekitar satu bulanan lagi."


"Selamat ya Raf, kamu udah lulus S1 kamu," ucap Mika tersenyum.


"Iya makasih, oh iya aku ada rencana kita bikin baju couple ya untuk acara nanti."


Mendengar hal itu Mika tentu saja mengangguk antusias, tapi kata yang Raffa ucapkan setelahnya membuat dia tersenyum kecut.

__ADS_1


"Om Arkan, Nayna sama Rezvan juga bakal baju yang sama kayak kita, biar nanti terlihat kompak."


Mendengar hal itu, Mika hanya bisa berusaha tersenyum dan mengagguk samar sambil terus makan.


__ADS_2