
Mika saat ini tengah mendudukan dirinya di pinggir ranjang miliknya, sudah sejak dia sampai di rumahnya itu, dia masih belum beranjak dari posisinya sekarang.
Di tangannya itu masih dia genggam dengan erat, sebuah testpack yang entah milik siapa, bahkan dompet milik wanita itu pun, tidak sempat dia ambil lagi karena di restoran tadi dia langsung diseret oleh papanya.
"Apa Raffa nanti akan membenciku jika tau, kalau sebenarnya aku telah berbohong, aku tidak pernah hamil." Mika menatap kosong testpack yang menunjukkan garis dua itu.
"Dia pasti akan benci sama aku, jika tau kebenaran ini nantinya."
Dia tahu, resiko yang harus diterimanya nanti, saat Raffa tahu tentang kebohongan dirinya, itu pasti akan dibenci oleh pria yang sudah dia sukai sejak lama itu.
Namun, meskipun nanti dia dibenci bahkan ditinggalkan oleh Raffa, itu tidak masalah baginya, karena setidaknya sudah pernah menjadi bagian dari hidup Raffa pun, dia sudah merasa senang.
Meskipun singkat, tapi dia sudah dapat merasakan berada di samping pria itu, bahkan menjadi pasangan pria yang dia kagumi dalam diam itu.
Di tengah-tengah lamunannya itu, terdengar suara pintu kamarnya diketuk dari arah luar, hingga membuat dia segera memasukkan kembali benda yang dari tadi dipegangnya itu ke dalam tasnya.
"Masuk Bi," sahutnya pada si pengetuk pintu.
"Non, kata bapak, cepat siap-siap, biar nanti pas tamunya datang Non Mika sudah siap," ucap wanita yang bekerja sebagai Art di rumahnya itu.
Artnya hanya berdiri di depan pintu kamarnya itu, tidak masuk lebih dalam lagi ke kamarnya.
"Iya Bi," sahut Mika menganggukkan kepala.
"Kalau gitu saya ke dapur lagi ya Non, mau siapkan makanan untuk jamuan tamu nanti," pamit Artnya itu.
Mika hanya mengangguk, setelah pintu kamarnya kembali ditutup oleh Artnya itu, dia pun segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, kini dia telah selesai bersih-bersih, dia segera mencari pakaian yang cocok untuknya malam ini.
...*******...
Sementara di lain tempat, kini Arkan dan Nayna sudah siap dengan baju couple mereka, Nayna memakai dress casual berwarna hitam dengan aksen mutiara di pinggangnya, serta di tangannya yang hanya sampai sikut. Senada dengan kemeja, serta celana yang Arkan kenakan.
"Kita jemput dulu Raffa Mas?" tanya Nayna menghampiri Arkan yang masih mengancingkan kancing kemejanya.
"Iya," sahut Arkan mengangguk.
Nayna pun mengangguk, dia kemudian mengambil tas selempang berwarna hitamnya, lalu memasukkan ponsel dan dompetnya.
Setelah dirasa siap, mereka pun segera pergi, menuju ke rumah Raffa terlebih dahulu untuk menjemputnya, saat sampai di rumah pria itu, ternyata dia sudah siap dan tengah menunggu mereka di teras rumahnya.
"Om, aku ikut mobil kalian boleh tidak? Aku males nyetir," ucap Raffa pada Arkan yang tidak turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Iya masuklah," ucap Arkan yang kini tengah duduk di balik setir, sedangkan Nayna duduk di sampingnya.
"Makasih Om," ucap Raffa saat dia sudah mendudukkan dirinya di kursi penumpang.
Tidak mengulur waktu lagi, Arkan pun kembali menjalankan mobil itu, menuju ke tempat yang Raffa sebutkan tadi, selama perjalanan itu berlalu, mereka bertiga sesekali berbincang untuk memecah keheningan.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 40 menit, kini mobil mereka telah berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang cukup besar.
"Yakin di sini tempatnya?" tanya Nayna saat melihat rumah itu.
Dia tentu saja ingat rumah itu, karena dulu saat sekolah dia cukup sering pergi dan bermain di rumah itu.
"Iya dari alamatnya sih bener ini, kenapa gitu Yang" sahut Arkan dengan heran karena melihat ekspresi Nayna.
"Kamu sering ke sini ya dulu?" tanya Raffa, membuat Nayna menoleh ke kursi belakang, menatap Raffa tak percaya.
"Jangan bilang—"
"Iya, wanita yang aku maksud adalah Mika, teman kamu," potong Raffa sambil tersenyum tipis.
Sementara Nayna, membelalakan matanya tak percaya.
"Sudah, nanti saja kita bahas lagi itunya, sekarang sebaiknya kita turun dulu," ucap Arkan karena kini mereka sudah memasuki gerbang rumah itu dan berhenti di depan teras rumah itu.
Akhirnya Nayna pun memilih menyimpan keterkejutannya dan mengikuti gerakan suaminya yang sudah mulai turun dari mobil itu.
Arkan berjalan memimpin dan mengetuk pintu rumah itu, tak lama kemudian pintu pun terbuka menampilkan sosok yang cukup Nayna kenali juga.
"Lho Non Nayna," ucap Art Mika saat melihatnya.
"Hai Bi, gimana kabar Bibi?" sapa Nayna dengan ramah.
"Alhamdulillah baik Non, silakan masuk Non sama Mas-Masnya," ucap Art itu sambil membuka pintu lebih lebar.
"Terima kasih Bu," ucap Arkan dengan ramah.
"Sama-sama Mas," sahut Art Mika menunduk hormat.
Mereka bertiga pun mulai masuk ke dalam rumah itu yang ternyata langsung disambut oleh Tirta dan Mika yang baru saja menuju ke ruang utama.
"Selamat malam, saya kira kamu tidak akan datang," sapa Tirta berbasa-basi pada Raffa.
"Saya pasti akan menepati apa yang saya ucapkan itu," sahut Raffa santai.
__ADS_1
"Oh iya Om, ini papanya Mika," sambung Raffa beralih pada Arkan.
"Selamat malam Pak, saya Arkan Omnya Raffa dan ini istri saya," sapa Arkan mengulurkan tangannya pada Tirta.
"Saya Tirta, Papanya Mika. Saya sepertinya tidak asing denganmu?" Tirta menerima uluran tangan Arkan, lalu menatap Nayna.
"Saya temannya Mika Om, dulu sering ke sini juga," sahut Nayna dengan wajah ramahnya.
Sementara Mika saat ini hanya bungkam, di samping papanya itu, dia tidak percaya jika Nayna ternyata adalah istri dari Omnya Raffa.
"Kenapa hanya kalian? Mana kedua orang-tua Raffa?" tanya Tirta, melihat ke arah belakang mereka.
"Orang-tua Raffa telah meninggal, jadi saat ini sayalah yang bertanggung jawab atas Raffa," sahut Arkan dengan nada sedikit tegas.
"Baiklah, kalau gitu ayo kita duduk dulu dan mulai membahas apa yang tadi saya dan keponakan anda bicarakan."
Tirta berjalan lebih dulu, menuntun mereka bertiga menuju ke ruang tamu yang tidak jauh dari ruang utama itu.
Setelah semuanya telah duduk, Tirta kemudian membuka suara lagi, berbicara pada Arkan, membahas masalah sebelumnya.
"Jadi apa anda benar-benar bisa membantu saya, menangani masalah perusahaan, sebagai syarat keponakan anda untuk menikahi anak saya?" tanya Tirta yang langsung ke intinya.
"Jika keponakan saya sudah memutuskan hal itu, maka saya akan mendukungnya, perusahaan yang saya kelola saat ini akan menyuntikkan dana pada perusahaan anda, tapi setelah ini atau setelah Mika sama Raffa menikah, anda jangan menganggu mereka lagi," terang Arkan menatap Tirta dengan serius.
"Baiklah saya setuju, asal saya mendapatkan bantuan untuk perusahaan saya, saya tidak akan menganggu mereka lagi ke depannya."
Tirta menyanggupi hal itu tanpa berpikir dua kali, seolah Mika bukanlah apa-apa baginya, seolah wanita yang tidak lain adalah anak kandungnya itu tidaklah berarti untuknya.
Melihat Tirta yang seolah menganggap Mika tidak lebih penting dari perusahaannya, membuat Nayna menatap perihatin pada wanita itu.
Dia tahu, jika dari dulu saat mereka masih berteman, orang-tua Mika memang tidak pernah memperhatikannya, bahkan Mika sempat cerita jika dia tumbuh besar bersama pengasuhnya, bukan dengan orang-tuanya.
Ternyata aku masih jauh lebih beruntung darinya, karena aku memiliki orang-tua yang menyayangiku. Guman Nayna dalam hatinya.
Pembahasan itu pun terus berlanjut, hingga ke tahap penetapan tanggal pernikahan Raffa dan Mika.
Di tengah-tengah obrolan itu, Mika tidak mengeluarkan sedikit pun suaranya, dia hanya diam menunduk sambil memainkan jemari tangannya yang terasa dingin karena gugup.
"Apa kamu setuju?" tanya Arkan pada Mika yang tidak fokus pada pembahasan itu.
"Eh iya, maaf Om, tadi saya tidak memperhatikannya dengan jelas," sahut Mika, mengangkat wajahnya dan menatap Arkan, setelah mendapat sikutan dari papanya.
"Apa kamu setuju jika nanti pernikahan kalian tidak kita adakan secara besar-besaran, hanya sebuah pernikahan sederhana saja, karena waktunya yang terbatas," terang Arkan.
__ADS_1
"I–iya, saya ikut gimana baiknya aja," sahut Mika dengan gugup.