Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 49


__ADS_3

"Kamu udah bangun, ayo kita sarapan."


Nayna menatap meja makan yang sudah tersaji makanan dengan sedikit bingung, dia kemudian beralih menatap Arkan yang tengah membuatkan susu khusus untuk ibu hamil untuknya dengan bingung juga.


"Kenapa malah ngelamun, ayo pergilah cuci muka dan kita sarapan," ucap Arkan menyimpan segelas susu di meja.


Bumil itu, masih belum membuka suaranya, dia hanya mengangguk dan mulai melangkahkan kembali kakinya menuju ke kamar mandi, sedangkan pria dewasa itu, kini sudah duduk manis di meja makan, memainkan ponselnya sambil menunggu Nayna.


"Om belum berangkat ke kantor?" tanya Nayna saat sudah kembali dari kamar mandi dan mulai mendudukkan dirinya di depan Arkan.


"Apa hari libur juga aku harus pergi ke kantor," sahut Arkan dengan nada santai, sambil mulai mengambil makanan ke piring miliknya.


"Oh iya lupa, ini kan hari minggu," ucap Nayna.


"Segeralah sarapan dan minum susunya."


Nayna hanya mengangguk dan mulai mengambil makanan itu, mereka memakan makanan mereka dengan hening.


"Om—"


Nayna yang baru saja akan membuka suaranya untuk berbicara namun harus terhenti, karena suara ponsel yang ada di meja berdering, dia melihat ke arah benda pipih itu dan melihat nama Listi lah yang tertera di sana.


Dia hanya menundukkan wajahnya, meremat sendok yang ada di tangannya itu, berusaha menghabiskan makanan yang kini terasa hambar, bahkan sangat sulit untuk melewati kerongkongan.


"Apa, kamu mau jalan-jalan sama Om, bisa tidak ya."


"…."


"Baiklah, baiklah. Nanti Om jemput kamu sama Mama kamu ya."


"…."


"Sekarang kamu dengarkan Mama kamu itu, makanlah dengan benar."


Arkan mematikan ponselnya dan menyimpan ke tempat semula, sedangkan Nayna kembali mengangkat wajahnya, berusaha bersikap biasa saja.


"Kamu mau bicara apa tadi?" tanya Arkan menatapnya sambil meneruskan makanannya.


"Tidak Om, tadi yang nelepon Mbak Listi?" Nayna segera mengalihkan ke pertanyaan seputar yang meneleponnya barusan.

__ADS_1


"Iya, Liani mau jalan-jalan bareng, kamu juga ikut aja gimana?" tawar Arkan yang langsung Nayna tolak mentah-mentah.


"Tidak, Om aku tidak nyaman saat berada di dekat Mbak Listi." Nayna berusaha mengatakan apa yang dirasakannya secara terang-terangan, berharap pria yang tidak lain adalah suaminya itu peka.


"Kenapa? Apa yang membuat kamu tidak nyaman, bukankah setiap ketemu, dia selalu bersikap baik padamu, dia juga orang yang gampang berbaur dengan orang baru," sahut Arkan menatapnya dengan kening mengerut.


Mendengar Arkan seolah membela wanita lain membuat dadanya bergemuruh, antara marah dan sedih menjadi satu, akhirnya hanya hembusan napas yang Nayna keluarkan untuk menenangkannya.


"Dia memang baik, Om. Baik banget bahkan, itu sebabnya aku merasa tidak nyaman, karena Mbak Listi nyaris sempurna, baik, cantik, dan dia juga wanita karir," terang Nayna tersenyum lebar pada Arkan.


Arkan tidak menyahutinya lagi, dia hanya mengangguk seolah setuju dengan apa yang Nayna ucapkan itu, sambil terus memakan makanannya.


"Aku udah selesai, mau ke kamar dulu ya Om, beresin ininya nanti aja," ucap Nayna yang telah menghabiskan makanannya, langsung berdiri dan bersiap pergi.


"Minum dulu susunya," sahut Arkan sambil menatap susu yang masih utuh.


Nayna pun berbalik lagi, kemudian meneguk susu itu hingga tandas, setelah itu kembali berbalik tidak menghiraukan tatapan heran yang Arkan layangkan padanya.


Padahal sebenarnya hari ini adalah jadwal dia memeriksa kandungannya, dia berharap Arkan bisa menemaninya, tapi sayang setelah mendengar Listi meneleponnya tadi, niat untuk memberitahukan tentang hal itu dia urungkan.


...*****...


"Iya Raf, ini aku baru keluar dari kamar," ucap Nayna sambil terus melangkah keluar dari rumahnya.


Di pinggir jalan, depan rumahnya itu, sudah ada sebuah mobil yang tidak lain adalah mobil milik Raffa tengah menunggunya, terlihat laki-laki itu tersenyum dari kaca jendela mobilnya yang terbuka, hingga membuatnya mau tak mau pun membalas senyuman itu.


Setelah Nayna sudah berjalan mendekati mobilnya, Raffa dengan segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil di sebelahnya, agar ibu dari calon anaknya itu bisa masuk.


"Langsung ke rumah sakit saja?" tanya Raffa saat sudah kembali duduk di kursinya.


"Langsung aja, tadi aku udah hubungi dokternya, kebetulan hari ini tidak terlalu ramai," sahut Nayna.


"Baiklah, kita akan langsung berangkat." Raffa pun mulai menjalankan mobilnya.


Selama di perjalanan itu, Nayna melamun, memikirkan tentang Arkan yang mungkin saat ini tengah bersenda gurau dengan Listi dan anaknya. Sebenarnya tadi bumil itu tidak keluar lagi dari kamar, setelah kejadian di meja makan.


Dia hanya mengurung dirinya, hingga saat mendengar Arkan telah pergi, barulah dia berani ke kamar, entah kenapa semakin hari rasanya semakin sulit, untuk dia menerima kedekatan antara Arkan, Listi dan anaknya.


Apalagi setelah tahu, jika ternyata Listi adalah sekertarisnya di tempat kerja, semakin membuat berbagai pikiran negatif selalu menghantui dirinya itu.

__ADS_1


"Kamu ngelamunin apa sih?" tanya Raffa menyadarkannya dari lamunannya itu.


"Tidak ngelamunin apa-apa, kok."


"Yakin?" tanya Raffa tak percaya dengan ucapannya itu.


"Hemmmmm." Nayna mengangguk.


Akhirnya Raffa pun memilih diam, tidak terus bertanya, karena tidak ingin membuat bumil itu tidak nyaman.


"Oh iya Raf, menurut kamu mungkin gak sih, kalau seorang yang bekerja kantoran punya hubungan sama sekertarisnya?" tanya Nayna secara tiba-tiba, membuat laki-laki di sampingnya itu kembali menatapnya dengan kening mengerut.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?"


"Ya pengen nanyain aja." Nayna menatap di depannya.


"Ini pasti efek dari sering nonton sinetron atau baca novel, makanya tiba-tiba punya pertanyaan kayak gitu," sahut Raffa dengan disertai kekehan.


"Ish, aku nanya serius!" decak Nayna.


"Kalau menurut aku sih tergantung orangnya, ada yang cinlok ada juga yang tidak," teranga Raffa mengangkat bahunya.


"Kalau sebelumnya mereka udah dekat gimana?"


"Dekat dalam artian apa dulu, tidak setiap orang yang dekat ujung-ujungnya jadi cinta, kan?"


"Bilangnya sih teman dari lama, tapi kelihatannya tidak sesederhana itu deh." Nayna menerawang.


"Mungkin mereka memang memiliki hubungan lebih dari teman di masa lalu."


"Contohnya?" Nayna menatap Raffa dengan serius.


"Pernah lebih dekat dari sekedar temenan, atau bahkan mungkin pacaran."


Nayna kembali merenung, bertanya dalam hati apakah benar Arkan dan Listi pernah dekat lebih dari sekedar teman, tapi saat melihat interaksi antara kedua orang itu, bumil itu berkesimpulan, jika itu mungkin saja.


Jika memang ternyata Om Arkan sama Mbak Listi pernah pacaran, apa sekarang mereka sudah kembali lagi, terus apa yang harus aku lakukan, jika itu memang benar. Apa aku harus dengan rencana awalku, pergi dari kehidupannya dan membiarkan dia bahagia dengan Mbak Listi. Batinnya, penuh dengan pertimbangan.


"Ayo turun."

__ADS_1


Suara dari laki-laki di sampingnya itu membuat lamunannya buyar seketika, lagi dan lagi dia hanya bisa menghela napas sedalam-dalamnya, lalu turun dari mobil saat Raffa sudah membukakan pintu untuknya.


__ADS_2