
"Ma-maaf Om, kaki aku keram jadi tidak seimbang tadi," ucap Nayna dengan canggung karena tatapan dalam dari Arkan.
"Iya, tidak apa-apa, lain kali hati-hati, kalau kamu sampai jatuh, itu sangat berbahaya untuk kadunganmu," ucap Arkan masih tidak mengalihkan tatapan matanya dari mata bening Nayna.
"Iya Om, ta–tapi Om, bisa lepaskan dulu akunya tidak, soalnya sesak!" lirih Nayna dengan menundukkan kepala malu.
Saat ini posisinya memang, Arkan yang masih mendiamkan tangannya di pinggang, hingga posisinya saat ini, perutnya menempel dengan perut buncit Nayna.
Baru saja Arkan tersadar saat mendengar ucapan Nayna itu dan berniat melepaskan tubuh Nayna dari dekapannya, sebuah gerakan halus namun, dapat terasa, hingga ke perutnya membuat pria itu reflek, menatap ke arah buletan perut itu.
"Ada yang gerak Nay, apa dia yang gerak?" tanya Arkan menatap takjub pada perutnya.
"I-iya kayaknya Om, kemarin juga kata dokter kandunganku sudah mau jalan lima bulan, jadi pasti sudah ada pergerakan yang lebih terasa," terang Nayna masih diliputi kecanggungan, karena Arkan yang masih tetap dalam posisinya.
"Eummm— Om, bisakah lepasin dulu? Aku benar-benar sesak," sambung Ami lagi.
Selain karena Arkan yang masih betah dengan posisinya itu, dia juga sebenarnya sudah menahan napas, sejak tadi, mungkin itu alasan kenapa dia merasa sesak.
Berjarak begitu dekat dengan Arkan seperti itu, membuat kesehatan jantungnya bermasalah, hingga membuat dia tanpa sadar terus menahan napas, agar Arkan tidak dapat mendengar suara yang ada di dalam dadanya itu.
"Oh iya lupa, saking eksaited-nya rasain gerakan dari dia, aku sampai tidak sadar memelukmu begitu lama," ucap Arkan dengan entengnya membuat Nayna ternganga tak percaya.
Om Arkan sebenarnya, benaran lupa lepasin aku atau dia cari-cari kesempatan aja? batin Nayna menatap Arkan dengan curiga.
"Kenapa? Apa ada hal yang aneh di wajahku?" tanya Arkan dengan polos, saat melihat tatapan Nayna itu.
"Tidak ada Om." Nayna menggeleng dengan ceoat, sebagai jawaban dari pertanyaan Arkan itu.
"Ya udah kalau gitu, aku pergi ke kamar dulu ya, mau lanjutin tidur," sambung Nayna.
"Iya, kembalilah istirahat, tapi apa kaki kamu sudah baik-baik saja, sudah tidak keram lagi?"
__ADS_1
"Tidak Om, sekarang kaki aku udah baik-baik saja kok," sahut Nayna dengan yakin.
"Syukurlah kalau gitu." Arkan manggut-manggut paham.
"Aku ke kamar sekarang ya," pamit Nayna lagi.
"Tunggun Nay!" tahan Arkan pada Nayna yang akan pergi ke kamarnya.
"Ada apa lagi?" tanya Nayna yang kembali menghentikan langkahnya dan menatap lekat Arkan.
"Bolehkah aku bicara sama dia, kata dokter di usianya yang sekarang, lebih bagus jika sering-sering diajak komunikasi, itung-itung membantu tumbuh kembangnya," izin Arkan pada Nayna dan menunjuk perutnya dengan isyarat mata.
"Baiklah," sahut Nayna dengan anggukan kepada.
Nayna tidak menolak apa yang Arkan ucapkan itu, karena itu memang sesuai dengan apa yang dokter katakan sebelumnya, saat pemeriksaan.
Arkan yang sudah mendapatkan lampu hijau pun, maju satu langkah ke hadapan Nayna, dia kemudian berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan perutnya yang sudah terlihat buncit, meskipun belum terlalu kentara mengingat ini kehamilan pertama, jadi bentuk perutnya tidak terlalu besar.
"Hai bayi, sekarang kamu istirahat ya, ini sudah malam, waktunya mama kamu sama kamu istirahat, kamu juga harus selalu sehat ya di dalam sana, sehat sampai waktunya kamu akan keluar dari sana dan bertemu kita," ucap Arkan panjang lebar berbicara dengan calon anak Nayna.
Nayna tidak tega untuk menolak, akhirnya tanpa berpikir dua kali, dia pun mengangguk pada Arkan, membuat pria itu tersenyum senang.
Secara perlahan, tangan Arkan pun mulai terangkat dan mendarat di perut Nayna, dia secara perlahan mengusapnya.
Melihat Arkan yang begitu memperhatikan calon anaknya seperti itu, membuat hati Nayna terenyuh, andai yang berada di posisi Arkan saat ini adalah Raffa, ayah biologis anaknya.
Andai dulu Raffa tidak menghilang begitu saja, mungkin saat ini dia tidak harus mengalami hal seperti itu, di sisi lain dia memang membenci Raffa saat berada di depannya.
Namun, di sisi lain, dia juga merasa bimbang dengan hatinya saat ini, apakah dia harus mengatakan dengan jujur jika anak ini memang anaknya.
Di tengah lamunannya itu, suara Arkan yang masih berbicara dan sesekali mengusap perutnya membuat dia tersadar, entah kenapa dia merasa lebih tenang saat merasakan usapan dan ucapan lembut dari pria yang jauh pebih dewasa darinya itu.
__ADS_1
"Sekarang sebaiknya, kamu pergilah tidur, ini sudah semakin larut," ucap Arkan yang kemudian kembali berdiri dengan tegak di depan Nayna.
"Iya Om, kalau gitu, aku ke kamar duluan ya, Om juga segeralah istirahat," pamit Nayna.
"Iya, aku akan langsung istirahat," sahut Arkan dengan kepala mengangguk.
Nayna pun kembali melanjutkan langkahnya untuk ke kamarnya, sedangkan Arkan mematikan televiai terlebih dahulu, setelah itu baru pergi juga ke kamarnya.
...*****...
Keesokan harinya, Nayna bangun dari tidurnya dan saat melihat ke jendela yang masih tertutup gorden, ternyata di luar sudah terang.
Dia pun bergegas turun dari ranjang dan segera keluar dari kamar, saat keluar dari kamarnya itu, sayup-sayup dia mendengar suara orang yang tengah berbicara dengan Arkan di dapur.
Dalam hati dia bertanya-tanya, siapa yang sudah bertamu pagi-pagi seperti itu, dan saat sampai di pintu dapur, Nayna baru tahu jawabannya, tamu itu ternyata adalah wanita dewasa yang tidak lain adalah Listi.
Saat ini Listi tengah sibuk dengan peralatan masak sambil sesekali menimpali ucapan Arkan yang posisinya membelakangi pintu.
Nayna tertegun di tempatnya, dia seperti melihat potret sebuah keluarga yang harmonis di sana, terlebih dengan adanya seorang anak yang tidak dia lihat dengan jelas wajahnya, tengah duduk di pangkuan Arkan.
"Kamu udah bangun Nay," ucap Arkan yang kini tengah menengok ke arahnya.
"I-iya Om," sahut Nayna canggung.
"Ayo kita sarapan bareng," ajak Listi yang saat mendengar ucapan Arkan sebelumnya, dia langsung berbalik dan menatap Nayna dengan sebuah senyuman ramah yang hadir di wajahnya.
"I–iya ...." Nayna tidak melanjutkan ucapannya karena bingung mau memanggil Listi seperti apa.
"Namaku Listi, kamu bisa panggil aku Mbak Listi aja, jangan tante, karena aku masih muda," ucap Listi diselingi canda di akhir kalimatnya.
"Iya Mbak," sahut Nayna mengangguk canggung.
__ADS_1
"Duduklah, biar kita bisa sarapan bareng," ucap Arkan setelah beberapa saat terdiam dan meyimak obrolan antara Nayna dan Listi itu.
"Aku mau sikat gigi sama cuci muka dulu Om," pamit Nayna berjalan cepat ke arah kamar mandi.