
Tujuh bulan kemudian.
Keluarga Arkan kini telah diliputi oleh kebahagiaan, atas kehadiran anggota keluarga baru mereka yang telah mereka tunggu selama sembilan bulan itu.
Kurang dari satu jam yang lalu, anak kedua di keluarga itu telah lahir ke dunia, setelah perjuangan Nayna yang menahan sakitnya saat kontaksi selama lebih dari sepuluh jam.
"Pa, sampai kapan adek di dalam sana?" tanya Rezvan pada Arkan yang tengah berjongkok di sampingnya, melihat anak perempuannya itu.
Rezvan saat ini tengah menatap adiknya yang berada di dalam inkubator dengan tatapan gemas dan tidak sabar untuk menyentuhnya.
"Tidak akan lama kok, dia di sana hanya sebentar," sahut Arkan pada Rezvan yang saat ini tengah duduk di kursi roda itu.
"Apa dia perempuan Pa?" tanya Rezvan lagi, beralih menatap papanya.
"Iya, sesuai dengan keinginan kamu, dia adalah perempuan cantik 'kan?" Arkan tersenyum pada anaknya itu.
"Cantik, kayak Mama," sahut Rezvan tersenyum.
Setelah mengatakan hal itu, dia pun mengalihkan pandangan pada Nayna yang sedang terbaring, tidak jauh dari tempatnya dan Arkan yang tengah melihat adiknya itu.
"Kakak, emang paling pintar ya kalau bicara manis seperti itu," kekeh Nayna, menimpali ucapan dari anaknya.
Anak kecil yang sudah genap empat tahun itu pun terseyum lebar, hingga menampilkan sederet giginya yang putih bersih.
"Itu emang kenyataannya Ma, Mama wanita tercantik pertama di dunia dan adek yang kedua, iya 'kan Pa?" tutur Rezvan sambil melihat papanya, untuk membenarkan ucapannya itu.
Kini Rezvan sudah bisa bicara dengan lancar, tidak cadel kagi seperti sebelumnya, seiring dengan berjalannya waktu, karena tahu jika dia akan memiliki adik, dia semakin bersikap lebih dewasa dari sebelumnya.
"Iya, Mama kamu emang paling cantik," sahut Arkan tentu saja mengiyakan ucapan dari anaknya itu.
"Ya, ya. Kalian emang paling bisa kalau bicara manis, bikin orang baper," sahut Nayna memutar matanya.
Rezvan dan Arkan hanya terkekeh, secara perlahan Rezvan pun mulai menggerakkan kursi roda kecil itu mendekati ranjang mamanya.
Selama sembilan bulan tidak dapat bergerak dengan bebas lagi, baginya menjalankan kursi roda itu sudah menjadi hal yang biasa, hingga sekarang jika di permukaan yang datar, Rezvan tidak memerlukan bantuan untuk menjalankan kursi roda khusus untuk anak kecil itu.
__ADS_1
"Ma, apa Rezvan bisa jalan lagi dan bisa jagain adik nantinya?" tanya Rezvan menatap Nayna dengan wajah polosnya.
Mendengar pertanyaan yang sudah sering Nayna dengar itu, dia hanya tersenyum dan memberikan isyarat agar Rezvan memegang tangannya.
Rezvan pun menurut, dia semakin mendekatkan kursi rodanya pada ranjang Nayna yang menggenggam tangan mamanya itu.
"Tentu Kak, nanti Kakak akan jadi Kakak yang hebat untuk adik," ucap Nayna tersenyum sambil menggenggam tangan kecil anaknya itu.
"Iya Kak, kalau sudah saatnya, Kakak pasti akan bisa jalan lagi seperti sebelumnya," timpal Arkan yang sudah berdiri di samping kursi rodanya dan mengusap lembut rambutnya.
Rezvan pun akhirnya mengangguk semangat, setelah mendengar apa yang orang-tuanya katakan itu.
Obrolan keluarga kecil itu pun harus terhenti oleh kedatangan beberapa orang yang membuat ruangan yang semula sepi, kini menjadi riuh.
Dimulai dari kedatangan Ferdi dan Winda, terus Raffa dan Mika, tidak lama setelah itu datang lagi pasangan Fara dan Ivan yang datang bersama anaknya.
"Selamat ya Nay, Mas Arkan, kalian sekarang punya anak laki-laki sama perempuan, seandainya aku bisa, aku juga ingin satu lagi anak laki-laki biar sepasang anaknya," tutur Fara menatap bayi yang masih tenang itu dengan gemas.
"Iya makasih Mbak, mudah-mudahan aja Mbak bisa punya lagi," ucap Nayna penuh harap.
"Heemm," sahut Ivan mengangguk.
Fara memang diperkirakan tidak akan memiliki anak lagi, karena hamil oleh Freya pun adalah sebuah keajaiban yang tidak terduga.
"Udah siapin nama buatnya?" tanya Ferdi.
"Sudah Pa, namanya Rania Sasikirana," terang Arkan.
Semua orang pun mengangguk-anggukan kepalanya, mereka turut bahagia dengan kehadiran bayi mungil yang menjadi pelengkap bagi Arkan dan Nayna itu.
Kehadiran bayi mungil itu juga menjadi penghibur bagi Rezvan yang kini tengah dalam kondisi seperti itu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu pun kembali terbuka dan masuklah Listi bersama dengan suaminya.
Listi memang sudah menikah lagi beberapa bulan yang lalu, dia menikah dengan salah satu klien Arkan.
__ADS_1
"Maaf ya kita agak telat datangnya," ucap Listi sambil menyerahkan sebuah kado yang langsung diterima oleh Arkan.
"Iya tidak apa-apa Mbak, Liani mana kok gak ikut?" tanya Nayna.
"Dia ada les, jadi tidak diajak," terang Listi.
"Oh gitu." Nayna pun mengangguk paham.
Arkan mengajak suami Listi untuk berbincang di susul oleh Raffa, Ivan dan Ferdi, jadilah di ruangan itu menjadi dua grup, laki-laki dan perempuan.
Karena tidak ingin mengganggu Nayna dan bayinya, orang yang menjenguk itu pun mulai pulang satu persatu, hingga hanya menyisakan Nayna dan Arkan saja di sana.
Rezvan sudah pulang dengan diantarkan oleh Raffa, meskipun pada awalnya anak itu mau ikut menginap di sana, tapi Nayna berhasil membujuknya.
"Aku bahagia Mas, bahagia karena kamu hadir di hidupku, bahagia karena kamu memberikan cinta yang tidak pernah aku duga akan aku dapatkan," tutur Nayna menatap Arkan yang tengah berbaring di ranjang yang sama dengannya.
Arkan memang sengaja memesan ruangan bersalin yang luas, serta ranjang yang berukuran besar cukup untuk dua orang dan anaknya yang kini masih terlelap di tengah-tengah mereka.
"Aku lebih bahagia, karena kamu telah memberikan aku dua anak yang cantik dan tampan, membuat aku dapat merasakan rasanya memiliki keluarga lengkap, seperti yang selalu aku impikan dulu," sahut Arkan yang menatap Nayna juga.
Mereka berdua saling menatap penuh cinta, dengan di kelilingi kebahagiaan yang membuat mereka seolah menjadi manusia paling sempurna.
Berawal dari pernikahan paksa, dua orang yang tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya, kini hidup bersama saling mencintai dan menyayangi.
Rasa yang tidak pernah mereka sangka akan hadir itu, setiap detiknya terus tumbuh di hati mereka, hingga membuat mereka terikat satu sama lain oleh rasa itu.
...Takdir yang mempertemukan mereka dan cintalah yang menyatukan mereka, cinta yang akan terus tumbuh di hati mereka....
...TAMAT...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya sampai juga di ujung perjalanan mereka, sekali lagi aku selaku athor dari cerita ini, mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, atas suport dan dukungan kalian🙏
Mohon maaf bila ada salah-salah kata dan maaf juga jika kalian tidak merasa puas dengan cerita ini, harap kalian maklum, aku hanya author remahan yang perlu banyak belajar lagi🙏
__ADS_1
Jangan cemas, ini bukan perpisahan kita. Aku tentu saja akan hadir lagi tapi dengan kisah yang berbeda, jangan lupa mampir juga ke ceritaku selanjutnya ya, cerita yang akan rilis awal bulan Oktober, sampai jumpa di cerita selanjutnya 💋💋