
"Ada apa?"
Pertanyaan yang dilayangkan oleh Arkan itu membuat langkah Nayna yang akan memasuki rumahnya terhenti.
Dia berbalik dan menatap Arkan yang akan membawa motornya memasuki rumah dengan heran, Nayna tidak mengerti maksud pertanyaan dari Arkan itu.
"Mata kamu merah kenapa?" ulang Arkan karena dapat melihat raut heran yang Nayna berikan.
"Masa sih mataku merah Om?" Nayna malah balik bertanya.
Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun padanya, dia berusaha menutupi jika matanya memerah pasti karena selama diperjalanan dia menangis, menangisi pertemuannya dengan Raffa.
"Iya mata kamu merah, sedikit bengkak juga." Arkan masih menatap Nayna dengan tatapan menyelidik.
"Ini mungkin kemasukan debu Om, sebenarnya dari tadi aku beberapa kali kelilipan, mataku juga perih banget, pantes aja kalau merah," sahut Nayna masih mempertahankan sikap tenangnya.
Namun Arkan seolah tak percaya dengan ucapannya itu, pria itu masih menatap dalam Nayna, mencari sebuah kebohongan dari Nayna, tapi raut wajah Nayna terlampau tenang, hingga tidak terlihat sedikit pun jika dia sedang berbohong.
"Kenapa Om? Apa ada yang salah?" tanya Nayna pura-pura polos, saat menyadari jika Arkan tidak mempercayai apa yang dikatakannya.
Arkan menghela napas, lalu menggelengkan kepala, meskipun dia begitu penasaran dan tidak percaya dengan apa yang Nayna ucapkan itu, tapi dia sadar jika dia tidak bisa memaksa bumil muda itu untuk bercerita.
"Tidak ada, katanya tadi kamu mau beli sesuatu beli apa? Dari tadi aku tidak melihat kamu membawa barang apa pun, kamu juga membeli barang itu pakai apa? Bukankah tadi kamu tidak meminta uangnya padaku," tutur Arkan panjang lebar, membuat Nayna kembali memutar otaknya untuk memberi alasan.
Ternyata Arkan adalah orang yang cukup jeli, dia pikir dari tadi pria itu tidak memperhatikannya, tapi ternyata, pria itu menyadari jika dia tidak membawa apa pun.
"Itu tadi barang yang mau aku beli ternyata tidak ada di sana, karena males mencari lagi, ya udah aku langsung pulang lagi aja," terang Nayna berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Tidak ada barangnya atau kanu tidak punya uang untuk membelinya?"
Nayna hanya menghela napas gusar, berhadapan dengan Arkan yang seperti ini lebih ribet daripada berhadapan dengan guru saat dia terlambat masuk ke kelas, interogasi dari Arkan lebih menyeramkan daripada interogasi gurunya dulu.
"Beneran tidak ada barangnya Om, ya udah kalau gitu, aku masuk duluan ya Om, udah gerah sama capek banget, jadi mau langsung mandi terus istirahat sebentar."
__ADS_1
Akhirnya tanpa menunggu sahutan dari Arkan, Nayna segera mengakhiri percakapan yang terjadi di depan pintu itu dan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, lalu langsung menuju ke kamar, dia tidak ingin terus ditanyai oleh Arkan.
Melihat Nayna yang langsung memasuki kamarnya, Arkan pun ikut memasuki rumahnya, membawa serta motornya, saat baru saja selesai menyetandarkan motor itu, terlihat Nayna keluar lagi dari kamar dan langsung menuju ke arah dapur.
...******...
Saat hari sudah malam, Nayna baru keluar lagi dari kamarnya, tadi setelah mandi, dia memang berdiam diri di kamar dan sempat tertidur sebentar, kini dia bermaksud untuk membuat makan malam.
Namun, baru saja sampai di ambang pintu, dia melihat Arkan tengah sibuk dengan alat-alat masakan, hingga tidak menyadari kehadirannya di sana.
"Om kenapa tidak panggil aku saja tadi, kenapa harus Om yang masak," ucap Nayna membuat Arkan langsung menengok ke arahnya.
"Aku kira kamu tidur, makanya aku tidak mau ganggu istirahat kamu," ucap Arkan yang sudah kembali sibuk dengan masakannya.
"Tadi memang aku ketiduran sebentar, tapi kalau Om panggil pasti bakal langsung bangun lagi kok," sahut Nayna, lalu melangkah mendekati Arkan dan berdiri di sampingnya.
"Biar aku yang lanjutin aja masaknya, Om sebaiknya tunggu saja di meja makan," tawar Nayna.
"Tidak perlu, ini biar aku saja yang beresin, sebaiknya kamu saja yang tunggu di meja makan," tolak Arkan tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Ini sebentar lagi juga beres, kalau kamu memang ingin melakukan sesuatu, coba periksa saja nasinya, sudah matang atau belum?"
"Baiklah," sahut Nayna akhirnya pasrah, mengikuti apa yang Arkan perintahkan itu.
Dia melihat nasi yang dimasak di rice cooker yang ternyata sudah matang, Nayna pun segera mengambil panci rice cooker itu dengan menggunakan lap, karena masih panas dan membawanya ke arah meja makan.
Karena Arkan menyuruhnya untuk diam di meja makan, akhirnya dia pun segera mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang tersedia di meja makan itu, menunggu Arkan selesai memasak lauk untuk makan malam mereka.
Setelah menunggu beberapa menit, Arkan pun datang ke meja makan dengan dua wadah berisi lauk untuk makan malam mereka, dia segera menyimpannya di meja makan dengan telaten.
"Biar aku ambilkan piring dan yang lainnya Om," ucap Nayna yang akan mulai berdiri tapi Arkan lagi-lagi menahannya.
"Tidak perlu, kamu tunggu saja di sini, biar aku saja yang siapin ssmuanya," ucap Arkan yang sudah kembali melangkah menuju ke rak piring.
__ADS_1
Nayna hanya bisa pasrah kembali, menuruti apa yang Arkan katakan itu, dia menunggu dengan tenang, hingga saat Arkan sudah duduk di meja makan dan menyerahkan piring untuknya barulah dia mulai mengambil makanannya.
"Gimana rasanya apa yang kurang menurutmu?" tanya Arkan saat Nayna baru saha menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya.
"Ini tidak ada kekurangannya, ini benar-benar enak Om, bahkan masakan aku aja kalah jauh," puji Nayna yang benar-benar sesuai dengan kenyataan.
Makanan yang Arkan masak itu memang benar-benar enak, tidak kalah dengan rasa makanan dari restoran mewah, mungkin karena Arkan bekerja di restoran, jadi dia bisa memasak sampai seenak itu, begitulah pikir Nayna.
"Kalau gitu makanlah yang banyak, biar anak dalam kandunganmu makin sehat," ucap Arkan di sela-sela kunyahannya.
"Iya Om." Nayna mengangguk dengan semangat tanpa menghentikan kunyahannya.
Untuk beberapa saat mereka makan dengan tenang, pasangan dengan perbedaan umur yang cukup jauh itu hanya fokus pada makanan mereka, tidak ada yang berbicara lagi, hingga akhirnya Nayna kembali membuka suaranya.
"Aku yakin istri Om nanti pasti akan sangat bahagia karena memiliki Om sebagai suaminya, baik, pengertian, perhatian, pinter masak juga tampan, benar-benar nyaris sempurna."
'Uhuk uhuk'
Arkan sampai terbatuk saking kagetnya, mendengar celotehan Nayna itu, dia kemudian menatap Nayna yang masih santai dengan makanannya, tidak menyadari jika ekspresi Arkan kini sudah berbeda.
"Oh iya Om, aku boleh nanya gak?" Nayna menghentikan sejenak makannya dan beralih menatap Arkan.
"Mau nanyain apa?" Arkan balik menatap Nayna dengan heran.
"Apa Om sudah memiliki orang spesial, pacar misalnya, atau ada wanita yang Om sukai?" Nayna menatap Arkan dengan penasaran.
"Tidak ada," sahut Arkan singkat.
"Kenapa?"
"Aku sudah kenyang, kalau kamu masih mau makan makan saja sendirian." Arkan langsung meminum air putih yang sudah disiapkan olehnya sebelumnya.
Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Nayna yang kini menatap punggungnya dengan heran.
__ADS_1
"Apa aku salah ngomong ya?" tanya Nayna pada dirinya sendiri.