
"Dok bagaimana keadaan Nayna dan kandungannya?" tanya Raffa menatap dokter wanita itu dengan raut khawatirnya.
"Maaf kalau boleh tau, di mana ya suaminya?" Dokter wanita itu menatapnya dengan heran.
"Suaminya sedang ada urusan, jadi belum bisa datang. Bagaimana keadannya, apakah keduanya baik-baik saja?" Raffa sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin ditanyai lagi tentang suami Nayna.
"Alhamdulillah, Bu Nayna baik-baik saja, kandungannya juga bisa diselamatkan, beruntung dia segera dibawa ke sini dan segera mendapatkan penanganan, saat ini dia sedang istirahat dulu, cuma saya sarankan sebaiknya bed rest selama beberapa hari agar tidak mengalami pendarahan lagi."
Raffa menghela napasnya dengan lega saat mendengar penjelasan dokter itu, seolah benda berat yang tadi menimpanya tengah terangkat, dalam hati terus mengucapkan syukur atas kabar itu.
"Apakah saya boleh masuk dan menemuinya Dok?" tanya Raffa.
"Boleh, anda bisa menunggunya bangun di dalam," sahut Dokter mengangguk.
Raffa pun segera memasuki ruangan itu, sesaat setelah dokter dan suster meninggalkan ruangan itu, dia berjalan ke arah ranjang dengan tatapan terpaku pada tubuh lemah Nayna.
Dia menarik sebuah kursi yang berada di ruangan itu dan mendudukkan dirinya di samping ranjang bumil itu, tidak ada hal yang bisa dia lakukan saat ini, dia hanya bisa diam menatap Nayna dengan dalam.
Meskipun saat ini ada keinginan dalam hatinya, memberikan kecupan atau mendekap tubuh lemah itu untuk menunjukkan rasa cinta yang masih bertahta di hati, tapi dia sadar akan batasan di antara mereka.
Kini ada sebuah batasan yang menjadi pemisah di antara dirinya dan Nayna, batasan yang tidak bisa dia lewati, pengingat jika wanita yang kini tengah di tatapnya dengan penuh cinta adalah seorang istri dari pria lain.
"Seandainya kondisiku tidak seperti ini, mungkin saat ini aku akan memperjuangkanmu untuk berada di sisiku, hidup bersama membesarkan anak kita bersama," gumam Raffa dengan kepala yang mulai tertunduk.
"Sayang itu hanya sebatas anganku, tuhan hanya mentakdirkan aku untuk singgah saja di hatimu, bukan untuk menetap!" lirih Raffa dengan mata yang sudah mulai memanas.
Seandainya, dia memiliki waktu lebih lama lagi untuk dapat bertahan di dunia ini, mungkin dia akan berusaha mendapatkan wanita yang paling dicintainya lagi. Namun, semua itu adalah hal yang tidak mungkin.
"Jaga dia untukku tuhan, biarkan dia dan anakku bahagia dengan kehidupannya di masa depan." Raffa memejamkan mata, memohon dengan sepenuh hati kepada Sang maha memiliki segalanya.
Tiba-tiba saja, rasa pusing menyerangnya, dia merasa ada yang mengalir di hidungnya itu. Dia pun segera menutup hidungnya dengan sebelah tangan, lalu beranjak dari kursi menuju ke kamar mandi.
Dia membasuh hidungnya dengan air yang mengalir di wastafel, setelah itu menatap bayangan dirinya di cermin, masih ada sisa-sisa warna kemerahan di lubang hidungnya itu.
Setelah beberapa saat menatap bayangan dirinya dengan pikiran yang telah berkeliaran, dia pun melanjutkan kegiatan membersihkan hidung dan mencuci wajah, setelah itu mengeringkannya dengan tisu yang tersedia di sana.
__ADS_1
Mencoba menarik napas terlebih dahulu dan mengeluarkannya dengan perlahan, dia pun berusaha tersenyum pada bayangan dirinya itu dan mulai berbalik untuk kembali ke tempatnya semula.
"Syukurlah kamu udah bangun," ucapnya saat sampai di samping ranjang, ternyata Nayna sudah membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya dengan bingung.
Secara perlahan mata indah itu mulai bergerak ke arah Raffa, menatapnya dengan sayu, sementara orang yang di tatapnya, membalas tatapan itu dengan lembut sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan kandunganku Raf?" Tanyanya dengan nada yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan.
"Dia baik-baik saja, dia anak yang kuat."
Mendengar ucapannya itu, bumil itu pun terdengar menghela napas dengan lega, seutas senyum pun hadir di bibir ranumnya yang nampak pucat itu.
"Syukurlah."
"Kamu mau minum? Atau mau apa biar aku siapkan?" tawar Raffa.
"Aku mau minum aja kayaknya."
Raffa pun langsung bergerak, mengambil air yang ternyata telah disiapkan oleh Suster di nakas samping ranjang, secara perlahan dia membantu Nayna untuk meminun air itu dengan sangat hati-hati.
"Aku tidak ingin apa pun. Ponselku mana?" Nayna mencari keberadaan ponselnya.
"Kayaknya jatuh saat di mobil deh, bentar aku ambilkan dulu ya." Raffa kembali bangun dari kursinya.
Sementara Nayna hanya mengangguk dan menatap tubuh Raffa yang secara perlahan, mulai meninggalkan ruangan itu.
Bumil itu kembali menatap langit-langit berwarna putih itu, secara perlahan tangannya bergerak dengan lembut, memberikan usapan pada perutnya, dia benar-benar merasa bersyukur karena anaknya baik-baik saja.
Dia juga merasa bersyukur, karena di saat dia mengalami hal itu, Raffa datang begitu saja membantunya dan membawanya ke rumah sakit dengan segera, dia tidak bisa membayangkan, jika tadi tidak ada Raffa di sana, mungkin saja saat ini dia sudah kehilangan calon anaknya itu.
"Apa Om Arkan sibuk ya, sampai tidak bisa mengangkat telepon dariku meskipun hanya sebentar saja," gumamnya yang tiba-tiba kepikiran dengan pria matang itu.
Entah hanya perasaannya saja atau bukan, akhir-akhir ini dia merasa pria itu seolah menjaga jaraknya dengannya, mereka yang awalnya sudah mulai dekat, kembali menjadi renggang.
Apalagi saat pria itu mengatakan, jika dia telah berhenti kerja di restoran dan bekerja di kantor yang sama dengan Ivan, dia jadi sering sekali pulang malam, bahkan tidak jarang sampai tidak sarapan.
__ADS_1
"Pasti sekarang dia sibuk, karena bekerja di perusahaan berbeda dengan bekerja du restoran," gumamnya lagi yang selalu berusaha meyakinkan dirinya, jika Arkan benar-benar tengah sibuk dengan pekerjaannya itu.
Jujur saat tadi, berusaha menghubungi suaminya, dia benar-benar berharap Arkan akan mengangkat telepon darinya dan langsung mengantarnya ke rumah sakit, tapi ternyata dia harus sedikit kecewa kali ini.
Lagi dan lagi dia kemumbali menghela napas sedalam-dalamnya, hingga suara pintu yang kembali terbuka, membuat perhatiannya kembali pada Raffa yang baru saja memasuki ruang itu lagi.
"Ini." Raffa menyerahkan benda pipih itu padanya.
"Terima kasih ya, Raff."
Raffa hanya mengangguk singkat dan kembali duduk di tempatnya semula, memperhatikan Nayna yang mulai sibuk dengan ponselnya.
Om, tadi aku jatuh di kamar mandi dan sekarang lagi di rumah sakit. Isi pesan Nayna untuk suaminya.
Setelah pesan itu terkirim, dia tidak mengalihkan pandangannya dari layar datar itu, menunggu balasan dari Arkan, tapi setelah beberapa menit berlalu pesannya itu belum dibaca.
"Apa kamu mengabari suami kamu?" Pertanyaan dari Raffa itu membuat perhatian Nayna akhirnya teralih.
"Iya, tapi sepertinya dia masih sibuk,"
"Apa tadi kamu berusaha menghubunginya setelah kamu jatuh?" tanya Raffa menatap Nayna dengan intens, ada kemarahan dari sorot matanya, saat Nayna mengangguk dengan samar.
"Terus kenapa dia tidak datang? Bagaimana kalau tadi aku tidak datang, apa yang akan terjadi padamu dan calon anak kita."
"Dia pasti sangat sibuk, karena dia baru beberapa hari ini pindah tempat pekerjaan, jadi dia harus beradaptasi dengan tempat kerjanya yang baru itu," bela Nayna terhadap Arkan.
"Tapi tidak seharusnya dia mengabaikanmu seperti itu," ucap Raffa masih berusaha menyalahkan suanin Nayna.
"Kalau kamu di sini hanya untuk menjelekannaya, sebaiknya kamu pulang saja, aku bisa sendiri, kok," ucapa Nayna mengusir Raffa karena merasa tidak enak saat dia menjelek-menjelekan suaminya.
"Baiklah aku akan diam," patuh Raffa.
Akhirnya terjadi keheningan di antara mereka, hingga notifikasi di ponselnya membuat bumil itu segera melihatnya.
Maaf, tadi aku sedang sibuk. Aku akan ke rumah sakit agak malam. Isi balasan dari Arkan.
__ADS_1
Mendapatkan balasan yang datar seperti itu, membuat Nayna hanya bisa kembali menghela napas sedalam-dalamnya, dia berpikir apakah karena anak yang ada dalam kandungannya itu anak orang lain, hingga pria itu kini bersikap seolah tidak peduli.