Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 82


__ADS_3

"Ini makanlah, maaf aku cuma bisa buat ini, Art di rumah aku lagi libur dulu, jadi tidak ada yang masak," terang Raffa sambil menyerahkan sepiring pasta instan pada Mika.


Karena hanya itu yang mudah dibuat, juga tidak memakan waktu lama, ditambah hanya makanan itu yang tersedia di lemari tempat persediaan makanannya.


"Makasih," ucap Mika yang hanya bisa menerima tawaran Raffa untuk ikut ke rumah pria itu, karena perutnya tidak bisa diajak kompromi.


Raffa mengangguk, dia kemudian duduk di sofa yang bersebrangan dengan Mika, memperhatikan wanita itu menyantap makanannya.


"Gimana kalau malam ini kamu tinggal di sini saja, besok baru aku anterin kamu nyari kosannya," tawar Raffa.


Mika yang semula tengah fokus pada makannya, beralih menatapnya dengan bimbang.


"Tenang saja, aku tidak akan macem-macem," ucap Raffa yang seolah tahu isi pikiran Mika.


"Apa itu tidak merepotkanmu?" tanya Mika.


"Tidak sama sekali, aku tidak merasa kerepotan, apalagi kamu adalah temannya Nayna," sahut Raffa dengan santai.


Mika pun mengangguk dan tersenyum tipis, dia kemudian melanjutkan makannya, meskipun kurang nyaman, setelah mendengar ucapan terakhir Raffa.


"Oh iya, nama kamu siapa? Aku lupa," tanya Raffa.


"Aku Mika," sahut Mika, sambil memakan makanannya.


"Oh iya, aku ingat dulu Nayna sering membicarakanmu, kamu tau tidak nama aku?"


"Tentu saja, kamu Raffasya Ivander, cowok yang cukup populer di sekolah, mantan ketua OSIS juga ketua tim basket yang selalu menang tiap ada lomba antar sekolah, juga siswa teladan yang selalu disukai oleh para guru," terang Mika yang memang mengetahui tentang pria di depannya itu.


"Kamu tau tentang aku ternyata," kekeh Raffa.


"Aku tau banyak tentang kamu, karena kamu cukup populer," sahut Mika menatapnya sekilas.


"Tapi, dulu Nayna tidak tau kalau aku sepopuler itu, dia emang perempuan yang cuek," sahut Raffa terkekeh lagi, mengingat kenangan dirinya dan Nayna.


"Ya, dulu dia memang tidak peka pada keadaan di sekitarnya," sahut Mika membenarkan ucapan Raffa.


"Oh iya, dulu Nayna sempat bilang, katanya kamu tiba-tiba saja menjauh darinya dan memusuhinya?"


"Iya," sahut Mika santai.


"Kenapa?"


"Privasi."


"Oh maaf," sahut Raffa mengangguk paham.


Tak membutuhkan waktu lama, Mika pun menghabiskan makanannya itu, dia kemudian meminum air di gelasnya hingga tandas.


"Biar aku cuci piringnya," ucap Mika.


"Tidak perlu, besok pagi Art aku datang ke sini, biar dia saja yang mencucinya," tolak Raffa yang langsung mengambil alih piring dan gelas bekas Mika.

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu," sahut Mika mengangguk patuh.


Raffa pun, pergi ke dapur menyimpan piring kotor ke wastafel, sementara Mika memperhatikan sekeliling rumah itu.


"Dia di sini sendiri? Ke mana orang-tuanya?" tanya Mika sambil memperhatikan rumah yang besar itu, tapi terasa sepi.


"Ayo, aku anterin ke kamar tamu," ucap Raffa setelah kembali dari dapur.


"Baiklah terima kasih,"


"Ayo." Raffa berjalan lebih dahulu.


Mika pun berdiri dari tempatnya, lalu mengikuti Raffa yang sudah jalan lebih dulu, di depannya.


Mereka berhenti di depan sebuah pintu yang cukup besar, berwarna putih gading, Raffa langsung membuka pintu itu dan memasukinya.


"Ini kamar tamu, tapi karena tidak ditempati pasti sedikit kotor," ucap Raffa sambil bergerak melepaskan seprai yang terpasang di kasur berukuran cukup besar itu.


Kemudian Raffa bergerak menuju ke lemari yang ada di sana, dia kemudian mengeluarkan satu set seprai dengan gambar bunga.


"Biar aku saja yang pasangin," ucap Mika membuat gerakan Raffa yang akan memasang seprai itu terhenti.


"Baiklah, kalau sudah selesai kamu bisa langsung istirahat," ucap Raffa mengangguk.


"Iya sekali lagi terima kasih karena sudah memberikan tempat untuk istirahat malam ini dan memberikan makanan," ucap Mika.


"Iya sama-sama, kalau gitu aku mau ke kamar dulu, kalau ada apa-apa, kamar aku ada di lantai atas," ucap Raffa.


Raffa pun pergi dari kamar tempat Mika itu, dia menaiki tangga menuju ke kamarnya, setelah sampai di kamarnya dia mendudukkan dirinya di ranjang, lalu mencoba menghubungi Arkan.


[Iya Sya, ada apa?]


"Om belum tidur?"


[Belum, ini baru mau, ada apa?]


"Maaf ganggu, aku mau nanyain rumah Om dulu, apa masih ada?"


[Masih, kenapa gitu?]


"Kalau teman aku mau sewa rumah itu boleh tidak?"


[Boleh, tempati aja, tapi rumah itu pasri berantakan, karena sudah lama tidak ditempati.]


"Tidak apa-apa Om, nanti biar dia aja yang beresin."


[Iya, besok kamu bisa minta kuncinya ke Nayna.]


"Ya udah, kalau gitu udah dulu ya Om, maaf ganggu."


[Iya, kamu segeralah istirahat.]

__ADS_1


"Iya, Om."


Setelah panggilan itu selesai, Raffa pun menyimpan ponselnya ke nakas samping tempat tidur, lalu mulai merebahkan tubuhnya.


...******...


"Kenapa Raffa, Mas?" tanya Nayna yang tengah memeluk suaminya itu.


Dia mendongak, menatap wajah Arkan yang yang baru saja selesai menerima telepon dari Raffa itu.


"Dia bilang temannya mau sewa rumah kita yang dulu," sahut Arkan.


"Oh," sahut Nayna singkat.


"Sekarang kita tidurlah," ucap Arkan mengeratkan pelukannya pada Nayna.


"Tunggu dulu Yang," ucap Nayna mendorong sedikit dada polos suaminya itu.


"Apa hemm? Kamu mau satu ronde lagi, ayo kalau kamu tidak cape," ucap Arkan yang langsung mendapatkan hadiah cubitan kecil di dadanya dari Nayna.


"Ish, bukan itu. Kita pakai dulu baju, kayak yang tidak tau Rezvan aja, dia 'kan selalu main nyelonong masuk aja ke sini, gimana kalau dia liat kita kayak gini," omel Nayna sambil bergerak mengumpulkan pakaiannya dan Arkan.


Mereka pun memakai pakaian yang terlepas dari tubuh karena aktivitas malam mereka, karena tidak ingin saat Rezvan datang, mereka masih dalam keadaan polos.


Hal itu pasti akan meninggalkan tanya bagi Rezvan dan bocah itu, pasti akan banyak bertanya jika dia melihat hal itu.


"Mas besok kerja lagi?" tanya Nayna saat sudah kembali merebahkan tubuhnya bersama dengan Arkan dengan pakaian yang sudah lengkap.


Nayna tidur dengan berbantalkan lengan kekar Arkan, dia menyusupkan wajahnya di dada bidang yang selalu membuatnya nyaman itu


"Iya, kenapa gitu?" tanya Arkan sambil mengusap punggung Nayna.


"Tidak kenapa-napa, aku hanya bertanya saja Mas," sahut Nayna.


"Ya sudah kalau gitu tidurlah." Arkan mendaratkan kecupan di kening Nayna sebagai ucapan selamat malam seperti biasa.


"Iya, selamat tidur suamiku tersayang, i love you so much," ucap Nayna yang mendaratkan kecupan manis di seluruh wajah Arkan seperti biasanya.


"Iya, selamat tidur juga istriku tersayang, i love you too more, more, and more."


Arkan menci*mi seluruh wajah Nayna dengan gemas dan berakhir dengan sebuah ci*man panjang dan dalam dia hadiahkan di bibir ranum Nayna yang selalu membuatnya kecanduan.


Setelah puas, Arkan melepaskan tautan bibir mereka dan mengusap lembut bibir yang kini semakin terlihat merona itu dengan ibu jarinya, membersihkan saliva yang tersisa, akibat pertarungan lidah dan bibir mereka.


"Tidurlah," ucap Arkan lagi dan lagi, sambil mendaratkan kecupan di kening Nayna.


Tidak ada kata puas baginya menujukan rasa cinta dan sayangnya dengan memberikan kecupan-kecupan manis nan lembut pada istrinya itu.


Dia selalu ingin menunjukkan cinta dan sayangnya pada istrinya itu, meskipun dengan hal-hal yang sederhana.


Nayna mengangguk, dia kembali menyusupkan dirinya pada dekapan menenangkan itu, lalu mulai memejamkan mata, menjemput mimpi indahnya.

__ADS_1


__ADS_2