Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 43


__ADS_3

Saat ini Nayna tengah berusaha menghubungi Arkan dari beberapa menit yang lalu, namun tidak mendapatkan sahutan juga dari si pemilik nomor itu.


"Angkatlah Om, aku mohon!" Ringis Nayna sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


Bumil itu tidak menyerah, dia mencoba lagi dan lagi menghubungi nomor yang sama, tapi tetap tidak ada sahutan juga dari Arkan, hal itu semakin membuatnya frustasi, apalagi kini rasa sakit di perutnya kian menjadi.


"Akkh sakit! A—aku harus nelepon siapa untuk minta tolong," ucapnya dengan nada bergetar, berusaha sekuat tenaga menahan sakit yang kini tengah menyerang perutnya itu.


Sekitar 15 menit yang lalu, dia jatuh di kamar mandi saat selesai mandi, meskipun sejak saat itu, dia sudah merasa perutnya sakit, tapi dia memaksakan dirinya untuk bangun dan mengenakan baju lalu pergi ke kamar, bermaksud untuk menghubungi Arkan agar diantarkan ke rumah sakit.


Rasa panik semakin menghampiri, saat merasa bagian bawahnya terasa hangat, dia pun mencoba menggegerkan tubuhnya sedikit dan ternyata ada bercak darah di seprai yang berwarna biru muda itu.


Tidak ingin sampai terjadi sesuatu dengan calon anaknya, dia pun memutuskan untuk menelpon mamanya agar mengantarkannya ke rumah sakit, tapi baru saja dia akan mencari nomor mamanya.


Nama Raffa tertera di layar datar benda pipih itu, pria itu menghubunginya di saat yang cukup tepat, akhirnya tanpa pikir panjang Nayna pun segera mengangkat teleponnya untuk meminta bantuan pada Raffa.


'Halo Nay, ini aku ada di ujung jalan komplek rumah kamu, kamu bisa gak nemuin aku sebentar saja.'


"Raf tolong aku!" lirih Nayna.


'Nay! Kamu kenapa?' tanya Raffa dari balik teleponnya dengan panik karena mendengar suara Nayna yang menahan sakit.


"A–aku jatuh di—di kamar mandi, perut aku sakit Raff, tolong!" Nayna memaksakan dirinya untuk berdiri keluar dari kamarnya.


'Kamu tenang ya, jangan panik, aku akan segera ke sana, rumah kamu nomor berapa?' tanya Raffa


"Nomor 30."


'Tenang ya, aku sudah dekat, kamu tunggu saja."


"I—iya," sahut Nayna.


Dia berusaha melangkahkan kakinya yang terasa lemas itu keluar dari kamar, dia berpegangan pada dinding, sambungan telepon itu pun belum dia putuskan, dalam hati terus berdoa agar kandungannya itu baik-baik saja.


Baru saja dia sampai di ruang tengah, terdengar suara Raffa yang memanggilnya dan mengetuk pintu dengan random. Ingin rasanya dia melangkah menuju ke pintu, tapi kakinya terasa semakin lemas dan berat.


"Aku di dalam Raf, buka aja." Nayna hanya bisa menyahutinya dengan suara seadanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Raffa memasuki rumah itu dengan wajah paniknya, apalagi saat melihat kondisi Nayna yang tengah meringis memegangi perutnya.


Tanpa aba-aba dia pun, segera mendekatinya dan menggendong Nayna lalu membawanya ke mobil, dia menutup pintu rumah terlebih dahulu, setelah itu kembali dan segera kembali dan memasuki mobilnya.


"Kamu tenang ya, kalian pasti akan baik-baik saja," ucap Raffa yang sebenarnya, dia sendiri pun tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


Nayna sudah tidak mampu bersuara lagi rasanya, tubuhnya semakin lama semakin terasa lemah, dia hanya memejamkan mata dan meringis sambil mengusap perutnya dengan lembut.


"Kamu atur napas ya, jangan tidur, berusahalah tetap sadar." Raffa berusaha memberikan intruksi.


Nayna pun mengikuti apa yang ayah dari calon anaknya itu ucapkan, dia berusaha terus sadar dan mengatur napasnya, sedangkan Raffa membawa mobil dengan kecepatan yang sedikit tinggi, tapi tetap menjaga keselamatan mereka.


Dia mengambil sebelah tangan Nayna dan sesekali melihat ke arahnya, genggaman tangan Nayna begitu erat, pertanda wanita itu tengah berusaha menahan sakit.


Hanya satu yang saat ini terucap dalam hatinya, semoga anaknya baik-baik saja, begitu pun dengan Nayna, dia tidak ingin terjadi apa pun pada keduanya yang merupakan sama-sama bagian terpenting dalam hidupnya kini.


Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang hanya memakan waktu 15 menit karena Raffa yang sengaja menjalankan mobilnya cukup cepat, juga jalan yang kebetulan tidak padat, hingga mereka bisa sampai lebih awal.


"Sus tolong!" panggil Raffa sambil membawa tubuh lemah Nayna memasuki rumah sakit.


"Iya kamu tenang saja, dia pasti akan baik-baik saja," sahut Raffa menganggukkan kepalanya dengan yakin, tangannya masih menggenggam tangan Nayna yang dingin.


Kening bumil itu, kini sudah dipenuhi oleh keringat dingin, brangkar yang menjadi tempat Nayna terbaring pun telah sampai di depan ruang penanganan, meskipun dengan berat hati, secara perlahan Raffa mulai melepaskan genggaman tangannya dengan Nayna.


"Semuanya pasti baik-baik saja, kamu tenang aja ya," ucapnya tersenyum dan mengusap ujung kepala Nayna, berusaha untuk menenangkan wanita itu.


Setelah pintu yang Nayna masuki itu tertutup, dia menghela napas menenangkan hatinya yang juga tidak tenang, secara perlahan dia pun pergi menuju ke meja resepsionis terlebih dahulu untuk mengisi data.


...*******...


"Iya halo Om."


'Kamu pergi ke mana? Kata Bibi kamu pergi, bukankah Om pernah bilang kalau tidak ada hal yang terlalu serius jangan terlalu sering berpergian,' tutur Arkan dari balik teleponnya.


"Aku lagi di rumah sakit Om," sahut Raffa.


'Kamu kenapa? Ada yang kamu rasakan lagi?" Terdengar nada panik dari suara Arkan di seberang sana, membuat Raffa tersenyum. Omnya itu selalu sensitif, jika dia mengatakan tentang rumah sakit.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Om, tapi …," ucapan Raffa terhenti karena kembali sedih, memikirkan tentang kondisi Nayna.


'Tapi kenapa?'


"Tapi mantan pacar aku tadi jatuh dari kamar mandi," terang Raffa dengan nada sedih.


'Apa! Terus sekarang gimana kabarnya? Apa kandungannya baik-baik saja?' tanya Arkan yang kini terdengar lebih khawatir dari sebelumnya.


"Sekarang masih ditangani oleh dokter, semoga saja mereka baik-baik saja," ucap Raffa penuh harap.


"Iya, semoga saja ibu dan bayinya baik-baik saja."


"Om masih di kantor?" tanya Raffa mengalihkan pertanyaan.


'Iya, masih ada beberapa lagi pertemuan, ini aja Om harus segera kembali ke pergi lagi untuk meeting di luar,' ucap Arkan yang terdengar tidak bersemangat.


"Om lelah ya?" tanya raffa.


'Tidak, Om hanya memikirkan pekerjaan saja.'


"Om, jangan terlalu diforsir kerjanya, berikan saja sebagian pekerjaannya ke Om Ivan," ucap Raffa yang juga memikirkan kesehatan Omnya itu yang menang setelah memutuskan untuk fokus pada perusahaannya, dia semakin sibuk.


'Om baik-baik saja, saat ini masih menjalankan proyek yang cukup penting untuk memperkenalkan perusahaan kita sampai ke beberapa negara lain, jadi Om harus lebih serius.'


Raffa hanya mengangguk, meskipun Arkan tidak dapat melihat anggukan kepalanya itu.


'Ya udah kalau gitu, Om tutup dulu teleponnya, rapatnya udah mau dimulai.'


Setelah mengatakan hal itu, sambungan telepon antara mereka itu pun kini mulai terputus. Raffa segera menyimpan ponselnya ke saku celana., tak lama kemudian, pintu ruangan di depannya terbuka.


Dokter yang menangani Nayna pun keluar dari ruangan, melihat hal itu sontak saja Raffa segera bangun dari duduknya, dia menunggu kabar dari dokter tentang kondisi Nayna dan kandungannya itu dengan harap cemas.


Mengingat bagaimana kondisi Nayna yang mengalami pendarahan, membuat dia semakin tidak tenang. Dia menatap dokter itu dengan was-was, apalagi saat dokter wanita itu akan mulai membuka suaranya, untuk mengatakan tentang kondisi Nayan.


...----------------...


Selalu ditunggu ya, dukungan dari kalian🥰 agar aku merasa ada yang selalu menantikan kelanjutannya cerita ini🙏

__ADS_1


__ADS_2