Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 46


__ADS_3

Raffa baru saja akan menaiki mobilnya, tapi matanya tak sengaja melihat orang-tua Nayna yang baru saja turun dari mobil. Melihat hal itu dia merasa lega karena ada orang-tua bumil itu yang akan menemaninya.


Setelah melihat orang-tua Nayna yang sudah memasuki rumah sakit, Raffa pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Dan tak lama setelah mobil Raffa meninggalkan pelataran rumah sakit, dari arah berlawanan datang sebuah mobil, berwarna hitam ke arah rumah sakit itu.


Mobil itu berhenti di parkiran dan si empunya pun turun dari mobil, pria itu mulai memasuki rumah sakit, menuju ke ruangan tempat Nayna dirawat.


"Pak Arkan," sapaan ramah dari Dokter kandungan yang menangani Nayna.


Arkan tersenyum pada dokter wanita itu dan bertanya tentang kondisi Nayna, "Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya Dok?"


"Baik-baik saja Pak, cuma harus bed rest saja selama beberapa hari," sahur Dokter itu dengan ramah.


"Syukurlah, apa Dokter habis memeriksa Nayna?" Arkan bernapas lega.


"Iya Pak, kalau gitu saya mau kembali ke ruangan saya dulu," pamit Dokter.


"Iya Dok, terima kasih."


Dokter itu pun hanya mengangguk, lalu melangkah meninggalkan Arkan yang kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena obrolannya dengan Dokter.


Saat sampai di depan ruangan, Arkan menarik napas terlebih dahulu setelah itu baru membuka pintu berwarna putih itu, kedatangannya membuat orang-orang yang berada di ruangan menghentikan pembicaraan mereka dan langsung melihat ke arahnya.


Arkan tersnyum dan memasuki ruangan itu, menyapa kedua mertuanya dengan ramah, setelah itu beralih menatap Nayna yang tidak mengalihkan tatapan darinya, menatapnya dengan lamat.


"Kamu dari mana? Kenapa meninggalkan istri kamu sendirian?" tanya Ferdi dengan nada sedikit sinis.


"Om Arkan, tadi aku suruh pulang dulu untuk ganti baju dan siap-siap untuk bekerja Pa," timpal Nayna menghentikan Arkan yang baru saja akan menjawab pertanyaan mertuanya.


Melihat Nayna berbohong untuk membelanya di depan orang-tuanya, membuat Arkan menatap bumil itu dengan tatapan seolah tidak enak. Dia kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang sebelumnya Raffa duduki.


"Aku kira kamu tidak menemani istri kamu di sini," sahur Ferdi datar.


Arkan tidak menyahutinya, dia hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan kembali beralih menatap Nayna kembali.


Melihat suaminya yang masih saja menunjukkan ketidaksukaannya pada Arkan, Winda pun menyikut perut Ferdi yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Om udah sarapan belum?" tanya Nayna pada Arkan, tanpa memedulikan papanya yang masih menunjukkan ketidaksukaannya itu.


"Belum, nanti aku akan sarapan di kantor saja," sahut Arkan.

__ADS_1


"Oh gitu, kalau Om mau langsung ke kantor pergi saja, nanti telat," ucap Nayna meskipun dalam hati dia masih ingin pria itu untuk berada di sana dan menemaninya.


Namun, dia tidak ingin mengganggu waktu untuk pria itu kerja, apalagi suaminya baru beberapa hari mulai kerja.


"Iya aku bentar lagi berangkat, kamu udah sarapan?" tanya Arkan menatap Nayna dengan dalam.


"Udah tadi dibantu sama Raf— sama suster." Nayna merutuki dirinya yang hampir saja menyebutkan nama Raffa.


"Oh syukurlah kalau gitu." Arkan mengangguk.


Nayna menatap Arkan dengan dalam, dia sebenarnya sangat ingin bertanya pada suaminya itu, kenapa dia semalam tidak datang ke sana, tapi dia tidak mungkin menanyakan hal itu saat ini. karena ada orang-tuanya.


"Kamu tidak kerja lagi restoran?" tanya Winda, membuat Arkan memiringkan tubuhnya agar dapat melihat ke arah mertuanya itu.


"Tidak Ma, sekarang Arkan udah pindah kerjanya," sahut Arkan.


"Kalau gitu kamu segeralah berangkat kerja, ini sudah siang jangan sampai telat, kamu kan belum lama kerja," ucap Winda.


"Iya Om, sebaiknya Om berangkat sekarang saja," timpal Nayna yang setuju dengan ucapan mamanya itu.


"Kamu tidak apa-apa, aku tinggal lagi?" tanya Arkan dengan ragu.


"Iya, kamu tenang saja. Biar Mama yang jagain Nayna, kamu fokuslah kerja," timpal Winda.


"Baiklah, aku berangkat kerja dulu ya."


"Iya Om, hati-hati." Nayna menganggk dan tersenyum.


Arkan pun mulai berdiri dan mengusap ujung kepala Nayna terlebih dahulu, setelah itu dia pun mulai membalikan badannya menghadap pada kedua mertuanya dulu.


"Arkan pamit kerja dulu ya Ma, Pa. Maaf merepotkan Mama sama Papa untuk menjaga Nayna."


"Tidak repot sama sekali, kamu fokuslah pada pekerjaanmu," sahut Winda mengangguk.


Setelah itu Arkan pun mulai melangkah kembali meninggalkan ruangan itu, sedangkan Nayna, menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan menghela napas pelan.


"Nanti suami kamu juga pulang lagi, tidak perlu memasang wajah sedih seperti itu."


Mendengar ucapan bernada godaan dari mamanya itu Nayna pun beralih menatap mamanya dan memasang wajah cemberutnya, dia sebenarnya masih ingin lebih lama berada di dekat suaminya itu.

__ADS_1


Bahkan pertanyaan tentang ke mana pria itu semalam, kenapa pria itu seolah menghindar darinya akhir-akhir ini lenyap begitu saja, terganti dengan rasa senang karena kedatangannya yang singkat itu.


"Aku cuma khawatir karena Om Arkan belum sarapan Ma," sahut Nayna santai.


"Kamu belum merubah panggilanmu untuk suami kamu itu," ucap Winda sambil berdecak.


Nayna tersenyum lebar pada mamanya itu, karena dia memang belum bisa merubah panggilannya untuk Arkan.


"Aku lebih nyaman memanggilnya seperti itu Ma," sahut Nayna.


"Meskipun kamu merasa nyaman, tapi tetap tidak enak didengar," sahut Winda.


"Tapi, aku udah nyaman manggilnya gitu Ma."


"Panggil Mas, apa susahnya sih," gerutu Winda.


"Cuma masalah panggilan saja, kenapa harus diributkan seperti itu," timpal Ferdi, melerai sedikit perdebatan antara anak dan istrinya itu.


"Ya tidak enak aja didengarnya Pa, masa Nayna terus manggil suaminya Om, padahal Arkan belum tua, hanya umurnya yang sedikit beda jauh saja darinya," terang Winda.


"Terserah Nayna aja, mau manggil suaminya apa. Itu haknya, kalau dia nyaman dengan panggilannya itu, kenapa kamu meributkan hal itu," tutur Ferdi membela Nayna.


Winda mendengkuus kesal, karena suaminya mulai kembali ke sikap awalnya, yaitu selalu membela Nayna saat terjadi perdebatan di antara mereka, sementara Nayna tersenyum sambil menatap papanya.


Papanya membelanya, meskipun hanya masalah sepele, tapi dia senang karena secara perlahan pria paruh baya itu, mulai kembali pada sikap awal yang selalu membelanya seperti dulu.


"Oh iya Papa sama Mama udah sarapan belum?" tanya Nayna membuat orang-tuanya kembali menatapnya.


"Sudah tadi sebelum ke sini, kamu tadi belum menjawab pertanyaan dari kita, kenapa kamu tidak menghubungi kami dari kemarin?" Winda kembali menanyakan pertanyaan yang belum Nayna jawab.


"Nayna panik, jadi tidak teringat untuk menghubungi Mama sama Papa," alasan Nayna.


"Terus kenapa suami kamu juga tidak memberitahu kami?" Kini giliran papanya yang bertanya, membuat Nayna memikirkan alasan tepat untuk menjawabnya.


"Itu, karena Om arkan juga panik ditambah dia sedang benar-benar sibuk sama pekerjaannya, jadi kemarin dia nungguin aku sambil kerja juga, jadi tidak sempat menghubungi kalian," terang Nayna.


"Baiklah kali ini kami maafkan, tapi lain kali kalau ada apa-apa jangan sampai lupa buat hubungi kita," ucap Winda menatap anaknya itu dengan serius.


"Iya Ma, lain kali aku akan menghubungi kalian," sahut Nayna dengan lega, karena orang-tuanya percaya dengan apa yang dikatakannya itu.

__ADS_1


__ADS_2