Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 37


__ADS_3

"Turunlah Nay," ucap lelaki yang sangat dikenalnya sambil mengetuk pintu mobilnya.


Nayna pun memutuskan untuk membuka pintu mobil dan turun dari mobilnya itu, dia menatap lelaki di depannya itu dengan tajam.


"Apa maksud kamu ngikutin aku kayak gitu!" geram Nayna, jantung hampir saja copot karena berpikir jika orang yang mengikutinya itu adalah orang jahat.


"Maaf udah buat kamu takut, aku bermaksud untuk menemuimu saat kamu sampai, tapi ternyata kamu malah muter-muter, akhirnya aku pun mengikutimu," terang Raffa berusaha menangkan Nayna.


Mobil yang mengikuti mobil Nayna itu ternyata adalah Raffa, dia yang secara kebetulan lewat di jalan dekat toko yang Nayna datangi pun, melihatnya saat hendak memasuki mobil, akhirnya tanpa pikir panjang dia pun mengikutinya.


Dia memang bermaksud untuk menemui, bumil itu saat sudah sampai di tempat tujuannya, tapi ternyata mobil yang membawanya itu malah terus muter-muter, akhirnya dia pun tidak punya pilihan lain, selain terus mengikutinya.


Raffa tidak ingin menunda lagi untuk menemui Nayna, karena dia tidak tahu di mana tempat tinggalnya, jadi dia terus mengikuti karena tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan wanita tengah hamil anaknya itu.


"Kamu mau ngapain lagi sih, aku udah bilang jangan muncul lagi di depan aku!" tekan Nayna.


Nayna bermaksud akan kembali memasuki mobil dan melanjutkan perjalanannya, tapi Raffa menahan gerakannya yang akan menutup pintu mobilnya itu.


"Aku sudah tau semuanya." Raffa menatap Nayna dengan serius.


Nayna balas menatap Raffa, menelaah maksud dari ucapannya itu, untuk beberapa saat tidak ada yang kembali bersuara, hanya saling menatap dalam diam, hingga lelaki itu kembali membuka suaranya lagi.


"Aku udah tau semuanya, Nay!" ulangnya lagi dengan sedikit menekan ucapannya itu.


"Apa maksud kamu, udah jangan ganggu aku lagi." Nayna berusaha menyingkirkan tangan Raffa yang menahan pintu mobilnya.


"Aku kemarin dari dokter kandungan langganan kamu, ak—"

__ADS_1


"Pak, udah sampai sini aja, Pak Ridwan pulang aja ya. Takutnya Mama atau Papa mau pergi," ucap Nayna pada Ridwan, hingga membuat ucapan Raffa itu langsung terhenti.


"Tapi Non, ini kan belum sampai," ucap Ridwan merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Pak, udah deket juga dari sini, aku jalan kaki aja sekalian olahraga," ucap Nayna tersnyum pada Ridwan sambil bergerak akan turun dari mobil.


"Tapi Non." Ridwan menatap Raffa dengan khawatir, dia memang tahu siapa lelaki itu, karena dulu dia sering bertemu dengannya.


"Tidak apa-apa Pak, aku pasti baik-baik saja kok, tidak perlu khawatir." Nayna menutup kembali pintu mobilnya.


"Baiklah, kalau gitu saya pulang dulu ya, Non," pamit Ridwan pasrah.


"Iya Pak."


Setelah mobil yang dikendarai oleh Ridwan itu menjauh, Nayna pun berbalik dan menatap Raffa dengan datar tanpa ekspresi.


"Terus apa yang mau kamu lakukan, jika kamu sudah tau tentang hal itu. Tau atau tidaknya, itu tidak akan merubah keadaan." Dengan memasang wajah dinginnya, Nayna pun kembali berbalik, akan meninggalkan Raffa.


"Ijinkan aku untuk bertanggung jawab!" lirih Raffa menatap punggung Nayna dengan sendu.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Raffa itu, dia kembali berbalik dan menatap dalam Raffa, dengan luapan emosi yang sudah kembali terkumpul dalam hatinya.


"Tanggung jawab!" Nayna tertawa miris mendengar ucapan yang seperti ledekan untuknya itu. Di mana pemuda itu saat dia mengharapkan hal itu beberapa bulan lalu, di mana dia saat dia ketakutan memikirkan, kira-kira apa yang akan terjadi pada hidupnya.


"Aku tidak butuh itu, kamu pergilah!" Kini tatapan Nayna sudah kembali tajam.


"Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dan suami kamu, tapi ijinkan aku untuk bertanggung jawab untuk anakku." Raffa menatapnya dengan memohon.

__ADS_1


"Di mana kamu dulu, saat aku mencari dan menghubungimu setengah mati, di mana kamu saat aku kebingungan dan ketakutan. Bingung dengan apa yang harus aku lakukan saat tahu dia hadir, aku takut dengan opini orang tentangku, aku takut dengan tatapan mencemooh dan menghina orang terhadapku!"


"Apa kamu pernah memikirkan aku saat itu, apa kamu tau apa yang aku rasakan itu, jawab Raf! jawab! Ke mana aja kamu selama ini, kenapa kamu pergi di saat aku sedang benar-benar membutuhkanmu di sisiku, kenapa kamu menghilang gitu aja, membiarkan aku mengalami hal itu sendirian, JAWAB!" raung Nayna dengan disertai luruhnya tangisan yang selalu ditahannya. Dia bahkan tidak memikirkan lagi di mana posisinya saat ini.


Nayna mengeluarkan semuanya dengan napas yang mulai memburu, air mata kian berjatuhan di pipi putih nan mulusnya itu. Tatapan hancur dan sedih dari pancaran mata itu, membuat Raffa membatu di tempatnya.


Hatinya terasa diremas oleh tangan yang tak kasat mata, melihat orang yang selalu dipikirkannya menangis di depannya dengan penuh kesedihan seperti itu, rasa bersalah semakin menyelimuti, hingga rasanya sepatah kata maaf pun tidak mampu dia ucapkan lagi saat ini.


Sakit, itulah yang saat ini dirasa oleh hatinya itu, hanya mendengar saja, dia seolah ikut merasakan rasa sakit itu, apalagi dengan Nayna yang menjalaninya secara langsung, tapi dia juga tidak ingin hal itu terjadi, semua itu sungguh di luar kendalinya.


Tidak tahan lagi, Raffa pun menarik Nayna ke dalam pelukannya, berharap hal itu bisa memberikan sedikit ketenangan pada wanita yang kini tengah mengandung anaknya itu.


"Apa kamu tau, seberapa takutnya aku saat itu? Saat Papa memitaku untuk menggugurkannya, aku takut tidak bisa mempertahankan dan menjaganya sendiri!" Suara Nayna tercekat karena tangisnya, dia kemudian menyentuh perutnya yang terasa keram.


Tak lama kemudian, Nayna melepaskan pelukan Raffa itu, dia mengusap pipinya dengan kasar, tatapan matanya sudah sedikit melemah, sedangkan Raffa menatapnya dengan sendu, atas penolakan itu.


"Kamu tenang aja, ketika dia sudah mengerti, aku akan mengatakan yang sebenarnya, siapa ayahnya, tapi aku mohon jangan temuin lagi, jangan ganggu kehidupanku lagi, biarkan aku merawatnya dengan tenang!"


Mendengar hal itu, seolah tertimpa benda yang sangat besar, hatinya kian sakit, kakinya terasa lemas. Dia menatap Nayna semakin sendu, berharap wanita itu akan memberikannya kesempatan, meskipun dia yakin, jika dia tidak akan bisa bertanggung jawab secara total.


"Aku hanya ingin bisa tau tumbuh kembangnya, Nay!" lirih Raffa masih menatapnya dengan penuh permohonan.


Nayna berusaha kembali mengeraskan hatinya dan berusaha tidak peduli dengan Raffa. Wanita hamil itu pun mengeratkan genggaman tali paperback yang berisi barang-barangnya itu, menarik napas sedalam-dalamnya.


Dia kemudian membalikkan badannya, kembali pergi dari hadapan Raffa agar bisa kembali menenangkan hatinya, memang itulah yang seharusnya dia lakukan. Namun, detik berikutnya langkahnya kembali terhenti, saat mendengar ucapan Raffa lagi.


"Aku mengidap kanker darah stadium lanjut, saat itu aku kembali drop, hingga mengharuskan, aku untuk melakukan tidakkan medis yang serius!"

__ADS_1


Nayna mematung di tempatnya, apa yang baru saja didengarnya itu, apakah itu nyata, atau itu hanya akal-akalan dari lelaki itu saja agar dia mau memaafkannya.


__ADS_2