Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 84


__ADS_3

"Mbak, aku titip Rezvan ya, nanti aku sama Mas Arkan pasti bakal sore atau malem pulangnya, tadi katanya Raffa juga mau ke sini buat ajak Rezvan main," ucap Nayna yang sudah siap akan pergi.


"Iya Nyonya," sahut Indah sambil menunduk.


Tak lama kemudian, suaminya mendentanginya, pria itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Nayna dengan posesif.


"Ayo perjalanan kita cukup jauh," ajak Arkan yang nampak tampan, dengan setelan jas casualnya berwarna hitam, senada dengan dres pesta yang Nayna kenakan.


"Iya Mas." Nayna mengangguk dan beralih menatap anaknya yang tengah asyik bermain.


"Rezvan, Mama sama Papa pergi dulu ya, kamu jangan nakal di rumah ya, nanti katanya Om Raffa akan ke sini, buat ajak kamu main," ucap Nayna berjongkok di depan anaknya itu.


"Oke Ma, Mama sama Papa pelgi aja, Lesvan tidak akan nakal," sahut Rezvan mengacungkan jempolnya.


"Pintarnya anak Papa," sela Arkan, mengusap kepala Rezvan dengan sayang.


Rezvan tersenyum mendapatkan pujian dari papanya itu, Nayna dan Arkan pun mulai pergi dari rumahnya.


Rencananya hari ini Arkan akan menghadiri acara pernikahan dari anak kliennya, karena Ivan dan Fara yang biasan dia tugaskan untuk menghadiri undangan seperti itu tidak bisa pergi, karena anaknya sakit.


Jadi dia pun memutuskan untuk pergi sendiri bersama dengan Nayna, meskipun sebenarnya dia tidak bersemangat, karena biasanya di hari libur seperti itu, adalah waktunya untuk berleha-leha di rumah.


Menghabiskan waktu dan bermanja pada istrinya, karena hari-hari lainnya, dia hanya bisa menempel pada istrinya itu saat malam saja.


"Tempatnya lumayan jauh," ucap Arkan sambil fokus menyetir pada Nayna.


"Iya tidak apa-apa Mas," sahut Nayna dengan tersenyum.


Mereka melakukan perjalanan itu dengan sesekali berbincang hangat, saling bersenda gurau seperti yang biasa mereka lakukan, jika tengah bersama.


Arkan yang tidak lepas dari sikap aslinya yang suka menggoda Nayna dalam hal apa pun, berbeda terbalik dengan dirinya di depan orang lain yang terlihat dewasa.


Perjalanan yang memakan waktu satu jam setengah itu, tidak terasa karena mereka terus saja bersenda gurau, saling melemparkan candaan, juga ucapan manis.


"Sudah sampai ternyata," ucap Nayna saat menyadari jika kini mobil mereka telah sampai di pelataran gedung yang menjadi tempat acara klien dari suaminya itu.


Setelah kendaraan beroda empat yang Arkan kemudikan itu telah terparkir dengan sempurna, mereka pun segera turun dari mobil, berjalan dengan saling bergandengan memasuki gedung yang cukup besar itu.


Gedung yang biasanya dipakai khusus untuk diadakannya acara-acara besar, seperti pernikahan, acara ulang tahun dan sebagainya.


"Tempatnya lumayan bagus ya Mas luas juga," komentar Nayna saat mulai memasuki gedung itu dan sudah disambut oleh pihak penyelenggara acara.

__ADS_1


"Iya, apa kamu mau kita mengadakan acara pernikahan ketiga kita?" tanya Arkan dengan besbisik, lalu tersenyum ke arah lain karena ada beberapa kenalannya yang menyapa.


"Tidak perlu. Mas sepertinya banyak banget kenalannya," ucap Nayna karena selama mereka berjalan memasuki gedung itu, pasti ada saja yang menyapa suaminya itu.


"Itu tuntutan pekerjaan Sayang, kita harus banyak bergaul dan kenal banyak orang," sahut Arkan.


Nayna hanya mengangguk paham, dia masih betah berjalan sambil melingkarkan tangannya di lengan Arkan, hingga mereka berhenti di depan pemilik acara itu.


"Selamat siang Pak Denis," sapa Arkan pada kliennya yang menikahkan anaknya itu.


"Selamat siang Pak Arkan, terima kasih karena Pak Arkan dan istri mau menyempatkan diri ke sini.


"Sama-sama Pak, kebetulan saya dan istri saya sedang senggang, jadi bisa menyempatkan diri ke sini," sahut Arkan.


Setelah beramah tamah, juga mengucapkan selamat pada pasangan pengantin, Arkan dan Nayna pun memilih duduk di deretan kursi sambil menikmati hidangan yang tersaji.


"Pak Arkan datang juga ke sini ternyata," sapa seseorang sambil menepuk pundak Arkan yang posisinya tengah membelakanginya.


Mendapat tepukan dari belakangnya itu, Arkan pun berbalik badan dan langsung menyalami pria yang jauh lebih tua darinya, sambil berdiri dari kursinya.


"Pak Hendra juga datang ke sini ternyata, apa Bapak kenalan Pak Denis juga?" tanya Arkan dengan ramah.


"Oh begitu, kalau begitu silakan duduk Pak, kebetulan ini ada kursi yang kosong," tawar Arkan menunjuk kursi di sampingnya yang memang kosong.


"Iya terima kasih Pak, oh iya maaf ini siapa ya?" tanya Hendra pada Nayna yang dari tadi menyimak obrolan mereka.


"Oh iya, kenalkan ini Nayna istri saya," ucap memperkenalkan Nayna.


Nayna pun menunduk dan tersenyum ramah pada pria yang menurutnya asing itu.


"Oh iya salam kenal Bu," ucap Hendra tersenyum ramah juga.


Setelah itu, mereka pun kembali duduk di kursi, menikmati berlangsungnya acara itu, Hendra sesekali mengajak Arkan berbicara, hingga membuat Arkan sedikit mengabaikan istrinya.


"Istri Pak Arkan, sepertinya masih sangat muda?" tanya Hendra pada Arkan.


"Iya Pak, dia memang masih muda, perbedaan umur kita pun cukup jauh," sahut Arkan tersenyum.


"Hati-hati saja ya Pak, biasanya punya pasangan lebih muda itu jarang awet," ucap Hendra yang tentu saja membuat Arkan kurang suka mendengarnya.


Tidak berniat menimpali hal itu, dia pun hanya tersenyum tanpa berbicara pada kenalannya itu.

__ADS_1


"Saya bukannya nakut-nakutin ya Pak, tapi saya mengalaminya sendiri, diselingkuhi oleh istri saya, karena perbedaan kita memang cukup jauh, sekitar 14 tahunan."


"Ya mungkin karena saya sudah tidak muda lagi, dalam hal apa pun sudah sedikit menurun, termasuk rupa, sementara mantan istri saya yang memang pada dasarnya masih jauh lebih muda, jadi menginginkan pria yang sebaya dengannya," cerita Hendra panjang lebar.


"Tidak semua wanita seperti itu Pak," sanggah Arkan.


"Iya sih, Pak. Tapi rata-ratanya sih seperti itu, maaf Pak bukan maksud saya menakut-nakuti, saya hanya bercerita saja," tutur Hendra lagi.


"Iya tidak apa-apa Pak," sahut Arkan dengan wajah biasa saja.


Padahal hatinya tidak nyaman, ingin pergi dari sana, apalagi mendengar Hendra yang terus bercerita tentang hubungan dia dan istrinya yang tidak baik.


"Mas aku mau ke toilet dulu ya," ucap Nayna yang seolah angin segar untuk Arkan.


Sepertinya istrinya itu tahu saja, jika dia ingin menghindar dari Hendra, sehingga pengen ke toilet di saat yang tepat.


"Baiklah ayo aku anterin," sahut Arkan yang langsung bangun dari duduknya.


"Maaf Pak, kami permisi dulu ya," pamit Arkan pada Hendra, sambil sedikit menunduk.


"Iya Pak Arkan, semoga nanti kita bisa bertemu lagi dan membahas masalah kerja sama lagi," sahut Hendra mengangguk.


"Iya Pak."


Arkan pun langsung menggandeng tangan Nayna agar pergi dari sana, mereka berjalan mencari toilet sesuai dengan keinginan Nayna.


"Nanti setelah dari toilet kita langsung pulang ya," ucap Arkan sebelum Nayna masuk ke dalam toilet.


"Lho bukannya acaranya belum selesai ya Mas," sahut Nayna dengan heran.


"Tidak apa-apa, yang penting kita sudah datang, tidak perlu menunggu sampai acaranya selesai," sahut Arkan yang sudah merasa tidak nyaman.


"Baiklah, aku ke dalam dulu ya," pamit Nayna yang dijawab anggukan oleh suaminya itu.


...----------------...


Selamat malam semuanya, terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena sudah memberikan dukungan untuk cerita ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Luv banyak-banyak buat kalian semuanya ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Selamat istirahat๐Ÿ™๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2