
"Kenapa Sayang?" tanya Nayna yang merasa heran, karena melihat Arkan dari tadi terus melamun.
Saat ini Nayna sudah mulai terbiasa dengan panggilan itu terhadap suaminya, begitu pun dengan Arkan, meskipun sebenarnya pria itu tidak seperti Nayna untuk membiasakan panggilan itu.
"Tidak kenapa-napa," sahut Arkan tersenyum. "Duduklah, di sini," sambungnya lagi, menepuk tempat di sampingnya.
Nayna pun menurut, dia duduk di samping Arkan, masih dengan tatapan penuh tandanya.
"Kaki kamu bengkak."
Nayna menatap ke arah yang ditatap oleh Arkan, dia kemudian menganggukkan kepalanya. Kakinya memang bengkak, tapi kata dokter yang menanganinya itu adalah hal yang biasa.
"Sedikit, kata dokter juga ini sudah biasa," sahut Nayna.
"Simpanl di sini kakinya," ucap Arkan menepuk-nepuk pahanya.
"Mau ngapain?" Nayna menatapnya dengan heran.
"Biar aku pijat," sahut Arkan.
"Tidak perlu, kata dokter—"
Nayna tidak melanjutkan ucapannya lagi, karena kakinya sudah tarik oleh suaminya itu dan di simpan di pahanya, hingga akhirnya dia pun hanya bisa pasrah, membiarkan Arkan memijat kakinya.
"Kalau ada masalah cerita aja, jangan di simpan sendiri." Nayna memulai percakapan lagi, setelah beberapa saat terdiam.
"Ini tentang Fasya," sahut Arkan tanpa menghentikan kegiatannya, memijat kaki Nayna dengan lembut.
"Ada apa sama Raffa?"
"Tadi pagi aku sudah mengatakan tentang hubungan kita padanya," sahut Arkan dengan helaan napas beratnya.
"Terus, gimana reaksinya?" tanya Nayna yang tidak dapat menyembunyikan rasa kaget plus penasarannya.
"Yang pasti dia akan sangat sedih dan terluka," sahut Arkan dengan sedih.
"Bukankah itu lebih baik, jika dia tau hal itu sekarang, dia pasti tidak akan merasa terlalu kecewa, daripada kita terus menyembunyikan hal ini dan akhirnya dia tau dari mulut orang lain, malah akan membuatnya merasa jauh lebih kecewa lagi," terang Nayna panjang lebar.
Dia berusaha menenangkan Arkan yang terlihat tidak tenang, meskipun pria itu berusaha tersnyum untuk menutupi kegundahan dalam hatinya, tapi Nayna tahu jika pria itu saat ini tengah memikirkan tentang Raffa.
__ADS_1
"Apa menurutmu dia akan kecewa padaku? Atau mungkin saat ini dia merasa dikhianati?"
Nayna menggeleng keras, menyanggah pendapat Arkan itu.
"Aku yakin dia akan mengerti dengan keadaan saat itu, jadi tidak ada alasan untuk dia merasa dikhianati," sahut Nayna tersenyum pada suaminya.
"Semoga saja semuanya seperti apa yang kamu katakan itu," ucap Arkan menganggukkan kepalanya.
Nayna pun ikut mengangguk dan tersenyum pada Arkan, dia menatap pria yang tengah telaten memijat kakinya yang membengkak itu, dengan senyuman yang masih setia tersungging di bibir ranumnya.
"Apa merasa nyaman, dipijat seperti ini?" tanya Arkan dengan menatapnya, tanpa menghentikan kegiatannya itu.
"Nyaman banget, kamu pinter mijat juga ternyata," ucap Nayna mengangguk.
"Baguslah kalau kamu merasa nyaman."
Setelah itu mereka mengobrol dengan lebih santai, tentang kehidupan mereka dan masa depan mereka, di sela-sela obrolan pasangan, terselip candaan yang kadang membuat mereka tertawa bersama.
"Menurutmu, dia laki-laki atau perempuan?" tanya Nayna memgusapa perutnya.
"Entahlah, tapi mau laki-laki atau perempuan yang penting dia lahir dengan sehat dan selamat, begitu pun demgan ibunya," sahut Arkan.
"Tapi apa kamu atau Fasya udah siapin nama untuknya?" tanya Arkan membuat bumil itu menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kamu tanyakan saja dia, siapa tau dia sudah menyiapkan nama untuknya," ucap Arkan masih dengan kegiatan memijatnya.
"Iya, mungkin besok aku akan menanyakan hal ini, sekalian aku ngajak dia ketemu boleh tidak?" tanya Nayna.
"Boleh."
"Om tidak merasa cemburu gitu aku mau ketemuan sama Raffa?" Nayna memanyunkan bibirnya, karena melihat Arkan biasa saja menanggapi dia yang akan bertemu dengan Raffa.
Melihat rajukan dari istrinya itu Arkan menjadi, gemas. Dia mencubit hidung kecil yang mancung itu dengan cukup kerasa, saking gemesnya hingga membuat si empunya mengaduh kesakitan.
"Cemburu hanya untuk orang yang merasa tidak percaya pada dirinya," sahut Arkan.
"Bukannya cemburu tanda cinta?"
"Bagi sebagian orang mungkin seperti itu, tapi aku tidak ingin menjadikan cemburu itu tanda cinta, bagi aku menunjukkan tanda cinta tidak dengan cara seperti itu."
__ADS_1
"Terus?"
"Cemburu itu hanya berlaku pada orang yang tidak percaya pada dirinya sendiri dan cinta pasangannya, sedangkan aku sangat percaya pada diriku sendiri dan cintamu padaku."
"Dasar teralu percaya diri, bagaimana kalau ternyata cintaku padamu, tidak sebesar yang kamu pikirkan," ucap Nayna menggoda Arkan.
"Aku yakin kalau cintamu padaku, sama seperti cintaku padamu."
Nayna tersenyum begitu pun sebaliknya, mereka saling menatap dengan dalam, saling mengungkapkan perasaan yang ada di hati mereka melalui tatapan itu.
...*******...
"Den makan dulu, sekarang sudah waktunya untuk minum obat lagi," ucap art Raffa sambil menyimpan nampan berisi makanan dan minuman di nakas yang terletak di samping ranjang.
"Iya Bi, nanti aku akan makan," sahut Raffa tanpa melihat ke arahnya.
Semenjak kejadian tadi pagi, dimana setelah Arkan mengatakan semuanya, Raffa hanya duduk termenung di ranjang miliknya itu.
Wanita yang kerap disapa Bibi itu pun sedikit mengintip ke arah ponsel yang dari tadi Raffa perhatikan itu, dia melihat Raffa masih melihat foto yang dari tadi terus dilihatnya.
"Den beneran makan ya, dari tadi Aden belum makan dan minum obat, kalau Aden tidak mau makan dan minum obat lagi, maka Bibi akan menelpon Den Arkan, agar dia bisa ke sini," ancam Bibi, membuat Raffa mengalihkan matanya yang dari tadi terus melihat ponsel itu beralih padanya.
"Iya Bi, aku akan makan sekarang, Bibi bisa lanjutkan pekerjaan Bibi yang lainnya," sahut Raffa yang sudah mulai menyimpan benda pipih di tangannya itu. Lalu mengambil piring yang berisi nasi dan lauknya.
"Baiklah Den, nanti Bibi ke sini lagi untuk membereskan piring kotornya," pamit Bibi.
"Iya Bi," sahut Raffa mengangguk malas.
Raffa memakan makanannya itu dengan tanpa minat, bayangan yang terjadi tadi pagi, lagi dan lagi menghadirkan rasa nyeri di hatinya itu, merelakan memanglah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Apalagi kenangan-kenangan yang dilewatinya bersama Nayna masih tersimpan apik di ingatannya, mencintai Nayna dari saat pertemuan pertama membuat rasa itu terlalu sulit untuk dilupakan.
Ucapan Nayna adalah cinta pertama dan cinta terakhirnya, bukanlah sebuah omong kosong saja, tapi itu benar-benar kenyataannya. Biarkan dia membawa cinta yang begitu besar, hingga akhirnya menutup mata.
Terus memikirkan tentang pernikahan Arkan dan Nayna, ke dua orang paling penting dalam hidungnya, membuat makanan yang tengah dimakannya itu terasa pahit.
"Aku yakin Om Arkan adalah orang yang tepat untuk kalian, aku hanya berharap kelak kalian akan selalu bahagia dan aku akan pergi dengan tenang," gumamnya menatap kosong.
...----------------...
__ADS_1
Udah nunggu gak nih😆
Maaf ya tadi pagi mau up gak ada ide, siangnya lumayan sibuk, nulis dari asar, eh malah jaringannya menguji kesabaran, jadinya baru bisa ke kirim sekarang🙏🥰