Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 50


__ADS_3

"Gimana hasil pemeriksaannya?" tanya Raffa dengan wajah antusiasnya, saat Nayna baru saja keluar dari ruang peraktek dokter kandungan.


Nayna hanya tersenyum melihat laki-laki yang terlihat antusias itu, seperti saat tadi pagi, ketika dia mengatakan jika hari ini dia mau cek kandungan, laki-laki itu juga dengan antusias menanyakan apakah dia boleh ikut atau tidak.


"Semuanya baik, nanti aku ceritakan detailnya di mobil, ayo." Nayna berjalan lebih dulu, membuat laki-laki itu pun mengikutinya.


Mereka memasuki mobil, Raffa mulai menjalankan mobilnya dengan mendengarkan setiap cerita Nayna tentang apa saja yang dokter katakan padanya, mendengar setiap ucapan itu, Raffa semakin tersenyum lebar, tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.


Meskipun dia tidak bisa ikut masuk dan melihat secara langsung perkembangan anaknya melalui layar usg, baginya hanya mendengar apa yang Nayna ceritakan itu pun sudah membuatnya teramat senang.


"Semoga dia selalu baik-baik saja sampai waktunya dia melihat dunia ini," ucap Raffa saat Nayna telah mengakhiri ceritanya


"Iya aamiin," sahut Nayna mengangguk.


"Nay kita pergi dulu beli keperluan bayi yuk," ajak Raffa.


"Nanti sajalah, ini masih lumayan lama ke waktunya melahirkan," ucap Nayna yang memang usia kandungannya itu baru menginjak tujuh bulan.


"Kalau nunggu nanti takut tidak sempat," sahut Raffa santai.


"Masih sempat Raf, masih ada waktu sekitar dua bulanan lagi," sahut Nayna menatap ke arah jalanan di depannya.


"Tapi, aku takutnya aku yang tidak sempat!" lirih Raffa dengan tatapan menerawang ke arah depannya.


Mendengar ucapan itu, sontak membuat Nayna segera berbalik ke arahnya dan menatapnya dengan serius.


"Maksud kamu apa?"


Raffa pun menengok ke arahnya, bukannya menjawab, tapi laki-laki itu hanya tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Nayna yang kini tengah menatapnya dengan penasaran.


"Kamu baik-baik saja, kan Raf?" tanya Nayna entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan prilaku laki-laki di depannya itu.


"Aku baik-baik saja, baik banget malahan, aku hanya tidak sabar untuk membelikan keperluan untuk anakku saja," sahut Raffa dengan perhatian yang sudah kembali fokus pada setirnya.


"Terus tadi kenapa kamu ngomong gitu?" selidik Nayna yang hanya dijawab kekehan oleh laki-laki itu.


"Aku hanya asal bicara, ayo kita turun," sahut Raffa yang seolah sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


Nayna yang menyadari mobil itu telah berhenti pun, segera beralih melihat ke arah lain, ternyata kini mobil yang mereka tumpangi itu sudah terparkir di basement parkiran sebuah mall.


Bumil itu hanya diam dengan posisinya, dia masih memikirkan maksud ucapan dari ayah calon anaknya itu, entah kenapa, dia merasa ada makna lain dari ucapan yang Raffa katakan hanya asal bicara itu.


"Jangan kebanyakan ngelamun Nay," ucap Raffa yang ternyata sudah membukakan pintu untuk Nayna.

__ADS_1


Nayna akhirnya menerima uluran tangan Raffa dan turun dari mobil, dia masih menatap Raffa dengan tatapan campur aduk, antara penasaran dengan maksud ucapannya tadi dan juga khawatir, jika laki-laki itu tidak dalam keadaan baik saat ini.


"Udah kali Nay, jangan terus ditatap gitu. Aku tau aku emang ganteng, kamu pasti naksir sama aku lagi ya?" Raffa menaik turunkan alisnya menggoda Nayna.


"Apaan sih, orang aku cuma khawatir doang sama kamu!" decak Nayna memutar matanya.


"Udah jangan berpikiran yang tidak-tidak, kamu tidak lihat. Aku baik-baik saja gini, apa yang perlu kamu khawatirkan," sahut Raffa dengan santai.


Laki-laki itu terus berjalan, menuju ke tempat peralatan bayi, sementara Nayna hanya mengikutinya dengan pasrah.


"Terus bagaimana dengan penyakitmu itu?" tanya Nayna dengan hati-hati.


"Tidak ada yang perlu dikahwatirkan, oh iya ini bagus kayaknya," ucap Raffa yang seolah sengaja mengalihkan perhatian Nayna.


Dia menunjukkan sepatu bayi yang khusus buat bayi berjenis kelamin laki-laki.


"Itu buat cowok," sahut Nayna dengan nada tidak setuju.


"Tapi ini bakal cocok untuknya." Raffa menunjuk perut buncit Nayna dengan matanya.


"Gimana kalau anaknya cewek."


"Aku yakin dia adalah cowok, beli ini ya," ucap Raffa dengan yakin.


"Naluri seorang ayah," sahut Raffa sambil meneruskan langkahnya mencari barang-barang lainnya.


Akhirnya Nayna pun tidak menyahutinya lagi, dia mengikuti ke mana pun laki-laki itu pergi, mereka terus berputar-putar mencari keperluan calon anak mereka, meskipun kadang sesekali berdebat karena beda pendapat tentang barang yang akan mereka beli.


"Ini untuk anak sekitar satu tahunan Raffa!" protes Nayna saat Raffa mengambil beberapa setel baju untuk anak kisaran satu tahun.


"Buat persiapan," sahut Raffa santai.


Nayna hanya bisa menggeleng dan menghela napasnya, melihat laki-laki itu yang terus saja membeli beberapa kebutuhan bayi itu.


"Udah yuk Raf, itu udah banyak banget, aku juga udah capek," keluh Nayna yang memang sudah merasa lelah, kakinya pun sudah pegal, terus mengelilingi setiap toko yang menjual peralatan bayi.


"Ya udah deh, kalau gitu ayo kita pulang, aku bayar dulu ini," sahut Raffa meskipun dengan berat hati karena masih ingin berbelanja.


Setelah selesai membayar, mereka pun kembali ke mobil dengan belanjaan yang sudah memenuhi bagian belakang mobil itu, hingga dari bagasi sampai kursi belakang, tidak ada tempat yang kosong.


"Apa ini tidak berlebihan Raf?" tanya Nayna menatap bagian belakang mobil itu.


"Tidak sama sekali," sahut Raffa, lalu mulai menghidupkan mobil itu.

__ADS_1


"Kita makan malam dulu yuk," ajak Raffa.


Awalnya Nayna bingung, antara harus mengiyakan ajakan laki-laki itu, atau menolaknya, karena takut Arkan sudah pulang ke rumah dan tengah menunggunya.


"Kalau kamu bingung, sebaiknya kamu tanyain dulu ke suami kamu, apa dia udah ada di rumah apa belum," ucap Raffa yang seolah tahu isi pikiran Nayna itu.


"Baiklah, aku telepon dulu bentar," ucap Nayna yang langsung mengeluarkan ponselnya dari tas kecil miliknya.


Panggilannya itu tidak langsung mendapat jawaban, hingga begitu mencoba panggilan ke tiga, barulah suaminya itu menjawab telepon darinya.


"Halo, Om belum pulang?" tanya Nayna karena dapat mendengar suara berisik dari tempat Arkan.


'Iya Nay, ada apa. Kamu mau nitip sesuatu saat pulang?'


"Tidak Om, aku hanya bertanya saja, sebenarnya sekarang juga aku di luar dan ini aku rencananya mau makan malam dulu, jadi pasti pulangnya telat," terang Nayna.


'Baiklah, aku juga sepertinya akan makan malam di luar.'


"Baiklah."


Setelah mengatakan hal itu Nayna pun mematikan teleponnya dan segera menyimpan benda pipih itu ke tasnya kembali.


"Suami kamu masih sibuk?" tanya Raffa.


"Iya," sahut Nayna dengan malas.


Dia sebenarnya memang berbohong pada Raffa dengan mengatakan, jika suaminya sedang ada pekerjaan, jadi tidak bisa mengantarkannya untuk cek kandungan, karena dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Raffa.


"Baiklah, kalau gitu kita mampir dulu ke restoran ya," ucap Raffa yang hanya dijawab anggukan kepala saja oleh Arkan.


Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Raffa itu pun telah sampai di parkiran restoran, mereka segera turun dan berjalan dengan beriringan memasuki restoran itu.


"Mau duduk di mana?" tanya Raffa pada Nayna sambil mencari meja kosong.


"Terserah," sahut Nayna dengan tidak semangat.


"Di sana aja," ucap Raffa menujuk salah satu meja kosong.


"Ya udah ayo." Nayna mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya, menuju tempat yang Raffa tunjuk.


"Eh tunggu, Nay."


"Ada apa?"

__ADS_1


"Itu kayak Om aku, kita coba ke sana dulu yuk, siapa tau itu benar Om aku," ucap Raffa membuat Nayna menghentikan kembali langkahnya dan menatap objek yang Raffa tunjukkan itu.


__ADS_2