
"Mau ke mana Van?" tanya Listi menatap Ivan yang berpapasan dengannya itu dengan heran.
"Kamu tidak lihat, ini aku jalan di mana?" tanya Ivan dengan sedikit sinis.
"Di depan aku," sahut Listi apa adanya.
"Lorong ini menuju ke mana?"
"Menuju ke ruangan Arkan."
"Nah itu tau, terus kenapa harus nanya lagi," ucap Ivan dengan malas.
"Iya aku tau, ini jalan ke ruangan Arkan, tapi kenapa kamu harus pakai kaca mata seperti itu, di dalam gedung seperti ini?" jelas Listi.
"Ini untuk menjaga mataku dari paparan sinar kebucinan," sahut Ivan sambil membenarkan letak kacamata hitamnya, lalu melanjutkan langkahnya dengan santai.
Meninggalkan Listi yang hanya menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan tingkah absurd dari teman sekaligus rekan kerjanya itu.
Ivan mengetuk pintu ruangan Arkan, setelah mendengar sahutan dari si empu ruangan itu, dia pun mulai masuk ke ruangan itu.
"Cerah banget Ar, untung aku udah persiapan pakai ini," ucapannya saat membuka pintu ruangan itu, disambut oleh wajah cerah penuh kebahagiaan dari Arkan.
Arkan hanya menatapnya dengan kening mengerut tajam, melihat penampilan dari temannya itu.
"Kamu lagi cosplay jadi tukang pijat atau apa Van, aneh banget pakai kacamata seperti itu di dalam ruangan seperti ini?"
"Aku melindungi mataku dari paparan sinar kebucinan yang terpancar dari wajah kamu itu, " sahut Ivan mendekati meja kerjanya dan menyimpan berkas yang dibawanya.
Ivan duduk di kursi yang ada di depan meja Arkan, lalu dia pun melepaskan kaca mata hitam yang masih bertengger manis di hidungnya yang tidak mancung itu.
Sementara Arkan, mendengar ucapan Ivan itu, hanya mencebikkan bibir juga memutar matanya dengan malas.
"Kamu cerah banget gitu Ar, pasti semalam lancar, kan?" Ivan menaik turunkan alisnya menggoda Arkan.
"Lancar," sahut Arkan singkat sambil fokus pada pekerjaannya.
"Pantes, keliatan dari tampangmu itu, tidak seperti air comberan yang keruh." Ivan manggut-manggut.
Arkan yang semula fokus pada pekerjaannya, beralih menatapnya, dengan sebelah alis yang menukik tajam.
"Tapi tadi pagi kamu mengganggu acara pagiku!" delik Arkan yang teringat, jika acara paginya terganggu karena telepon dari pria di depannya itu.
"Acara pagi maksudnya?" tanya Ivan, entah benar-benar tidak paham atau hanya pura-pura tidak mengetahuinya.
"Jangan pura-pura tidak tahu kamu!" decak Arkan dengan wajah masamnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ivan mengangguk saat dapat menebak ke mana arah pembicaraan dari sahabatnya itu.
"Akhirnya kamu bisa juga ngerasain apa yang sering aku rasain," ucap Ivan dengan wajah puasnya yang menyebalkan untuk dilihat oleh Arkan.
"Apa maksud kamu, berbicara seperti itu?" sinis Arkan.
"Kamu dulu sering banget ganggu aku saat aku lagi on, on-nya, dengan alasan pekerjaan," sahut Ivan dengan sebal juga.
"Itu resiko kalian sebagai bawahanku," sahut Arkan dengan pongahnya.
"Ya, ya. Atasan lucknut!" cibir Ivan memutar matanya dengan malas.
Arkan terkekeh, melihat Ivan kalah telak seperti itu, dia kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu kayaknya senggang banget!" sindir Arkan karena melihat Ivan masih duduk di depannya.
"Iya, iya. Aku balik ke ruangan sekarang, tidak boleh banget kayaknya mau santai bentaran aja juga," sahut Ivan yang tahu arah sindiran dari Arkan itu.
Dia kemudian mulai berdiri dari tempat duduknya, merapikan jas yang dipakainya, lalu berjalan akan keluar dari ruangan itu.
"Bawa kacamatamu itu," ucap Arkan tanpa melihat ke arahnya.
Ivan yang nyaris sampai ke pintu ruangan itu pun kembali berbalik dan mengambil kacamata yang di simpannya di atas meja kerja Arkan.
...*******...
Begitu pun dengan Arkan, saat sudah melihat ke arah luar, matahari sudah mulai merangkak ke peraduan. Dengan semangat, dia pun membereskan mejanya dan mulai keluar dari ruangannya itu.
"Lis, kamu belum pulang?" tanya Arkan saat melihat Listi masih ad di meja kerjanya.
"Belum Ar, ini masih ada pekerjaan sedikit lagi," sahut Listi mengangkat kepalanya yang sebelumnya tengah fokus pada layar komputer.
"Baiklah, kalau gitu aku pulang duluan ya," ucap Arkan.
"Oke Ar." Listi mengangguk sambil tersenyum.
Arkan pun ikut tersenyum tipis, dia kemudian melangkah pergi dari sana, meninggalkan kantornya itu, pulang ke rumah bertemu dengan istrinya.
Dia sudah sangat merindukan istrinya itu, apalagi saat mengingat apa yang istrinya janjikan tadi pagi sebelum dia berangkat kerja, membuatnya merasa ingin segera malam saja rasanya.
Merasakan jatuh cinta lagi, setelah bertahun-tahun tidak merasakannya, benar-benar membuatnya seperti hilang akal, ingin selalu berada di dekat wanita tercintanya.
Melihatnya, menyentuhnya, menghirup aroma memabukkan yang membuatnya candu, itulah yang selalu ingin dia rasakan, jika berada jauh dari wanita itu.
Akhirnya tidak membutuhkan waktu terlalu lama, mobil yang dia kemudikan itu pun telah sampai di pelataran rumahnya, dia segera turun dari mobildan memasuki rumah dengan langkah ringan.
__ADS_1
"Di mana istriku?" tanya Arkan saat berpapasan dengan Indah di perjalanan menuju ke tangga.
"Nyonya, tadi sedang di kamarnya Tuan, bersama Den Rezvan," sahut Indah dengan sedikit menunduk.
"Oh baiklah," sahut Arkan lalu melanjutkan kembali langkahnya.
Dia segera memasuki kamarnya, tapi tidak melihat keberadaan istri dan anaknya itu, setelah menyimpan jasnya ke sofa, dia melihat ke balkon yang pintunya tengah terbuka.
Seutas senyum terbit di bibirnya, melihat pemandangan yang cukup menyejukkan mata dan menenangkan hatinya, dimana saat ini Nayna tengah tertidur di sofa yang dia sediakan khusus untuk istrinya saat bersantai dengan anaknya itu.
Saat akan bergerak untuk mengambil Rezvan yang tengah terlelap dalam pelukan mamanya, dia mengurungkan niatnya itu, karena teringat jika dia belum membersihkan dirinya.
"Sebaiknya aku bersih-bersih dulu," gumamnya yang harus mengutamakan kebersihan dirinya saat akan bersentuhan dengan Rezvan, demi kesehatan anaknya itu.
Tidak membutuhkan waktu lama Arkan pun selesai membersihkan dirinya dan sudah berpakaian lengkap lagi.
"Ayo pindah Nak, sudah sore nanti kamu masuk angin," ucap Arkan sambil menggendong anaknya, memindahkannya ke dalam.
Setelah memastikan anaknya sudah tertidur dengan nyaman lagi, dia pun segera kembali balkon, memperhatikan wajah tenang istrinya yang membuatnya rindu seharian.
"Bangun putri tidur," ucap Arkan berusaha mengganggu Nayna dengan mendapatkan beberapa ciuman di seluruh wajah istrinya itu.
Nayna merasa terganggu dengan apa yang suaminya lakukan itu pun, mulai menggeliat lalu membuka mata secara perlahan.
"Mas sudah pulang," ucap Nayna dengan suara sedikit serak.
"Iya, apa kamu nyaman tidur di sini?" tanya Arkan merapikan rambutnya dengan hati-hati.
"Lumayan Mas, oh iya Rezvan mana?" tanyanya saat menyadari tidak mendapati anaknya di situ.
"Dia udah aku pindahkan ke kamar, ini udah sore takut dia masuk angin," jelas Arkan, Nayna pun mengangguk paham dengan ucapannya itu.
"Ayo bangun, atau masih mau di sini?" tanya Arkan.
"Mau ke kamar, tapi gendong," ucap Nayna dengan nada manja.
Arkan mencubit hidungnya dengan sedikit kencang, hingga membuat Nayna mengaduh saking gemasnya.
"Baiklah ayo bayi besarku," ucap Arkan dengan sekali tarikan, membawa Nayna ke kamar mereka dengan cara menggendongnya.
...----------------...
Mau nanya boleh gak? Boleh ya, boleh dong pasti 😆
Jadi gini, aku mau minta pendapat dong dari kalian, pembaca yang paling aku cintai😘 cerita ini aku tamatin aja atau aku buat cerita tentang Raffa juga di sini, bingung aku tuh, soalnya sebenarnya kemarin pas acara nikahan itu sebenarnya udah mau aku tamatin cerita ini teh😌
__ADS_1
Nanti aku pilih suara terbanyak ya, kalau udah pada mau cerita ini tamat, bakal langsung aku tamatin✌