Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 69


__ADS_3

Nayna saat ini sedang duduk di ranjang miliknya, setelah pulang dari rumah sakit dan makan malam, dia memang langsung berdiam diri di kamar.


Dari tadi tatapannya itu tidak lepas dari ponselnya, meskipun sebuah laptop yang ada di pangkuannya tengah menyala, memperlihatkan sebuah drama china.


Namun, dia lebih tertarik menatap layar ponselnya yang masih gelap, belum ada tanda-tanda jika suaminya akan menghubunginya.


"Kok Mas Arkan belum nelepon juga sih," gumamnya dengan bibir yang mengerucut.


Baru saja selesai dia berbicara, ponselnya pun berbunyi, hal yang ditunggu-tunggunya itu pun datang juga.


Suaminya melakukan video call padanya, tak ingin membuat suaminya menunggu, dia pun segera menjawab panggilan itu dan langsung menampilkan wajah suaminya di layar benda pipih itu.


"Kenapa masih belum tidur?" tanya Arkan dengan wajah segar dan rambut yang terlihat basah itu, tersenyum pada Nayna, hingga mau tak mau, istrinya itu pun tertular senyuman itu.


"Aku belum ngantuk, Mas sampai di sana dari jam berapa?"


"Sekitar setengah jam yang lalu, tapi tadi aku langsung mandi dulu karena gerah, jadi baru hubungi kamu sekarang."


"Oh pantes aku tungguin tidak ada juga."


"Maaf ya, akunya mandi dulu biar bisa langsung nyantai."


"Iya tidak apa-apa Mas, syukurlah kalau Mas sudah sampai dengan selamat di sana," ucap Nayna.


"Iya aku sampai dengan selamat, tanpa kekurangan apa pun, hanya saja aku sudah merindukanmu lagi," ucap Arkan.


"Baru juga delapan jam kita berpisah Mas," kekeh Nagna.


"Delapan jam terasa, delapan hari kalau jauh dari kamu seperti ini," sahut Arkan dengan nada biasa saja.


Namun hal itu selalu mampu menghadirkan semburat merah di pipi bumil yang mudah terbuai itu.


"Oh iya Mas, Raffa udah sadar," ucap Nayna mengalihkan pembicaraan.


"Syukurlah, kalau dia sudah sadar, apa ada yang dia ucapkan saat sadar."


"Dia hanya menanyakan Mas, setelah aku mengatakan jika Mas tidak ada, dia tidak berbicara lagi," terang Nayna apa adanya.


"Hemmm, mudah-mudahan saja, pekerjaan di sini cepat selesainya, biar aku bisa cepat pulang juga."


"Iya Mas, tapi jangan terlalu diforsir juga ya Mas, jangan sampai Mas telat istirahat dan makan," ucap Nayna.


"Iya sayang, sekarang kamu udah makan malam belum?"

__ADS_1


"Udah tadi Mas, kalau Mas udah makan belum?" tanya Nayna menatap layar ponselnya.


"Belum, tapi Mas udah pesan layanan kamar, cuma belum datang," sahut Arkan.


"Baguslah kalau gitu, nanti kalau makanannya udah datang langsung makan ya."


Arkan hanya mengangguk, pria itu kini sedang duduk dengan bersandar pada bagian kepala ranjang di hotel yang di tempatinya.


"Kamu segeralah tidur, ini sudah malam," ucap Arkan sambil menatap layar ponselnya dengan dalam, seolah tengah menatap Nayna secara langsung.


"Iya sebentar lagi," sahut Nayna yang sebenarnya masih ingin mengobrol dengan suaminya itu lebih lama.


"Besok pagi aku video call lagi," bujuk Arkan yang tidak ingin istrinya itu terlalu malam istirahat.


"Tapi kalau panggilan ini berakhir, Mas pasti akan langsung makan lalu istirahat, kan?"


"Iya sayang, setelah makan aku akan langsung istirahat, emangnya kamu takut aku ke mana lagi hmmm?" kekeh Arkan dengan gemas.


"Ya, siapa tau aja Mas malah pergi lagi, ke mana gitu," ucap Nayna dengan sedikit cemberut.


Arkan semakin terkekeh mendengar ucapannya itu, ditambah melihatnya cemberut seperti itu.


"Siapa yang dari kemarin meyakinkan aku, akan percaya sepenuhnya, tidak akan berpikiran macam-macam," goda Arkan.


Takut, jika suaminya akan tergoda karena saat ini dia dan Listi hanya berdua saja di sana, tempat yang teramat jauh darinya.


Selama beberapa bulan ini, lebih tepatnya setelah hubungan dia dan suaminya mulai membaik, dia tidak pernah bertemu dengan Listi.


Wanita itu tidak ada lagi main ke rumahnya, maupun anaknya, tidak lagi meminta Arkan menemui atau menemaninya main seperti sebelumnya.


Entah itu karena Arkan yang melarangnya atau menjaga jarak dari wanita itu, atau memang sejak awal wanita yang jauh lebih tua darinya itu memang tidak memiliki niat buruk seperti yang ada di pikirannya itu.


"Iya deh, iya. Kamu hanya khawatir. Eh iya makanannya sudah datang nih," ucap Arkan sambil mengarahkan ponselnya ke arah makanan yang sudah tersaji di sebuah meja kecil.


"Mau gak nih," tawar Arkan mengambil makan dengan sumpit dan menyodorkan ke ponselnya yang di simpan di depannya.


"Jauh Mas," sahut Nayna merasa dipermainkan oleh suaminya itu.


"Aku wakilin aja ya makannya, sebenarnya aku sengaja pesan dua porsi, jadi buat kamu satu porsi, tapi makannya aku yang wakilin."


Mendengar ucapan suaminya itu, Nayna hanya memutar matanya malas.


"Mas tidak makan berapa hari sih Mas, sampai pesan makanan banyak gitu?" Nayna menatap ponselnya dengan heran.

__ADS_1


"Karena aku ingat kamu, jadi aku sengaja pesan lebih, jadi aku bisa wakilin kamu untuk makannya," kekeh Arkan yang merasa geli sendiri dengan pikirannya itu.


"Iya deh, iya. Suka-suka kamu ajalah," sahut Nayna yang sudah bingung mau meladeni suaminya itu dengan seperti apa.


"Sayang ini benar-benar udah malam lho, kamu matikan deh laptopnya jangan nonton lagi, terus tidur," ucap Arkan tanpa menghentikan makannya.


"Kok tau kalau aku lagi nonton," sahut Nayna tak percaya.


"Taulah Sayangku, bumilku yang menggemaskan, suaranya kedengaran sampai ke sini."


"Iyakah, perasaan volumenya kecil, masa sih kedengeran." Nayna tidak percaya dengan apa yang Arkan ucapkan itu.


Karena volume di laptopnya memang sangat pelan, tapi bagaimana bisa suaminya itu mendengarnya.


"Pendengaran aku masih normal sayang, jadi bisa mendengar suara dari laptopmu itu meskipun cuma pelan," sahut Arkan.


"Hanya satu yang tidak bisa aku dengerin saat ini." Arkan menatapnya dengan serius, hingga dia pun menjadi serius.


"Apa?" tanya Nayna dengan penasaran.


"Tidak bisa mendengar apa yang hatimu katakan saja, seandainya tau, pasti aku tidak akan sulit menebak isi hatimu itu."


Nayna berdecak, karena sempat berpikiran jika apa yang akan Arkan ucapkan itu adalah hal yang benar-benar serius.


"Aku kira apa!" decak Nayna, sedangkan Arkan hanya cekikikan di seberang sana.


"Sekarang matikan laptopnya," ucap Arkan lagi, kini terdengar sedikit tegas.


"Ya udah aku matiin," sahut Nayna yang langsung bergerak melantik laptopnya.


Setelah itu dia mulai merebahkan tubuhnya, tanpa menutup sambungan telepon itu, dia masih menatap Arkan yang tengah sibuk memakan makananya.


"Langsung tidur ya sayang," ucap Arkan.


"Iya, jangan dimatikan ya ponselnya biarkan seperti ini saja, Mas juga langsung tidur kalau udah selesai makannya," sahut Nayna mengangguk, matanya sudah mulai dia pejamkan.


"Iya sayang, selamat tidur ke dua kesayanganku."


Nayna hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, matanya sudah mulai berat hingga dia terus memejamkan matanya, meninggalkan Arkan yang masih makan malam, di belahan duania lainnya itu.


...----------------...


Selamat hari kemerdekaan yang ke 77 untuk pembaca setia semuanya, semoga kita sebagai rakyat negara ini, terus bersatu meskipun saling berjauhan 🇲🇨🇲🇨🤗

__ADS_1


Salam hangat dari author remahan ini yang terlahir di pelosok kota kembang 🙏🙏😘


__ADS_2