
"Raf, aku punya sesuatu untukmu," ucap Mika sambil terus berusaha membangunkan Raffa yang masih betah dengan tidurnya itu.
Merasakan guncangan dari istrinya, Raffa pun akhirnya mulai membuka matanya, dia menatap Mika dengan mata yang masih mengantuk.
"Ada apa?" tanya Raffa dengan dengan suara seraknya sambil menguap.
"Dudukla dulu," ucap Mika menarik tangan Raffa dengan semangat.
Raffa pun menurut, dia bangun dan mendudukkan dirinya berhadapan dengan istrinya yang terlihat bahagia itu.
"Ada apa?" tanyanya lagi mengusap ujung kepala Mika.
"Ini." Mika memberikan sebuah testpack yang sudah dia gunakan pada Raffa.
Dia menunggu reaksi Raffa itu dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya yang polos, tidak terhiasi oleh pewarna.
"Kamu hamil," ucap Raffa menatapnya dengan intens.
"Iya," sahut Mika mengangguk dengan antusias.
Namun raut antusias yang ditujukan oleh Mika itu secara perlahan mulai menyusut, karena melihat ekspresi Raffa yang malah termenung sambil melihat alat untuk periksa kehamilan itu.
"Apa kamu tidak senang dengan kabar ini?" tanya dengan raut wajah sedih.
Dia berpikir jika Raffa tidak merasa senang dengan kabar itu, dia juga berpikiran jika pria di depannya itu belum sepenuhnya mencintanya.
Raffa memegang kedua pipi Trisha itu, lalu secara perlahan mulai mengangkatnya, hingga membuatnya mendongak dan saling bertatapan.
"Apa yang kamu pikirkan, aku tentu saja bahagia dengan kabar ini, siapa yang tidak bahagia akan mendapatkan anugrah yang Tuhan titipkan ini," ucap Raffa dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Tapi kenapa ekspresi kamu biasa saja, seperti itu, kamu juga sepertinya tidak senang dengan kabar ini," ucap Mika dengan memanyunkan bibirnya.
Raffa terkekeh geli melihat istrinya yang merajuk itu, karena merasa gemas dia pun langsung menyergap bibir yang tengah manyun itu seolah mengundangnya untuk dijamah.
"Nyawaku belum terkumpul semuanya, jadi aku merasa ini hanya sekedar mimpi saja," ucap Raffa begitu dia menghentikan morning kissnya itu.
Dia kembali menatap dalam mata Mika, lalu mendaratkan kembali sebuah kecupan singkat di kening wanita yang sudah menjadi istrinya selama setahun itu.
"Aku kira kamu tidak terlalu bahagia karena–"
"Jangan berpikiran macam-macam," potong Raffa sambil menarik Mika ke dalam pelukannya.
Mika pun langsung diam, menikmati usapan lembut yang suaminya berikan itu pada punggungnya.
"Oh iya nanti malam aku ada rencana ngajak kamu makan malam, nanti malam siap-siap ya," ucap Raffa membuat Mika mengurai pelukan mereka dan menatap Raffa dengan dalam.
"Iya, nanti aku akan minta orang buat jemput kamu, aku akan nungguin kamu di tempatnya aja," terang Raffa.
"Kenapa tidak kamu aja yang jemput?" Mika menatap Raffa dengan heran.
"Aku ada kerjaan, jadi kalau aku jemput kamu dulu nanti bakal kemaleman," sahut Raffa.
"Baiklah kalau gitu nanti aku siap-siap, kamu sebaiknya mulai siap-siap gih, nanti telat pergi kerjanya," ucap Mika.
"Iya, aku siap-siap dulu," sahut Raffa mengangguk.
"Aku udah siapin perlengkapannya, kalau sudah selesai siap-siap langsung turun aja ya, aku tunggu di meja makan," terang Mika sambil turun dari ranjang.
"Iya Sayang," ucap Raffa tersenyum pada istrinya.
__ADS_1
Mika tersenyum malu-malu mendapat senyuman manis suaminya juga panggilan sayang itu, meskipun hanya hal sederhana, tapi hal itu selalu busa membuat kinerja jantungnya dua kali lebih aktif.
Mika pun langsung berjalan ke luar dari kamar itu, menuju ke dapur untuk membantu Bibi menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam, Raffa pun sudah datang ke meja makan, mendatangi istrinya yang baru selesai menata makanan.
"Ayo kita sarapan dulu," ucap Mika mulai menyiapkan makanan untuk suaminya ke dalam piringnya.
"Bibi ke mana?" tanya Raffa begitu duduk di kursi, karena tidak melihat art-nya, biasanya wanita itu selalu menyapanya ketika dia turun dari kamarnya.
"Bibi barusan izin mau ka pasar, katanya kalau siang sayur-sayur udah pada habis," ucap Mika.
"Oh," sahut Raffa mengangguk paham.
Akhirnya mereka pun sarapan bersama dengan tenang dan hanya sedikit berbincang ringan, hingga sarapan mereka pun selesai.
"Aku berangkat ya," ucap Raffa sambil bangun dari tempat duduknya.
"Iya hati-hati ya di jalannya," ucap Mika mengambil tangan Raffa dan menciumnya.
"Iya, kamu juga baik-baik ya di rumah jangan melakukan pekerjaan berat," ucap Raffa sambil mencium kening Mika.
"Iya, aku mau beresin ini jadi tidak anter kamu ke depan ya," ucap Mika.
"Iya, tidak apa-apa. Nanti aku hubungi lagi, kalau udah ada yang mau jemput kamu," ucap Raffa lagi.
"Iya."
Raffa pun mulai pergi dari rumahnya, sedangkan Mika mulai membereskan meja makan itu dan mencuci piring kotor bekasnya makan.
__ADS_1