
Hari ini adalah hari, diadakannya pernikahan sederhana Raffa dan Mika. Meskipun sederhana, tapi cukup banyak tamu yang mereka undang, termasuk teman-teman Raffa dan Mika semasa sekolah dan kuliah.
Mika tampak cantik dengan baju keduanya, serta riasan wajah yang masih terlihat natural, tidak terlalu berlebihan. Sebuah gaun yang mehiasi tubuhnya itu senada dengan setelan pakain yang Raffa kenakan.
Acara itu diadakan di sebuah gedung yang menjadi tempat Nayna dan Arkan melangsungkan pernikahan kedua mereka dulu, tapi untuk acara Mika dan Raffa mereka mengusung tema indoor karena waktu yang terbatas, jadi tidak banyak waktu untuk memilih tempat baru lagi, itulah kenapa mereka memilih tempat itu untuk memersingkat waktu.
Karena tempat itu adalah milik salah satu teman Arkan semasa kuliah dulu, jadi dia lebih gampang meresvasinya tanpa memerlukan banyak proses.
"Mereka akan segera datang, ingat apa yang selalu Om katakan, jangan memancing mereka, bersikap biasa saja," bisik Arkan yang kini tengah berdiri di samping Raffa bersama dengan Nayna sebagai pendamping pengantin pria.
"Iya Om," ucap Raffa mengangguk paham.
Nayna yang berdiri di samping Arkan dapat mendengar apa yang om dan keponakan itu bicarakan.
"Kalian membicarakan apa Mas?" tanya Nayna yang tidak bisa menahan keingintahuannya.
"Keluarga Raffa akan segera datang," sahut Arkan.
"Keluarga Raffa?" Nayna menatap suamiya itu dengan heran.
"Keluarga dari kakak ipar," sahut Arkan.
Nayna pun mengangguk mengerti, tak lama kemudian perhatiannya teralihkan pada pintu masuk, melihat rombongan yang memasuki tempat acara itu, dia melihat penampilan setiap orang yang dipimpin oleh sepasang paruh baya itu berpenampilan gelamour, hingga menyilaukan mata yang melihatya.
"Itu mereka Mas?" tanya Nayna dengan nada pelan pada suaminya.
"Iya," sahut Arkan sambil mengangguk samar.
Rombongan yang berjumlah tujuh orang itu, semakin mendekat ke arah mereka. Arkan menyambut mereka dengan ramah, sedangkan fokus Nayna hanya pada salah satu wanita yang masih muda yang ada di antara rombongan itu.
Dia ingat pernah melihat wanita itu, wanita yang pernah bersama Raffa, saat pertama kali dia bertemu dengannya di mall beberapa tahun yang lalu.
"Selamat Siang Om, saya senang anda dan keluarga bisa menyempatkan hadir ke acara ini," sahut Arkan dengan ramah.
__ADS_1
"Walau bagaimanapun Raffa adalah keluarga kami jadi kami harus datang," sahut pria paruh baya dengan nada tenang.
Arkan hanya tersenyum, setelah itu memberikan isyarat pada Raffa melalui isyarat mata agar Raffa menyapa om, tante serta sepupunya itu. Meskipun dengan malas pengantin pria itu pun berusaha memberikan senyuman pada keluarga dari alamarhum papanya itu.
Bukan tanpa alasan mengapa sikap Raffa seperti itu, itu semua karena prilaku kedua adik kandung dari papanya itulah sebelumnya yang membuat Raffa tidak menyukai setiap orang munafik itu.
"Selamat atas pernikahanmu ya Raf," ucap omnya sambil memberikan pelukan hangat juga tepukan di punggung Raffa.
"Terima kasih karena Om dan semuanya sudah mau menyempatkan datang ke acara sederhana ini," sahut Raffa dengan tersenyum tipis.
"Iya sama-sama,bukankah kita juga keluargamu."
Raffa tersenyum tipis mendengar hal itu, tidak berniat untuk mentahutinya.
"Oh iya, Om dengar kehidupan kalian akhir-akhir ini sudah berkembang, jauh lebih baik," sambungnya lagi, pria yang saat ini berhadapan dengan Raffa adal adik papanya yang dekat ke papanya.
"Alhamdulilah, ada teman yang memepercayakan saya untuk membantunya menjalankan perusahaan yang baru saja dia rintis, jadi saya sudah bisa memberikan kehidupan yang layak pada Raffa," sahut Arkan masih dengan sikap tenangnya dan tersenyum.
"Iya, bahkan Om Arkan sengaja menabung untuk memblikanku rumah peninggalan orang-tuaku," timpal Raffa dengan sengaja menyindir pria di depannya itu.
Mengingat bagaimana perlakuan orang-orang di depannya itu, membuat hatinya terasa panas, jika tidak ada Arkan di sampingnya itu, dia yakin jika saat ini dia pasti tidak akan bisa menahan diri untuk memaki orang-orang licik yang membuat dia kehilangan segalanya.
Tidak hanya harta yang mereka renggut dari tangannya, tapi kedua orang-tuanya pun mereka renggut. Dan kini mereka masih bisa berdiri dengan tenang, menikmati hasil rampasan mereka dengan damai.
"Oh iya gimana keadaanmu Raf, om juga pernah dengar kalau kamu pernah sakit yang cukup parah," timpal adik bungsu dari papanya itu, sengaja mengalihkan pertanyaan.
"Iya, kita mendengar hal itu, maaf kita tidak bisa bantu saat itu, karena kita taunya saat kamu sudah mulai sembuh," timpal tantenya.
Arkan dan Raffa hanya tersenyum tipis mendengar hal itu, dulu saat Raffa tengah dalam kondisi antara hidup dan mati, hanya Arkanlah yang mati-matian memberikan dukungan dalam bentuk apa pun padanya, tapi kini mereka bersikap seolah menyesal karena tidak membantu Raffa pada saat itu.
"Tuhan masih menyayanginku, hingga meskipun aku hampir mati, dia memberikan aku jalan untuk berada di dunia ini sampai sekarang, sepertinya Tuhan ingin aku membalas dulu perbuatan jahat dari orang-orang jahat."
Mendengar apa yang Raffa ucapkan itu, membuat setiap orang yang kini masih berdri di depannya tidak berkutik lagi, tapi Raffa melihat dengan jelas kemarahan dari tatapan orang-orang itu.
__ADS_1
"Oh iya, kita tidak bisa lama-lama di sini, sekali lagi selamat untukmu, kita harus pergi lagi karena masih ada urusan lain," ucap omnya itu masih berusaha tersenyum, tapi tatapan matanya lain.
"Iya Om, sekali lagi terima kasih untuk waktunya," sahut Arkan karena meliha Raffa yang tidak berminat untuk menyahutinya.
Setelah itu mereka satu per satu mulai meniggalkan tempat itu, hingga tinggal menyisakan wanita yang sempat Nayna lihat tiga tahun yang lalu.
"Selamat ya Kak, untuk pernikahannya," ucapnya pada Raffa.
"Iya," sahut Raffa tanpa minat.
Sebelum melanjutkan langkahnya, wanita itu melirik ke arah Nayna sekilas, terlihat tatapan tak suka dari wanita itu pada Nayna, sementara Nayna hanya menanggapinya dengan santai.
"Selamat!" ucapanya lagi dengan nada ketus pada Mika.
Berbeda saat ke raffa yang menyalaminya, kini pada Mika di seolah tidak berniat menyalaminya, dia hanya menatap tak suka juga Mika, lalu berlalu begitu saja membuat pengantin wanita itu menatapnya dengan heran.
"Kamu seharusnya tidak mengatakan hal itu Raf, gimana kalau mereka tersinggung dan malah membuat kita dalam masalah lagi," ucap Arkan pada keponakannya.
"Maaf Om, aku tidak bisa menahan diri," sahut Raffa.
Arkan tidak bersuara lagi, dia hanya menghela napas dan kambali memfokuskan perhatiannya ke arah lain.
"Mas kayaknya wanita tadi itu, suka deh sama Raffa," bisik Nayna ada Arkan.
"Jangan bergosip," sahut Arkan mencubit hidung Nayna dengan gemas.
"Ish, siapa yang bergosip sih Mas, aku cuma mengutarakan apa yang aku lihat saja," rajuk Nayna sambil mengusap hidungnya yang sedikit sakit karean perlakuan Arkan itu.
Perdebatan antara mereka itu terhenti karena ada tamu lagi yang mendekati mereka, kini yang datang adalah rombongan pria dan wanita yang seumuran dengan Raffa, Nayna dan Mika, mereka adalah teman mereka sewaktu SMA.
"Ya ampun Nay, kamu hadir juga, benar-benar berani ya datang ke undangan pernikahan mantan, aku pas dapat undangan dadakan itu tidak percaya lho, saat lihat nama memperlai wanitanya si Mika bukan kamu."
Baik Nayna mau pun Mika hanya tersenyum mendengar ocehahan teman yang satu kelas dengan mereka saat kelas tiga itu. Wanita yang memiliki kulit sawo matang itu memang selalu banyak bicara, sama seperti saat jaman sekolah.
__ADS_1
...----------------...
Halooo, masih adakah yang baca cerita ini, kenapa sepi banget🥲