
Pagi ini tidak seperti biasanya, dimana di hari-hari sebelumnya, Nayna yang menyiapkan makanan, kini yang sibuk dengan peralatan masakan di dapur adalah Arkan.
Dia tengah sibuk berkutat di depan kompor, membolak-balikan nasi goreng di wajan, hari ini memang Arkan bangun lebih pagi jadi dia berinisiatif untuk membuat sarapan.
Nayna juga sebenarnya sudah pergi ke dapur sejak dia baru akan memulai masak, tapi Arkan melarangnya saat wanita itu berniat untuk mengambil alih tugas membuat nasi goreng itu.
Alhasil, Nayna hanya membuat susu untuknya dan teh manis sesuai permintaan Arkan, setelah itu dia duduk di meja makan menunggu Arkan selesai dengan nasi gorengnya itu.
"Om, apa Om selalu membersihkan kamar sendirian?" tanya Nayna menatap punggung Arkan.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Arkan menengok sekilas padanya.
"Pantesan," gumam Nayna.
"Kenapa?" tanya Arkan karena dapat mendengar gumaman dari Nayna itu.
"Aku boleh gak beresin kamar Om sekalian?" tanya Nayna menatap Arkan yang kini sudah duduk di meja makan, dengan nasi goreng yang sudah berada di depannya.
"Kalau kamu tidak keberatan, lakukan saja, toh selama ini aku tidak pernah mengunci kamarku," ucap Arkan apa adanya.
"Beneran kamar Om tidak pernah dikunci?" Nayna menatap Arkan tak percaya.
"Iya, emang kamu pernah lihat aku mengunci kamarku itu?"
"Tidak sih." Nayna menggelengkan kepala. "Tapi apa Om, apa tidak takut gitu," sambung Nayna menatap Arkan yang mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Kenapa harus takut?"
"Ya, kan sekarang di rumah ini ada aku."
"Emang kamu punya niat buruk apa, sampai aku harus waspada padamu," sahut Arkan sambil mengambil menyedok nasi goreng itu ke piringnya.
"Ya bisa aja, tiba-tiba aku hilap saat Om tidak di rumah dan mengambil barang-barang penting milik Om," sahut Nayna polos.
__ADS_1
Mendengar ucapan Nayna itu, Arkan hanya menimpalinya dengan terkekeh, merasa geli dengan apa yang bumil ucapkan itu, padahal di kamarnya tidak ada apa pun, selain laptop dan beberapa berkas pekerjaannya.
"Kalau kamu mau masuk ke kamarku, masuk aja, di sana tidak ada barang penting apa pun, kalau kamu mau membereskan baju-bajuku yang selesai disetrika juga bereskan saja ke lemari jangan disimpan di depan pintu lagi."
"Beneran boleh Om, kalau aku beresin kamar Om juga?" tanya Nayna meyakinkan.
"Iya." Arkan menganggukkan kepala sambil menyuapkan nasi gorengnya.
"Baiklah kalau gitu aku akan membereskan kamar Om sekalian, kalau beres-beres rumah."
"Sekarang kamu makanlah, nanti nasinya keburu dingin," ucap Arkan membuat Nayna tersadar, jika dari tadi dia hanya mengobrol dan belum menyentuh sarapannya sama sekali.
"Iya Om."
Nayna pun mulai menyedok nasi ke piringnya, setelah itu dia langsung memakannya dengan tenang, sementara Arkan sudah hampir menghabiskan satu piring nasi goreng itu.
"Apa kamu tidak capek atau bosan, setiap hari harus berdiam diri di rumah dan hanya mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Arkan di sela-sela makannya.
"Tidak Om." Nayna menggelengkan kepala, dia tidak menghentikan aktivitas sarapannya.
"Tidak Om."
"Kenapa? Apa kamu tidak punya teman sebelumnya?" tanya Arkan dengan heran.
"Kalau teman ada Om, cukup banyak malah, tapi sekarang aku merasa kurang pantas jika bertemu atau kumpul-kumpul bareng teman-temanku lagi," sahut Nayna.
Ada sedikit nada kesedihan dari ucapannya itu, di telinga Arkan, hingga membuat dia menatap Nayna dengan intens.
"Apa karena kehamilanmu itu?" tanya Arkan dengan hati-hati.
Nayna tidak menjawabnya, dia hanya menundukkan kepala, fokus pada piringnya yang masih terisi oleh nasi goreng yang masih lumayan banyak.
"Wajar kalau kamu merasa seperti itu, tapi tidak seharusnya kamu hanya mengurung diri seperti itu dan menjauh dari dunia luar, kamu hiduplah seperti kamu yang sebelumnya, cukup jadikan masa lalu itu pembelajaran untuk dirimu agar ke depannya, bisa hidup lebih baik lagi."
__ADS_1
"Iya, Om. Tapi aku sekarang lebih nyaman berdiam diri di rumah seperti ini Om," sahut Nayna akhirnya mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Arkan.
"Ya udah kalau kamu memang merasa begitu, tapi kalau kamu mau pergi ke luar, untuk jalan-jalan sendiri atau bertemu dengan teman-temanmu, kamu pergi saja, asal hati-hati."
"Iya Om." Nayna menganggukkan kepalanya lagi.
"Om kenapa Om baik banget sama aku, padahalkan aku udah jahat sama Om," sambung Nayna menatap Arkan dengan serius.
"Kapan kamu berbuat jahat?" tanya Arkan santai.
"Saat aku nuduh Om, hingga berujung kita harus menikah."
"Jujur saja, saat itu aku benar-benar kesal padamu, karena tiba-tiba datang dan meminta pertanggungjawaban, dari apa yang tidak pernah aku lakukan sama sekali, tapi semakin lama aku bisa menerima semua itu, karena posisi kamu pun pasti tidak mudah saat itu," terang Arkan.
"Makasih ya Om, berkat Om saat itu calon anakku terselamatkan," ucap Nayna dengan tulus.
Arkan menganggukkan kepala, setelah itu dia meminum teh yang Nayna buat untuknya, dia memang sudah selesai sarapan beberapa saat yang lalu.
"Oh iya gimana sama orang-tua kamu?" tanya Arkan menyimpan cangkir teh itu ke meja dan menatap Nayna dengan serius.
"Mama aku sudah beberapa kali nelepon, dia juga menanyakan kabarku dan kandunganku, hanya saja kata Mama, Papa sampai sekarang tidak ingin membahas apa pun yang berhubungan denganku," terang Nayna dengan wajah sedih.
Dia memikirkan papanya yang masih kecewa padanya, hingga tidak mau mendengar apa pun tentang dirinya, saat mamanya mulai membahasnya.
"Kamu tenang saja, beliau pasti hanya sedikit kecewa denganmu, tapi dengan seiring berjalannya waktu, dia pasti akan melupakan rasa kecewanya itu dan kembali seperti sebelumnya." Arkan berusaha menenangkan Nayna.
"Iya semoga saja," ucap Nayna menganggukkan kepala dengan penuh harap.
Di tengah-tengah obrolan mereka, ketukan di pintu depan, membuat mereka menghentikan obrolan mereka itu, mereka saling tatap, bertanya-tanya siapa yang bertamu pagi-pagi seperti itu, tidak seperti biasanya.
"Biar aku saja yang melihatnya," ucap Arkan menghentikan gerakan Nayna yang akan beranjak, untuk membuka pintu dan melihat tamu itu.
"Baiklah Om, kalau gitu aku mau beresin ini saja," ucap Nayna.
__ADS_1
Arkan menganggukkan kepalanya dan mulai melangkah keluar dari dapur, sedangkan Nayna membereskan area dapur dan mencuci peralatan.
Setelah selesai dengan kegiatannya, dia pun bermaksud pergi ke ruang tengah, untuk melihat tamu yang datang. Namun, Nayna yang sudah sampai di depan pintu dapur menghentikan langkahnya, saat melihat tamu yang kini sedang duduk berdua dengan Arkan di sofa yang berada di depan televisi.