
"Om tidur seranjang sama aku tidak apa-apa, kan?" tanya Nayna dengan menatap Arkan.
"Aku bisa tidur di lantai," sahut Arkan membuat Nayna langsung menggelengkan kepala, tidak setuju dengan apa yang dikatakannya itu.
Arkan bukannya tidak ingin tidur seranjang dengan Nayna, tapi dia tidak ingin membuat wanita hamil itu, merasa canggung hingga mengganggu istirahatnya, meskipun dia juga pasti merasa canggung sebenarnya.
Harus tidur seranjang dengan wanita yang selama ini selalu ada di dekatnya, meskipun mereka suami-istri, tapi tetap saja Arkan sepertinya masih belum bisa menganggap wanita hamil itu seperti itu.
"Nanti Om bisa sakit, kalau di lantai, ini aku batasi aja ya." Nayna bergerak menyimpan dua guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas.
Akhirnya Arkan pun mengangguk, mau tak mau dia harus setuju dengan ide dari Nayna itu. "Baiklah, sekarang sebaiknya kamu tidur, ini sudah malam," ucap Arkan.
"Iya, Om juga segeralah tidur," sahut Nayna sambil bergerak merebahkan tubuhnya dan memakai selimutnya sampai ke perutnya.
Arkan pun mulai bergerak mengikuti apa yang wanita hamil itu lakukan, utuk beberapa saat mereka saling diam dengan tatapan lurus menatap langit-langit kamar itu.
"Oh iya, Om. Apa tadi Om, sangat sibuk?" tanya Nayna memulai percakapan kembali karena dia belum mengatuk.
Wanita hamil itu berbicara tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, tatapanya masih fokus pada objek yang semula ditatapnya.
"Tidak terlalu, hanya saja tadi aku sedang menemani keponakanku saat kamu menelpon," terang Arkan apa adanya.
"Oh, aku kira tadi Om lagi sibuk," ucap Nayna yang entah kenapa merasa tenang dan lega, saat tahu jika pria itu tidak bersama dengan Listi sesuai dengan yang ada dalam pikiranya.
"Oh iya Om, apakah kapan-kapan aku bisa ketemu sama keponakan Om itu?" tanya Nayna yang kini sudah bergerak dan membalikan badan, menjadi posisi miring dan menatap Arkan yang masih dalam posisinya.
"Ya, nanti kamu bisa ketemu dengannya," sahut Arkan seadanya.
"Eum, Om aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Nayna dengan sedikit ragu.
Arkan menengok dan melihat ke arahnya, dia menatap Nayna seolah bertanya tentang apa yang ingin Nayna tanyakan itu.
"Kalau boleh tahu, di mana orang-tua Om?" tanya Nayna yang memang sudah penasaran dari sejak lama tentang keberadaan keluarga dari pria yang sudah beberapa bulan mejadi suaminya itu.
__ADS_1
Arkan tidak lagsung menjawab pertanyaan itu, dia hanya menatap Nayna cukup lama, pria itu baru ingat jika dia memang belum menceritakan apa pun tentang kehidupannya pada wanita yang kini berstatus istrinya itu.
"Kalau Om, tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa Om, maaf ya aku banyak bertanya tetang kehidupan pribadi Om," ucap Nayna panjang lebar.
Dia baru sadar, jika tidak seharusnya dia menggali terlalu dalam kehidupan pria itu, lagi-lagi dia kembali diingatkan oleh kenyataan, tentang pernikahannya itu.
"Papaku meninggal saat aku masih dalam kandungan, sedangkan Mamaku meniggal saat aku baru berusia 12 tahun," terang Arkan.
Nayna kembali menatap Arkan dengan dalam, dia dapat melihat ada kesedihan dari tatapan mata pria yang selalu bersikap lembut itu.
"Maaf," ucap Nayna dengan nada pelan karena merasa telah membuat pria itu mengingat hal yang pasti membuatnya sedih itu.
"Kenapa minta maaf?" tanya Arkan menatapnya lagi dengan heran.
"Aku pasti sudah mengungkit hal yang membuat Om sedih," ucap Nayna merasa bersalah.
"Santai aja, aku tidak secegeng itu, bagi aku kepergian mereka tidak perlu kita kenang dengan kesedihan, mereka pasti tidak menyukai itu," terang Arkan sambil menatap ke atas lagi dan terkekeh.
"Om makin tampan saat tersenyum seperti itu."
Mendengar hal itu, secara reflek Arkan kembali menatap Nayna yang ternyata masih menatapnya juga, hingga akhirnya beberapa saat terjadi saling menatap dalam diam antara mereka.
"Ekhem, oh iya, Om punya saudara berapa?" Nayna segera mengalihkan perhatian Arkan yang terus menatapnya dengan lamat seperti itu.
Dia sengaja mengalihkan pembahasan karena merasa jantungnya berdegup, saat mendapatkan tatapan seperti itu dari suaminya.
"Aku hanya punya kakak perempuan satu-satunya, tapi kini dia juga sudah tidak ada," sahut Arkan.
"Apa keponakan Om itu anak kakak Om yang itu?" tanya Nayna.
"Iya, dia anak satu-satunya dari almarhum kakakku, dari semenjak Mama meninggal, Kakak akulah yang merawatku, hingga saat dia dan suaminya meninggal, giliran aku yang merawat anaknya seperti mereka merawat dan menjagaku dulu," terang Arkan menerawang.
"Om pasti sangat menyanyanginya," ucap Nayna yang dijawab anggukan kepala oleh lawan bicaranya itu.
__ADS_1
"Fasya adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini, dia juga sudah aku anggap seperti anakku sendiri, itu sebabnya aku selalu ingin melakukan yang terbaik untuknya," sahut Arkan.
"Namanya Fasya?" tanya Nayna.
"Iya, nanti aku akan kenalkan dia padamu," ucap Arkan kembali menatap Nayna.
"Baiklah, Om." Nayna kembali mengangguk.
"Dia pasti sangat beruntung memliki keluarga seperti Om, yang selalu ada dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya," sambung Nayna.
"Hemmm, aku harap begitu, saat kakak dan kakak iparku meninggal, aku telah berjanji pada diriku sendiri, untuk melakukan apa pun yang terbaik untuknya, agar dia tidak merasa kehilangan kasih sayang dan perhatian, setelah orang-tuanya tiada, meskipun aku tau, aku tidak akan mampu menyamai kedua orang-tuanya."
"Aku yakin dia sudah dapat merasakan hal itu dari Om."
Nayna semakin mengagumi sosok pria yang ada di sampingnya itu, apalagi yang kurang dari pria ini, baik, pengertian, perhatian, penyayang, bertanggung jawab, memiliki rupa yang tanpa celah, sungguh beruntung wanita yang nanti akan berada di sampingnya.
Lantas, bagaimana dengan dirinya, apakah dia memiliki harapan untuk menempati posisi itu, tentu saja tidak, wanita itu sudah membuang jauh-jauh harapan itu, dia merasa tidak akan pantas jika disandingkan dengan pria yang nyaris sempurna itu.
Pria itu pantas mendapatkan orang yang berkali-kali lipat lebih baik darinya, yang hanya seorang wanita yang tidak dapat menjaga dirinya sendiri, perbedaan antara dirinya dan Arkan sangat jauh, jadi Nayna tidak berani untuk berharap bisa berada di samping pria itu sebagai pasangannya.
"Ya, semoga saja," sahut Arkan yang kembali memikirkan tentang kondisi Raffa.
Dia merasa telah gagal menjaga keponakannya itu, karena dia terlambat mengetahui tentang penyakit Raffa, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri, seandainya dia lebih teliti mungkin dia bisa mengetahui penyakit itu lebih dini dan penanganan penyakit itu bisa dilakukan lebih awal, sehingga kemungkinan untuk sembuh jauh lebih besar.
Arkan menghentikan lamunannya itu, bermaksud untuk berbicara pada Nayna dan menyuruhnya untuk tidur, tapi saat menengok ke sampingnya, ternyata wanita hamil itu telah terlelap dengan posisi miring mengahadap ke arahnya.
Entah kenapa setelah sadar jika Nayna telah lelap, pria itu malah memiringkan tubuhnya juga berhadapan dengan istrinya, dia menatap wajah tenang itu dengan lamat, baru kali ini dia dapat melihat wajah tenang itu dari jarak sedekat ini.
Saat pandangannya jatuh ke bagian dada bumil itu, tangannya terulur untuk membenarkan selimut yang menutupi setengah tubuh mereka, ditariknya selimut itu, hingga sampai ke leher Nayna untuk menutupi hal yang seharusnya tidak dia lihat.
Dengkuran halus dari Nayna, seolah sebuah nyanyian tidur yang tanpa sadar membuat matanya semakin lama semakin memberat, hingga akhirnya dia pun menyusul bumil itu menjemput alam mimpinya.
...----------------...
__ADS_1
Makasih untuk kalian yang udah nyampetin waktu buat ngasih dukungan untuk cerita ini, semoga kalian gak bosan ya dengan cerita ini, alur cerita ini emang sengaja aku buat santai untuk sekarang, jadi nikmati aja alurnya semuanya 🙏