Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 54


__ADS_3

Nayna menatap manik Arkan dengan dalam, usapan lembut yang pria itu berikan di tangannya, menghadirkan sebuah perasaan tenang yang kian membuatnya semakin nyaman.


"Bisakah kamu berbicara dengan tenang dan tanyakan apa yang ingin kamu ketahui dengan perlahan, agar aku juga bisa menjawabnya dengan tenang juga," ulang Arkan dengan tatapan lembutnya itu.


Nayna tidak langsung bicara, tapi dia hanya menatap Arkan dengan lamat, jantungnya terasa berdebar mendapatkan tatapan dan usapan lembut dari suaminya itu, hingga lidahnya terasa kelu untuk digerakkan.


Arkan masih diam, dia menunggu dengan sabar agar Nayna mau mengatakan sesuai dengan apa yang diinginkannya tadi.


"Sejak kapan Om tau, tentang aku sama Raffa?" Akhirnya pertanyaan itulah yang Nayna ucapkan untuk pertama kali setelah beberapa saat terdiam.


"Sejak kalian bertemu di jalan komplek perumahan ini," sahut Arkan apa adanya.


"Apa! Jadi Om sudah tau tentang kita dari lama?" tanya Nayna menatap Arkan tak percaya, sedangkan suaminya itu hanya menganggukkan kepala.


"Iya, saat itu aku berniat menjemputmu di rumah orang-tuamu, tapi saat sampai di kediaman orang-tuamu, mereka mengatakan jika kamu sudah pulang, akhirnya aku pun memutuskan untuk langsung pulang, tapi saat memasuki jalan komplek aku melihat kalian dari jauh."


"Terus saat aku ke rumah sakit karena pingsan?"


"Aku juga ngikutin kalian, tapi aku menunggu Raffa pergi dari sana, setelah Raffa pergi aku baru masuk menemuimu."


"Kenapa Om melakukan itu dan kenapa Om diam saja, berpura-pura tidak tau dengan semua itu," ucap Nayna menatap Arkan dengan penuh tanda tanya.


"Aku bingung harus menanggapi semua ini dengan sikap seperti apa, semuanya terlalu sulit untuk aku terima pada awalnya, di satu sisi aku merasa malu dan bersalah padamu, tapi di sisi lain, aku juga bingung bagaimana menghadapi Raffa jika dia sampai tau tentang hal ini."


"Kenapa Om tidak berterus terang saja pada Raffa, tentang kita yang sudah menikah."


"Aku pasti akan memberitahu tentang ini padanya, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat."


Nayna mengangguk, mengerti dengan posisi Arkan yang pasti tidak mudah menerima semua itu, sama seperti dirinya yang juga tidak bisa mengerti dengan alur hidup yang kini dijalaninya.

__ADS_1


"Terus sekarang bagaimana dengan hubungan kita ini?" tanya Nayna menatap Arkan dengan serius.


Tangannya saat ini masih dalam genggaman tangan Arkan, mereka sama-sama tidak berniat melepaskan genggaman tangan itu.


"Kamu mau bagaimana dengan hubungan ini? Apa kamu benar-benar mau kita bercerai?" tanya Arkan yang malah balik bertanya.


"Aku tidak tahu," sahut Nayna menggeleng dengan pipi yang sudah mulai memerah.


Entah kenapa saat ini, dia merasa malu juga deg-degan menunggu kira-kira apa keputusan Arkan pada hubungan mereka itu, apa pria itu akan mengembalikannya ke rumah orang-tuanya dan kembali pada Listi.


"Apa semua yang tadi kamu ucapkan itu benar?"


"Ucapanku yang mana?" tanya Nayna heran.


"Kalau kamu merasa kesal dan sakit hati saat melihat aku bersama dengan Listi?"


Nayna hanya mengangguk dengan pelan, kanapa bisa-bisanya dia mengatakan semua itu pada Arkan, sekarang dia jadi tidak bisa menghindar lagi dari pria yang telah mampu mengobrak-abrik perasaannya itu.


Meskipun terasa sangat sulit, tapi dia juga tidak bisa egois memaksakan kehendak terhadap Arkan, sudah cukup dirinya tiba-tiba saja hadir di kehidupan pria itu dan memaksanya untuk terikat dalam ikatan suci itu.


"Kalau aku ingin mempertahankan pernikahan ini gimana?"


Nayna menatap bingung pada Arkan, setelah mendengar apa yang baru saja suaminya itu ucapkan.


"Maksudnya apa Om?"


"Iya aku ingin kita melanjutkan pernikahan ini," sahut Arkan dengan mengangguk yakin.


Senang, tentu saja itu yang dirasakan oleh Nayna saat ini, namun rasa senang itu tidak bertahan lama, karena dia beranggapan, mungkin saja Arkan ingin mempertahankan pernikahan itu, karena merasa bersalah atas apa yang telah terjadi padanya.

__ADS_1


"Om tidak perlu melakukan itu, jika hanya untuk menebus rasa bersalah Om, ini semua bukan salah Om dan tidak ada hubungannya dengan Om, hingga harus menggantikan Raffa untuk bertanggung jawab," ucap Nayna menggelengkan kepalanya.


"Siapa bilang aku melakukan hal ini untuk menggantikan Raffa bertanggung jawab."


"Terus karena apa?" tanya Nayna penasaran.


"Kalau aku bilang, aku juga memiliki perasaan padamu, apa kamu akan percaya?" Tidak ada sedikit pun keraguan yang terdengar dari ucapan pria itu.


Nayna mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menajamkan indera pendengarannya itu, apakah yang baru saja didengar itu beneran, atau hanya cara Arkan untuk menenangkan dirinya saja.


"Aku tau kamu tidak akan percaya, tapi aku juga tidak tau kapan perasaan ini muncul. Yang jelas saat aku tau kalau kamu ternyata adalah mantan dari keponakan aku sendiri, bahkan tengah hamil anaknya, aku benar-benar merasa kecewa, ada rasa tidak rela juga. Kenapa di antara banyaknya laki-laki di dunia ini, kenapa harus orang yang justru aku anggap sebagai anak sendiri yang berada di posisi itu."


"Dulu aku sempat memilih menghindar darimu, bermaksud untuk memendam perasaan yang secara perlahan hadir di hatiku ini, tapi ternyata meskipun aku sudah berusaha menghindar dan menyibukkan diriku, semua itu tidak ada gunanya."


"Aku benar-benar tidak bisa melenyapkan perasaan itu, setiap kali mendengar Raffa selalu membicarakan tentang dirimu, aku juga berusaha sekuat tenaga menahan perasaanku, bersikap biasa saja ketika di hadapannya, karena aku tidak ingin menghancurkan kebahagiannya secepat ini."


"Terus kenapa Om, tidak datang sama sekali saat aku jatuh dari kamar mandi," ucap Nayna dengan lirih.


"Aku saat itu sudah datang, kalau kamu tidak percaya kamu bisa menanyakannya pada Ivan dan Fara, bahkan benar-benar tidak tenang saat Raffa mengabari, jika kamu jatuh di kamar mandi," sahut Arkan.


"Terus kenapa Om tidak menememuiku?" Nayna tidak mengerti dengan apa yang Arkan ucapkan itu.


Jika memang pria itu datang ke sana, terus kenapa dia tidak menemuinya dan malah datang keesokan paginya, dia pun melayangkan tatapan tak percayanya pada Arkan.


"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku atau tidak, tapi apa yang aku katakan ini adalah kebenarannya, aku waktu itu langsung pergi ke rumah sakit saat pulang kerja, tapi saat melihat keberadaan Raffa di sana, aku mengurungkan niat untuk menemuimu," terang Arkan dengan bersungguh-sungguh.


Nayna menelisik, ke dalam mata Arkan, mencari adakah sebuah kebohongan dari ucapan pria itu, tapi sekian lama menatapnya, dia sama sekali tidak menemukan adanya kebohongan di sana dan dia berharap, itu tidaklah keliru.


"Terus saat Om Arkan mengantarkan Liani ke rumah sakit, apa itu memang sudah direncanakan, Om tidak bisa menjemputku untuk pulang, tapi bisa mengantarkan Liani." Nayna masih memiliki unek-unek tentang hal itu, jadi dia harus menuntaskan semuanya sekarang.

__ADS_1


"Itu benar-benar tidak direncanakan, saat itu kebetulan aku ada pertemuan di luar kantor dan saat di jalan Listi mendapatkan kabar dari pengasuhnya, jika Liani tiba-tiba saja sakit, dia mengalami demam tinggi, karena saat itu posisi kita searah dengan tempat yang akan kita datangi untuk pertemuan, aku pun memutuskan untuk mengantarkan Listi yang saat itu ikut ke mobilku untuk ke rumah sakit, terlebih dulu."


__ADS_2