
Nayna baru saja turun dari taksi online yang mengantarkannya ke sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Sesuai dengan apa yang dibicarakanya semalam dengan suaminya.
Saat ini dia akan bertemu dengan Raffa, setelah tadi pagi, dia sengaja menghubungi laki-laki itu untuk mengajaknya bertemu. Karena sepertinya dia juga merasa kalau Nayna harus berbicara secara empat mata dengannya, tentang pernikahannya itu.
Nayna memasuki cafe yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk bersantai dan berbicara itu, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Raffa yang tadi mengabari, jika dia telah sampai lebih dulu di dana.
Saat matanya melihat lambaian tangan dari laki-laki itu, dia pun menyunggingkan senyumnya. Lalu melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti, menuju ke meja yang Raffa tempati.
"Hai Raf," sapa Nayna sekedar berbasa-basi, sambil mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Raffa.
"Hai Nay, gimana kabar kamu dan dia?" tanya Raffa sambil menujuk perutnya dengan isyarat matanya.
"Aku baik-baik saja, dia pun sama baik-baik saja. Kalau kamu sendiri gimana?" tanya Nayna menyimpan ke dua tangannya di atas meja.
"Aku baik juga," sahut Raffa.
Nayna pun mengangguk singkat, dia kemudian memesan minuman dan cemilan untuk menjadi teman ngobrol mereka di sana.
"Jadi, apa yang mau kamu omongin?" tanya Raffa setelah Nayna selesai memesan.
"Kamu baik-baik saja, kan Raf? Maksudku kemarin Om Arkan pasti sudah mengatakan tentang kita," ucap Nayna dengan hati-hati karena takut menyinggung Raffa.
Raffa tidak langsung menjawabnya, dia hanya tersenyum pada Nayna. Menunjukkan jika dia baik-baik saja, meskipun hatinya tidak terlalu.
"Aku baik-baik saja," sahut Raffa tanpa ragu.
"Kamu tidak kecewa atau marah sama Om Arkan, kan? Ini semua bukan salahnya Raf."
Mendengar hal itu dari dari Nayna, Raffa hanya bisa tersenyum pahit, melihat cinta dari wanita yang masih dicintainya untuk orang lain, membuat hatinya terasa tersayat oleh pisau yang teramat tajam, hingga meninggalkan rasa perih.
"Aku tidak memiliki perasaan seperti itu Nay, justru aku merasa lega, karena pria yang kamu mintai pertolongan saat itu adalah Om Arkan, aku yakin dia akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan untuknya," ucap Raffa dengan senyuman manisnya.
"Syukurlah kalau kamu tidak merasa kecewa padanya," sahut Nayna dengan bernapas lega.
Raffa hanya menimpalinya dengan anggukan kepala ringan, setelah itu dia menyeruput minuman yang sudah tersedia di depannya itu.
"Oh iya sebenarnya maksud tujuan aku minta ketemu bukan hanya itu," sambung Nayna yang baru teringat, tujuan utamanya meminta untuk bertemu dengan raffa.
"Ada hal penting apa?"
__ADS_1
"Apa kamu udah nyiapin nama untuk anak ini?" tanya Nayna menatapnya dengan serius.
"Apakah aku boleh memberikannya nama?" tanya Raffa tak percaya, jika dia akan memiliki kesempatan untuk memberikan nama pada calon anaknya.
"Tentu saja, kamu ayahnya. Itu adalah kenyataan yang tidak bisa diganggu gugat, kamu berhak untuk itu," ucap Nayna mengangguk yakin.
"Makasih Nay," ucap Raffa terharu, karena setelah apa yang telah terjadi di antara mereka, Nayna masih bisa memaafkannya.
"Sama-sama, aku tidak pernah ingin kita menjadi musuh, tapi yang aku inginkan adalah kita menjadi teman, kita sama-sama mengurusnya nanti," ucap Nayna dengan tulus, sambil mengusap perutnya itu.
Raffa tidak menyahutinya, dia hanya tersenyum samar dan mengangguk lemah. Dia pun ingin berada di samping anaknya, bisa merawatnya bersama dengan Nayna, tapi kenyataan yang ada dalam hidupnya, tidaklah semanis ekspetasi.
Dia harus berpuas diri hanya dengan memberikan nama untuk anaknya itu, bahkan untuk menyaksikan dia lahir pun, rasanya dia tidak mampu untuk berharap banyak.
"Baiklah, nanti akan aku kabari saat aku sudah menemukan nama yang pas untuknya," sahut Raffa.
"Iya." Nayna pun mengangguk dan mulai menyeruput kembali minuman yang sudah ada di depannya itu.
"Oh iya Raf, gimana sama kesehatan kamu?" tanya Nayna membuka kembali percakapan, menghilangkan kecanggungan di sana.
"Aku baik-baik saja." Raffa mengangguk dan tersenyum tipis.
"Syukurlah kalau gitu," sahut Nayna.
"Oh iya, Om Arkan tidak keberatan kamu ketemuan gini sama aku?"
"Tidak, aku juga udah minta izin dan dia ngizinin," sahut Nayna apa adanya.
"Dia tidak merasa takut atau apa gitu, kamu ketemuan sama aku," ucap Raffa dengan heran.
"Kenapa harus takut?" Nayna menatapnya dengan bingung.
"Ya, bisa saja saat ini aku berniat jahat, terus nyulik kamu," kekeh Raffa yang sudah mulai bisa mencairkan suasna.
"Emang kamu pikir, kamu bisa nyulik aku?" ledek Nayna.
"Wah nantangin, mau aku culik beneran apa?"
"Ogah," decak Nayna menyilangkan tangannya di dada.
__ADS_1
Akhirnya suasana yang tadi cukup canggung, telah berangsur-angsur mencair, karena candaan yang mereka layangkan itu.
Raffa tersenyum dengan tipis, melihat wajah penuh tawa dari wanita di depannya itu. Dia dapat melihat, jika wanita yang saat ini tengah hamil anaknya itu terlihat lebih bahagia. Dan dia yakin, alasan kebahagiaanya itu adalah Arkan.
"Oh iya, Nay. Gimana awal mula kamu kenal sama Om Arkan?" tanya Raffa, membuat Nayna yang semula sedang tertawa, menghentikan tawanya itu.
"Waktu itu setelah beberapa hari aku tidak bisa hubungi kamu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di restoran tempatnya bekerja setelah pulang sekolah."
"Terus kenapa kamu bisa-bisa tiba-tiba, menikah dengannya?"
"Kamu tidak kenapa-napa gitu kalau aku cerita masalah aku sama Om Arkan?" tanya Nayna dengan ragu.
"Santai aja kali Nay," ucapa Raffa dengan santai.
"Jadi gini .…"
Nayna pun mulai menceritakan apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, hari dimana pada akhirnya, berakhir dengan pernikahannya bersama Arkan. Raffa mendengarkan setiap cerita Nayna dengan seksama.
Ada rasa nyeri di hatinya, bukan rasa nyeri karena pernikahan antara Nayna dan Arkan. Melainkan nyeri mendengar cerita Nayna tentang saat pertama kali dia tahu kalau dia tengah hamil.
Bagaimana dia mengalami ketakutan atas keadaan itu sendirian, lagi dan lagi, rasa penyesalan kembali hinggap di hatinya, mendengar perjuangan Nayna untuk mempertahankan anaknya, di saat papanya sendiri meminta untuk menggugurkan calon anak mereka itu.
"Makasih, karena kamu sudah mempertahankannya, meskipun itu tidaklah mudah," ucap Raffa dengan lirih.
"Dia tidak bersalah, jadi tidak alasan untukku tidak mempertahankannya, terlebih lagi, saat itu aku meminta pertolongan pada orang tepat, karena dia juga aku bisa mempertahankannya dengan baik, hingga saat ini." Nayna tersenyum dan menerawang.
Memikirkan tentang hari pernikahan antara dirinya dan Arkan, pernikahan yang awalnya, hanya ada niat untuk berlindung, tapi kini telah berubah karena hadirnya cinta yang tidak pernah mereka sangka akan terlibat di dalamnya.
"Iya kamu benar, beruntung saat itu kamu meminta pertolongan pada orang yang tepat. Dan aku yakin, dia orang yang tepat juga untuk menjaga kalian selamnya," sahut Raffa yang juga tersenyum, memikirkan tentang om-nya itu.
"Aku harap juga begitu. Dan aku juga berharap kamu juga mendapatkan kebahagiaanmu Raf, jangan menyerah dan putus harapan, kamu harus bertahan dan menemukan kebahagiaanmu itu," ucap Nayna dengan tulus.
Dia memberikan dukungan pada Raffa, agar laki-laki itu tidak menyerah akan dirinya dan penyakit yang saat ini dideritanya. Nayna benar-benar berharap, bisa menemukan Raffa yang dulu pertama dia kenal.
Sumber kebahagiaanku adalah kamu dan anak kita Nay, melihat kalian bahagia, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Batin Raffa, tersenyum pada Nayna yang juga tengah tersenyum padanya.
...----------------...
Maaf ya aku gak bisa balas kometar kalian satu-satu, tapi aku bener-bener ucapkan terima kasih banyak karena sudah memberikan dukungan dan respon positif tentang cerita ini🙏
__ADS_1
Tanpa dukungan dari kalian, aku bukan apa-apa🥲