Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 76


__ADS_3

Semoga kalian selalu bahagia, karena kalian pantas untuk itu. Batin Raffa dengan senyuman tulusnya.


Move on bukanlah tentang melupakan, tapi mengikhlaskan, karena dia sadar dia tidak akan bisa melupakan tentang dirinya dan Nayna.


Namun, dia sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi antara dirinya, menyimpan kenangan itu, di sudut hatinya dan menguncinya, hingga dia tidak akan bisa membuka itu lagi.


Melangkah ke depan, mencari arah hidupnya lagi, meskipun rasa itu masih utuh, tapi dia tidak akan membiarkan rasa itu terus bertahan di hatinya.


Kini sudah saatnya, mengubur rasa itu bersama dengan kenangan yang telah sempat memberikan warna dalam hidupnya.


"Dulu kayaknya aku pernah lihat kamu beberapa kali nganterin Nayna," ucapan Ferdi itu membuat perhatian Raffa kembali teralihkan padanya.


"Iya, karena dulu kita satu sekolah. Jadi kita sering tidak sengaja ketemu di jalan, jadi pulang bareng," terang Raffa yang terpaksa berbohong.


"Oh pantes, apa karena kalian satu sekolah, jadi Nayna bisa kenal sama Om kamu itu?" tanya Ferdi menduga-duga.


Raffa menyahutinya hanya dengan anggukan kepala ringan, lalu beralih pada anaknya yang menggeliat, hingga menghadirkan senyum tipis di bibirnya.


Merasa gemas dan lucu dengan gerakan bayi mungil dalam gendongannya itu, seandainya dia bisa tinggal dengan anaknya, mungkin hari-harinya akan sangat menyenangkan.


Namun, dia sadar, saat ini Rezvan membutuhkan ibunya, mungkin setelah anak itu sedikit besar, dia bisa meminta izin pada Arkan atau Nayna, agar Rezvan bisa tinggal bersamanya sesekali.


...*******...


Tidak terasa waktu pun terus berlalu, acara pernikahan antara Arkan dan Nayna pun, kini telah selesai dilaksanakan, sudah waktunya untuk mereka pulang.


"Kalian akan langsung pindah rumah hari ini juga?" tanya Winda saat mereka sudah di dekat mobil mereka masing-masing.


"Iya Ma, kita mau langsung pindah aja, Mas Arkan sudah mempersiapkan semuanya di rumah itu, jadi sekarang tinggal pindah saja," sahut Nayna yang diangguki oleh Arkan.


"Baiklah, kalian hati-hati ya," sahut Winda.


"Iya Ma, kalian juga jaga kesehatan ya," sahut Nayna.


"Iya, kamu jagalah anakmu dengan baik," ucap Winda.


"Kalau ada apa-apa sama Rezvan atau kalian segeralah telepon kami," ucap Ferdi yang mulai bersuara.


"Iya Pa," sahut Nayna dan Arkan serempak.


"Ya udah, kita duluan ya," pamit Ferdi.


Nayna dan Arkan pun mengangguk, lalu menyalami pasangan itu.


"Ayo, kita juga pulang," ajak Arkan sambil merangkul Nayna.


"Iya, ayo Mas," sahut Nayna mengangguk.


"Kamu mau ikut ke rumah kita Sya?" tanya Arkan pada Raffa yang masih berada di sana.

__ADS_1


"Tidak Om, aku mau langsung pulang aja, mau langsung istirahat," sahut Raffa.


"Baiklah, kamu hati-hati di rumah, jangan terlalu banyak melakukan aktivitas jika itu tidak terlalu penting," ucap Arkan.


"Iya Om," sahut Raffa mengangguk.


"Kita duluan kalau gitu," pamit Arkan.


"Kalau kamu mau lihat Rezvan, kamu datang aja ke rumah Raf," ucap Nayna yang dibalas anggukan oleh Raffa.


Pasangan yang baru saja kembali meresmikan hubungan mereka itu pun, mulai menaiki mobil yang dikemudikan oleh Arkan.


"Syukurlah, seharian ini dia anteng," ucap Nayna mengusap pipi anaknya dengan lembut.


"Sepertinya dia anak yang peka." Mudah-mudahan saja nanti malam dia juga bisa anteng. Sambung Arkan dalam hatinya.


Dia sudah menantikan malam ini sedari lama, dia benar-benar berharap, jika anaknya itu, bisa bekerja sama dengannya kali ini, hingga dia anteng.


"Kenapa Mas?" tanya Nayna menatap Arkan dengan heran.


"Tidak kenapa-napa? Emang kenapa?" tanya Arkan menengok ke arahnya sekilas.


"Mas senyum-senyum sendiri gitu," ucap Nayna.


"Oh itu, aku hanya senang saja, sekarang aku sudah meresmikan hubungan kita dihadapan banyak orang," ucap Arkan, tidak sepenuhnya berbohong.


"Tentu saja Sayang, sekarang aku benar-benar merasa, jika kita sudah menjadi pasangan yang utuh, apalagi kalau ...," ucapan Arkan itu terhenti begitu saja.


"Kalau apa Mas?" tanya Nayna dengan penasaran.


Kalau kita sudah melakukan hubungan suami-istri selayaknya. Jawaban itu hanya Arkan ucapkan dalam hatinya.


"Tidak jadi, Sayang. Oh iya apa kamu ada barang penting di rumah lama yang belum kamu ambil?" Arkan dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Kayaknya tidak ada deh Mas," sahut Nayna sambil menggelengkan kepalanya.


"Baguslah kalau gitu," sahut Arkan mengangguk.


Setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka, hingga mobil yang mengantarkan mereka itu, telah berhenti dengan apik di depan rumah yang akan mereka tempati mulai dari sekarang.


"Selamat datang di rumah kita Sayang," ucap Arkan membukakan pintu untuknya.


Pria itu juga mengulurkan tangannya dan membantu Nayna turun dari mobilnya dengan hati-hati, agar tidak mengganggu si bayi yang masih anteng tertidur.


"Terima kasih Sayang," ucap Nayna tersenyum pada Arkan.


"Sama-sama, ayo kita masuk," ajak Arkan, merangkul pundaknya.


Mereka pun mulai berjalan, memasuki rumah itu. Begitu pintu terbuka, kini rumah itu berbeda dengan beberapa saat yang lalu saat mereka ke sana.

__ADS_1


Dimana dulu, di ruang utama rumah itu masih kosong, belum ada furnitur, tapi sekarang sudah dipenuhi oleh furniture yang cukup mewah.


"Selamat sore Tuan, Nyonya," sapa art di sana.


"Oh iya Sayang, kamu ingat 'kan? Ini Bi Karti," ucap Arkan pada Nayna menunjuk artnya itu.


"Iya ingat Mas," sahut Nayna mengangguk, tapi kemudian dia menatap wanita yang berada di belakang Karti dengan heran.


"Dia Indah, keponakan Bi Karti, dia akan bekerja di sini untuk membantu Bi Karti, sekaligus menjadi babysitter untuk Rezvan, kamu tidak keberatan 'kan? Kalau mulai sekarang kita menyewa babysitter?" tanya Arkan berharap Nayna tidak akan keberatan dengan usulnya itu.


"Iya tidak apa-apa Mas, bukankah itu lebih baik. Jadi ada yang bantuin aku nantinya," ucap Nayna setuju.


"Baguslah kalau gitu," ucap Arkan dengan lega.


Maaf ya, Nak. Bukannya Papa tidak sayang padamu, tapi Papa juga membutuhkan Mama kamu, jadi Papa mempekerjakan babysitter untuk membantu mengurusmu. Monolog Arkan dalam hatinya, sambil menatap Rezvan kecil yang masih terlelap di gendongan mamanya itu.


"Ya sudah kalau gitu, kita ke kamar dulu yuk, nanti kita turun lagi buat makan malam," ucap Arkan.


"Baiklah Mas," sahut Naynae mengangguk.


"Bi, tolong siapkan makan malam ya. Dan untuk Indah, kamu bisa bantu-bantu Bibi aja dulu, karena untuk beberapa waktu Rezvan biar mamanya saja yang urus, karena dia belum beradaptasi dengan tempat ini," terang Arkan pada kedua pekerjanya itu.


"Baik Tuan," sahut kedua pekerjanya itu.


Arkan dan Nayna pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mereka.


"Kamu pasti pegal, tidurkan saja Rezvan, di tempat tidurnya," ucap Arkan saat mereka sudah memasuki kamar.


Nayna tersenyum saat melihat ke arah yang Arkan tunjuk, tidak jauh dari ranjangnya itu, ada tempat tidur bayi yang ternyata sudah Arkan siapkan untuk Rezvan.


"Terima kasih Sayang, kamu bahkan sudah mempersiapkan segalanya untuk Rezvan," ucap Nayna terharu.


"Itu sudah kewajibanku sebagai Papanya, memastikan yang terbaik untuknya juga," sahut Arkan mencium kening Nayna.


Nayna pun tersenyum, lalu mulai menidurkan Rezvan di tempat tidurnya dengan sangat hati-hati, setelah itu dia duduk di meja rias untuk membersihkan sisa-sisa make-up yang membuatnya sedikit tidak nyaman.


"Aku mandi duluan ya," pamit Arkan sambil berjalan ke arah kamar mandi.


"Iya Mas," sahut Nayna mengangguk samar.


'Ting' suara notifikasi di ponselnya, membuat aktivitasnya itu terganggu, dia pun segera melihat ponselnya.


Ingat malam ini malam pertama buat kalian, kamu sudah mempersiapkannya 'kan, Nay?


Nayna mengerjapkan mata, melihat pesan singkat itu, dia kemudian mengalihkan pandangan ke arah kamar mandi dengan memikirkan sesuatu.


...----------------...


Buka puasa gak ya, Om Arkan🤭

__ADS_1


__ADS_2