Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 95


__ADS_3

Nayna menunggu kepulangan suaminya dari kantor dengan perasaan gugup, rencananya dia akan memberitahukan kabar tentang kehamilannya itu pada Arkan.


Tadi pagi dia memang belum sempat memberitahu kabar bahagia itu pada Arkan, karena di saat dia akan mengatakannya, ada telepon penting hingga menyebabkan suaminya itu harus segera pergi ke kantor.


"Kira-kira, reaksi Mas Arkan bakal seperti apa ya, apa dia akan senang?" gumam Nayna sambil meremas sebuah kotak segi panjang yang dia siapkan untuk suaminya itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang mendekati kamarnya, disusul oleh pintu kamar itu terbuka dengan perlahan.


"Mas," panggil Nayna saat Arkan baru saja masuk ke dalam kamarnya dengan langkah pelannya.


"Kamu kayaknya lagi nungguin aku ya?" tanya Arkan yang sudah tahu gerak-gerik istrinya itu.


Dia berjalan ke arah Nayna yang tengah duduk di pinggir ranjang, sambil menatapnya penuh arti.


"Aku emang lagi nungguin Mas," sahut Nayna dengan senyum lebarnya.


Dia mulai bangun dari ranjang, lalu berdiri di hadapan suaminya, dengan tatapan yang berbinar, juga sudut mata terlihat sedikit berair.


"Ada apa hemmmm?" tanya Arkan sambil berdiri di depan Nayna, lalu memberikan kecupan singkat di kening istrinya itu.


"Aku mau memberikan ini." Nayna langsung menyodorkan kotak segi panjang berwarna hitam itu pada Arkan.


"Apa ini Sayang, hadiah buat aku? Perasaan ulang tahunku masil lama, ulang tahun pernikahan kita juga udah lewat, jadi ini hadiah untuk rangka apa?" cerca Arkan menerima kotak itu dengan bingung.


"Aku memberikan itu bukan karena rangka apa-apa, sebaiknya Mas priksa aja deh," ucap Nayna yang tak sabar, ingin agar suaminya segera membuka kotak itu.


Arkan pun mulai membuka kotak kecil itu, keningnya mengerut saat melihat benda yang ada di dalam kotak itu, dia jelas tahu apa itu.


Dia kemudian mulai mengalihkan pandangannya pada Nayna dengan ekspresi yang tidak bisa dijabarkan, dia kemudian mengeluarkan testpack itu secara perlahan, lalu menatapnya bergantian dengan Nayna.


Nayna mengangguk sambil tersenyum lebar, matanya kini sudah mulai berkaca-kaca karena rasa haru yang memenuhi hatinya, menghadirkan rasa hangat di hatinya itu.


"Kamu hamil Sayang," ucap Arkan meyakinkan.


"Iya Sayang, aku hamil, hamil buah cinta kita, anak kedua kita," sahut Nayna sambil mengangguk antusias.


Tanpa aba-aba, Arkan pun langsung menarik tubuh Nayna, mendekapnya dengan erat, juga mendaratkan beberapa ciuman di kening istrinya.


Memcoba mengungkapkan kebahagiaan dalam hatinya, atas kabar yang baru saja dia dapatkan ini.

__ADS_1


"Apa Mas bahagia?" tanya Nayna mendongak, menatap Arkan.


Bukannya menjawab, suaminya itu malah menyergap bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, hingga membuat Nayna ikut terhanyut.


Tak lama kemudian, dia melepaskan tautan mereka itu, menatap Nayna dengan tatapan teduh juga mendamba, juga gemas pada istrinya itu.


"Pertanyaan macam apa itu, tentu saja aku bahagia, bahagia karena kita diberikan kepercayaan untuk mempunyai satu anak lagi," ucap Arkan kembali mendekap Nayna.


Nayna menyandarkan wajahnya di dada suaminya yang masih terbalut oleh setelan kantor itu, dengan tangan yang dilingkarkan di pinggang besar Arkan.


Bahagia, tentu saja Arkan merasa bahagia dengan kabar ini, meskipun sebelumnya dia tidak terlalu memikirkan hal itu, karena kehadiran Rezvan saja sudah cukup.


Namun, mngetahui jika dia kembali diberi kepercayaan untuk menjaga satu nyawa lagi, tentu saja dia teramat bahagia.


Belum lama ini, Tuhan memberikan kesedihan pada mereka dengan terjadinya kecelakaan terhadap Rezvan, tapi kini hadir kabar bahagia yang seolah dapat mengurangi kesedihan yang dia rasakan itu.


"Sejak kapan kamu tahu hal ini? Apa kamu udah periksa ke dokter?" tanya Arkan yang sudah mulai melepaskan pelukan mereka itu.


"Aku taunya baru tadi pagi Mas, tadi pagi aku belum sempat bilang, karena Mas harus segera pergi ke kantor. Aku mau periksa ke dokter bareng sama kamu," sahut Nayna.


"Ya udah besok siang kita periksa ya."


"Ya udah kalau gitu, aku mau mandi dulu ya, setelah itu kita makan malam," ucap Arkan.


"Iya, tapi Mas masih mual nyium aroma makanan?" tanya Nayna.


"Masih," sahut Arkan mengangguk.


"Mungkinkah itu karena efek kehamilanku ini Mas?" tanya Nayna.


"Mas juga tidak tau, besok kita tanyakan ke dokter. Tapi kalau itu benar karena kehamilan kamu, maka itu tidak apa-apa, bahkan kebih baik seperti itu, daripada kamu yang ngalaminnya, kamu harus banyak makan biar asupan kamu sana dia terpenuhi," terang Arkan sambil mengusap perut Nayna yang masih rata.


"Tapi 'kan kamu jadi tidak bisa makan dengan leluasa Mas," sahut Nayna.


"Tidak masalah Sayang, ya udah Mas ke kamar mandi dulu ya," pamit Arkan.


"Iya Mas, aku nunggunya di meja makan aja ya," ucap Nayna.


"Iya," sahut Arkan sambil berjalan ke arah kamar mandi, sedangkan Nayna pergi keluar dari kamarnya itu.

__ADS_1


...*******...


Sementara itu di sisi lain, Raffa baru saja menginjakkan kakinya di rumahnya, dia saat ini memang sudah mulai bekerja, meskipun baru magang di sebuah perusahaan.


Dia tidak bekerja di kantor yang Arkan kelola itu, meskipun dia memiliki beberapa saham peninggalan papanya yang sengaja dia titipkan pada Arkan, tapi dia lebih memilih kerja di perusahaan lain untuk belajar.


"Bi, mana Mika?" tanya Raffa karena tidak melihat wanita yang berstatus istrinya itu.


'Non dari tadi tidak keluar kamar Den," sahut Bibi.


"Oh tumben dia tidak keluar, kenapa Bi?" tanyanya dengan heran.


"Maaf saya juga kurang tau Den,.sya sibuk di belakang jadi belum sempat melihat," terang Bibi.


"Baiklah Bi, kalau gitu aku ke atas dulu ya."


"Iya Den," sahut Bibi mengangguk.


Raffa pun mulai melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya, dia merasa sedikit aneh dengan ucapan dari artnya, karena biasanya Mika tidak pernah berdiam diri terlalu lama di kamar.


Dia saat ini memang sudah bekerja, karena Raffa sempat melarangnya saat dia menganggap Mika benar-benar hamil, jadi sekarang Mika hanya akan menghabiskan waktunya berada di rumahnya.


"Mik, kamu kenapa?" tanya Raffa begitu memasuki kamar melihat Mika yang tengah tertidur di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya itu.


Tidak ada sahutan dari Mika, hal itu membuatnya mengerutkan keningnya dengan heran, pria itu pun mulai melangkah semakin mendekati Mika.


Dia melihat tubuh Mika yang tertutup oleh selimut itu ternyata menggigil, wajah wanita itu merah.


"Kamu sakit Mik?" tanya Raffa yang langsung menyentuh kening dan leher Mika, ternyata istrinya itu benar-benar sakit.


"Panas banget badannya," ucap Raffa, bersamaan dengan Mika yang mulai membuka matanya secara perlahan.


"Mik, kamu bangun. Kita ke rumah sakit ya," tawar Raffa.


"Tidak mau, aku tidak mau ke rumah sakit," tolak Mika dengan menggelengkan kepalanya lemah.


"Baiklah kalau gitu biar kamu aku kompres dulu, aku juga mau minta Bibi buat bikinin kamu makanan yang bekuah, biar kamu bisa minum obat setelahnya," terang Raffa panjang lebar.


Pria itu mulai melepaskan dasi yang masih melingkar di tempatnya, lalu melepaskan kancing atas bajunya juga kancing lengannya dan menggulungkannya hingga ke sikut.

__ADS_1


__ADS_2