Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 38


__ADS_3

Nayna masih belum bergerak di tempatnya, dia masih berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya itu, apakah yang baru saja didengarnya itu nyata.


"Aku tau, kata-kata maaf yang aku ucapkan mungkin tidak akan mampu mengobati setiap luka yang aku torehkan untukmu, aku juga tau sekuat apa pun aku berusaha menebus kesalahanku, tidak akan mampu menggantikan air mata yang sudah jatuh dari mata indahmu itu."


Raffa kembali bersuara karena tidak melihat pergerakan dari wanita yang menjadi cinta pertamanya dan menjadi ibu dari calon anaknya itu.


"Kamu boleh membenciku sesukamu, bencilah aku jika memang itu bisa membuat hatimu sedikit lebih tenang, bencilah aku jika memang dengan begitu kamu bisa merasa terobati, tapi aku mohon. Izinkan aku untuk berperan sebagai seorang ayah untuknya, hanya sampai napas terakhirku!"


Mendengar ucapan menyakitkan dari Raffa itu membuat pertahanan Nayna hancur, tubuhnya luruh ke aspal, kenapa— kenapa dia harus berada di posisi seperti itu, kenapa dia harus mengalami hal itu, apa itu adalah balasan untuk kesalahan-kesalahannya.


Nayna kembali menangis sejadi-jadinya, bukan ini yang dia inginkan, bukan kabar ini yang ingin dia dengar saat bertemu kembali dengan lelaki itu, bukan kabar menyedihkan dari lelaki itu yang dia harapkan.


Melihat Nayna yang seperti itu, Raffa kembali medekatinya. dia berjongkok tepat di depan Nayna yang masih terduduk dengan menunduk, isakan lirih terdengar di indera pendengar lelaki itu.


"Jangan nangis lagi, Nay, kalau kamu memang tidak ingin aku berada di hadapanmu lagi, a–aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu, asal kamu janji kamu harus baik-baik saja."


Meskipun dengan hati yang terasa berat, Raffa terpaksa mengucapkan hal itu, baginya melihat Nayna sedih terus, lebih menyakitkan daripada dia tidak bisa berbuat apa pun untuk calon anaknya kelak.


Sementara Nayna semakin tidak dapat menghentikan tangisannya mendengar ucapan dari Raffa. Secara perlahan wajahnya pun terangkat, menatap manik lelaki yang kini sudah memerah.


"Kenapa semuanya jadi seperti Raf!" lirih Nayna menatap Raffa dengan sendu.


Raffa berusaha membawa Nayna untuk berdiri, dia menatapnya dengan tatapan yang sama seperti beberapa bulan yang lalu, tatapan memuja dan penuh cinta yang dulu membuat Nayna selalu terbuai akan tatapannya itu.


"Apa suami kamu baik padamu?" tanya Raffa, tanpa menyahuti ucapan Nayna.


Nayna pun mengangguk.


"Apa dia memperlakukanmu dengan baik, meskipun tau kamu hamil saat itu?"

__ADS_1


Nayna kembali mengangguk sebagai jawaban, melihat hal itu Raffa tersenyum tipis.


"Baiklah, aku yakin dia pasti orang yang baik. Bagiku kebahagiaan kamu lebih penting daripada keinginanku itu, jika dengan jauh dariku kamu lebih tenang dan bahagia, maka aku tidak akan berada lagi di hadapanmu."


"Hiduplah dengan bahagia, makasih karena kamu sudah berusaha mempertahankannya." Raffa mulai mendaratkan tangannya di perut Nayna, kemudian bergerak, mengusapnya dengan hati-hati.


"Aku yakin dia akan baik-baik saja karena memiliki ibu sepertimu," sambungnya lagi tersenyum samar dengan sudut mata yang sudah basah, dia menduduk untuk menyembunyikan hal itu dari Nayna.


Sementara Nayna, menggigit bibirnya dengan kuat, tidak ada lagi suara yang keluar dari bibirnya itu, bukankah seharusnya ini yang dia inginkan, tapi kenapa, mendengar ucapan lelaki itu membuat dadanya sesak.


"Bagiku kamu cinta pertama dan terakhir dalam hidupmu." Raffa mulai mengangkat wajahnya.


Dia tersenyum, sedangkan matanya sudah terlihat dipenuhi oleh air mata yang siap meluncur hanya dengan dengan mengedip sedikit saja, secara perlahan tangannya yang berada di bahu dan perut Nayna mulai terlepas.


Disusul dengan dia yang semakin memundurkan tubuhnya menjauh, Nayna hanya menatapnya dengan bulir air mata yang kian meluncur di pipinya, bibirnya terkunci dengan rapat, tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar.


"Kenapa kamu pergi lagi!" Setelah mengatakan hal itu kegelapan pun menghampirinya.


...********...


'Ukhuk Ukhuk'


Arkan terbatuk-batuk sambil bergerak mematikan kompor, dapur itu kini telah dipenuhi oleh asap yang berasal dari ikan, di wajan yang sudah menghitam.


Pria itu kemudian menatap ke arah Nayna yang kini tengah menatapnya dengan memasang raut wajah merasa bersalah, Arkan pun hanya menghela napas dengan pelan.


"Kalau kamu merasa tidak nyaman, atau ada yang sedang kamu pikirkan, sebaiknya jangan maksain buat mengerjakan, pekerjaan rumah," ucap Arkan sambil bergerak membuang ikan gosong itu ke tong sampah, lalu menyimpan wajan itu ke wastafel.


"Maaf Om, tapi aku baik-baik saja kok," sahut Nayna yang kemudian menunduk.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dikatakan baik-baik saja, apa kamu ingat beberapa hari ini kamu tidak fokus saat bekerja, kalau kamu lelah, berhentilah bekerja," ucap Arkan lagi dengan tatapan lurus pada Nayna.


"Dengan kamu tidak fokus seperti itu, bisa membahayakan dirimu sendiri," ucap Arkan lagi yang mulai bergerak untuk melanjutkan pekerjaan Nayna, yaitu memasak.


Nayna tidak menyahuti ucapan Arkan itu, dia sadar jika akhir-akhir ini dia memang tidak terlalu fokus saat mengerjakan sesuatu, contohnya kejadian kemarin, dia terlalu asyik melamun saat sedang menyetrika, hingga baju miliknya menjadi gosong.


Entah kenapa, pertemuan terakhir kalinya dengan Raffa sangat mengganggu pikirannya, setelah mendengar penjelasan lelaki itu, dia terus kepikiran hal itu, kini dia tengah dilanda kebingungan dengan jalan apa yang harus dia ambil saat ini.


Apakah dia memang harus memberikan kesempatan untuk Raffa, tapi bagaimana dengan Arkan. Apakah pria itu akan mengijinkan dia untuk berhubungan dengan Raffa, hanya sebatas teman mungkin.


"Sekarang kamu tunggulah di meja makan, biar aku yang lanjutin masaknya," printah Arakan.


Nayna memilih menurutinya, karena percuma juga dia terus memaksakan diri, sedangkan pikirannya sedang benar-benar kacau saat ini, daripada ujung-ujungnya malah membahayakan, maka lebih baik dia hanya diam saja.


Pikirannya kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu, di mana saat dia membuka mata, ternyata dia telah berada di ranjang rumah sakit dengan Arkan yang tengah menunggunya.


"Om saat aku pingsan beberapa hari yang lalu, kenapa Om bisa tau kalau aku di sana?" tanya Nayna, membuat aktivitas Arkan terhenti.


"Bukankah aku sudah bilang, jika suster yang memberitahuku," terang Arkan melihat ke arahnya sekilas.


"Tapi siapa yang membawa aku ke rumah sakit?" tanya Nayna lagi, karena masih penasaran, apa Raffa yang membawanya ke sana.


"Kata suster orang yang tidak sengaja lewat di sana yang membawamu ke rumah sakit, orang itu meminta suster untuk segera menghubungi keluargamu dan suster pun menghubungiku," terang Arkan sama seperti yang dia katakan beberapa hari yang lalu.


Nayna hanya menghela napas panjang, entah kenapa hatinya mengatakan jika lelaki itulah yang membawanya ke rumah sakit, perasaannya selalu tidak nyaman saat mengingat setiap ucapan yang pria itu katakan pada saat itu.


"Ayo ini makanlah," ucap Arkan yang ternyata sudah selesai memasak untuk makan malam mereka.


"Iya Om, makasih," sahut Nayna tersenyum pada Arkan dan mulai mengambil makanannya.

__ADS_1


__ADS_2