
"Kenapa melamun?"
Arkan mengusap pundak Nayna yang tengah melamun sambil menatap anaknya yang tengah tertidur di brangkar rumah sakit.
"Aku hanya memikirkan nasib Rezvan, Mas. Bagaimana jika dia tidak bisa berjalan dengan normal lagi," sahut Nayna.
"Bukankah dokter sudah bilang, jika ada kemungkinan untuknya sembuh, nanti kita bisa membawanya melakukan terapi, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, kita akan melakukan yang terbaik untuk anak kita. Dia pasti akan bisa berjalan dengan normal lagi."
Nayna hanya diam, tidak menyahuti apa yang suaminya itu ucapkan,meskipun hatinya berusaha meyakini anaknya itu akan kembali sembuh.
Namun, pikirannya tetap tidak tenang, memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi pada anaknya itu.
Dokter sebelumnya memang sudah menjelaskan dengan kondisi anaknya, seperti yang diterangkan, jika saat ini anaknya itu tidak dapat berjalan akibat dari cedera yang dialaminya.
"Kamu sebaiknya makan dulu Nay, kamu terlihat pucat karena beberapa hari ini kamu tidak makan dengan teratur," sambung Arkan mengusap kepala istrinya itu.
"Aku tidak lapar Mas," sahut Nayna menatap suaminya itu sekilas.
Arkan berjongkok di samping Nayna yang masih menghadap ke arah ranjang Rezvan, dia kemudian mengambil tangan istrinya itu dan menggenggamnya dengan lembut, hingga Nayna pun memutar tubuhnya menghadap padanya.
"Jangan seperti ini terus Sayang, gimana kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurus Rezvan dan juga aku, jangan terus bersedih, kembalilah pada Naynaku yang selalu tersenyum dan ceria."
Nayna menatap dalam mata Arkan, raut lelah terlihat di wajah suaminya, akhir-akhir ini dia memang kurang memperhatikan suaminya itu.
"Maaf Mas, aku terlalu sibuk memikirkan Rezvan, sampai-sampai aku tidak memikirkan kamu Mas, padahal tanggung jawabku, bukan cuma pada Rezvan saja," ucap Nayna dengan menyesal.
Arkan tersenyum dan mencium punggung tangan Nayna berkali-kali.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu hanya perlu menjaga kesehatan, agar kamu bisa merawat Rezvan dengan baik," sahut Arkan dengan lembut.
"Baiklah ayo kita makan, Mas juga belum makan 'kan?" sahut Nayna yang mulai berdiri dari kursi.
"Mau makan yang dikirim oleh Indah aja, apa mau pesan makanan lain?" tanya Arkan mengambil tempat makan yang dikirimkan Indah beberapa saat lalu dari.
"Yang ini aja Mas," sahut Nayna sambil membuka kantong yang berisi makanan juga perlatan.
Nayna menata makanan itu ke meja yang ada di depan sofa, dia kemudian menuangkan makanan itu ke piring dan memberikannya pada Arkan terlebih dahulu.
Jika malam-malam seperti itu, memang hanya mereka saja yang akan berjaga di sana, tapi jika siang akan bergantian dengan orang-tua Nayna, kadang juga Raffa akan datang ke sana.
Arkan baru saja menyuapkan makanan tiga suap ke mulutnya, tapi dia segera menyimpan piring yang dipegangnya itu ke meja, lalu pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa Mas?" tanya Nayna melihat Arkan buru-buru berjalan ke arah kamar mandi.
"Tidak kenapa-napa, kamu lanjut saja makannya," sahut Arkan sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Nayna pun memilih meneruskan makannya, tapi kegiatannya itu harus terhenti karena mendengar suara muntah-muntah dari kamar mandi.
Karena merasa khawatir, dia pun menghentikan makannya yang baru beberapa suap itu, lalu pergi ke kamar mandi, membantu Arkan memijat tengkuknya.
"Kamu kenapa Mas, masuk angin?" tanya Nayna tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Tidak tau, tapi sepertinya emang masuk angin deh," sahut Arkan mengangkat wajahnya sekilas, lalu kembali menunduk ke wastafel saat rasa mual menghampirinya lagi.
"Mungkin karena kamu kurang istirahat, jadi sampai seperti ini, ditambah kamu juga selalu telat makan," sahut Nayna.
"Kayaknya iya deh, akhir-akhir ini aku emang sering telat makan," sahut Arkan.
Arkan pun sudah merasa lebih baik, dia berkumur lalu membersihkan mulutnya, setelah dirasa bersih dia pun mengambil tisu yang Nayna sodorkan untuk mengelap bibirnya itu.
"Mau aku panggilkan dokter aja Mas, biar diperiksa?" tawar Nayna.
"Tidak perlu, ini sudah malam, aku mau langsung istirahat saja ya," ucap Arkan.
"Tidak lanjut lagi makannya?" tanya Nayna.
"Tapi kamu makannya baru beberapa suap Mas," sahut Nayna yang khawatir dengan suaminya itu.
"Tapi aku bakal mual lagi kayaknya kalau dipaksain buat makan lagi," sahut Arkan.
"Ya udah kalau gitu, tidurlah Mas."
Nayna mengambil selimut yang dikirim dari rumahnya, lalu memakaikannya pada Arkan, setelah itu dia pun melanjutkan makannya, hingga makanan yang ada di piringnya habis.
Ibu muda itu, merapikan kembali tempat makan dan peralatan itu ke kantong yang menjadi wadahnya.
Karena melihat suaminya sudah tidur, di pun memutuskan untuk tidur di sofa tunggal yang ada di samping sofa yang Arkan tempati.
******
"Ada yang mau katakan padamu."
"Apa?" tanya Raffa pada Mika yang duduk di depannya.
__ADS_1
"Sebenarnya–"
Mika menghentikan ucapannya, dia menatap Raffa yang tengah menatapnya dengan ekspresi penasaran itu dengan dalam.
Hatinya merasa tidak nyaman karena takut akan kemarahan Raffa, tapi dia juga tidak tenang terus-terusan menyimpan kebohongan itu lebih lama lagi.
"Ada apa?" tanya Raffa lagi.
"Sebenarnya aku tidak hamil, aku juga sengaja tidak jujur dari awal tentang hal itu," tutur Mika dengan sekali tarikan napas.
Raffa tidak langsung menyahut, hingga beberapa detik dia hanya diam, membuat Mika merasa was-was.
Mika pun memberanikan diri mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk itu, lalu menatap Raffa yang masih dengan ekpresi biasanya, seperti tidak kaget seperti yang dia bayangkan.
"Apa kamu melakukan itu hanya agar papa kamu percaya?" tanya Raffa.
"Iya," sahut Mika, meskipun dalam hati dia juga ingin mengatakan, bukan itu alasan terbesarnya.
Namun, dia tidak ingin mengatakan semunya pada Raffa, lebih tepatnya dia belum siap menenerima penolakan dari pria itu.
Ya, meskipun sebelumnya Raffa pernah meminta mereka untuk menjalin hubungan, tapi pada kenyataannya, sikap pria itu tidak beda jauh dengan sebelumnya.
Mika mengerti mungkin dia memang belum bisa menggantikan posisi Nayna di hati pria itu, apalagi melihat Raffa yang begitu menyayangi anak Nayna.
Bahkan, dia dapat melihat sebuah pukulan dari mata pria itu, saat mendengar penjelasan dokter jika anak dari mantan pacar, serta omnya itu kemungkinan akan lumpuh.
Meskipun pria itu selalu mengatakan, jika dia menyayangi Rezvan karena dia anak dari omnya, tapi Mika melihat hal yang tidak sesederhana itu, dari sikap dan perlakuan Raffa terhadap Rezvan.
"Apa kamu tidak marah soal itu?" tanya Mika menatapnya dengan serius.
"Aku sedikit kecewa, karena merasa dibohongi, tapi kamu juga melakukan hal ini karena terpaksa kan? Jadi ya udah, tidak perlu diperpanjang lagi," sahut Raffa dengan santai.
"Syukurlah kalau kamu tidak marah," ucap Mika dengan lega.
Raffa mengangguk sebagai jawaban, dia kemudian berdiri dari tempat duduknya, membuat Mika mendongak menatapnya.
"Sekarang sebaiknya kita tidur," ajaknya.
"Baiklah," sahut Mika mengangguk, lalu mengikuti langkah Raffa menaiki tangga.
Mereka memang tidur di kamar yang sama berbagi ranjang yang sama, tapi tidak untuk melakukan hal yang berhubungan dengan suami-istri.
__ADS_1
Mereka hanya berbagi ranjang saja, tidak lebih dari itu, karena Raffa masih butuh waktu lagi untuk mereka menjadi selayaknya suami-istri.