
"Raf, syukurlah kamu udah sadar," ucap Nayna dengan lega, sambil berdiri di samping ranjang yang Raffa tempati.
Setelah dokter memeriksa keadaan Raffa barusan, Nayna pun segera memasuki ruangan itu.
Raffa menatapnya dan tersenyum tipis, dia melirik ke sana ke mari, mencari keberadaan om-nya yang tidak terlihat.
"Di mana Om Arkan?" tanya Raffa pada Nayna, dengan nada lemah.
"Dia lagi pergi keluar negeri, baru berangkat tadi," terang Nayna.
Raffa tidak berbicara lagi, dia hanya diam menatap kosong ke langit-langit ruang itu.
"Apa kamu mau sesuatu Raf?" tanya Nayna yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Raffa.
Winda yang ikut masuk ke ruangan itu hanya diam memperhatikan mereka, posisinya saat ini tidak jauh dari Nayna.
"Kalau gitu kamu pergilah istirahat lagi," ucap Nayna lagi.
"Iya!" lirih Raffa.
"Kalau gitu aku pergi ke luar lagi, kita tidak bisa terlalu lama di sini, aku akan nungguin kamu di luar, kalau butuh apa-apa bilang saja ke suster," terang Nayna dengan panjang lebar.
Raffa hanya menyahutinya dengan dengan anggukan samar, dia masih merasa lemah jadi tidak bisa berbicara terlalu banyak.
Nayna pun mengerti dengan sikap Raffa itu, melihat laki-laki itu sudah bisa membuka matanya dan berkomunikasi saja, itu sudah membuatnya merasa lega.
Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya Nayna dan Winda pun pergi keluar, menghampiri Bibi yang masih menunggu di depan ruangan itu dengan sabar.
"Bi, kalau mau pulang dulu silakan saja. Biar aku sama Mama aja yang nungguin Raffa di sini," ucap Nayna pada art itu yang nampak kelelahan.
Wajar saja jika wanita itu sampai kelelahan, mengingat dia dengan sabarnya menunggu Raffa selama di rumah sakit, meskipun hanya saat siang hari saja.
Karena jika malam, Arkanlah yang menunggu di sana, sedangkan Nayna hanya bisa diam di rumah, karena suaminya tentu saja tidak mengijinkannya untuk ikut berjaga.
"Tidak apa-apa Non, Bibi baik-baik saja. mungkin nanti sore Bibi akan pulang dulu," sahut Bibi tersenyum ramah pada Nayna.
"Bibi kalau malam tidak ke sini lagi juga tidak apa-apa kok, Bi. Mas Arkan juga udah bilang, dia sudah meminta suster agar bisa menunggu Raffa selam 24 jam," ucap Nayna.
"Iya Non, nanti kalau Bibi tidak bisa, Bibi tidak akan ke sini juga kok."
"Baiklah kalau gitu," ucap Nayna mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Ma, Mama mau pulang sekarang? Biar kita telepon Pak Ridwan lagi kalau mau pulang?" tanya Nayna beralih pada Mamanya yang sudah mendudukkan dirinya di sampingnya itu.
"Nanti ajalah pulangnya bareng kamu, kata Papa kamu, dia juga akan pulang malam, jadi Mama pasti bosan di rumah terus," sahut Winda.
"Ya udah kalau gitu," sahut Nayna mengangguk samar.
Akhirnya mereka pun tidak bersuara lagi, Nayna mengambil ponselnya mengirimkan pesan pada suaminya, tentang Raffa yang sudah sadar.
"Nay kita cari makanan yuk," ajak Winda yang sudah pengen ngemil.
"Ya udah ayo, Bibi mau ikut juga yuk," ajak Nayna pada Bibi.
"Tidak apa-apa gitu kalau Bibi ikut Non?" tanya Bibi dengan ragu.
"Tidak apa-apa ayo." Nayna berdiri dari kursinya, begitu pun dengan Winda.
"Ayo Bi, ikut aja. Kita jalan-jalan sekitar sini juga," ajak Winda.
"Baiklah kalau gitu."
Akhirnya mereka pun mulai melangkah pergi dari rumah sakit itu, berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit dengan berjalannya kaki.
Nayna sesekali berhenti di pedagang pinggir jalan, membeli cemilan untuk mereka menunggu di rumah sakit sampai sore nanti.
"Tidak Non, Bibi ikut Non sama Nyonya aja," sahut Bibi menggeleng.
"Baiklah kalau gitu, kalau mau apa-apa bilang aja Bi," ucap Nayna.
"Iya Non," sahut Bibi mengangguk.
mereka terus berjalan-jalan dengan sesekali bercengkrama, hingga tak terasa kini mereka sudah sampai di depan rumah sakit lagi.
Karena Nayna merasa kakinya sudah cukup pegal, akhirnya dia pun meminta untuk langsung kembali saja dan beristirahat di depan ruangan Raffa.
"Lumayan capek juga jalan-jalan beberapa meter juga," ucap Nayna sambil mendudukkan dirinya.
Dia sedikit memijat kakinya yang lumayan pegal itu dengan perlahan.
"Tapi itu bagus untuk kamu, untuk merangsang lancarnya persalinan jadi harus banyak jalan-jalan santai kayak tadi," sahut Winda.
"Iya sih Ma, dokter juga nyaranin kayak gitu kemarin," sahut Nayna.
__ADS_1
Di tengah-tengah obrolan ibu dan anak itu, terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke arah mereka, hingga membuat mereka mengalihkan perhatian ke asal suara itu.
"Kak Ivan, Mbak Fara," sapa Nayna sambil tersenyum ramah pada pasangan yang baru saja datang itu.
"Hai Nay, gimana kabar kamu?" tanya Fara yang memang sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
Nayna pun berdiri dan bercipika-cipiki dengan Fara dan saling berpelukan.
"Aku baik Mbak, Mbak sendiri gimana? Katanya lagi hamil ya, selamat ya Mbak," ucap Nayna.
"Iya nih, alhamdulillah setelah setelah penantian empat tahun, akhir bisa jadi juga," sahut Fara tersenyum senang.
"Iya syukur Mbak, semoga semuanya baik-baik saja, Mbak sama debaynya sehat terus sampai waktunya untuk persalinan," ucap Nayna.
"Iya aamiin, kamu juga, semoga nanti waktu persalinannya lancar ya," ucap Fara tersenyum ramah juga.
Nayna pun mengangguk dengan senyuman yang masih mengembanng.
"Oh iya kenalkan Kak, Mbak, ini Mama aku," ucap Nayna mengenalkan mamanya yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka itu.
Fara dan Ivan pun menyalami Winda dan menyapanya, sambil tersenyum ramah. Dibalas ramah juga sama mertua Arkan itu.
"Saya Ivan dan ini istri saya Fara Tante, kita teman sekaligus rekan kerja Arkan," ucap Ivan saat menyalami Winda.
"Oh iya saya Mama Nayna," sahut Winda tersenyum ramah juga pada pasangan itu.
"Oh iya gimana kondisi Raffa sekarang? Kita baru bisa datang sekarang, karena akhir-akhir ini kita cukup sibuk," ucap Ivan, beralih menatap Nayna.
"Alhamdulillah sudah sadar Kak, sekarang dia lagi istirahat," sahut Nayna, membuat pasangan muda itu menghembuskan napas leganya.
"Syukurlah kalau dia sudah sadar, apa kamu sudah memberikan kabar pada Arkan?" ucap Ivan.
Nayna mengangguk lalu menjawab, "Sudah Kak, tadi aku kirim lewat chat."
"Baguslah kalau gitu." Ivan mengangguk paham.
"Ya udah, kita mau lihat dulu ke dalam ya," pamit Ivan.
"Iya Mbak, Kak. Masuk aja," sahut Nayna mengangguk.
Ivan Dan Fara pun mulai memasuki ruangan icu menjenguk Raffa, mereka memang baru bisa menjenguk Raffa, karena akhir-akhir ini kondisi Fara yang tidak terlalu fit efek dari kelaminnya itu.
__ADS_1
Ditambah pekerjaan yang cukup sibuk. Jadi menyebabkan dia selalu langsung istirahat saat pulang bekerja, jadinya baru sekarang mereka bisa menjenguk keponakan Arkan yang sudah mereka anggap seperti adik sendiri itu.