
Nayna saat ini tengah menatap Arkan yang tengah menyetir dengan heran. Sedari tadi suaminya itu, terlihat hanya diam, seperti tengah memikirkan sesuatu.
Mereka baru saja pulang dari rumah sakit, kondisi Raffa saat ini masih belum ada perkembangan, padahal sudah seminggu lebih, laki-laki itu dalam keadaan koma.
"Ada masalah ya Mas," ucap Nayna mengusap lengan Arkan.
Arkan pun menengok ke arahnya Dia kemudian mengambil tangannya dan menggenggam, lalu memberikan kecupan lembut di tangan mungil itu.
"Ada apa Mas, aku kan sudah sering bilang, kalau ada apa-apa kamu harus cerita," ucap Nayna.
"Nanti aku akan cerita saat sampai di rumah ya," sahut Arkan dengan nada lembut.
"Baiklah," sahut Nayna pasrah.
Akhirnya mereka pun kembali diam, Arkan masih tidak melepaskan genggaman tangannya itu, hingga mereka sampai di tempat tujuan.
Mereka pun turun dari mobil, memasuki rumah. Setelah itu Arkan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sementara Nayna mulai menyibukkan dirinya dengan peralatan masakan.
"Butuh bantuan?" tawar Arkan yang sudah selesai mandi
"Kalau Mas tidak cape," sahut Nayna menengok ke arahnya yang berdiri di sampingnya, sambil tersenyum.
"Tidak cape, meskipun cape. Tapi dengan berada di dekatmu, rasa cape yang aku rasakan hilang, karena kamu adalah sumber energiku."
Nayna berdecak mendengar ucapan manis dari suaminya itu, selalu ada aja jawaban pria itu yang bisa membuatmu berdebar.
"Mulai deh gombalnya, Mas dulu pasti kayak gini juga saat pacaran sama Mbak Listi ya," ucap Nayna tanpa melihat ke arahnya.
"Dulu aku jarang bicara saat pacaran sama Listi, aku bicara kalau hal itu benar-benar penting, tapi kalau nurutin apa yang dia inginkan sih emang iya," sahut Arkan apa adanya.
"Bohong, sekarang aja pinter banget ngomongnya, apalagi dulu waktu masih muda," sahut Nayna.
"Jadi maksud kamu, sekarang aku udah tua gitu?" tanya Arkan memiringkan tubuhnya dan menara Nayna tak terima.
"Belum tua sih, cuma udah berumur aja," kekeh Nayna sengaja menggoda Arkan.
"Oh jadi maksud kamu aku udah berumur begitu ya, meskipun aku udah berumur, aku masih terlihat lebih muda, masih terlihat kayak umur 25 tahun lah," ucap Arkan dengan bangga.
Nayna memutar mata malas, mendengar ucapan penuh percaya diri dari suaminya itu.
Meskipun memang kenyataannya seperti itu, pria itu memang terlihat masih muda, meskipun saat ini umurnya sudah mau menginjak 33 tahun.
"Ya, ya Om Om muda," ucap Nayna sambil terkekeh.
__ADS_1
Mereka pun terus bercanda, hingga akhirnya masakan yang mereka masak telah matang. Pasangan itu pun segera menata makanannya di meja makan.
"Biar aku aja yang selesaikan ini, kamu pergilah mandi dulu, jangan terlalu malam mandinya," ucap Arkan membuat gerakan Nayna terhenti.
"Baiklah kalau gitu, kalau Mas udah lapar makan duluan aja," ucap Nayna.
"Tidak, aku nungguin kamu aja."
"Baiklah, aku tidak akan lama." Nayna pun langsung menuju ke kamarnya, mengambil pakaian seperti biasa.
Meskipun saat ini mereka sudah saling menerima satu sama lainnya, tapi mereka masih belum sepenuhnya berani saling buka-bukaan.
Arkan pun melanjutkan pekerjaannya, menyiapkan keperluan makan mereka, setelah selesai dan semuanya sudah siap. Dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Menunggu istrinya sambil berbalas pesan bersama Listi dan Ivan, untuk membahas masalah pekerjaan.
"Mas chat-an sama siapa?" tanya Nayna yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi dan mendudukkan dirinya di samping Arkan.
"Sama Ivan, sama Listi," sahut Arkan memperlihatkan layar ponselnya pada Nayna.
Dia tidak akan menutupi apa pun dari istrinya itu, karena pasangan itu sudah berkomitmen dan berjanji jika mereka tidak akan menyembunyikan hal sekecil apa pun.
Itu semua sesuai dengan keinginan Arkan, karena menurutnya hidup bersama, artinya juga saling membagi apa pun yang ada dalam dirinya pada pasangan.
"Oh," sahut Nayna mengangguk paham.
Bumil yang kini tengah hamil besar dan hanya tinggal menghitung waktu menuju persalinan itu pun, mulai mengambil makanan ke piring dan menyerahkan pada suaminya.
"Makasih Sayang," ucap Arkan menerima piring Nayna sodorkan padanya sambil tersenyum.
"Sama-sama Sayang, sekarang makanlah. Setelah makan kamu harus ceritain apa yang mau kamu ceritakan tadi itu," ucap Nayna yang sudah sibuk mengambil makanan untuknya juga.
"Iya, iya. Nanti aku cerita."
Mereka pun makan malam dengan tenang, apa yang mereka lakukan itu, memang tidak berbeda jauh dengan kehidupan sehari-hari, pasangan lainnya.
Sederhana yang membuat mereka merasa nyaman setiap bersama, rasa nyaman bukan hadir hanya karena kita memiliki segalanya, tapi dengan siapa kita bersama, itu akan membuat kita merasa nyaman.
Meskipun seandainya kita punya segalanya, tapi ternyata orang yang bersama kita, menghabiskan waktu bersama kita, tapi tidak bisa membuat hati kita nyaman.
Maka sebanyak apa pun materi yang kita punya, itu tetap tidak ada artinya, tempat ternyaman untuk kita adalah orang yang mampu, membuat kita nyaman setiap kali bersamanya.
...******...
__ADS_1
Akhirnya makan malam mereka pun selesai, Nayna dan Arkan masih duduk di meja makan. Setelah membersihkan meja makan, Arkan memang meminta Nayna untuk duduk di sana terlebih dahulu.
"Jadi apa yang mau Mas katakan?" tanya Nayna dengan tatapan lurus pada suaminya itu.
"Jadi gini, kemungkinan lusa aku harus pergi ke Jepang, aku akan meninjau kerja sama dengan perusahaan di sana," terang Arkan menatap Nayna dengan serius.
"Berapa lama?" tanya Nayna.
"Antara lima hari atau seminggu paling lama, kamu tidak kenapa-napa, kan aku tinggal dulu sebentar," ucap Arkan mengambil kedua tangan Nayna dan menggenggamnya.
"Pergilah, aku tidak apa-apa kok Mas," sahut Nayna tersenyum.
"Tapi aku merasa berat buat ninggalin kamu, apalagi waktu persalinan kamu tinggal sebentar lagi, ditambah kondisi Raffa saat ini," ucap Arkan yang terlihat gusar.
Nayna menepuk-nepuk punggung tangan Arkan, berusaha menenangkannya. Dia mengerti kegundahan yang saat ini tengah dirasakan oleh suaminya itu.
"Mas tidak perlu memikirkan aku sama Raffa, kita akan baik-baik saja di sini, nanti aku akan kabari langsung jika memang terjadi sesuatu padaku atau Raffa," ucap Nayna.
"Seandainya Ivan bisa pergi, mungkin aku akan meminta dia untuk mewakilkannya seperti biasa, tapi sekarang dia tidak mungkin pergi. Kondisi di sini juga cukup repot. Apalagi sekarang Fara sedang hamil dan kandungannya tidak terlalu kuat, hingga dia tidak boleh terlalu lelah," terang Arkan panjang lebar.
"Itu artinya Mas akan pergi ke sana bareng Mbak Listi?" tanya Nayna memastikan.
Arkan menatapnya dan mengangguk ragu, dia tidak ingin Nayna punya pikiran buruk, tapi dia tidak bisa menghindar dari hal ini.
"Iya, karena aku tidak mungkin ke sana sendiri, aku membutakannya selama di sana," jawab Arkan.
"Ya udah kalau gitu Mas pergi saja, jangan pikirkan aku atau Raffa, kita akan baik-baik saja di sini," sahut Nayna dengan santai.
"Kamu tidak marah aku perginya sama Listi?" tanya Arkan dengan hati-hati.
"Tidak Mas, aku percaya Mas tidak akan berbuat macam-macam meskipun nanti perginya sama Mbak Listi, aku yakin Mas bisa jaga kepercayaan aku ini."
Mendengar apa yang Nayna ucapakan itu membuat Arkan senang, dia tadi sangat takut, jika Nayna akan sedikit merajuk, karena dia harus pergi berdua saja dengan Listi.
Namun ternyata tidak, istrinya itu bisa mengerti dengan keadannya, hingga membuatnya merasa sedikit lega.
"Iya aku ke sana hanya untuk masalah pekerjaan, tidak ada hal lainnya lagi. Aku janji akan berusaha membereskan masalah di sana dan pulang secepatnya."
Arkan menarik Nayna ke dalam pelukannya, melakukan hal paling disukainya, yaitu mencium kening Nayna berulang kali dengan gemas.
"Iya Mas kerjanya yang tenang ya, jangan terlalu dipaksakan juga, aku akan selalu nungguin Mas di sini."
"Makasih karena kamu sudah sangat perhatian dengan kondisiku ini," ucap Arkan menatapnya dengan dalam.
__ADS_1
Nayna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sedangkan Arkan merapikan helaian rambutnya dan meyampirkan ke belakang telinganya.