
Nayna saat ini sedang merasakan bagaimana rasanya jadi seorang ibu, antara senang, sakit, khawatir bercampur jadi satu.
Sudah 12 jam, tapi anaknya itu belum keluar juga, sudah hampir dua jam, dia sudah tidak bisa berjalan-jalan seperti sebelumnya, hanya berbaring di brankar.
Winda masih dengan setia menemaninya di ruang persalinan itu, dia beserta dokter terus memberikan motivasi dan dorongan agar Nayna bida melahirkan anaknya itu.
"Bukankah kamu sudah pengen melihat anakmu itu, maka dari itu kamu harus kuat," ucap Winda mengusap rambut Nayna yang sudah basah oleh keringat.
"Tapi, ini benar-benar sakit Ma," sahut Nayna dengan diiringi desisan, karena menahan sakit yang sudah beberapa jam dia rasakan itu.
"Kamu atur napas dulu aja, nanti kalau saya minta kamu buat ngeden, kamu ngenden lagi ya," intruksi dokter padanya.
Nayna hanya menganggukkan kepalanya, sambil terus berusaha mengatur napasnya sesuai dengan apa yang dokter intruksikan itu.
"Huuuhh! Sakit Ma!" lirih Nayna.
"Iya, mama tau itu sakit, tapi sakit itu akan terbayar saat dia sudah keluar," sahut Winda dengan lembut.
Winda mengambil tisu dan mengelap keningnya yang sudah basah oleh keringat.
"Apa masih belum pembukaan lengkap Dok?" tanya Winda pada dokter.
"Masih belum, itulah kenapa saya meminta Nayna untuk tidak terlalu membuang tenaganya," terang Dokter, membuat Winda pun mengangguk paham.
Ketegangan yang terjadi di ruang persalinan itu, tidak kalah tegang dengan yang terjadi di ruangan lain rumah sakit itu.
Lebih tepatnya di ruangan yang Raffa tempati, dia menanti setiap kabar dari Nayna dan calon anaknya itu dengan harap-harap cemas.
"Bagaimana Bi?" tanya Raffa pada Bibi yang dia perintahkan untuk mencari tahu, tentang kondisi Nayna.
"Kata suster yang barusan ikut membantu, saat ini masih belum pembukaan lengkap, Den. Jadi masih nunggu pembukaan lengkap dulu," terang Bibi.
Raffa pun mengangguk paham, dia kemudian kembali mencoba menghubungi nomor Arkan yang dari tadi tidak dapat dihubungi juga.
"Apa Om Arkan sesibuk itu, dari tadi siang masih tidak bisa dihunbugi juga, pesan yang aku kirimkan pun, belum dia balas juga," gerutu Raffa yang dari tadi siang tidak bisa mrnghubugi omnya itu.
__ADS_1
Seandainya bisa, dia ingin sekali saat ini berada di samping Nayna, memberikannya semangat untuk melahirkan anaknya.
Namun dia tidak bisa melakukan itu, karena itu akan jadi hal yang aneh, jika seorang keponakan menemani istri dari Omnya di ruang persalinan.
"Aku mohon selamatkan mereka berdua Ya Allah," gumamnya dengan penuh harap.
"Semoga saja Den Arkan baik-baik saja, dan semoga saja Non Nayna dan anaknya lahir degan selamat, tidak ada kendala apa pun," doa Bibi yang segera diamini oleh Raffa.
Raffa juga berharap, jika omnya itu membaca pesan yang dikirimkan olehnya, lalu berggas pulang, agar dia bisa menemani Nayna.
Dia yakin, jika saat ini. Keberadaan omnya itulah yang paling Nayna butuhkan lebih dari siapa pun.
...*****...
Sementara itu, di atas ketinggian seorang pria sedang bergerak dengan gelisah, menunggu waktu mendarat yang terasa sangat lama, padahal dia sudah tidak bisa tenang memikirkan istrinya itu.
"Kamu tenang saja Ar, mereka pasti baik-baik saja," ucap Listi berusaha menenangkan pria di sampingnya yang masih bergerak dengan gelisah.
"Iya, aku juga berharap begitu, mereka akan baik-baik saja, meskipun aku tidak berada di sampingnya, saat anak kami lahir, tapi aku berdoa agar mereka baik-baik saja," sahut Arkan mngangguk.
Setelah menuggu beberapa jam, akhirnya mereka pun mendarat dengan sempurna, Arkan dan Listi segera pergi ke tujuan mereka masing-masing.
"Kamu jangan khawatir Ar, tadi aku nanayain kabar Nayna, semuanya baik-baik saja, hanya mash menunggu waktu untuk anak itu lahir," terang Ivan mncoba menenangkan Arkan yang terlihat kacau.
"Nayna pasti tengah kesakitan saat ini, sedangkan aku malah tidak ada di sisinya saat ini," ucap Arkan yang merasa menyesal.
"Nayna pasti ngerti dengan keadaanmu, buktinya dia tidak mengatakan yang sejujurnya padamu, pasti karena dia tidak ingin kamu khawatir," ucap Ivan lagi.
"Agak ngebut Van," pinta Arkan.
"Kita harus ingat keselamatan juga Ar, ini aku bawa mobilnya udah cukup ngebut, aku tidak mau kita datang ke rumah sakit malah sebagai pasien," sahut Ivan yang tidak menuruti ucapan Arkan itu.
Saat ini, dia memang sudah mejalankan mobilnya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi, mskipun tengah panik, tapi keselamatan tetap hal yang utama.
Akhirnya kini, mereka pun telah sampai di rumah sakit, tanpa memedulikan Ivan, dia pun segera turun dari mobil, begitu mobil itu berhenti.
__ADS_1
Arkan menanyakan keberadaan istrinya pada suster jaga, setelah tahu, dia pun segera pergi ke ruangan yang suster sebutkan padanya itu.
Saat sampai di lorong yang dia yakini adalah tempat untuk persalinan, dia melihat mertuanya tengah duduk di kursi dengan raut khawatirnya.
"Pa," panggil Arkan membuat Ferdi yang semula tengah menatap pintu ruang persalinan, menengok ke arahnya.
"Kamu sudah pulang, baguslah. Cepat masuk, temani istri kamu," ucap Ferdi yang sudah berdiri di hadapannya.
"Apakah anak kami belum keluar juga?" tanya Arkan.
"Belum, mungkin anak itu nungguin kamu dulu, sudah kamu masuk sana temani istri kamu, siapa tau kalau ada kamu, dia cepat keluar," ucap Ferdi masih dengan wajah khawatirnya.
"Baiklah, Pa. Aku masuk dulu ya," pamit Arkan.
"Iya cepatlah masuk," desak Ferdi.
Dia sebenarnya dari tadi sudah tidak nyaman, apalagi mendengar suara kesakitan dari anaknya itu, membuat dia benar-benar merasa khawatir.
Arkan mulai melangkah menuju ke pintu ruangan itu, dari depan pintu dia dapat mendengar pembicaraan yang terjadi di dalam sana.
Jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan, setelah beberapa kali menarik dan mengeluarkan napas, dia pun mulai melanjutkan langkahnya membuka itu.
Saat pintu terbuka, tatapannya langsung tertuju pada istrinya yang tengah mengatur napas itu, sebelah tangannya berpegangan pada Winda dan sebelah tangan lainnya berpegangan pada pinggiran brankar.
"Sayang," panggil Arkan dengan lembut sambil mengambil tangan Nayna yang satunya.
"Ma-mas!" lirih Nayna menatapnya dengan mata sayunya, dia berusaha tersenyum pada Arkan.
"Maaf Mas, telat," ucap Arkan mengusap puncak kepalanya dan mencium keningnya.
"Sakit Mas," adu Nayna pada Arkan.
"Iya, Mas tau, tapi kamu wanita kuat, kamu pasti bisa melewati ini, demi dia. Anak kita," ucap Arkan tersenyum.
Tangannya bergerak mengusap perut Nayna dengan lembut.
__ADS_1
Arkan pun mulai mendekatkan wajahnya, ke perut Nayna, dia kemudian menyapa anak yang tidak akan lama lagi akan keluar itu.
Dokter dan Winda, juga para suster di sana hanya diam memperhatikan interaksi antara Arkan dan calon anak dalam kandungannya itu.