
Raffa dan Mika kini tengah makan siang, di sebuah restoran. Sebelumnya Raffa memang sengaja menghubungi wanita itu dan memintanya untuk ketemuan.
"Kenapa kamu ngajak aku ketemu?" tanya Mika sambil mengunyah makanan yang sudah tersaji di depannya.
"Tidak kenapa-napa, aku cuma lagi bosen aja di rumah," sahut Raffa dengan santai.
"Kamu tidak lagi sibuk 'kan?" sambung Raffa dengan menatapnya.
"Kebetulan hari ini aku sedang tidak bekerja," sahut Mika.
"Baguslah kalau gitu," sahut Raffa mengangguk.
Raffa sesekali melirik ke arah Mika yang tengah memakan makanannya, sambil sesekali melihat ke arah lain, memperhatikan pengunjung lain.
Sebenarnya bukan tanpa alasan, dia akhir-akhir ini mencoba mendekati Mika, tapi dia mencoba untuk membuka hatinya itu.
Setelah berpikir beberapa lama, dia merasa tidak mungkin dia terus sendiri seperti itu, meskipun dia memang sudah merelakan dan mengubur setiap hal antara dirinya dan Nayna.
Namun, tidak dapat dipungkiri, jika sisa-sisa kenangan dan rasa itu masih ada di hatinya, dia senang melihat kebahagiaan Nayna dan omnya, tapi ada sudut hatinya yang merasa kadang tidak nyaman, saat berhadapan dengan kedua orang itu.
"Apa kamu punya pacar Mik?" tanya Raffa secara tiba-tiba, hingga membuat Mika yang semula melihat ke arah lain, langsung menatapnya.
Wanita itu menatapnya dengan heran, dia tahu pasti pertanyaan tiba-tiba darinya itu, membuat wanita itu keheranan.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Mika bertanya balik.
"Hanya penasaran saja," sahut Raffa menatapnya dengan dalam.
Mika yang mendapatkan tatapan intens dan pertanyaan tiba-tiba darinya seperti itu, membuat wajahnya tiba-tiba saja terasa hangat.
"Aku tidak punya," sahut Mika mengalihkan perhatiannya dari Raffa ke makanan yang tadi sempat terhenti.
"Serius?"
"Terserah kalau tidak percaya," dengkus Mika.
"Gimana kalau kita coba menjalin hubungan."
__ADS_1
Uhuk ... uhuk
Mika segera mengambil jus yang ada di depannya, agar bisa membuat tenggorokannya terasa lega, akibat tersedak saking kagetnya dengan ucapan Raffa itu.
"Ma–maksud kamu apa?" tanya Mika dengan gelagapan.
"Iya, kita coba menjalin hubungan, saat ini kan kamu singgel, aku juga singgel."
Mika menatap Raffa tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu, apakah pria itu benar-benar sedang menembaknya sekarang.
"Kenapa mendadak?" tanya Mika dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak mendadak, aku sebenarnya mau bicara ini dari kemarin-kemarin, tapi belum memiliki keberanian aja," ucap Raffa memang serius, tapi tidak dari hatinya.
Saat ini, memang dia belum memiliki kesan apa pun pada wanita di depannya itu, tapi bukankah banyak orang yang mengatakan, jika cinta akan hadir karena terbiasa.
Mungkin saja, dengan mereka menjalin hubungan dan sering bersama rasa yang ada di antara mereka akan hadir secara perlahan.
"Meskipun kamu belum memiliki perasaan padaku, tapi aku yakin dengan seiring berjalannya waktu, rasa itu akan hadir secara perlahan," sambung Raffa lagi.
Mika masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu, pria yang dari dulu dia sukai diam-diam, kini telah mengatakan hal yang tidak pernah dia sangka akan dia dengar.
"Gimana? Kalau kamu masih butuh waktu untuk berpikir, tidak apa-apa. Kam5 berpikirlah terlebih dahulu dengan tenang," tutur Raffa panjang lebar karena melihat Mika hanya diam.
"Aku mau," ucap Mika dengan wajah malu-malunya.
"Baiklah, jadi mulai sekarang kita pacaran," ucap Raffa
Mika pun mengangguk sambil sedikit tertunduk, dia tidak tahu harus bicara apalagi, karena saat ini dia merasa hatinya tengah berbunga-bunga.
"Eummm, Raf. Aku mau ke toilet dulu ya," pamit Mika yang tiba-tiba pengen ke kamar mandi, mungkin akibat gugup, hingga kantung kemihnya mendadak terasa penuh..
"Iya pergilah, aku mau lanjut lagi makan," sahut Raffa.
Mika mengangguk, lalu mulai beranjak dari kursi yang didudukinya. Dia berjalan dengan cepat sambil memegang pipinya yang terasa menghangat.
"Maaf, bukan maksud aku mempermainkanmu, aku benar-benar ingin mencoba membuka hatiku," gumam Raffa menatap kepergian Mika.
__ADS_1
Setelah sampai di toilet, Mika masuk ke salah satu bilik toilet menuntaskan keinginannya itu, setelah selesai dia pun kembali keluar.
Nayna bediri di depan wastafel, menatap bayangan dirinya di cermin besar yang ada di depannya.
"Ini benar-benar nyata 'kan? Bukan mimpi kan?" tanya Mika pada dirinya sendiri.
Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi itu, kini dia dan Raffa memiliki hubungan.
Mika masih terus menatap cermin, masih dengan wajah cerianya, hingga dia tidak memedulikan orang di sampingnya yang juga tengah menatap cermin, tapi dengan ekspresi terbalik dengannya.
Setelah wanita di sampingnya itu pergi, dia baru menyadari, jika wanita itu meniggalkan sesuatu di samping wastafel itu.
"Eh ini tas Mbak itu, kenapa bisa ketinggalan," ucap Mika sambil mengambil tas kecil berwarna hitam yang ditinggalkan oleh pemiliknya.
"Mbak!" panggil Mika dengan suara yang agak keras, tapi si pemilik tas itu keburu menghilang di ujung lorong toilet.
Mika terus berusaha memgerjarnya, namun sayang saat dia akan akan keluar dari lorong toilet itu, tangannya ditarik dengan sangat kasar, oleh tangan yang lebih besar darinya.
Saat berbalik dan melihat siapa yang menarik tangannya itu, dia membelalak tak percaya pada orang yang kini tengah menatapnya dengan tajam itu.
Orang yang beberapa saat ini berusaha dia hindari, kini orang itu berada di depannya lagi, melayangkan tatapan yang selalu membuatnya takut.
Mika sedikit memberontak, berusaha melepaskan cekalan tangan pria itu dari tangannya, tapi sekuat apa pun dia memberontak, cekalan pria itu cukup kuat.
"Lepaskan aku," ucap Mika masih berusaha melepaskan dirinya.
"Mau kabur ke mana lagi kamu hah! Ayo ikut aku pulang!" bentak pria paruh baya itu dengan tatapan yang masih tajam, tidak ada kelembutan sama sekali.
"Aku tidak mau, aku tidak mau pulang lagi lepasin aku Pa," tolak Mika.
"Tidak bisa, kamu sudah membuat aku hampir kehilangan kesempatan untuk mengatasi masalah pada usahaku, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, ayo ikut aku!"
Pria yang tidak lain adalah papanya Mika itu menarik paksa Mika dengan kasar, dia tidak peduli bahkan kini beberapa pengunjung di sana sudah melihat ke arah mereka.
"Tidak mau Pa, aku tidak mau pulang lepasin aku."
Mika terus saja berontak hingga tanpa sengaja tas yang semula dia bawa itu terlempt ke lantai, menyebabkan isi dari tas itu berhamburan keluar.
__ADS_1
Melihat isi tas kecil yang sudah tergeletak di lantai, itu membuat mata papanya terpaku pada satu objek yang tidak asing baginya, hingga dengan cepat dia pun melihat benda itu dan kemarahannya pun semakin memuncak saat melihat benda itu dari dekat.
"Apa ini hah!" bentaknya sambil melemparkan benda itu tepat pada wajah Mika yang juga kaget.