
Senyum yang merekah penuh dengan kebahagiaan, tengah terbit di bibir kedua pasangan yang kini tengah berdiri di atas pelaminan.
Disaksikan dengan ribuan pasang mata, hari ini adalah hari diadakannya acara sakral antara Nayna dan Arkan, sesuai dengan keinginan Arkan yang menginginkan untuk melakukan pernikahan kembali dengan Nayna.
Cukup banyak tamu yang Arkan undang dalam acara itu, begitu pun dari pihak ferdi, hingga pernikahan yang diadakan di luar ruangan itu, begitu ramai oleh para pengunjung.
Arkan ingin pernikahannya kali ini disaksikan oleh banyak orang, pernikahan kedua dengan orang yanga sama, tapi dengan situasi yang berbeda.
"Selamat ya Om, Nay." Raffa menghampiri mereka dengan pakaian formalnya.
Arkan tersenyum dan menepuk pundak Raffa yang kini sudah jauh lebih baik dari beberapa bulan yang lalu.
"Iya makasih Raff," sahut Nayna tersenyum sambil mengangguk.
"Gimana sekarang kondisi kamu Sya?" tanya Arkan yang masih sama seperti sebelumnya, salalu memantau perkembangan kesehatan keponakannya itu.
"Aku sudah semakin baik Om, Om tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi, sebaiknya sekarang Om fokus sama dia aja," kekeh Raffa menunjuk Nayna dengan lirikan matanya.
"Kenapa harus aku, aku baik-baik saja," sahut Nayna dengan polos.
"Sekarang masih polos tapi—"
"Udah sana geser, jangan mencemarkan aura negatif pada pasangan yang tengah bahagia ini," potong Ivan yang tiba-tiba saja menggeser posisi Raffa.
Raffa mendelik sebal pada sahabat Arkan itu, karena Ivan mendorongnya dengan cukup kasar, untung saja dia tidak sampai terjungkal.
"Om Ivan, harus banget ya sampai dorong aku kayak gitu!" decak Raffa.
"Jangan panggil aku Om, Nak!" sinis Ivan yang memang tidak suka dipanggil Om sama orang yang tidak terlalu jauh dari umurnya, kecuali jika yang memanggilnya adalah anak kecil, pria itu baru tidak akan mempermasalahkan.
"Om kan sahabatnya Om aku, jadi apa salahnya kalau aku manggilnya Om, iya kan Mbak Fara," ucap Raffa mengalihkan pandangannya pada Fara yang berdiri di belakang Ivan.
"Iya," sahut Fara yang seolah sengaja membuat Ivan tidak senang.
"Jangan ikut-ikutan deh Yang," ketus Ivan, melirik sinis pada istrinya itu.
Arkan hanya memutar matanya malas, dengan perdebatan tidak penting antara Raffa dan Ivan itu, sedangkan Nayna hanya tersenyum, merasa sedikit terhibur dengan tontonan itu.
"Kalian kalau mau ribut jauh-jauh sana, jangan rusak hari bahagiaku ini dengan perdebatan tidak penting kalian itu," ucap Arkan.
"Wah, wah ini nih. Orang tidak tau diri Raff, waktu lagi susah dan galau aja datang padaku hanya untuk cuap-cuap, giliran senang aja malah ngusir," omel Ivan.
"Far, kok kamu betah sih sama orang yang mulutnya lemes gitu, mending tuker gih sama yang lebih berkualitas," ucap Arkan dengan wajah kalemnya.
__ADS_1
"Heh! Sembarangan aja kalau ngomong, emang kamu pikir aku barang bekas apa, maen tuker-tuker aja," protes Ivan, tidak terima.
"Makanya jangan ribut," sahut Arkan.
"Iya, iya. Aku cuma berusaha mencairkan suasana aja, siapa tau terjadi ketegangan di antara kalian bertiga," ucap Ivan dengan asal.
Dia sendiri tahu, jika baik Nayna mau Raffa dan Arkan, mereka tidak terlihat canggung, sama-sama bersikap biasa saja.
Sebenarnya bukan hanya mereka bertiga saja yang tahu tentang hal itu, tapi ketiga orang terdekat Arkan itu pun tahu tentang hal itu.
"Alasan, bilang aja mulut kamunya yang pegel kalau tidak merusuh," timpal Fara yang dari tadi hanya diam mendengar setiap ocehan suaminya itu.
"Bela napa Yang, suami kamu ini," ucap Ivan menatap Fara dengan melas.
"Jijik Van ih," ucap Fara yang malah bergidik melihat ekspresi suaminya itu.
Arkan, Nayna dan Raffa pun, hanya terkekeh melihat Ivan yang diabaikan oleh Fara seperti itu.
"Selamat untuk pernikahan keduanya yan Mas Arkan," ucap Fara pada Arkan.
"Iya makasih ya Far," sahut Arkan tersenyum tipis.
Fara pun menggeser tubuhnya dan berhadapan dengan Nayna, dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Makasih Mbak," sahut Nayna sambil membalas pelukan Fara itu.
Setelah beberapa detik berpelukan, mereka pun saling melepaskan pelukan mereka.
"Selamat ya Ar, akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu, aku harap ini adalah awal dari kebagian dalam hidupmu," ucap Ivan kali ini sudah memasang wajah seriusnya.
"Makasih Van, makasih karena selalu ada untukku dan selalu jadi tempat untukku meminta bantuan dalam hal apa pun," ucap Arkan yang juga sudah dalam mode serius.
Begitulah mereka, sering berdebat karena hal kecil, tapi jika sudah serius maka keduanya adalah partner yang cocok.
"Ya, sama-sama, semoga mulai sekarang hanya ada kebahagiaan saja yang ada dalam hidupmu itu," sahut Ivan dengan tulus.
Arkan mengangguk dan tersenyum, mereka kemudian saling berpelukan ala pria, mereka adalah sahabat yang sudah mengalami berbagai masalah dalam hidup.
Entah dalam masalah keluarga, percintaan dan pekerjaan, tapi setiap kali salah satu dari mereka mendapat masalah, maka yang satunya akan menjadi tempat terbaik untuk membantu.
"Udah cukup Ar pelukannya, aku tidak mau istri aku ngambek karena aku berpelukan terlalu lama denganmu," ucap Ivan saat menjauhkan tubuh mereka.
Arkan mencebikkan bibirnya dan kembali memutar matanya malas, melihat Ivan sudah kembali ke sikap awalnya.
__ADS_1
"Ya udah kita ke sana dulu ya," pamit Fara pada pasangan itu.
"Iya," sahut Nayna, sedangkan Arkan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Melihat Ivan dan Fara pergi, Raffa pun memutuskan untuk pamit pada Nayna dan Arkan.
"Om, Nay. Aku mau ke Rezvan dulu ya," pamit Raffa pada mereka.
"Iya, kalau kamu lelah pergilah istirahat lagi," sahut Arkan.
"Iya Om."
Raffa pun berlalu pergi dari sana, menuju ke arah orang-tua Nayna yang saat ini tengah bersama dengan Rezvan.
"Siang Om, Tante," sapa Raffa pada Winda dan Ferdi.
"Siang Raf, kamu udah sehat Nak?" tanya Winda dengan ramah.
"Alhamdulillah sudah Tante," sahut Raffa yang tak kalah ramah.
"Syukurlah kalau gitu," ucap Winda.
"Iya Tante, Tante maaf, saya boleh gendong Rezvannya sebentar tidak," ucap Raffa yang sudah tidak sabar ingin menggendong anaknya itu.
"Emangnya kamu bisa?" tanya Winda.
"Bisa Tante," sahut Raffa dengan yakin.
"Baiklah, kebetulan Tante juga haus, mau ambil dulu minum, karena Om tidak bisa gantian gendong dia," ucap Winda yang mulai menyerahkan bayi berusia sebulan lebih itu pada Raffa.
Raffa pun menerimanya dengan senang hati, ini pertama kalinya dia bisa menggendong anaknya itu, karena sebelumnya dia hanya bisa melihat anaknya itu dari jauh saja.
Dia tersenyum menatap bayi yang tengah tenang dalam mimpinya itu, Raffa mendudukkan dirinya di sebuh kursi yang tidak terlalu jauh darinya itu.
Diusapnya dengan lembut, pipi bulat yang halus itu dengan jari besarnya, secara perlahan dan hati-hati karena takut usapannya itu melukai Rezvan.
"Kamu sepertinya sangat menyayanginya." Suara dari Ferdi itu, membuat Raffa secara perlahan mengalihkan perhatian pada papa Nayna itu.
Rupanya pria yang hampir setengah abad itu, sedari tadi memperhatikan interaksi Raffa terhadap Rezvan.
"Tentu saja Om, dia adalah anak dari Om saya, dari kecil saya sudah tinggal sama Om saya, jadi saya sudah menganggap dia adik saya sendiri," sahut Raffa tersenyum ramah pada Ferdi.
"Oh pantesan," sahut Ferdi mengangguk paham.
__ADS_1
Raffa tersenyum, dia kemudian kembali menatap anaknya, lalu mengalihkan perhatian pada pasangan yang saat ini, tengah menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.