
Mika mulai membuka matanya, dia menengok ke sampingnya. Pria yang belum genap sebulan menjadi suaminya itu, masih tenang dengan mata terpejamnya.
Seutas senyum terbit di bibir Mika, saat mengingat jika semalam Raffa menjaga dan merawatnya, mulai dari mengompres, menyuapinya makan juga memberinya obat.
Sederhana, tapi sikap sederhana itu mampu membuat rasa kagum pada pria di sampingnya itu kian meningkat.
"Seandainya aku bisa sedikit saja, memiliki ruang di hatimu itu, aku pasti akan begitu bahagia," gumam Mika dengan suara yang sangat pelan.
"Apa rasa kamu padanya begitu besar, hingga kamu tidak bisa lepas darinya meskipun dia sudah memiliki kehidupan lain."
Mika menatap langit-langit kamarnya itu, jujur hingga saat ini dia benar-benar penasaran, bagaimana bisa Raffa dan Nayna berpisah.
Bagaimana juga Nayna berakhir menikah dengan omnya Raff, dia ingat betul belum lama, setelah mereka ujian nasional, dia masih melihat hubungan antara Raffa dan Nayna terlihat baik-baik saja.
Dulu dia memang sering memperhatikan Nayna diam-diam, apalagi jika wanita yang dulu menjadi temannya itu sedang bersama dengan Raffa.
"Ughh"
Mendengar suara lenguhan dari sampingnya itu, Mika kembali memejamkan mata, hingga dia merasakan pergerakan di sampingnya.
"Syukurlah demamnya sudah turun," ucap Raffa sambil melepaskan kain ya semalam dia pakai untuk mengompres Mika, lalu mengukur suhu tubuh Mika dengan tangannya.
Tak lama kemudian, Mika pun mulai membuka matanya, bersikap seolah dia baru saja bangun.
"Kamu terganggu olehku ya, istirahat lagi saja," ucap Raffa, menatapnya dari jarak yang begitu dekat.
Deg … deg
Mika mencebik dalam hatinya, karena hatinya itu terlalu gampangan. Hanya dengan tatapan pria itu dari dekat saja, sudah bisa membuatnya berdebar seperti itu.
"Tidak, aku tidak terganggu," sahut Mika menggeleng. "Makasih karena kamu udah ngerawat aku semalam," sambung Mika.
"Iya sama-sama, syukurlah kalau sekarang kamu sudah mendingan, tadinya aku berencana kalau kamu masih belum mendingan, aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit," ucap Raffa.
"Tidak perlu, aku sudah baik-baik saja, tinggal istirahat bentar juga pasti pasti baikan lagi."
"Baiklah, kalau gitu aku mau siap-siap dulu buat kerja," ucap Raffa, lalu bergerak turun dari ranjang langsung menuju ke kamar mandi.
Mika menatap kepergian Raffa itu dengan pikiran yang cukup kacau.
__ADS_1
"Apa aku terlalu egois, jika aku juga ingin memilikimu sepenuhnya Raf," gumam Mika.
Rasa ingin memiliki Raffa sepenuhnya semakin besar dalam hatinya, tapi apakah rasa itu akan tersampaikan.
Apakah pada akhirnya, dia dan Raffa dapat saling mencintai. Apakah pria yang selalu dia kagumi dalam diam itu, akan bisa terlepas dari masa lalunya itu.
"Apa aku harus mulai mencoba menunjukkan perasaanku agar dia bisa mengerti tentang perasaanku ini."
"Tapi, apakah pada akhirnya dia akan bisa mengizinkan aku untuk menempati tempat itu?"
Mika terus bergumam dengan nada yang sangat kecil, juga menatap kosong ke arah langit-langit.
Dia sampai tidak menyadari, jika Raff sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai celana bahan berwarna hitam dan kemeja berwarna navi polos yang membalut tubuhnya itu.
"Kamu istirahatlah, biar nanti aku minta Bibi yang jagain kamu di sini, kalau ada yang kamu butuhkan bilang saja ke Bibi tidak perlu sungkan," ucap Raffa berdiri di samping ranjang tepat di samping Mika.
"Iya kamu pergilah," sahut Mika.
"Ya udah kalau gitu, aku ke bawah dulu untuk sarapan ya."
"Iya."
Raffa pun mulai keluar dari kamarnya, untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja, sedangkan Mika mulai turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.
Begitu sampai di dalam kamar mandi dengan pasilitas lengkap itu, dia pun mulai melakukan niatnya, menuntaskan panggilan alamnya dan mencuci wajah juga menggosok gigi.
Setelah selesai dengan kegiatannya itu, dia pun berjalan kembali ke arah ranjang, tapi karena mereka di sekitarnya itu terasa berputar, dia pun terduduk begitu saja di depan pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa? kenapa tidak bilang kalau mau ke kamar mandi," cerca Raffa yang ternyata telah kembali ke kamar dan langsung membantunya berdiri.
"Kamu bukannya mau sarapan."
"Aku udah selesai sarapannya dan belum nyiapain barang-barangku, jadi balik lagi ke sini."
"Oh." Mika mengangguk.
Dia kemudian melihat wajah Raffa dari dekat, karena saat ini pria itu tengah membantunya untuk kembali ke ranjang dengan cara merangkul pundaknya.
"Kenapa?" tanya Raffa, dia balik menatapnya karena sadar jika Mika tengah memperhatikannya.
__ADS_1
"Tidak kenapa-napa," sahut Mika menggeleng, lalu mengalihkan perhatian ke arah lain.
Mereka kemudian diam, hingga sampai di ranjang, Raffa segera menuntun Mika untuk duduk dan sengaja menumpukan bantal, agar Mika lebih nyaman.
"Kamu udah mau berangkat?" ucap Mika karena melihat Raffa sudah membereskan barang pribadinya.
"Iya, kamu jangan turun lagi dari ranjang sendiri seperti tadi, sebentar lagi Bibi akan ke sini bawain sarapan, setelah sarapan langsung minum obatnya." Raffa berbicara samabil terus bergerak membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
"Apa kamu dari dulu sudah biasa mengerjakan keperluanmu sendiri," ucap Mika, karena Raffa memang selalu melarangnya jika dia mau membantu Raffa menyiapkan barang-barangnya.
"Iya, Om selalu bilang, jika kita bisa mengerjakannya sendiri, kenapa harus meminta bantuan orang lain," sahut Raffa yang sudah selesai dengan kegiatannya.
"Ya udah, kalau gitu aku berangkat ya, semoga kamu segera sehat," pamit Raffa.
Mika hanya mengangguk sebagai jawaban dengan seutas senyum yang terbit dari bibirnya yang pucat itu.
"Raf," panggil Mika menghentikan langkah Raffa yang akan menuju ke arah pintu.
"Apa?"
"Hati-hati dan semangat kerjanya, semoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Mika tersenyum sambil memberikan semangat dengan mengangkat kepalan tangannya.
Raffa tersenyum mendapatkan kata penyemangat dari Mika itu.
"Iya." Raffa mengngguk dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya, lalu melanjutkan langkanya keluar dari kamarnya.
Bibir Mika masih terus melengkung meskipun Raffa sudah menghilang dari pintu yanga tertutup itu, dia merasa hatinya terasa berbunga, mendapat perhatian dari Raffa seperti itu.
"Jangan salahkan aku, jika saat ini rasa itu semakin tumbuh, kian membesar Raf, karena mendapat perhatian darimu seperti itu, benar-benar telah menyiram bunga-bunga cinta dalam hatiku," gumam Mika.
Sementara itu di luar kamar, Raffa pun masih tersenyum, dia merasa ada yang aneh dalam dirinya, merasa senang meskipun hanya mendengar kata sederhana dari Mika.
"Den kenapa senyum-senyum gitu?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Bibi yang sudah berdiri di ujung tangga itu membuat Raffa tersadar.
"Tidak kenapa-napa Bi," sahut Raffa tersenyum.
"Emmmm, Bibi paham kok, karena Non Mika ya," goda Bibi membuat Raffa tidak bisa mengelak.
"Bibi paham kok Den, Bibi juga pernah muada kok," sambung artnya itu sambil terkekeh dan berlalu memasuki kamarnya itu.
__ADS_1
Setelah artnya itu, memasuki kamarnya dengan nampan yang dibawanya, dia pun melanjutkan langkahnya, sambil menggeleng.
Dia pun tidak mengerti apa yang terjadi padanya, dan entah kenapa hanya kata sesederhana itu, bisa membuat dia merasa senang.