
Mika turun dari mobil, tepat di depan sebuah restoran yang terlihat cukup ramai oleh pengunjung, dia memindai restoran itu dengan seksama.
"Makasih Pak," ucap Mika pada sopir yang Raffa suruh untuk menjemputnya itu.
"Iya sama-sama Non," ucap Sopir dengan ramah.
Mika saat ini memakai dress berwarna putih polos yang panjangnya sebawah lutut, berlengan panjang. Secara perlahan dia mulai melangkah, memasuki restoran itu.
Dia melihat ke seluruh sudut restoran itu, tapi tidak mendapati keberadaan suaminya di mana pun, dia pun mulai bertanya-tanya akan hal itu.
"Apa dia belum nyampe ya?" gumam Mika dengan bingung.
Seorang pelayan wanita mulai mendekatinya yang masih berdiri di depan pintu dengan bingung itu.
"Maaf Mbak Mika, bukan?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Iya Mbak," sahut Mika tak kalah ramahnya.
"Mari ikut saya Mbak, Mas Raffa sudah menunggu di atas," ucap pelayan itu mempersilakan Mika untuk mengikutinya.
Mika pun mengangguk patuh dan mengikuti pelayan itu, mereka berjalan menaiki tangga, Mika kira mereka akan berhenti begitu sampai di lantai dua, tapi ternyata tidak.
Pelayan itu membawanya untuk menaiki tangga lagi, Mika menganggap restoran itu hanya dua lantai, karena terlihat dari luar tadi seperti hanya dua lantai.
Mereka pun sampai di rooftop yang dihiasi oleh lampu berwarna-warni di pagarnya, juga lampu besar yang berada di tiap sudut pagar.
Raffa tengah berdiri di samping meja yang sudah dihias sedemikian rupa, seperti diner pada umumnya, pria itu menyunggingkan senyum padanya, kemudian berjalan mendekat pada Mika dan pelayan yang mengantarnya ke tempat itu.
"Terima kasih Mbak," ucap Raffa pada pelayan itu.
"Sama-sama Mas," ucap pelayan itu menunduk, lalu langsung berbalik pergi dari sana, meninggalkan mereka berdua di sana.
"Aku sengaja nyiapin ini, makannya aku tidak bisa menjemputmu," ucap Raffa mengambil tangan Mika dan menggenggamnya dengan lembut.
Mereka pu mulai berjalan mendekati meja yang sudah dihiasi dengan sedemikian rupa, juga makanan yang sudah terasji di atasnya.
Mika menatapnya dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya, dia tidak menyangka Raffa menyiapkan semua ini untuk makan malam mereka.
"Kamu benar-benar nyiapin ini semua?" tanya Mika meyakinkan.
"Iya," sahut Raffa dengan singkat, dia kemudian menarik kursi untuk Mika duduki.
__ADS_1
Mika pun mendudukkan dirinya dengan mata yang terus bergerak, melihat seluruh dekorasi yang sederhana namun terlihat indah. Dia kemudian mengerutkan kening saat melihat ada lampu led berbentuk love dan tertulis happy anniversary di dalamnya.
Tidak hanya itu saja, Mika juga melihat kue berukuran sedang dengan tulisan sama di atasnya.
Belum sempat dia mengutarakan rasa penasarannya itu, Raffa sudah menyodorkan sebuah buket bunga, hingga membuat dia hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali karena masih belum bisa mencerna apa yang terjadi itu.
"Happy Anniversary," ucap Raffa sambil tersenyum.
"Anniversary," ucap Mika dengan bingung.
"Iya, hari ini adalah tepat satu tahun kita menikah," sahut Raffa mengangguk samar.
Mika mengambil bunga yang Raffa berikan itu, dia kemudian tersenyum pada Raffa, karena sejujurnya dia melupakan hal itu.
"Aku tidak ingat jika hari ini adalah hari aniversary kita," ucap Mika menatap Raffa masih dengan senyum yang mengembang.
"Maka dari itu aku nyiapin ini, biar kamu ingat."
"Makasih karena udah nyiapin ini dan makasih karena kamu ingat dengan hari ini," ucap Mika dengan rasa haru yang hadir di hatinya, melihat Raffa yang ternyata mengingat hari penting mereka.
"Sama-sama, ayo kita tiup lilinnya dulu," ucap Raffa sambil menyalakan lilin yang ada di kue yang telah disiapkannya.
Tidak hanya sampai di sana, setelah lilin di atas kuenya padam, mereka pun memotong kue dengan potongan kecil dan saling menyuapi.
"Kita foto dulu yuk Raf," ajak Mika.
"Iya." Angguk Raffa.
Mika pun mulai mengeluarkan ponselnya dari tas, lalu mengambil foto mereka berdua untuk mengabadikan moment, tidak hanya sekali, tapi sampai beberapa kali.
"Ayo kita mulai makan, ini sudah malam." ucap Raffa.
"Iya," sahut Mika.
Mika memakan makanannya dengan perasaan bahagia yang terasa meledak di hatinya itu.
Tidak pernah terpikir olehnya, jika Raffa akan melakukan hal yang cukup spesial seperti itu untuk mengenang hari pernikahan mereka, meskipun pernikahan yang awalnya hanya keinginan sepihak.
Ditambah dengan hadirnya buah cinta mereka yang kini telah bersemayam dalam perutnya itu, membuat dia merasa jika itu hanyalah sebatas angan yang selalu dia harapkan dulu.
Mika tidak menyangka, jika angan yang dulu hadir dalam benaknya, kini menjadi nyata dapat benar-benar dia rasakan begitu indahnya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin aku mendengar. aku mengatakan cinta padamu?" tanya Raffa membuat Mika menghentikan kegiatannya yang tengah memakan makanannya itu.
Mika mengangkat wajahnya, mantap Raffa dengan dalam lalu tersenyum sambil menggeleng.
"Tidak, semua yang kita rasakan tidak harus diucapkan, bagiku apalah arti sebuah kata jika itu hanya di bibir saja. Dengan kamu melakukan semua ini dan sikapmu padaku selama ini, itu sudah cukup untuk menunjukkan jika sebenarnya kamu sudah mencintaiku."
"Meskipun awalnya aku masih ragu dengan hatimu, tapi katika mengingat perlakuanmu padaku selama setahun ini dan apa yang kamu lakukan hari ini, keyakinan di hatiku menguat."
"Terima kasih untuk waktu dan kesabaranmu menungguku, dulu aku mengira Nayna adalah cinta pertama dan terakhirku, tapi semenjak kenal kamu, aku tau, jika dia hanya akan jadi bagian dari kisahku, kisah yang tanpa sadar menjadi jembatan untuk kisah kita."
"Aku berharap, kamu adalah cinta terakhir dalam hidupku yang akan terus menggenggam tanganku, bagaimanapun keadaanku nantinya."
Mika mengusap pipinya yang tanpa terasa mulai basah karena tangis bahagia itu, dia yang dulu hanya bisa melihat Raffa dari jauh, kini dialah yang berdiri di samping pria yang selalu dia kagumi dalam diam itu.
"Aku tidak tau harus bagaimana mengatakan jika saat ini aku benar-benar bahagia Raf," ucap Mika dengan diiringi air mata.
"Aku harap, aku bisa membuatmu bahagia, meskipun aku tidak bisa menjajikan hal itu, karena pada dasarnya setiap orang pasti tidak akan lepas dari masalah dan kesedihan."
Mika mengangguk sambil terus mengusap air matanya yang tidak ingin berhenti, secara perlahan Raffa bangkit dari kursinya, dia berdiri di samping meja.
Menarik Mika untuk berdiri, kemudian mereka sama-sama berdiri dengan saling berhadapan, Raffa mengusap pipi istrinya yang basah itu.
Mereka pun akhirnya berpelukan, saling mendekap satu sama lain, dengan perasaan bahagia, Raffa memejamkan matanya menikmati malam itu, menikmati kebersamaan dan kebahagiaan yang dia rasakan juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Niatnya setelah tamat ini aku tuh mau istirahat dulu, sambil persiapan buat cerita yang akan aku publish tanggal 1 nanti, tapi ternyata masih ada yang penasaran sama kisah Raffa dan Mika, jadi aku lanjut lagi deh🤭
Oh iya aku mau ngasih bocoran juga nih, untuk cerita aku yang selanjutnya, masih di tema yang sama ya, yaitu tentang hamil di luar nikah, cuma beda cerita.
Judul: Benih Salah Alamat Sang Casanova
Sinopsis
Lareina Adabela, atau wanita yang kerap disapa Larei itu, menjadi wanita salah sasaran dari pria bernama Sakya yang berniat untuk menjebak wanita yang tengah diincarnya.
Namun, siapa sangka, jika akibat dari salah sasaran itu, tumbuh benih yang tidak Larei harapkan, tapi wanita itu memilih untuk mempertahankan kandungannya dan tidak memberitahu tentang kehamilannya itu pada pria yang menjebaknya.
Akankah Sakya bertanggung jawab, ketika tahu jika Larei hamil?
Ditunggu kisah mereka tanggal 1 nanti ya semuanya ❤❤
__ADS_1