
"Nama ayahnya Arkakan Giovan Dok."
Mendengar ucapan Arkan itu membuat Nayna langsung menatapnya dengan tatapan intens, sementara pria itu menatap dokter itu dengan santai.
"Waktu pemeriksaan itu, kami lagi ribut kecil dan istri saya lagi merajuk, jadi dia tidak mau menyebutkan nama saya saat pemeriksaan itu," jelas Arkan lagi menatap dokter dengan serius.
Dia berbicara dengan lugas, tidak terdengar canggung sedikit pun, seolah itu adalah kenyataannya, akhirnya dokter itu pun tersenyum dan mengangguk.
Sementara Nayna menatap tak percaya pada Arkan, bagaimana bisa pria itu beralasan yang terlihat menyakinkan seperti itu, kenapa juga dia harus mengatakan alasan itu.
"Pantes saja di sini hanya tertera nama ibunya saja, wajar kalau ibu hamil merajuk, karena biasanya mood ibu hamil itu tidak bisa ditebak apalagi usia ibunya masih muda," sahut Dokter itu tersenyum pada Arkan dan Nayna.
"Baiklah kalau gitu, kita mulai pemeriksaannya saja ya," sambung Dokter itu, mulai bangun dari kursinya.
Nayna pun ikut berdiri, dia dituntun oleh dokter itu naik ke atas ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Bapak juga bisa lihat perkembangan calon anak kalian," ucap Dokter itu pada Arkan yang masih duduk di kursinya.
"Iya Dok," sahut Arkan yang sudah mulai berdiri.
Sementara Nayna menatap Arkan tak percaya, apakah pria itu akan melihatnya juga saat dia melakukan usg.
Ternyata pria itu benar-benar berjalan ke arah ranjang, dia berdiri dengan santai di samping ranjang tempat Nayna terbaring.
Membuat Nayna merasa kecanggungan yang luar biasa, apalagi saat dokter mulai menyingkap bajunya, hingga memperlihatkan perutnya yang masih terlihat rata, dia memalingkan wajah ke arah monitor karena malu terhadap Arkan.
"Rileks saja ya," ucap Dokter pada Nayna, sambil mengoleskan jel untuk mempermudah alat usg itu bergerak di atas permukaan kulit perutnya.
"Iya Dok," sahut Nayna berusaha bersikap biasa saja.
Sementara Arkan dari tadi sudah memperhatikan layar monitor yang sudah mulai menyala, dia memperhatikan pergerakan di layar itu, hingga dokter menghentikan pergerakan alat itu, tepat di sebuah titik.
__ADS_1
"Ini calon anak kalian. Pada minggu ke sebelas usia kehamilan, ukuran janin sudah sebesar bola golf dengan panjang badan dari kepala sampai kaki, bisa lebih dari tiga sentimeter. Kini, bayi kalian sudah resmi bergelar janin dan bukan lagi embrio. Sebab pada usia ini, ekor berudunya sudah menghilang, serta mata, telinga, hidung, dan semua organ dalam Si Kecil sudah terbentuk secara perlahan."
"Wajah janin saat ini juga sudah mulai terlihat bentuknya, terutama telinganya yang semakin mendekati posisi akhir di kedua sisi. Di bawah gusinya yang mungil, sudah mulai muncul kuncup-kuncup gigi kecil."
Nayna yang mendengar keterangan dari dokter, menatap haru pada layar monitor usg itu, dia dapat melihat calon anaknya yang berkembang dengan baik, meskipun sejujurnya, dia belum begitu siap dengan keadaan itu, tapi dia merasa keputusan untuk mempertahankannya adalah keputusan yang sangat tepat.
Calon anaknya berkembang dengan sangat baik, dialah yang kelak akan menemaninya dikala dunia menjauh darinya, makhluk lemah itulah yang akan menjadi penyemangat dalam hidupnya itu.
Sementara itu Arkan tidak bersuara, dia juga mendengarkan setiap perkataan dokter itu dengan serius. Dan tatapannya terpaku pada layar monitor yang menunjukkan janin yang masih berukuran kecil itu.
Dia menatap takjub mahkluk kecil yang tengah berjuang untuk terus berkembang itu, mahkluk yang dapat menggetarkan hatinya, meskipun mahkluk itu belum dapat dia lihat dengan jelas bagaimana rupanya.
"Apa ada yang mau kalian tanyakan lagi?" tanya Dokter, membuat Nayna dan Arkan yang semula fokus pada layar monitor, beralih menatapnya.
Nayna dan Arkan kompak menggeleng, membuat dokter pun mengakhiri kegiatannya itu dan membersihkan perut Nayna yang masih terdapat jel, setelah itu mereka kembali duduk di meja.
"Apa ada keluhan lainnya selain mengalami morning sickness?"
"Baiklah, kalau begitu. Saya hanya akan meresepkan vitamin saja seperti sebelumnya. Saya sarankan ibu juga mengonsumsi susu khusus untuk ibu hamil, agar membantu dalam perkembangan janinnya," tutur Dokter itu sambil fokus menuliskan resep vitamin untuk Nayna.
"Baiklah Dok," sahut Nayna lagi.
"Ini resep sama foto usg-nya, semoga ibu dan janinnya selalu baik-baik saja, hingga waktu persalinan tiba."
"Terima kasih Dok."
Nayna mengambil foto usg itu dan buku panduan kehamilan itu beserta catatan resep vitamin dari Dokter, setelah itu mereka berpamitan pada dokter dan mulai peegi dari sana.
Nayna berjalan ke arah tempat penebusan obat terlebih dahulu untuk menebus vitamin. Saat Nayna baru saja akan melakukan pembayaran, Arkan terlebih dahulu menyerahkan kartu ATM-nya pada penjaga.
"Om aku bisa bayar sendiri, aku juga punya uang kok," ucap Nayna pada Arkan dengan nada pelan.
__ADS_1
Arkan tidak menggubrisnya, dia langsung pergi begitu saja, saat pembayarannya sudah selesai, Nayna menghembuskan napas dengan sedikit kasar, atas apa yang Arkan lakukan itu.
Menurutnya pria itu, adalah orang yang sulit ditebak, kelakuannya pun tidak dapat diprediksi, Nayna akhirnya mengikuti Arkan pergi dari rumah sakit, dia menaiki motor setelah selesai memakai helm.
Awalnya Nayna pikir, mereka akan langsung pulang, mengingat saat ini hari sudah sore, tapi ternyata perkiraannya itu salah besar.
Arkan malah membelokkan motornya itu dan berhenti tepat di depan mini market yang jaraknya tidak terlalu jauh dari komplek perumahan mereka.
"Om ada yang mau dibeli?" tanya Nayna yang sudah turun dari motor dengan tatapan heran dia layangkan pada Arkan.
"Iya, ayo kita masuk," ucap Arkan setelah melepaskan helmnya.
"Aku tunggu di sini aja ya Om," tolak Nayna.
"Cepat ikut masuk," ucap Arkan, lagi dan lagi dengan sedikit memaksa.
Melihat ekspresi Arkan yang seolah tidak menerima penolakan lagi, Nayna pun hanya bisa kembali pasrah, dia melepaskan helmnya dan melangkah bersama dengan Arkan.
Arkan mengambil keranjang untuk belanjaannya terlebih dahulu, setelah itu dia baru melanjutkan perjalanan mencari barang yang dia perlukan.
Sementara Nayna hanya mengikutinya dari belakang, dengan langkah pelan, sambil melihat-lihat di sekitarnya.
"Kalau kamu mau sesuatu ambil saja," ucap Arkan tanpa menoleh pada Nayna. "Biar aku yang bayarin sekalian, jangan sungkan," sambungnya lagi, seolah tahu apa yang di dalam pikiran Nayna.
"I-iya Om," sahut Nayna dengan suara pelan.
Saat ini mereka sedang berada di jajaran rak tempat snack, Nayna melihat snack yang menjadi kesukaannya, dia melirik ke arah Arkan yang tengah memilih beberapa macam cemilan.
"Ambil saja," ucap Arkan lagi, membuat Nayna terkesiap dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Bagaimana bisa pria itu selalu tahu apa yang tengah dipikirkan olehnya.
Arkan sedikit melengkungkan bibirnya melihat tingkah Nayna yang seperti, seekor anak kucing yang baru saja ketahuan mencuri ikan dari majikannya.
__ADS_1