Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 51


__ADS_3

Raffa yang saat ini akan melangkah mengikuti Nayna untuk menuju ke meja kosong yang ada di sana, tapi saat baru saja kakinya terayun, matanya tak sengaja melihat siluet yang sangat dikenalnya, seorang pria yang kini tangah duduk di salah satu meja dengan posisi membelakanginya.


"Kamu yakin itu Om kamu?" tanya Nayna kurang yakin.


"Iya, ayo kita lihat dulu ke sana." Raffa langsung menarik tangan Nayna menuju ke tempat orang itu.


Mau tak mau bumil itu pun mengikuti ke mana Raffa akan membawanya.


"Om," panggil Raffa, membuat pria yang tengah menyantap makanan itu menghentikan kegiatannya dan berbalik.


Deg … deg …


Demi apa pun, jantung Nayna terasa akan terlepas dari tempatnya, melihat siapa pria yang baru saja Raffa panggil dengan sebutan Om itu, dia terpaku di tempat kakinya berpijak itu dengan tatapan lurus pada pria yang kini tengah menatapnya dan Raffa dengan tatapan kaget.


"Fasya, kamu baru datang atau udah dari tadi di sini," ucap Arkan dengan wajah yang sudah kembali tenang dan sudah mulai berdiri.


"Baru aja nyampe, Om di sini makan sama siapa?" tanya Raffa karena melihat di meja itu tidak hanya satu porsi makanan.


"Om ke sini—"


"Kak Listi," panggil Raffa memotong ucapan Arkan.


Dia tersenyum pada arah belakang Arkan, seorang wanita yang tidak lain adalah Lisi, tengah berjalan ke arah mereka.


"Hai Sya," sahut Listi yang baru saja mendekati meja tempatnya dan Arkan makan, dengan Liani yang digandengnya.


Listi tersenyum pada Raffa meskipun sebelumnya, dia pun terlihat kaget dengan kehadiran Raffa, apalagi saat melihat tangan pria itu yang masih menggenggam pergelangan tangan Nayna.


"Oh iya, kenalkan Om, ini Nayna, orang yang sering aku ceritakan pada Om," ucap Raffa tersenyum pada Nayna.


"Dia Om, aku. Kamu ingatkan, dulu aku sering ceritain dia ke kamu."


Nayna hanya mengangguk dengan mata yang masih belum teralihkan dari Arkan, sementara pria yang ditatapnya hanya tersenyum dan mengangguk, seolah mereka adalah orang asing.


"Oh iya Kak Listi juga kenalkan, ini Nayna mantan pacar aku," ucap Raffa beralih pada Listi dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya itu.

__ADS_1


"Oh, iya. Salam kenal," sahut Listi dengan sesekali melirik pada Arkan.


"Tante dedek bayi," panggil Liani pada Nayna, anak kecil itu sepertinya masih ingat pada Nayna


Semua orang beralih menatap Liani yang kini tengah menatap polos pada Nayna, Raffa merasa sedikit heran dengan sapaan itu.


"Mungkin karena Nayna lagi hamil, jadi dia manggilnya seperti itu," ucap Listi pada Raffa, karena menyadari raut heran dari laki-laki yang cukup akrab dengannya.


"Oh iya." Raffa tersenyum dan mengacak rambut gadis kecil itu dengan gemas.


"Kamu bukannya mau makan Sya, kenapa tidak langsung cari meja saja," ucap Arkan yang sengaja mengusir Raffa secara halus.


"Kita gabung di meja kalian aja boleh ya," ucap Raffa pada Arkan.


"Raf, kita cari meja lain aja yuk," ajak Nayna yang merasa tidak nyaman.


"Kenapa, udah tidak perlu merasa canggung, santai aja," sahut Raffa yang tidak mengerti kecanggungan yang terjadi di antara ketiga orang itu.


"Bolehkan Om," ucap Raffa lagi beralih menatap Arkan.


Akhirnya mau tak mau Arkan pun mengangguk, membiarkan Raffa dan Nayna untuk bergabung di meja tempatnya itu.


Sementara bumil itu hanya diam, dia masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi itu, pikirannya kacau menerima kenyataan, ternyata Arkan adalah Om dari laki-laki yang tidak lain adalah ayah dari anaknya itu.


Semua ini terlalu kebetulan menurutnya dan sulit untuk ditelan mentah-mentah, semakin dipikirkan, rasanya semakin membuat kepalanya terasa semakin pusing, seolah akan pecah.


Akhirnya dia pun mencoba mengangkat wajahnya dan tepat saat matanya tertuju pada Arkan, suaminya itu pun ternyata tengah menatapnya. Dia benar-benar ingin tahu apa yang tengah pria itu rasakan atau pikirkan setelah tahu semua ini.


Namun, suaminya itu terlihat memasang wajah santainya, apa memang pria itu tidak shock dengan semua ini seperti dirinya, atau dia hanya terlampau pintar menyembunyikan ekspresi wajahnya, itulah yang menjadi pertanyaan di benak bumil itu.


"Ini pesanannya Mas," ucap pelayan menyimpan makanan yang menjadi pesanan Raffa dan Nayna itu tepat ke depan mereka.


"Ayo kita makan, kamu pasti capek, sudah keliling mall," ucap Raffa.


"Mau ngapain kalian keliling mall?" tanya Arkan menatap Raffa dengan serius.

__ADS_1


"Hanya jalan-jalan dan membeli beberapa barang saja Om," sahut Raffa tersenyum pada Arkan. "Om tenang saja, aku tidak merasa capek kok, buktinya ini baik-baik saja," sambung Raffa yang dapat melihat reaksi khawatir dari Omnya, meskipun tidak begitu kentara.


"Baguslah kalau kamu memang baik-baik saja," sahut Arkan pasrah.


"Liani, mau di pangku Om Al, Ma," ucap Liani yang kemudian turun dari pangkuan mamanya.


"Tapi Om Ar-nya bakal pegel," sahut Listi membuat Liani cemberut, gadis kecil itu kemudian beralih menatap Arkan dengan tampang memelas.


"Ya udah sini, Om Ar pangku," ucap Arkan yang langsung mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkan di pangkuannya.


"Wah, kalian udah terlihat kayak keluarga aja, jadi kapan aku dapat kabar baik dari kalian?"


'Ukhuk … ukhuk'


Nayna secara refleks, tersedak saat mendengar ucapan Raffa itu, entah kenapa dia merasa tidak senang mendengar jika Arkan dan Listi, terlihat seperti pasangan, meskipun yang terlihat memang seperti itu.


"Kamu kalau makan hati-hati Nay," ucap Raffa yang langsung menyodorkan minum pada Nayna.


Laki-laki itu kemudian, mengambil tisu yang berada di atas meja itu, secara telaten tangannya mengusap pipi dan mata Nayna yang basah oleh air mata.


"Ternyata kebiasaan kamu itu belum hilang, selalu nangis saat tersedak," ucap Raffa terkekeh sambil membersihkan pipi Nayna.


"Ini bukan nangis," sanggah Nayna yang tidak terima dibilang menangis. Dia kemudian menyimpan gelas yang isinya tinggal setengah ke meja.


"Iya, iya. Ini emang bukan tangisan hanya air kata yang turun aja," sahut Raffa masih dengan sedikit kekehan.


Interaksi antara dua sejoli itu, tidak luput dari pehatian orang yang ada di meja yang sama, Arkan dan Listi menatap pasangan itu dengan tatapan beragam, sambil sesekali saling melirik.


Arkan pun kemudian berdehem, membuat perhatian pasangan itu beralih padanya.


"Teruskan makanya, ini sudah malam. Tidak baik untuk wanita hamil terlalu lama di luar saat malam seperti ini," ucap Arkan, sambil melanjutkan makannya yang sempat terhenti.


Raffa mengangguk setelah mendengar ucapan dari Omnya itu, dia kemudian melanjutkan kembali makannya dengan lahap, sementara Nayna menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya tanpa semangat.


Apalagi saat matanya sesekali, melihat Arkan yang makan sambil sesekali menyuapi Liani, begitu pun sebaliknya dengan Listi, melihat hal itu, dia seolah melihat sebuah keluarga yang tengah makan bersama.

__ADS_1


Keluarga harmonis, saling menyayangi dan mengasihi, saling memperhatikan satu sama lainnya, rasanya semakin lama makanan di depannya yang seharusnya terasa lezat itu, semakin terasa hambar, hingga nafsunya semakin menguap.


"Kenapa Nay, makanan tidak enak, mau aku pesankan lagi," ucap Raffa yang dapat melihat, bumil itu menyantap makanan tanpa minat.


__ADS_2