
Saat Arkan dan Nayna baru saja selesai makan malam, suara nada panggilan yang berasal dari ponsel Arkan membuat perhatian pria yang tengah meminum air itu pun teralihkan pada ponselnya itu.
"Apa! Baiklah, aku akan segera ke sana, Bibi tolong jaga dia dulu di sana, aku tidak akan lama kok," ucap Arkan yang langsung bserdiri dengan panik.
"Ada apa Om?" tanya Nayna menatapnya dengan heran.
"Aku harus ke rumah sakit, barusan Art di rumah keponakanku mengatakan, kalau dia tiba-tiba saja pingsan," sahut Arkan menatap Nayna masih dengan wajah paniknya.
"Baiklah, Om hati-hati bawa motornya," ucap Nayna yang juga ikut berdiri dan mengikuti pria itu yang sudah mulai meninggalkan dapur.
Nayna hanya berdiri di ruang tengah saat melihat Arkan langsung masuk ke kamarnya dengan panik. Dia memperhatikan setiap gerakan dari suaminya itu, saat pria itu sudah mulai keluar dari kamar.
"Apa aku ikut juga melihat keponakan Om itu?" tanya Nayna membuat Arkan menghentikan sejenak langkahnya dan menatapnya beberapa saat.
"Ini sudah malam, tidak baik untukmu keluar malam-malam seperti ini, kamu sebaiknya segeralah istirahat, jangan tidur terlalu malam," sahut Arkan pada akhirnya, sambil memakai helm dan mengeluarkan motornya yang sudah dia masukan ke dalam rumah sebelumnya.
"Baiklah kalau gitu, Om juga hati-hatilah, jangan terlalu khawatir, aku yakin pasti keponakan Om itu akan baik-baik saja, jadi berkendaralah dengan hati-hati."
"Iya semoga saja, ya udah aku pergi dulu, segeralah kunci pintunya."
Nayna pun menganggukkan kepala mendengar ucapan Arkan itu, setelah motor suaminya tidak terlihat lagi, dia pun penutup pintu rumahnya dan kembali menguncinya.
"Semoga saja keponakan Om Arkan baik-baik saja," gumam Nayna penuh harap.
...******...
Sementara itu Arkan yang sudah sampai di rumah sakit, segera menuju ke ruangan tempat Raffa mendapatkan penanganan, saat dia sampai di depan ruangan itu, dia melihat Art yang mengurus Raffa tengah menunggu di depan ruangannya.
"Bi, bagaimana dia sekarang?" tanya Arkan membuat Art-nya itu beralih menatapnya.
"Den Raffa sudah ditangani oleh dokter, kata dokter sebentar lagi dia juga sudah akan sadar," terang Art-nya itu, dengan membungkuk hormat.
"Baiklah, terima kasih Bi, sudah segera membawanya ke sini dan menjaganya, kalau begitu sebaiknya Bibi pulang saja ini sudah larut, biar aku saja yang menjaganya di sini sekarang."
"Baiklah kalau gitu, Bibi pulang dulu ya Den, besok pagi-pagi Bibi akan ke sini lagi," sahut Art-nya.
"Iya Bi." Arkan mengangguk setuju dengan ucapan Art-nya itu.
"Eh iya Den, tadi dokter meminta Den Arkan untuk menemuinya," ucap Art-nya yang akan mulai pergi dari sana.
__ADS_1
"Iya Bi, nanti aku akan menemuinya."
Setelah wanita yang kini sudah berusia lebih tua darinya itu pergi, secara perlahan dia mulai bergerak memasuki ruang rawat Raffa itu.
Dia membuka pintu dan ternyata, keponakannya itu sudah sadar dan terlihat menatap langit-langit dengan tatapan kosong, Arkan yakin jika saat ini keponakannya itu tengah melamunkan sesuatu.
"Kenapa kamu bisa pingsan seperti ini?"
Raffa yang tengah melamun itu pun, mulai tersadar dan kemudian menatapnya dengan sayu, dia berusaha tersenyum pada Arkan dengan wajah pucatnya itu.
"Om ngapain ke sini malam-malam seperti ini? Pasti Bibi yang hubungi Om ya," ucap Raffa yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Apa karena pertemuan kamu dengan pacar kamu itu, hingga membuat kesehatanmu menurun lagi?" cerca Arkan lagi dengan tatapan seriusnya.
"Aku kira, aku akan menjalaninya dengan mudah, tapi ternyata tidak Om, setiap saat aku selalu memikirkan tentangnya dan itu cukup menyiksa, memikirkan orang yang kita sayang, tidak akan bisa kita gapai lagi."
Raffa tersenyum kecut dan menerawang, memikirkan tentang Nayna, dia sungguh-sungguh berusaha untuk tidak muncul di hadapan wanita itu lagi, tapi ternyata semua tidaklah semudah yang dikatakan.
"Setiap waktu, angan-angan tentang dirinya tidak mampu menghilang dari pikiranku Om," gumamnya lagi dengan nada yang sangat pelan.
Arkan menatapnya dengan lamat, kemudian dia menghela napas cukup dalam dan mulai mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa yang berada tidak jauh dari ranjang tempat Raffa.
"Aku tidak ingin dia merasa semakin tertekan, jika dia melihatku lagi," sahut Raffa sambil menggelengkan kepala lemah.
"Kalau kamu tidak mencobanya lagi, siapa yang tau bagaimana hasilnya."
"Aku tidak bisa melihatnya semakin tertekan dengan kehadiranku," ucap Raffa.
Arkan akhirnya tidak menyahutinya lagi, dia hanya dian memikirkan tentang Raffa yang ternyata memiliki perasaan yang cukup dalam terhadap pacarnya itu.
Pria dewasa itu diam, dia larut dengan lamunannya yang hanya dialah sendiri yang tahu, apa yang saat ini tengah hadir dalam lamunannya itu.
"Kamu jagalah kesehatanmu, jangan terlalu banyak berpikiran," ucap Arkan setelah beberapa saat terdiam.
Raffa yang semula tengah melamun pun, kembali beralih menatapnya dan kembali tersenyum pada pria yang berbeda sepuluh tahun darinya itu.
"Iya maaf Om, aku janji akan lebih memperhatikan hal itu mulai sekarang," ucap Raffa masih dengan tersenyum.
"Om tidak butuh janji kamu itu, om hanya butuh kamu melakukan apa yang om ucapkan tadi," ucap Arkan dengan nada yang sedikit tegas.
__ADS_1
"Baiklah Om," sahut Raffa mengangguk dengan yakin.
"Om," panggil Raffa pada Arkan.
"Apa?" Arkan menatapnya dengan kening mengerut karena melihat Raffa yang seolah penasaran akan suatu hal.
"Apakah yang tadi siang aku dengar itu benar?" tanya Raffa dengan wajah yang kini telah berubah menjadi terlihat antusias.
"Apa yang telah kamu dengar?" tanya Arkan dengan heran.
"Kalau Kak Listi mau pisah sama suaminya?" tanya Raffa terlihat lebih semangat.
"Dari mana kamu mendengar hal itu?" tanya Arkan dengan heran pula.
"Aku tidak sengaja denger obrolan Om Ivan sama Mbak Fara, saat main ke kantor tadi," sahut Raffa.
"Iya," sahut Arkan seadanya.
"Bukankah ini kesempatan yang bagus buat Om!"
"Maksud kamu?"
"Ya, jika memang Kak Listi sudah pisah sama suaminya, itu artinya Om bisa kembali mendekatinya dan melanjutkan hubungan kalian yang sempat tertunda itu," ucap Raffa terlihat senang dengan kabar, jika Listi akan berpisah dengan suaminya.
"Aku tidak memikirkan hal itu," sahut Arkan seadanya.
"Kenapa? Bukankah Om masih memiliki perasaan terhadap Kak Listi, kenapa di saat ada kesempatan seperti ini, malah tidak Om gunakan sebaik mungkin," ucap Raffa.
Arkan tidak menyahutinya, memang apa yang diucapkan Raffa itu ada benarnya, bukankah ini memang kesempatan untuknya kembali menjalin hubungan dengan Listi, wanita yang masih mengisi hatinya.
Namun entahlah, saat ini ada keraguan dalam hatinya untuk hal itu, hatinya seolah ragu untuk dia mencoba kembali menjalin hubungan dengan Listi yang sebentar lagi akan resmi bercerai dengan suaminya.
"Daripada mengurusi kehidupan orang lain, sebaiknya kamu istirahatlah," ucap Arkan dengan sedikit tegas, sengaja mengakhiri pembahasan tentang Listi itu.
"Aku hanya memberikan pendapat lho Om," ucap Raffa, memutar matanya dan sedikit mencebikkan bibirnya.
"Kamu segeralah istirahatlah, Om akan menemui dokter dulu." Arkan pun mulai bangun dari sofa dan menatap Raffa dengan tegas, tidak menerima penolakan.
"Baiklah," sahut Raffa mengangguk pasrah.
__ADS_1
Arkan mulai pergi, meninggalkan ruangan itu, sementara Raffa berusaha kembali memejamkan matanya meskipun sulit karena setiap matanya terpejam, maka hanya ada bayangan Nayna di sana.