
Nayna masih tidak bisa memejamkan matanya, meskipun kini sudah sangat larut, padahal dokter sudah mengatakan, jika dia harus lebih banyak istirahat agar anak dalam kandungannya baik-baik saja.
Dia termenung di depan televisi yang menyala, seolah televisinya yang menonton dirinya bukan dirinya yang menonton layak datar itu. Helaan napas beberapa kali dia lakukan, setiap kali mengingat apa yang tadi siang terjadi.
Bayangan raut khawatir yang alami dari wajah Arkan, terus menari-nari di kepalanya, seolah kaset rusak yang terus berputar tanpa henti, meskipun dia sudah berusaha melupakannya.
Saat sedang sibuk dengan lamunannya, suara deru mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya, membuat dia tersadar dan mulai menatap pintu yang tak lama kemudian terbuka, menampilkan sosok yang dari tadi memenuhi pikirannya.
"Kenapa kamu belum tidur? Aku kira kamu pulang ke rumah orang-tuamu," ucap Arkan sambil menutup pintu.
"Aku belum ngantuk Om," sahut Nayna tersenyum samar.
"Ini sudah sangat larut, pergilah istirahat."
Nayna tidak langsung menyahutinya, dia hanya menatap lamat suaminya yang kini tengah berdiri di depannya itu.
"Om tadi sibuk banget ya, sampai tidak bisa jemput aku di rumah sakit?"
"Iya, tadi aku ada meeting di luar kantor, jadi harus bolak-balik ke kantor dan ke tempat meeting."
"Apa Om, hanya sibuk bekerja seharian ini." Nayna sengaja memancing pria itu untuk mengetahui apakah pria itu akan jujur padanya atau tidak.
"Iya, kenapa gitu?"
Nayna menggeleng dengan jawaban dari Arkan itu, dia kembali memasang senyumnya, meskipun sebenarnya dia sangat ingin menangis, karena ternyata pria dewasa yang selalu dia kagumi itu, tidak berkata jujur, sesuai dengan harapannya.
"Tidak kenapa-napa Om, aku hanya penasaran saja, tentang yang Om lakukan seharian ini." Nayna pun mulai berdiri dan berhadapan dengan pria itu.
"Oh, kirain ada apa, kamu tadi pulang jam berapa dari rumah sakit?"
Aku pulang tepat saat Om mengantarkan anak Mbak Listi ke rumah sakit. Ucapan yang hanya dapat Nayna ucapkan dalam hatinya.
Ternyata pria yang kini hanya berjarak dua langkah darinya itu benar-benar tidak menyadari keberadaannya tadi siang, dia menatap Arkan dengan tatapan sendu, tapi bibirnya terpaksa tersenyum.
__ADS_1
Pura-pura bahagia di saat hati terluka memang tidaklah mudah, tapi tidak sedikit orang yang pandai dalam menyembunyikan kesedihan yang dirasakannya, hanya dengan tersenyum dan terlihat bahagia.
"Apa kamu tidak memiliki keluhan apa pun lagi?"
Ada, hatiku sesak dan tidak tenang. Memikirkan sebenarnya Om punya hubungan apa sama Mbak Listi. Nayna menggeleng dengan senyuman yang masih terpatri di bibir ranumnya itu, meskipun batinnya terus mengeluhkan unek-unek yang dirasa.
"Tidak Om, semuanya baik-baik saja."
"Syukurlah kalau gitu." Arkan pun mengangguk.
"Om mau makan atau mau apa dulu? Atau mau langsung istirahat?"
"Aku mau langsung istirahat saja, aku benar-benar lelah."
Nayna pun menganggukkan kepalanya, dia masih mempertahankan senyumannya itu, bersikap seolah dia tidak melihat apa pun tadi siang, bersikap seolah dia baik-baik saja saat ini.
"Baiklah kalau gitu, mau aku masakin air buat mandi?" tawar Nayna lagi.
Baru saja Nayna akan menyahutinya, ponsel Arkan yang berada di saku bagian dalam jasnya berbunyi, bumil itu akhirnya hanya memperhatikan apa yang pria itu lakukan dengan benda pipih itu.
"Kenapa Lis, kenapa kamu nelepon, kamu belum istirahat?"
"…."
"Besok aja, sekarang kamu pergilah istirahat."
"…."
"Baiklah, besok aku ambil dulu ke sana, sekarang gimana keadaan Liani?"
"Ya udah kalau gitu, aku pergi istirahat dulu, selamat istirahat ya Om," ucap Nayna yang sengaja mengalihkan perhatian Arkan.
Arkan pun beralih menatapnya dan mengangguk singkat.
__ADS_1
"Iya, selamat istirahat juga," sahut Arkan dengan singkat, setelah itu kembali sibuk berbicara dengan Listi yang masih belum mematikan teleponnya itu.
Nayna segera berbalik dan saat itu juga air mata yang berusaha dia tahan dari tadi luruh begitu saja di pipinya. Sungguh dia tidak mengerti, kenapa sesakit itu dibohongi oleh Arkan, rasa sakit itu terasa lebih parah dibanding saat dia tahu, Raffa menghilang begitu saja.
"Kenapa rasanya sakit benget, Om Arkan bohong seperti itu!" lirihnya sambil meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri.
Dia bertanya pada hatinya sendiri, mungkinkah saat ini memang sudah hadir rasa yang seharusnya dia hindari, jika memang itu benar, kenapa rasa itu harus hadir, bukankah dia sudah berusaha tidak memberikan celah.
Terlalu larut dalam kesedihan, tanpa sadar telah mengambil sedikit demi sedikit kesadarannya, hingga akhirnya dia pun mulai mengarungi alam mimpinya, melupakan sejenak kegundahan yang berkecamuk dalam hatinya.
Perasaan yang dinamakan cinta, adalah sebuah rasa yang sulit untuk ditebak, dia bisa singgah dan tinggal di mana saja tanpa kita sadari, begitu pun yang terjadi pada Nayna, ternyata sekuat apa pun dia membentengi hatinya agar rasa itu tidak tumbuh.
Namun, rasa itu ternyata kini sudah mulai tumbuh, salahkan keadaan yang menjadi penyebab hadirnya rasa itu, di saat dia sedang dalam posisi terpuruk, rapuh, dan lemah. Arkan memberikan dia perhatian, menunjukkan kasih sayang, dan tanggung jawab, hingga secara perlahan, rasa kagum pada setiap yang ada dalam diri pria itu, tanpa disadari berubah jadi cinta.
...*****...
'Kenapa kamu diam Ar, kamu udah mau istirahat ya,' ucap Listi dari seberang teleponnya.
"Tidak apa-apa, Lis. Kamu segeralah istirahat, seharian sudah ngurusin Liani," sahut Arkan sambil mendudukkan dirinya di sofa dan menerawang.
'Iya, aku sebentar lagi akan istirahat, makasih ya tadi siang kamu udah nemenin aku buat nganterin Liani, maaf juga karena tadi aku tidak ikut kamu untuk meeting.'
"Iya, tidak masalah, sekarang kamu fokus dulu saja pada Liani, nanti kamu bisa langsung kembali kerja kalau dia sudah sembuh, jangan terlalu mempercayakannya hanya kepada pengasuh saja."
'Iya aku akan nunggu sampai dia sembuh dulu, tapi kata dokter besok kalau demamnya turun, sudah bisa pulang.'
"Ya, syukurlah kalau gitu, kamu segeralah istirahat."
'Iya, kamu juga istirahatlah.'
Arkan segera mematikan teleponnya, dia kemudian melangkah menuju ke kamarnya, tapi saat berada di depan pintu kamar Nayna. Pria dewasa itu pun menghentikan langkahnya, menatap pintu yang kini telah tertutup rapat itu dengan lamat.
Beberapa saat kemudian, terdengar helaan napas panjang dari mulutnya, setelah itu dia pun kembali melangkah, memasuki kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah karena harus bolak-balik pertemuan, juga mengantarkan anak Listi ke rumah sakit.
__ADS_1