Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 56


__ADS_3

"Om janji tidak akan pernah balikan sama Mbak Listi lagi kan?" tanya Nayna sekali lagi untuk memastikan.


"Iya, aku janji. Dan kalau suatu saat nanti aku mulai mengingkari janjiku ini, dengan mencoba membiarkan orang lain masuk ke hubungan kita, kamu bisa menegurku tanpa segan, karena aku ingin kamu bukan hanya menerima perasaanku ini, tapi kamu mampu menjadi orang yang bisa menyadarkan aku saat aku melakukan kesalahan," ucap Arkan sungguh-sungguh.


"Baiklah, Om juga harus melakukan hal yang sama padaku nanti," sahut Nayna.


"Tentu, karena itu adalah bagian dari tanggung jawabku, selain menjaga dan menyayangimu, tanggung jawabku yang lainnya adalah membimbingmu saat kamu sedang keliru."


Akhirnya Nayna pun tidak dapat menahan dirinya, dia segera melingkarkan tangganya di leher Arkan dan memeluknya dengan erat, rasanya tidak ada kata yang mampu mendefinisikan, rasa senang yang kini dirasakannya.


Hatinya terasa dipenuhi oleh bunga yang tengah bermekaran, serta dikelilingi kupu-kupu yang seolah ikut merayakan kebahagiaannya itu, meskipun ini hanyalah mimpinya di siang bolong, demi apa pun, dia tidak ingin bangun sekarang.


"Kalau ini hanya mimpi, jangan bangunkan aku ya Om," bisik Nayna sambil memejamkan matanya, menikmati aroma khas dari tubuh Arkan yang bercampur dengan aroma parfum maskulin miliknya.


Mendengar hal itu, Arkan menuntunnya untuk berdiri, dia sedikit memberikan jarak antara dirinya dan Nayna, kemudian mendaratkan sebuah kecupan yang cukup lama di kening Nanya.


Bumil itu pun memejamkan matanya, menikmati usapan lembut dari bibir Arkan di kulit keningnya, terasa hangat, bahkan kehangatan itu sampai ke dasar terdalam di hatinya.


"Apa kamu bisa merasakannya?" tanya Arkan setelah menghentikan kecupannya itu.


Dia menatap manik indah yang jernih milik istrinya itu dengan dalam, berharap rasa yang saat ini dirasakannya dapat Nayna rasakan juga.


"Ini benar-benar bukan mimpi, kamu saat ini tidak sedang tidur, kamu sedang berdiri di depanku. Apakah kamu mau bukti lain, kalau saat ini kamu benar-benar tidak sedang tidur dan bermimpi?"


Nayna menatap Arkan dengan kerutan di keningnya, karena tidak mengerti dengan apa yang suaminya ucapkan itu.


"Bukti apa?" tanya Nayna dengan polos.


Arkan tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum aneh menurut Nayna, karena baru kali ini dia melihat senyuman yang seperti itu dari Arkan.


Arkan secara perlahan bergerak, mendekatkan wajahnya pada Nayna, membuat bumil itu mengerjapkan matanya beberapa kali, penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.


Saat jarak wajahnya dan Arkan hanya tersisa beberapa senti saja, jantungnya terasa semakin berdebar dan akhirnya.


Sebuah suara dari saku jasnya, membuat gerakan Arkan itu refleks terhenti, dia sedikit mendengkus dan kemudian menjauhkan wajahnya dari Nayna, lalu merogoh saku jasnya, melihat siapa pengganggu yang mengganggu kegiatannya.


"Loudspeaker Om," pinta Nayna saat melihat nama yang menelpon Arkan itu.

__ADS_1


Arkan pun mengikuti permintaan Nayna itu, dia mengangkat teleponnya dan mengaktifkan pengeras suara agar Nayna bisa mendengar ucapan dari Listi.


[Ar, kamu udah di mana, kenapa belum nyampe juga?]


Arkan menepuk keningnya, saat sadar jika dia sudah sangat terlambat, dia melupakan apa yang harus dilakukannya saat ini.


"Maaf aku masih di rumah, apa kliennya sudah mendarat?" tanya Arkan.


[Kenapa kamu masih di rumah? Kliennya baru saja mendarat, Ivan membawanya langsung untuk ke kantor, kamu cepatlah datang, telinga aku udah mau pecah rasanya dengar omelan Ivan dari tadi.]


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Arkan langsung mematikan sambungan teleponnya itu, dia menatap Nayna bermaksud untuk meminta ijin agar dia bisa pergi.


"Pergilah Om, maaf aku udah nahan Om tadi," ucap Nayna yang seolah mengerti dengan apa yang akan Arkan ucapkan padanya.


"Tidak apa-apa, aku akan usahakan untuk pulang secepatnya," sahut Arkan sambil kembali merapikan penampilannya.


"Iya, aku tungguin."


"Kalau gitu aku langsung berangkat ya," ucap Arkan lalu kembali mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.


"Om hati-hati ya, kalau udah sampai kantor, langsung kabari aku," ucap Nayna menatap Arkan dengan senyuman manisnya.


Arkan menganggukkan kepalanya, setelah itu berjalan keluar dari rumah itu, meninggalkan Nayna yang masih mempertahankan senyumannya karena masih belum sepenuhnya percaya jika yang terjadi itu benar-benar nyata.


...*****...


"Tumben-tumbenan muka kamu cerah Ar," ucap Ivan saat mereka memasuki ruangan Arkan.


Saat ini mereka baru saja selesai meeting dengan klien mereka, sebenarnya Ivan sudah melihat ada yang aneh dengan Arkan itu, dari semenjak dia datang, senyuman tidak luntur dari bibirnya.


Padahal belakangan ini, pria yang sudah berteman dengannya selama belasan tahun itu, selalu terlihat muram, seolah ada beban yang benar-benar berat tengah dia rasakan.


"Cerah gimana, padahal muka aku biasa aja," sahut Arkan dengan santai.


Bukannya tidak mau berbagi, tapi saat ini dia hanya ingin menikmati kebahagiaan yang kini tengah dirasakannya hanya untuknya sendiri.

__ADS_1


"Kalau lagi seneng aja lupa sama teman, kalau lagi sedih aja, jadi tempat mencurahkan keluh kesah, sopan sekali anda," sindir Ivan yang tahu, jika ada yang Arkan tutupi darinya.


"Nanti aku kasih tau, tapi sekarang biarkan aku menikmatinya sendiri," ucap Arkan santai, dia menyadar di kursi kerjanya dan kemudian memutar-mutar kursinya itu.


Jangan lupakan senyuman yang masih setia bertahan di bibirnya, melihat hal itu dari Arkan membuat Ivan merinding, baru kali ini selama mereka berteman, dia melihat teman sekaligus atasannya itu bertingkah seperti itu.


"Ar, mending cepat nyebut deh, ngeri aku liatnya," celetuk Ivan bergidik, sambil mengusap tengkuknya, seolah melihat hantu.


"Kamu nagapain sih, masih di sini ganggu aja," sahut Arkan memutar matanya malas.


Baru saja Ivan akan menyahutinya, suara ketukan di pintu membuat Ivan mengurungkan niatnya, tak lama kemudian pintu pun terbuka, setelah Arkan mempersilakan si pengetuk untuk masuk.


"Ar, ini laporan hasil meeting barusan, kamu bisa memeriksanya lagi, siapa tau ada yang mau diubah, sebelum proses penandatanganan," ucap Listi menyerah sebuh berkas pada Arkan.


Arkan mengambil berkas itu, dia tersenyum singkat pada Listi dan mulai memeriksa berkas itu dengan seksama, sedangkan Ivan menyipitkan mata, menatap curiga pada Arkan kemudian beralih pada Listi.


"Jangan bilang kamu senang karena kamu bisa terus deket sama si Lilis, jangan bilang juga kalian ada niatan untuk balikan. Kalau itu benar-benar terjadi, aku akan jadi orang pertama yang menentang hal itu!" Heboh Ivan sambil berdiri dan berkacak pinggang.


Arkan yang semula tengah serius dengan berkasnya itu menjadi terganggu karena kerusuhan yang Ivan ciptakan itu, dia hanya menatap sengit pada pria yang kini tengah memasang wajah galak padanya dan Listi itu.


Dia kemudian, mengambil gagang telepon dan menghubungi seseorang, dia berbicara pada orang di teleponnya itu agar datang ke ruangannya. Tak lama kemudian seseorang datang ke ruangannya.


"Ada apa Mas?" tanya Fara dengan heran.


"Bawa dia, jangan biarkan dia keluar dari ruangannya, biar tidak mengganggu pekerjaan orang lain!" tegas Arkan


"Iya Mas," sahut Fara, dia segera menarik tangan suaminya itu agar pergi dari ruangan itu.


"Pokonya ingat ya Ar, aku tidak akan ngasih kamu restu kalau kamu benar-benar niat balikan sama si Lilis!" teriak Ivan sambil berjalan mengikuti istrinya.


Sementara Arkan dan Listi hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan tamannya itu.


"Apa yang terjadi Ar? Kenapa dia sampai seperti itu?" tanya Listi dengan heran.


Dia tidak mengerti kenapa Ivan mengatakan hal itu, sedikit informasi, pria yang merupakan temannya itu, selalu memberikan peringatan pada Listi, agar dia tidak mencoba untuk mendekati Arkan.


"Entahlah." Arkan mengangkat bahunya.

__ADS_1


...----------------...


Lanjut besok ya, selamat malam dan selamat beristirahat para pembaca semunya, makasih untuk dukungan dari kalian semunya 🙏😘


__ADS_2