Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDDP. Part 83


__ADS_3

Nayna saat ini tengah dalam mood yang tidak baik, karena lagi dan lagi, dia mendapatkan tamu bulanannya, padahal dia sudah sangat mengharapkan jika dia akan hamil.


"kenapa hemm?" tanya Arkan yang tiba-tiba saja melingkarkan tangannya di perut Nayna, dagunya dia simpan puncak kepala Nayna.


Dia yang semula tengah mengurus pekerjaan di sofa yang ada balkon kamar mereka, mendengar istrinya beberapa kali menghela napas, sambil termenung di pagar balkon.


Ditambah dengan sikap istrinya yang dari bangun tidur lebih banyak diam, membuat dia heran, dia yakin ada yang tengah mengganggu istrinya itu.


"Tidak kenapa-napa Mas," sahut Nayna berusaha tersenyum sambil mengusap punggung tangan Arkan yang masih berada di perutnya.


"Bukannya kita udah sepakat, kalau ada apa-apa harus cerita, jangan simpen masalah apa pun sendiri, jangan ada yang dirahasiakan," ujar Arkan.


"Aku hanya sedikit sedih," sahut Nayna dengan nada pelan sambil menunduk.


Mendengar hal itu membuat Arkan dilanda kekhawatiran, dia kemudian langsung membalikkan tubuh Nayna hingga berhadapan dengannya.


Diangkatnya wajah Nayna yang semula tengah menunduk itu, menatap dalam mata indah yang selalu membuatnya betah menatapnya, mata yang selalu memberikan ketenangan untuk hatinya.


"Apa yang membuatmu sedih? Apa ada ucapan atau perlakuanku yang membuatmu sedih?"


Nayna tentu saja langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar ucapan suaminya itu, suaminya itu mana pernah membuat dia sedih.


"Kamu tidak pernah mengatakan hal yang membuatku sedih, apalagi melakukan hal yang membuatku sedih," sanggah Nayna dengan cepat.


"Terus apa yang membuatmu sedih? Jangan bohong jika memang kamu merasa tidak nyaman dengan sikapku yang membuatmu tidak nyaman, kamu katakan saja, biar aku bisa memperbaikinya," tutur Arkan yang memang selalu merasa takut, jika dia menyakiti istrinya tanpa sadar.


Seperti kejadian beberapa tahun lalu, di saat mereka belum saling mengungkapkan perasaan mereka, semenjak melihat Nayna menangis saat itu.


Dia sudah berjanji pada dirinya, jika itu pertama dan terakhir kalinya, dia melihat istrinya menangis karena kesalahannya.


"Tidak pernah Sayang, kamu tidak pernah membuatku tidak nyaman dengan sikap kamu, bagiku kamu tetap pria tampanku yang nyaris sempurna, tanpa celah," ucap Nayna yang sudah melingkarkan tangannya di leher Arkan.


Dia kemudian tersenyum, meyakinkan jika dia bukan merasa sedih karena suaminya itu.


"Benarkah, kamu tidak merasa sedih karena aku?" tanya Arkan menyakinkan.


Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Nayna, menatapnya dengan dalam.


"Iya." Nayna mengangguk dengan yakin.


"Syukurlah." Arkan pun bernapas dengan lega dengan jawaban itu.


"Terus apa yang menyebabkanmu sedih?" sambung Arkan yang masih penasaran.


"Aku sedih karena aku kedatangan tamu bulanan lagi," ucap Nayna dengan wajah yang kembali layu.

__ADS_1


"Bukankah itu hanya enam atau tujuh hari, tenanglah kamu tidak akan lama puasa," sahut Arkan sekenanya. Yang langsung mendapatkan cubitan di perutnya.


"Bukan itu yang membuatku sedih, kamu bilang gitu, seolah aku wanita mes*m yang hanya memikirkan masalah ranjang saja," rajuk Nayna.


"Terus apa yang membuatmu sedih, bukannya aku yang harusnya sedih ya," kekeh Arkan yang senang bisa melihat istrinya merajuk gemas seperti itu.


"Aku sedih karena aku berharap kita bisa segera mendapatkan kabar bahagia," sahut Nayna kembali menundukkan wajahnya lagi.


Arkan kembali mengangkat wajah Nayna, hingga mereka kembali saling menatap.


Dia memberikan senyuman manis pada istrinya, senyuman yang selalu bisa memberikan ketenangan pada Nayna, di saat dia tengah merasa sedih atau pun gundah.


"Bukankah aku sudah bilang, jangan terlalu memikirkan masalah itu, anak adalah anugerah, hadirnya tidak bisa terlalu kita pikirkan ataupun kita paksakan, jika memang kita dipercaya untuk itu, maka dia akan hadir tanpa kita duga sekalipun, aku tidak mau hal itu selalu membebani pikiranmu, bukankah sekarang ada Rezvan," tutur Arkan dengan lembut sambil merapikan rambut Nayna.


"Tapi dia itu beda," cicit Nayna.


"Beda apanya, tidak ada yang beda Sayang. Rezvan adalah anak kita, jangan mengatakan hal itu lagi, gimana kalau dia dengar dan dia ngerti dengan perkataanmu itu, dia pasti akan sedih dan beranggapan kamu tidak menginginkannya."


Arkan membawa Nayna ke dalam dekapannya, dia mengusap punggung istrinya dan memberikan kecupan lembut di kening, untuk memberikan ketenangan seperti biasa.


"Aku tidak berpikiran seperti itu, aku hanya merasa kita belum lengkap jika tidak ada anak di antara kita," ucap Nayna dengan nada pelan.


"Aku ngerti, tapi kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, sekarang fokus dulu saja padaku dan Rezvan, jika memang sudah waktunya pasti itu akan terjadi."


Nayna mengeratkan pelukannya itu, meskipun dia berusaha tidak memikirkan hal itu, tapi dia ingin memiliki anak bersama Arkan, agar dia merasa pernikahan mereka itu lengkap.


"Mungkin saja itu karena aku belum bekerja dengan keras, hingga belum jadi juga, gimana kalau nanti kita tambah waktunya," ucap Arkan sambil melepaskan pelukan antara mereka itu.


"Tidak perlu seperti itu juga," rajuk Nayna memutar matanya malas.


"Mungkin saja kalau lebih sering, lebih banyak juga kemungkinan akan jadinya," goda Arkan menaik turunkan alisnya.


"Stop jangan dilanjut lagi, aku membahas apa, Mas malah nyambungnya ke mana-mana!"


"Lho bukannya nyambung ya, adanya anak 'kan karena melakukan hubungan in—"


Nayna menutup mulut suaminya itu, agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Mas kenapa sih semakin lama semakin mes*m," ucap Nayna menatap Arkan dengan kesal.


"Tapi 'kan aku seperti itu, cuma sama kamu aja," sahut Arkan kembali menarik Nayna, merapatkan tubuh mereka.


"Tapi tidak setiap pembahasan, nyambungnya ke sana terus."


"Bukankah itu hal yang menyenangkan." Arkan mulai mendekatkan wajannya.

__ADS_1


Bermaksud menc*um Nayna, tapi segera ditahan oleh istrinya itu. Nayna menutup mulut pria itu menggunakan tangannya.


Nayna kemudian bergerak mendekatkan mulutnya ke leher Arkan, lalu membisikan sesuatu.


"Sayang, kamu harus puasa selama enam hari atau tujuh hari lho."


Nayna segera melepaskan dirinya dari pelukan Arkan, lalu berlari menjauh dari Arkan sambil meledek suaminya itu.


"Hampir aja lupa," gumam Arkan menepuk keningnya. Namun, melihat mood istrinya sudah kembali membaik, dia pun ikut tersenyum.


Setidaknya dia bisa membuat mood wanita kesayangannya itu kembali membaik lagi. Arkan pun pergi menyusul istrinya, pergi dari kamar, menuju ke lantai bawah dan melihat anaknya yang tengah bermain dengan Indah.


"Pa, lihat lesvan sudah bisa bikin lumah!" sambut Rezvan dengan antusias sambil menunjuk bagunan yang dibangunnya dari balok kayu.


"Wah anak papa memang hebat," puji Arkan sambil mengusap puncak kepala Rezvan yang tengah duduk di karpet.


"Iya dong, Lesvan," sahut Rezvan dengan bangga.


"Di mana Mamanya Rezvan?" tanya Arkan, pada Indah karena tidak mendapati istrinya itu.


"Taraa! Ini minuman sama cemilannya."


Belum sempat Indah menjawab pertanyaannya itu, orang yang dicarinya sudah menampakkan dirinya dari arah dapur dengan nampan yang berisi minuman dan cemilan.


"Eh Mas, kirain masih di kamar mandi," kekeh Nayna yang sengaja menggoda Arkan.


"Tidak sampai separah itu," sahut Arkan dengan santai.


"Kirain, seperti biasanya, baperan," sahut Nayna masih dengan kekehannya.


"Terus saja goda, enam hari ke depan, habis kamu Nay."


"Uhhh takut."


Mereka berdua terus berbicara dengan ambigu, serasa dunia milik mereka berdua, tidak memedulikan keberadaan Rezvan dan Indah yang pastinya bisa mendengar perdebatan mereka itu.


Meskipun Rezvan tidak mengerti dengan apa yang mereka perdebatkan itu, tapi berbeda dengan Indah yang kini berusaha tidak mendengar perdebatan itu.


...----------------...


Halo semuanya, buat para pembaca sekalian, aku mau minta tolong dong🙏


Tolong beri penilaian pada cerita ini yuk, kalau bisa beri bintang lima ya🤭


Beri penilaiannya di tempat yang aku tandai itu ya, gak membutuhkan waktu yang lama kok, setelah baca bisa langsung kasih rating kalian🙏

__ADS_1


Makasih 😘😘



__ADS_2