
"Apa yang mau bicarakan, kenapa tiba-tiba meminta Om untuk datang ke sini?" tanya Arkan pada pria yang jauh lebih muda darinya.
Pria yang tidak lain adalah keponakannya itu, tidak langsung bicara, tapi dia hanya terdiam, menatap Arkan dengan lamat, seolah ragu untuk bicara.
Melihat gelagat keponakannya yang seperti itu, Arkan sudah bisa menebak jika keponakannya itu, pasti telah melakukan kesalahan.
Setelah pulang dari rumah sakit dan mengantarkan Nayna pulang, Arkan langsung pulang ke rumah yang kini ditempati oleh keponakannya itu. Keponakannya mengiriminya pesan, jika dia ingin membicarakan sesuatu.
"Apa Om akan marah, kalau aku melakukan kesalahan?" tanya keponakannya itu masih menatap lamat Arkan.
"Tergantung, kesalahan seperti apa dulu yang kamu lakukan itu," sahut Arkan tenang.
Terlihat keponakannya, mulai membuang tatapan ke arah bawah, menghindari kontak mata dengannya.
"Katakan saja, bukankah Om sering mengatakan, lehih baik mengakui kesalahan secara berani, daripada terus menyembunyikan kesalahan, karena ujung-ujungnya juga pasti akan ketahuan," ucap Arkan masih menatap keponakannya yang menundukkan kepala itu.
"Sebenarnya sebelum kondisiku drop waktu itu, beberapa hari sebelumnya, aku sempat melakukan hubungan itu dengan pacarku," terang keponakan Arkan dengan suara pelan.
"Apa!" Kaget, tentu saja, setelah mendengar pengakuan yang keluar dari mulut keponakan yang telah dia jaga dari kecil itu, kagetnya bukan main.
"Apa yang kamu pikirkan Fasya, bukankah Om beberapa kali sering bilang, kamu boleh pacaran, tapi jangan sampai kelewat batas, apalagi sampai merusak anak orang seperti itu!" Arkan menatap keponakannya dengan kecewa.
"Maaf, Om. Semua terjadi begitu saja!" cicit keponakan Arkan, masih tidak berani mengangkat wajahnya dan melihat Om-nya.
Arkan mengurut pelipisnya, tiba-tiba saja dia merasa pusing, saat mendengar pengakuan keponakannya yang dia panggil Fasya itu.
"Terus sekarang bagaimana dengan pacar kamu itu?" tanya Arkan setelah beberapa kali menghela napasnya.
"Saat ini dia sedang hamil tapi ...."
"Tapi apa?" tanya Arkan cepat karena Fasya tidak meneruskan ucapannya itu.
__ADS_1
"Dia sudah menikah, dia juga mengatakan jika anak itu bukan anakku."
"Apa kamu percaya dengan ucapannya itu?" tanya Arkan.
"Entahlah Om, di sisi lain aku curiga itu anakku, tapi di sisi lain aku juga tidak yakin kecurigaan aku itu benar atau tidak, karena aku sendiri pernah lihat dia bersama dengan suaminya," terang Fasya.
"Kamu carilah dulu kebenarannya, jika dia memang hamil anak kamu, itu artinya kamu harus tanggung jawab." Final Arkan.
"Baiklah Om, nanti aku akan mencari tau kebenarannya, tapi kalau ternyata itu benar-benar anakku, aku harus gimana Om, maksudku, dia sudah menikah dan Om tau sendiri kalau umurku mungkin tidak akan bertahan lama lagi!" Fasya mengucapkan kata terakhirnya dengan lirih.
"Sesingkat apa pun, kamu tetap harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu itu, bertanggung jawab bukan berarti harus menikahinya, jika memang dia sudah bahagia dengan pernikahannya, biarkan saja, tapi yang terpenting bagimu sekarang adalah bertanggung jawab pada anakmu, jangan sampai kamu pergi dengan penyesalan," ucap Arkan mencoba memberikan masukan.
Jika memang kejadiannya sudah seperti itu, dia hanya bisa menasehati apa yang harus dilakukan oleh keponakannya selanjutnya, ketimbang menyanksi atas apa yang sudah benar-benar terjadi.
"Tapi, Om. Pacar aku sudah terlanjur membenci aku karena waktu itu aku tidak memberinya kabar sama sekali."
"Wajar, jika dia sampai marah dan itu adalah hal normal, dia pasti menjalani hidup yang tidak mudah, saat hamil dan pria yang menjadi pacarnya malah hilang tanpa kabar."
Fasya menganggukkan kepala, setuju dengan ucapan Om-nya itu, sedangkan Arkan, tiba-tiba saja menjadi kepikiran dengan Nayna saat membahas masalah keponakannya itu.
"Oh iya, bukankah tadi kamu habis dari rumah sakit, kapan waktu untuk melakukan kemoterapi lagi?" tanya Arkan mengubah arah pembicaraan mereka.
"Dokter menjadwalkannya lusa."
"Baiklah, Om akan usahakan untuk menemanimu lusa nanti."
"Aku capek Om, tiap saat harus kemo," keluhannya pada Arkan.
"Seandainya kita bisa melakukan operasi, Om pasti akan melakukannya, tapi kamu tau sendiri bukan, setelah melakukan tes, sumsum tulang belakang Om tidak cocok, jadi kita tidak bisa melakukan operasi," sahut Arkan yang sebenarnya juga merasa sedih dengan kondisi keponakannya itu.
Raffasya Ivander adalah keponakan Arkan yang telah dia rawat dari semenjak berusia 10 tahun, setelah kedua orang-tua kandungnya, sekaligus kakak dari Arkan yang telah meninggal.
__ADS_1
Arkan yang dari dulu merawat Raffa, kini telah menganggap anak itu, seperti anaknya sendiri, jujur setelah mendengar pengakuan keponakannya itu dia merasa kecewa karena ternyata anak yang dia besarkan telah melakukan hal itu.
Namun, dia tidak bisa menyalahkan Raffa sepenuhnya, karena mungkin dia juga ikut adil dalam hal ini, karena waktu itu dia sendiri yang mematikan ponsel Raffa saat keadaannya tiba-tiba saja drop karena penyakit yang dideritanya, sudah hampir beberapa tahun itu.
"Sekarang kamu istirahatlah, Om harus pulang," ucap Arkan sambil bangun dari sofa yang menjadi tempat duduknya.
"Om gak nginep saja, ini udah hampir tengah malam," ucap Raffa yang juga ikut berdiri dan menatap Arkan heran.
"Om harus pulang, kamu istirahatlah yang benar, lusa nanti Om pasti bakal temuin kamu di rumah sakit."
Raffa hanya mengangguk kilas, dengan ucapan Arkan itu, setelah itu Arkan pun mulai melangkah meninggalkan Raffa, sebelum benar-benar pergi, dia menemui Art di rumah itu dulu.
Art yang dia percayai untuk menjaga Raffa, karena saat ini kondisi Raffa terbilang cukup rentan drop, Arkan pun meminta keponakannya itu untuk tinggal di di rumah peninggalan kedua orang-tuanya, tidak mengontrak lagi.
Arkan segera meninggalkan rumah itu, saat dirasa keperluannya sudah selesai, hanya membutuhkan waktu 20 menit, akhirnya dia pun sampai di rumahnya, malam ini dia memutuskan untuk membiarkan motornya itu berada di luar.
Saat membuka pintu rumahnya itu, hal pertama yang dilihatnya adalah, Nayna yang tengah tertidur di sofa, dia yakin, jika bumil muda itu ketiduran saat menonton, karena saat ini televisi masih menyala.
Secara perlahan Arkan menutup pintu dan menguncinya, dia pun melangkah dengan langkah tanpa suara mendekati Nayna, karena takut Nayna pegel dengan posisi tidurnya itu, dia pun secara perlahan membangunkannya.
"Nay, bangun pindahlah ke kamar," ucap Arkan nyaris seperti bisikan, karena takut membuat Nayna kaget
Nayna yang merasa terusik pun, secara perlahan mulai menggeliatian badannya dan bangun dengan hati-hati, dia melihat ke sekeliling sambil mengucek matanya.
"Om udah lama pulangnya?" tanya Nayna dengan suara sedikit serak.
"Baru saja, aku membangunkanmu karena takut badan kamu pegal kalau tidur di sini terlalu lama," terang Arkan.
"Iya Om, makasih udah bangunin aku."
"Iya sebaiknya kamu kembalilah tidur di kamar."
__ADS_1
"Iya Om."
Nayna pun mulai turun dari sofa dan berdiri, tapi sayang kakinya keram, hingga membuat dia tidak dapat menyeimbangkan dirinya dan hampir terjatuh, jika Arkan tidak sigap menahan tubuhnya.