
Nayna menyingkap selimut yang membalut tubuhnya, dia bangun dari tidurnya dengan sangat hati-hati, semakin besar usia kandungannya, semakin terbatas juga ruang geraknya, karena hal itu menyebabkan dia tidak bisa bergerak dengan bebas lagi.
Setiap pergerakan yang akan dia lakukan harus dengan hati-hati dan harus diperhitungkan dengan baik, karena jika samapai salah, maka itu pasti akan berakibat pada kandungannya.
Alasannya bangun di malam-malam seperti itu adalah karena rasa haus yang menghampirinya, hingga membuat dia harus memaksakan dirinya untuk bangun dari mimpi indahnya itu.
Bumil itu pun membuka pintu kamarnya, tapi gerakannya yang akan menuju ke dapur harus terhenti karena melihat televisi yang masih menyala, bukankah saat dia melihat jam di ponselnya barusan sudah pukul dua.
"Om Arkan belum istirahat ke kamarnya," gumamnya sambil berjalan ke arah sofa.
Dia melihat suaminya itu tertidur dengan kepala yang berada di meja. laptopnya masih menyala pertanda jika pria itu tidak sengaja ketiduran, di sana saat tengah mengerjakan pekerjaannya.
"Bangunin tidak ya, kalau aku bangunin dia kayaknya kecapean, tapi kalau tidak dibangunin kasian, tidur seperti itu pasti tidak nyaman, mana dingin lagi," gumam Nayna menimbang-nimbang.
Apakah dia harus membangunkan Arkan yang tidur dengan posisi duduk di karpet seperti itu, atau membiaraknnya seperti itu, melihat dia terlihat nyenyak seperti itu, membuatnya tidak tega untuk mengganggunya.
"Aku ambilkan selimut dulu aja deh," gumamnya kemudian kembali melangkah menjauh dari sofa.
Dia berjalan ke arah kamar pria itu dan mengambil selimut yang terlipat dengan rapi di kasur miliknya, setelah itu membawanya ke sofa, lalu memakaikannya pada Arkan, agar pria itu tidak kedinginan.
Setelah menyelimuti Arkan, Nayna pun segera melanjutkan niat awalnya, yaitu mengambil minum untuk menyegarkan kerongkongannya yang terasa kering itu.
Setelah merasa kerongkongannya sudah lega, dia pun keluar dari dapur, bukan langsung menuju ke kamarnya, tapi dia berjalan kembali ke tempat di mana, Arkan tengah tertidur.
Dia mendudukkan dirinya di samping Arkan, memperhatikan wajah tenang dengan gurat kelelahan yang nampak itu dengan jarak yang cukup dekat, memperhatikan setiap lekukan wajah yang selalu terlihat tenang itu.
"Mimpi apa aku sebelumnya, sampai bisa ketemu sama Om? Aku benar-benar tidak menyesal karena mencintaimu, meskipun aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi orang yang pantas untuk berdiri di sampingmu yang nyaris sempurna itu."
Nayna bergumam sambil terus menatap Arkan, dia menyimpan kepalanya, di atas tumpukan tangan yang sengaja dia simpan di meja.
Saat tengah serius memperhatikan wajah Arkan, suara ponsel milik Arkan yang terletak di samping laptop yang masih menyala itu, membuatnya menegakkan tubuhnya dan bermaksud mengambil ponsel itu.
Dia tidak ingin Arkan merasa terganggu dengan suara dari ponsel itu, jadi berniat untuk menjawab panggilan telepon itu, tapi saat tangannya nyaris saja menggapai ponsel itu.
Tangannya tiba-tiba saja digenggam oleh si pemilik ponsel itu, secara perlahan dia pun mulai beralih menatap Arkan yang ternyata telah membuka matanya dan tengah memasang senyum manisnya.
"Maaf Om, bukannya mau lancang, tapi aku niatnya mau mengangkat telepon itu, agar Om tidak merasa terganggu," jelas Nayna karena tidak ingin Arkan beranggapan jika dia terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya.
"Kamu tidak lancang, apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga, kamu boleh-boleh saja, kalau kamu mau memeriksa ponselku," sahut Arkan sambil mulai mengangkat teleponnya.
__ADS_1
Sementara Nayna hanya diam, mendengar apa yang baru saja Arkan ucapkan itu, kata sederhana seperti itu, tapi mampu membuatnya terasa berbunga-bunga.
"Tadi aku ketiduran, ada apa?" tanyan Arkan langsung ke intinya pada si penelepon itu.
[Aku cuma mau ngasih beberapa tambahan, coba kamu cek lagi, apa kamu setuju atau tidak kalau kita menambahkan hal itu pada pembahasan di pertemuan besok]
"Baiklah nanti aku periksa," sahut Arkan yang langsung mematikan sambungan teleponnya itu.
"Siapa Om?" tanya Nayna saat Arkan menyimpan ponselnya ke tempat semula.
"Ivan," sahut Arkan, tersenyum lalu mencium punggung tangan Nayna yang masih berada digenggamannya.
"Om, tidak bisa lanjutkan pekerjaannya besok aja gitu, ini udah dini hari Om," ucap Nayna yang khawatir, karena melihat Arkan sering telat tidur.
Dia tidak tahu saja, jika sebelumnya Arkan memang selalu tidur malam, karena meskipun dulu dia kerja di restoran, tapi saat pulang dari restoran dia akan mengerjakan pekerjaannya hingga larut malam.
Hanya saja, biasanya dia akan mengerjakan pekerjaannya itu di kamar, jadi Nayna beranggapan jika Arkan di kamarnya untuk langsung istirahat setelah pulang bekerja.
"Aku hanya tinggal memeriksa email yang Ivan kirimkan saja, tidak akan lama lagi. Sebaiknya kamu saja yang kembali ke kamar dan istirahat," ucap Arkan.
"Tapi Om pasti udah kelelahan bekerja dari siang, bukannya malam waktunya untuk istirahat," ucap Nayna.
"Aku belum ngantuk, gimana kalau aku nemenin Om saja di sini."
"Tapi, kurang istirahat tidak baik untuk kesehatan kamu dan anakmu," tolak Arkan.
"Aku mau nemenin Om," sahut Nayna memasang wajah melasnya.
Sekarang dia tahu kelemahan suaminya itu, pria itu tidak akan bisa menolak apa pun yang diucapkannya, jika dia sudah memasang wajah seperti itu. Dan benar saja, pria dewasa itu menghela napas lalu menganggukkan kepala.
Salahkan dia yang paling tidak tahan, saat orang yang disayangnya memasang wajah melas, maka hatinya akan langsung luluh, hanya dengan tatapan melas seperti itu.
"Baiklah kamu boleh temani aku di sini, tapi dengan satu syarat." Arkan tersenyum padanya.
Nayna pun menatapnya dengan heran, lalu bertanya, "Syarat apa Om?"
"Mulai sekarang kamu harus mengganti panggilan kamu, jangan pakai embel-embel Om lagi," sahut Arkan.
"Terus aku manggil Om apa dong?" tanya Nayna menatapnya dengan polos.
__ADS_1
Demi apa pun, Arkan selalu merasa gemas, setiap kali istrinya tengah memasang wajah polos seperti itu, sampai-sampai ingin rasanya dia menerjang bumil itu saat ini juga, tapi dia harus ekstra menahan dirinya.
"Mulai sekarang kamu harus manggil aku dengan sebutan, Sayang," sahut Arkan membuat Nayna melotot tak percaya, jika dia akan meminta hal itu.
"Eummm apa itu harus Om, aku rasanya tidak bisa deh," sahut Nayna yang meragu.
"Bisa Sayang, kamu belum dicoba udah bilang tidak bisa."
Mata Nayna semkin membelalak tak percaya, mendengar apa yang baru saja Arkan ucapkan, Ralat. Panggilan baru yang suaminya itu sematkan untuknya.
"Sa–sayang," cicit Nayna dengan gugup.
"Tuh bisa, berarti sepakat ya, mulai sekarang panggilan kita berubah," ucap Arkan dengan rasa senang yang tidak bisa dia sembunyikan.
Kelakuan pria dewasa itu tidak ubahnya seperti Abg yang baru saja mengenal cinta, dia bahkan bicara seperti itu sambil memasang senyumannya, Nayna yang belum terbiasa dengan senyuman pria itu.
"Kenapa O– eh maksud aku, kenapa harus ganti nama panggilan?" tanya Nayan dengan heran.
Bukannya menjawab, tapi pria itu malah menepuk tempat di sampingnya, mengisyaratkan agar dia duduk di sampingnya agar Nayna semakin mendekat.
Nayna pun menurut, dia semakin mendekat pada ArkanArkan,a meskipun awalnya dengan menyisakan jarak di antara mereka, tapi suaminya itu malah menariknya agar lebih dekat, pria itu pun memasangkan selimut pada tubuhnya.
"Apa kamu yang menyelimutiku?" tanya Arkan.
"Iya," sahut Nayna sambil menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih," ucap Arkan sambil mendaratkan kecupan ringan di kening Nayna.
Untuk saat ini dia memang hanya berani melakukan sampai ketahap itu, untuk menunjukkan jika wanita di sampingnya itu benar-benar spesial untuknya, dia belum berani lebih karena takut kebablasan.
"Tapi, O– maksud aku Sayang, apa kita harus seperti ini?" tanya Nayna yang masih merasa canggung, saat dia terlalu dekat dengan Arkan.
"Aku tidak mau kamu sampai masuk angin karena nemenin aku," sahut Arkan.
Nayna pun akhirnya hanya bisa pasrah, dia berusaha menenangkan hatinya yang terasa berdesir, dengan posisinya itu. Hingga sebuah tendangan yang cukup kencang dari perutnya membuatnya sampai meringis.
"Kenapa?" tanya Arkan yang semula sibuk melihat ke arah laptopnya, beralih padanya saat mendengar ringisannya itu.
"Dia nendangnya kuat banget," sahut Nayna sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
...----------------...