
"Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya," ucap Arkan pada Nayna untuk yang ke sekian kalinya.
Dia benar-benar berat mau meninggalkan istrinya itu, tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya.
Selain karena perusahaan yang saat ini sudah mulai maju itu, merupakan jerih payahnya dari nol, ada ratusan karyawan juga yang mejadi tanggung jawabnya.
Jadi dia harus berusaha melakukan yang terbaik, untuk kemajuan perusahaan itu, demi masa depannya, juga demi ratusan karyawan yang telah bekerja keras juga.
"Iya Mas, nanti aku akan menghubungimu setiap saat," sahut Nayna tersenyum pada suaminya itu.
"Aku benar-benar tidak bisa meninggalkanmu," ucap Arkan lagi, lalu menarik tubuh Nayna ke dalam pelukannya.
"Mas jangan banyak pikiran ya, fokus saja sama pekerjaannya di sana saja," ucap Nayna mengusap punggung Arkan.
"Yuk, kita turun. Mas harus segera ke bandara, Pak Ridwan juga sudah siap," ucap Nayna, mulai melepaskan pelukannya dan Arkan.
Nayna menatap Arkan dengan intens, dia kemudian menyimpan ke dua tangannya di kedua pipi suaminya dan memberikan usapan lembut.
"Kamu pergi aja dengan tenang ya, aku akan baik-baik saja, aku akan menunggu Mas sampai pulang, lagian cuma lima hari atau seminggu kan?" Nayna terus tersenyum pada suaminya itu.
Arkan pun menatap Nayna dengan dalam, dia mulai bergerak mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu.
Akhirnya semua terjadi begitu saja, Nayna mematung tak percaya saat suaminya itu memangut bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Aku tidak sabar menunggu dia lahir," ucap Arkan saat menghentikan kegiatan singkatnya itu.
Sementara Nayna masih belum bisa mengendalikan dirinya, ini pertama kalinya Arkan melakukan hal itu dengan dirinya, karena biasanya pria itu hanya mencium keningnya saja.
Arkan memberikan jarak lagi pada mereka, dia kemudian berjongkok, menyamakan kepalanya dengan perut Nayna.
"Kamu baik-baik ya, Nak. Papa akan pergi dulu, kamu tunggu Papa kembali ya, Papa janji akan kembali secepatnya." Arkan berbicara dengan calon anaknya itu.
Dia memberikan usapan lembut di permukaan kulit perut yang terhalang kain pembungkus badan istrinya itu.
"Iya Pa, aku akan baik-baik saja. Papa semangat ya kerjanya," sahut Nayna seolah menjadi anaknya.
Arkan kembali berdiri dan tersenyum pada Nayna begitu pun sebaliknya, mereka sama-sama tersenyum hangat.
"Ayo kita turun," ucap Arkan sambil menggandeng tangan Nayna dengan sebelah tangan lainnya menyeret koper yang berisi barang-barangnya.
Mereka pun berjalan keluar dari kamarnya, menuju ke lantai bawah. Saat ini mereka sedang di rumah Ferdi.
Arkan sengaja meminta Nayna untuk tinggal di sana selama dia pergi, karena dia tidak akan merasa tenang jika istrinya tinggal di rumah sendirian.
__ADS_1
Jika di rumah orang-tuannya, setidaknya akan ada yang membantu istrinya itu, saat dia mengalami sesuatu, apalagi ke waktu persalinan sudah semakin mulai dekat.
Dokter sudah memperkirakan, jika waktu persalinan Nayna sekitar dua atau tiga minggu lagi, karena hal itu juga, dia sebenarnya berat meninggalkan Nayna.
"Ma, Pa. Arkan titip Nayna di sini ya, maaf kalau ngerepotin kalian," ucap Arkan pada mertuanya.
Winda dan Ferdi yang semula Tengah duduk di sofa pun mulai berdiri, lalu mendekati Arkan dan Nayna.
"Iya kamu jangan pikirkan tentang dia, dia ada kita yang urus, kamu yang fokus saja bekerjanya," sahut Winda.
"Iya kamu fokuslah pada pekerjaanmu," timpal Ferdi.
Papa dari istrinya itu, kini sudah bersikap lebih baik padanya, hingga dia tidak secanggung sebelumnya, saat berhadapan dengan papa mertuanya itu.
"Iya Pa, Ma. Kalau gitu Arkan berangkat dulu ya," pamit Arkan lagi.
"Iya hati-hatilah," sahut Winda dan Ferdi secara bersamaan.
"Biar aku anterin ke depannya Mas," ucap Nayna yang diangguki oleh Arkan.
Mereka pun berjalan keluar dari rumah itu, saat sampai di teras Ridwan sudah siap.
"Aku berangkat ya.'
" Iya Mas, kamu jaga kesehatan ya selama di sana."
"Iya Mas." Nayna mengangguk.
"Kalau hari ini mau ke rumah sakit, nanti aja berangkatnya kalau Pak Ridwan udah pulang lagi, jangan naik taksi apalagi bawa mobil sendiri," pepatah Arkan.
"Iya Mas, kamu mendingan berangkat sekarang deh Mas, nanti ketinggalan pesawatnya," ucap Nayna, lalu mengambil tangan Arkan dan menciumnya.
"Baiklah," sahut Arkan dengan menghembuskan napas berat.
Dia kemudian mencium kening istrinya, setelah itu baru memasuki mobil dan melambaikan tangan dengan membuka jendela mobil.
Setelah mobil yang membawa suaminya mulai menghilang dari balik gerbang yang sudah tertutup lagi, dia pun memasuki rumahnya.
"Ma, nanti kalau Pak Ridwan udah pulang lagi kasih tau aku ya," ucap Nayna pada mamanya.
"Memangnya kamu mau ke mana?" Winda menatapnya dengan wajah herannya.
"Aku mau ke rumah sakit, mau lihat kondisi keponakan Mas Arkan lagi," sahut Nayna.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu, gimana kalau mama juga ikut kamu?" tawar Winda.
"Terus nanti Papa sendirian di rumah?" tanya Nayna menatap mamanya dengan heran.
Mamanya itu memang jarang meninggalkan Ferdi di rumah sendirian. Selama ada Ferdi di rumah dia tidak akan pergi ke mana pun, karena papanya yang memang cukup posesif pada mamanya.
"Papa kamu mau pergi ke pabrik, katanya ada barang yang baru datang, jadi mau memeriksanya," ucap Winda.
"Baiklah kalau gitu, nanti Mama kasih tau aku aja kalau Pak Ridwan udah datang."
Setelah itu Nayna meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya, untuk bersantai di kamarnya itu sambil menunggu kedatangan Ridwan, meskipun pasti cukup lama.
Nayna mengambil sebuah novel dari salah satu koleksinya, untuk mengisi waktu luangnya itu, sebelum pergi ke rumah sakit.
...*******...
Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya Ridwan pun sudah sampai di rumahnya lagi, Nayna pun segera bersiap saat Winda memberitahu jika Ridwan sudah sampai.
Seperti apa yang diucapkan oleh Winda sebelumnya, dia mengikuti Nayna untuk pergi ke rumah sakit. Ibu dan anak itu pun berjalan beriringan keluar dari rumah dan langsung memasuki mobil.
"Keponakan suami kamu itu sebenarnya sakit apa?"
"Kanker darah," sahut Nayna.
"Oh," sahut Winda singkat, setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi itu pun telah sampai di rumah sakit tempat Raffa di rawat, Nayna segera menuju ke tempat Raffa, sedangkan Winda hanya mengikutinya.
"Sudah berapa lama dia koma?" tanya Winda.
"Sudah hampir dua minggu," sahut Nayna menengok sekilas ke arah mamanya yang berjalan di sampingnya.
"Sudah lama juga ya, apa ada kemungkinan dia bisa sadar lagi?" tanya Winda.
"Entahlah Ma, saat ini kita hanya bisa berharap ada keajaiban yang datang padanya," sahur Nayna dengan lemah.
Dia dan suaminya sangat berharap akan datangnya keajaiban itu, meskipun kemungkinannya sangatlah kecil, tapi sekecil apa pun itu pasti akan terjadi, bila Sang Pencipta menghendakinya.
Saat Sampai di ujung lorong icu, Nayna melihat art Raffa tengah mondar-mandir, wanita itu bergerak dengan gelisah, di depan ruangan icu.
Dalam hati dia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Raffa, dia tidak bisa menghadapinya jika sampai Raffa kenapa-napa, di saat suaminya tidak berada di sampingnya saat ini."
"Bi, apa yang terjadi? Kenapa Bibi terlihat tidak tenang seperti itu?" tanya Nayna pada Art itu, hingga membuat Art itu menghentikan gerakannya.
__ADS_1
Wanita yang hampir sebaya dengan mamanya itu, menatapnya lalu tersenyum, hingga membuat Nayna sedikit mengerutkan keningnya.
"Non, alhamdulillah. Den Raffa sudah sadar."