
"Om aku mau bicara dan aku tidak mau mendengar Om beralasan untuk menghindar lagi," ucap bumil itu dengan tatapan tegas pada Arkan.
Dia bahkan kini tengah menghalangi Arkan yang sudah siap untuk pergi ke kantor di depan pintu rumah itu, merentangkan tangan mungilnya untuk menutup jalan suaminya itu.
"Bicaralah," sahut Arkan setelah menghela napas panjang.
Sebenarnya saat ini bukan hanya alasan saja, dia ingin segera pergi dari rumah, tapi dari tadi Listi sama Ivan sudah menghubunginya dan mengatakan, jika perwakilan dari perusahaan luar negeri yang akan memulai kerja sama dengannya akan segera mendarat di ibu kota.
Itu artinya, dia sebagai direktur utama dari perusahaan yang dikelolanya, harus menemui klien yang cukup penting itu, untuk menunjukkan keseriusannya akan kerja sama itu, juga kesopananannya sebagai tuan rumah.
Namun, melihat bumil itu sepertinya sudah tidak bisa menunggu lagi, membuatnya mau tak mau, harus mendengarkan apa yang ingin bumil itu sampaikan, mungkin untuk beberapa menit, hingga wanita yang tengah menatapnya tegas dengan perut buncitnya itu merasa sedikit tenang.
"Om kenapa bersikap biasa saja, dengan kejadian semalam?" selidik Nayna.
"Aku memang sudah tau, tentang kamu dan Raffa," sahut Arkan membuat Nayna membelalak.
"Sejak kapan," ucap Nayna tak percaya.
"Sejak kapannya, aku akan ceritakan nanti. Tapi sekarang aku benar-benar harus pergi." Arkan berusaha memberikan pengertian pada Nayna agar mengijinkannya untuk pergi.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi!" tegas Nayna masih bertahan di tempatnya semula.
"Plis Nay, aku benar-benar harus pergi, aku benar-benar ada pekerjaan yang harus segera aku urus," desah Arkan frustasi, dia tidak bisa bersikap terlalu tegas pada bumil itu, karena dia tahu emosi istrinya saat ini sedang sensitif.
Nayna tidak bicara lagi, dia mulai menurunkan pandangannya, menatap lantai dan mulai menggeser, Arkan pun bermaksud akan keluar dari pintu itu, tapi Nayna membalikkan badannya dan menatapnya dengan mata yang sudah mulai berembun.
"Apa Om benar-benar pregi untuk masalah pekerjaan. Atau untuk menemui Mbak Listi, dalam rangka apa lagi sekarang? Mengantar anaknya ke rumah sakit, menemani anaknya jalan-jalan. Atau hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Mbak Listi, SANG MANTAN TERINDAH!" Nayna menekankan kata terakhirnya.
__ADS_1
Mendengar apa yang Nayna ucapkan itu, Arkan pun mengurungkan niatnya yang akan membuka pintu rumah, dia menghela napas sedalam-dalamnya, lalu kembali membalikkan badan, hingga berhadapan dengan Nayna.
Istrinya itu menatapnya dengan tatapan sendu, air mata sudah mulai jatuh secara beraturan dari pelupuk mata yang biasanya selalu terpancar indah itu.
"Apa Om memang mau kembali bersama dengan Mbak Listi lagi?" tanya Nayna dengan nada bergetar karena tangisan.
Arkan masih diam, tidak terlihat jika pria dewasa itu berniat untuk membalas ucapannya itu, hingga akhirnya beberapa saat terjadi keheningan di sana.
"Kalau memang Om mau balikan sama Mbak Listi, sebaiknya Om urus dulu perceraian kita, sekarang kandunganku udah cukup besar, aku bisa mengurusnya sendiri sekarang, tidak memerlukan perlindungan lagi."
Nayna memundurkan tubuhnya, hingga saat tubuhnya itu mentok di sofa, dia pun mendudukkan dirinya di sofa, lalu kembali menduduk, tidak berani menatap wajah Arkan Lagi.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal itu?" tanya Arkan yang akhirnya membuka suara, tanpa bergerak dari posisinya.
"Bukankah itu emang rencana aku sebelumnya, aku akan pergi dari kehidupan Om saat kandunganku sudah besar dan mungkin sekarang memang sudah saatnya," sahut Nayna dengan hati yang sangat berat.
"Apa kamu benar-benar menginginkan perpisahan itu?"
Nayna mengatakan itu dengan tangis yang benar-benar tidak dapat dia tahan, bahkan sampai sesegukan dengan kepala yang masih tertunduk, dia rasanya tidak sanggup untuk terus berusaha bersikap baik-baik saja.
Meskipun nanti dia dan Arkan berpisah, setidaknya dia akan berpisah dengan perasaan yang sudah cukup lega karena tidak memendam apa yang dirasakannya itu sendiri lagi.
"Aku tidak tau kenapa, tapi pikiranku selalu dipenuhi oleh Om, setiap apa yang Om lakukan selalu berputar-putar, menggangguku setiap saat. Aku juga tidak tau kenapa aku selalu merasa sedih dan sakit hati, setiap kali melihat Oma sangat perhatian pada Mbak Listi dan anaknya."
"Aku selalu mengangumi Om, apa pun yang Om lakukan dan katakan semua itu merupakan hal yang hebat bagiku, perhatian-perhatian kecil yang Om tunjukan padaku semakin lama semakin memupuk rasa kagumku itu terhadap Om."
Nayna meremas tangannya, isakan tangis masih terdengar, secara perlahan dia pun mengangkat wajahnya, kembali menatap Arkan yang masih belum beranjak juga dari tempatnya, hanya mata yang terus menatapnya dalam.
__ADS_1
"Om tahu tidak, di hari yang sama saat Om mengantarkan Liani ke rumah sakit, saat itu aku juga masih berada di sana, aku melihat dengan jelas bagaimana Om mengkhawatirkan anak itu."
"Dan aku saat itu aku merasa di sini rasanya sakit Om." Nayna menunujuk dadanya dengan tatapan terluka yang dia tunjukkan pada Arkan.
"Aku sedih karena Om terlihat lebih perhatian pada anak Mbak Listi, sementara selama aku di rumah sakit, Om seolah tidak peduli padaku dan anakku, aku rasanya ingin marah, tapi aku sadar, hak apa yang aku miliki untuk marah, hubungan kita hanya sebatas status, anak ini juga bukan anak Om—"
Nayna menghentikan ucapannya itu, dia kemudian beberapa kali menghela napas sedalam-dalamnya, mengisi oksigen di dadanya yang terasa sesak, seolah terhimpit oleh sebuah benda yang teramat besar.
"Maaf kalau Om selama beberapa bulan ini merasa terganggu dan terbebani atas kehadiranku di sini, terima kasih juga karena Om sudah memberikan tempat dan perlindungan untukku, di saat aku sedang berada di titik terendahku itu."
"Sekarang Om bisa bebas, kejarlah kebahagiaan Om, orang sebaik Om berhak mendapatkan kebahagiaan yang sudah Om idamkan!" lirih Nayna, suaranya kini semakin serak karena terus berbicara sambil menangis.
"Aku akan jujur pada orang-tuaku, tentang hubungan kita yang sebenarnya, tentang Raffa, juga tentang anak ini yang memang bukan anak Om, aku janji setelah ini aku tidak akan mengganggu kehidupan Om lagi, aku akan pastikan kalau aku akan pergi sejauh-jauhnya."
Arkan secara perlahan mendekati istrinya itu, dia kemudian berdiri tepat di depan Nayna, masih dengan tatapan intens, hingga membuat Nayna pun balik menatapnya, dia menikmati kebersamaannya dengan pria itu meskipun mungkin untuk sebentar lagi.
Secara perlahan, suaminya itu mulai bergerak, dia berjongkok hingga kini wajahnya dan wajah Nayna saling bertatapan dengan dekat, helaan napas lagi dan lagi dia lakukan.
"Sudah selesai bicaranya? Masih ada unek-unek lain lagi?" tanya Arkan dengan nada lembut.
Baru mendengar nada lembut itu saja, tangis Nayna kembali pecah, rasa tak rela untuk pergi dan tidak mendengar nada itu lagi kembali hinggap di hatinya, membuat dia tidak mampu rasanya untuk berpisah, padahal dari semalam dia sudah berusaha membulatkan tekadnya.
Namun, kini hatinya yang sangat lemah itu, kembali goyah hanya dengan beberapa kecap dari pria di depannya. Sebenarnya apa yang pria itu punya dan apa yang pria itu lakukan padanya, hingga dia bisa jadi seperti ini saat mereka berhadapan seperti itu.
Nayna pun menggeleng sambil menangis, seperti anak kecil yang mainannya direbut oleh temannya, atau saat orang-tuanya memarahinya.
"Bisakah aku bicara sekarang?" tanya Arkan lagi masih dengan nada lembut andalannya.
__ADS_1
Bumil itu ingin memaki pria yang si*lnya adalah suaminya itu, karena pria itu sudah membuat dia kembali tidak berkutik lagi, keberanian yang tadi hadir kembali lenyap, menguap begitu saja.
Seperti air yang menyiram api, hingga api itu padam. Begitulah perasaan Nayna saat ini, hatinya yang semula terasa panas dan sesak, langsung sejuk dan lega hanya dengan beberapa kata lembut andalan Arkan, apalagi saat pria itu tiba-tiba saja mengambil ke dua tangan yang sudah berkeringat dingin itu.