Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 101


__ADS_3

"Den Raffa, Non Mika, silakan masuk," ucap Karti begitu membuka pintu dan mendapati Raffa dan Mika yang tengah berdiri di depannya itu.


"Kata Om Arkan Rezvan sakit Bi?" ucap Raffa ketika mulai masuk ke dalam rumah omnya itu.


"Iya Den, tadi subuh badannya panas, barusan juga baru diperiksa oleh dokter yang Tuan panggil ke sini," terang Karti.


"Sekarang di mana Rezvan, apa dia di kamarnya?" tanya Raffa mencari keberadaan sang pemilik rumah itu.


"Iya Den Rezvan di kamarnya, barusan sedang ditemani oleh Non Nayna dan Indah," terang Karti.


"Baiklah, kalau gitu aku langsung ke kamarnya aja ya Bi," ucap Raffa sambil melanjutkan langkahnya, tidak lupa juga tangannya yang dari tadi menggandeng istrinya.


"Iya Den," sahut Karti yang sudah menghentikan langkahnya di dekat tangga.


Raffa pun berjalan membawa Mika ke kamar anaknya, tadi pagi dia memang menghubungi Arkan karena mau menanyakan masalah pekerjaan.


Setelah selesai membahas masalah pekerjaan itu, Arkan memberitahu padanya jika Rezvan tiba-tiba saja demam, karena khawatir dia pun mengajak Mika untuk datang ke sana.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan kamar yang pintunya terbuka, dari luar kamar itu terlihat Nayna sedang duduk pinggir ranjang kecil sambil mengusap dada Rezvan yang dibalut selimut.


Sementara Indah terlihat tengah memasukkan pakaian milik Rezvan ke dalam lemari yang terletak tidak jauh dari ranjang milik Rezvan.


"Nay," panggil Raffa membuat perhatian Nayna dan Indah teralihkan padanya.


"Raf, kamu udah dateng, kirain nanti sore datengnya," ucap Nayna pada Raffa, karena sudah tahu dari suaminya, jika ayah kandung dari anaknya itu akan datang ke sana.


"Iya aku pengen liat keadaannya, gimana kata dokter?" tanya Raffa berdiri ujung ranjang itu sambil menatap anaknya.


"Cuma demam biasa, sepertinya karena kemarin kita lama keluar rumah, kata dokter ini bisa jadi efek dari kecelakaan sebelumnya, hingga daya tahan tubuhnya tidak terlalu kuat," terang Nayna mulai berdiri.


"Apa itu bahaya?" tanya Raffa sambil mengalihkan pandangan ke arah Nayna.


"Tidak, hanya saja kita harus lebih memperhatikan kondisinya aja mulai saat ini, kata dokter juga nanti sore pasti demamnya menurun," terang Nayna lagi.


"Syukurlah kalau gitu." Raffa mengangguk dan bernapas lega.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara mereka, Nayna sudah mulai menjauh dari ranjang, memberi ruang pada Raffa agar bisa melihat anaknya dari dekat.

__ADS_1


"Nay aku ingin bicara," ucap Mika membuat perhatian Nayna teralihkan padanya.


"Ayo, kita bicara di luar aja, biar tidak mengganggu istirahat Rezvan," sahut Nayna pada Mika.


Mika pun mengangguk, dia kemudian pamit pada Raffa melalui isyarat matanya, lalu mengikuti Nayna yang sudah berjalan ke luar dari kamar anaknya itu.


Tidak hanya Mika dan Nayna yang keluar, tapi Indah pun juga keluar dari kamar itu, mengikuti mereka karena pekerjaannya sudah selesai.


Nayna meminta Mika untuk duduk di sofa yang terletak di lantai dua rumah itu, satu set sofa yang tidak jauh dari letak kamarnya dan kamar anaknya.


"Mbak tolong bantu Bibi siapkan minuman sama cemilan untuk kita ya," ucap Nayna begitu duduk di sofa, pada Indah.


"Baik Non, kalau begitu saya permisi dulu Non," pamit Indah menunduk sambil melangkah pergi.


"Apa yang mau bicarakan?" tanya Nayna saat hanya tersisa mereka berdua di sana.


"Aku mau minta maaf atas sikap-sikap aku padamu dulu," ucap Mika menatap Nayna yang duduk di seberangnya itu dengan serius.


"Aku juga mau minta maaf, karena aku juga selalu bersikap kurang menyenangkan padamu," ucap Nayna yang memang sadar, jika dirinya juga kadang berbicara dengan sedikit kasar pada Mika.


"Kamu tidak akan seperti itu kalau aku tidak selalu cari gara-gara sama kamu," ucap Mika dengan canggung.


"Sebenarnya apa sih yang membuat kamu tiba-tiba berubah seperti itu Mik, bukakah awalnya kita baik-baik aja?" tanya Nayna yang tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya itu.


"Apa aku ada buat salah sama kamu, sampai kamu tiba-tiba berubah drastis kayak gitu?" tanya Nayna lagi menatap Mika dengan serius karena tidak mendapatkan jawaban dari wanita itu.


"Sebenarnya kamu tidak salah, semua itu salah aku yang terlalu egois dan emosional saat itu," ucap Mika mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Maksudnya?" tanya Nayna yang tidak dapat mencerna isi dari ucapan Mika itu.


"Apa kamu ingat kapan aku mulai berubah?" tanya Mika kini menatap Nayna dengan serius.


Mendengar pertanyaan itu Nayna memutar pikirannya, kembali ke saat dia masih sekolah dulu, memikirkan kapan tepatnya Mika mulai menjauhinya.


"Jangan bilang–"


Nayna tidak melanjutkan ucapannya, begitu menyadari satu hal yang mungkin saja menjadi penyebab perubahan drastis sikap Mika itu, dia pun menatap Mika dengan intens.

__ADS_1


"Iya, aku mulai menjauhimu saat kamu mulai jadian sama Raffa," sahut Mika dengan suara pelannya.


"Jadi maksud kamu, kamu udah menyukai Raffa saat itu?" tanya Nayna berusaha meyakinkan.


"Iya, bahkan sebenarnya aku menyukainya dari saat kita masih duduk di kelas satu," terang Mika.


"Terus kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku sebelumnya," ucap Nayna dengan heran.


"Aku malu mau mengatakannya, apalagi saat kita kelas dua Raffa ternyata mulai kontekan sama kamu," terang Mika, membuat Nayna menganga tak percaya.


"Aku marah saat tau kamu jadian sama dia, karena kemarahan itu, akhirnya aku menjauhimu dan selalu mencari masalah denganmu, tujuannya untuk melampiaskan kemarahanku itu, maaf ya Nay," tutur Mika memasang wajah menyesalnya.


"Iya tidak apa-apa, aku ngerti posisi kamu saat itu, aku juga minta maaf ya, karena aku tidak peka saat itu, padahal kita berteman cukup lama, tapi aku malah suka membalas sikap kamu itu, bukannya mencari tau dulu kebenarannya."


Nayna pun menyesal karena hubungan mereka yang awalnya baik-baik saja, harus putus begitu saja hanya karena dia yang menjalin hubungan sama Raffa.


"Seharusnya aku tidak melakukan itu, seharusnya aku mendukung apa pun keputusanmu, tapi rasa iri sama rasa kecewa membuat aku melupakan tentang kita yang sudah berteman lama," ucap Mika lagi dengan menyesal.


"Sudah lupakan saja masalah itu, toh sekarang juga kamu sudah bersama dengan orang yang kamu suka itu,' sahut Nayna dengan santai.


Baginya tidak ada gunanya marah karena masa lalu, karena yang terpenting saat ini dia dan Mika bisa kembali berteman, karena sekarang mereka akan sering bertemu, jadi pasti tidak akan nyaman jika setiap ketemu saling cuek.


"Tunggu, jangan bilang pas waktu itu kamu bilang hamil, bukan hanya untuk menghindar dari papamu saja?"


Mika mengangguk, mengiyakan apa yang menjadi pemikiran dari Nayna itu, dia pun tersenyum samar.


"Awalnya niat aku murni karena itu, tapi saat Raffa bilang, kalau dia ingin menikahiku, aku memilih tetap diam membiarkan Raffa berpikir seperti itu."


"Tapi kamu sudah cerita belum soal itu padanya?" tanya Nayna dengan serius.


"Sudah, semalam aku mengatakan semunya, tidak ada lagi yang ditutupi-tutupi antara kita saat ini," ucap Mika dengan senang.


"Baguslah kalau gitu." Nayna ikut senang dengah hal itu.


Obrolan mereka harus terhenti karena kedatangan Indah yang mengantarkan minuman juga cemilan untuk mereka.


Kedua wanita yang baru saja berbaikan itu pun terus berbicara, panjang lebar, bercerita tentang kehidupan mereka akhir-akhir ini, hingga obrolan itu harus terganggu karena Rezvan bangun.

__ADS_1


__ADS_2