
Flashback.…
Saat mendapat kabar Nayna jatuh di kamar mandi, Arkan tidak bisa tenang, tapi dia sadar saat itu dia masih punya pekerjaan yang tidak bisa dia wakilkan pada Ivan atau pun Fara. Jadi meskipun hatinya tidak tenang, dia pun berusaha tetap profesional dengan tanggung jawabnya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia pun langsung ke rumah sakit tanpa pulang untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, meskipun saat itu sudah cukup malam, tapi tidak mampu mengurungkan niatnya itu.
Namun, begitu sampai di lorong tempat Nayna di rawat, dia yang semula berjalan dengan tergesa-gesa, langsung menghentikan langkahnya saat melihat Raffa di sana, keponakannya itu tengah duduk di kursi tunggu.
Dia pun segera bersembunyi di balik dinding dan mengambil ponselnya, berinisiatif mengirimkan pesan pada Raffa bermaksud untuk membuat Raffa pulang agar dia bisa masuk ke ruangan Nayna.
[Sya, apa kamu sudah istirahat?]
[Belum Om, aku masih di rumah sakit.]
[Kenapa? Apa kamu masih menemani mantan pacarmu itu.]
[Iya, aku mau nungguin dia di sini Om.]
[Tapi kamu juga harus jaga kesehatan kamu, apa kamu sudah minum obat?]
[Udah Om, tenang aja aku, kan selalu membawa obatku ke mana pun.]
Mendapat balasan seperti itu dari keponakannya, Arkan pun hanya bisa menghela napas dengan dalam, itu artinya laki-laki itu tidak akan pulang, akhirnya dia pun mengalah, dia menunggu dengan jarak yang cukup jauh dari Raffa agar keponakannya itu tidak menyadari keberadaannya.
Saat jam sudah menujukan jam dua malam, Arkan pun berjalan mendekati ruangan Nayna, dia kemudian masuk dengan langkah yang sangat hati-hati karena tidak ingin mengganggu Raffa dan Nayna yang tengah tenang dalam mimpinya.
__ADS_1
Arkan berdiri di samping brankar istrinya itu, menatap wajah tenang bumil itu, setelah beberapa menit menatap wajah tenang itu, dia pun mengalihkan perhatiannya pada buletan di perut Nayna.
"Kamu baik-baik saja, kan? Aku tau kamu anak yang kuat, maaf aku tidak ada saat mamamu membutuhkanku, kamu harus baik-baik saja ya," bisik Arkan berbicara tepat di depan perut Nayna.
Setelah puas berbicara dengan calon anak Nayna itu, dia tidak langsung pergi, tapi mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping ranjang, dia membenarkan selimut yang Nayna sedikit melorot.
"Maaf, kamu pasti akan membenciku saat ini, karena sudah mengabaikanmu tadi, tapi tadi aku benar-benar tidak menyadari kalau kamu meneleponku, aku lagi meeting, jadi ponselku aku silent."
Arkan menjelaskan kejadian saat siang hari, meskipun dia yakin jika Nayna tidak akan mendengar apa yang dikatakannya itu.
Akhirnya malam itu pun, Arkan sama sekali tidak memejamkan matanya, dia duduk di kursi tanpa bergerak ataupun bersuara sedikit pun. Hanya diam, tanpa mengalihkan tatapannya dati wajah Nayna.
Saat hari sudah berganti dari gelap ke terang, dia pun memutuskan untuk pergi dari sana, dia pulang ke rumah untuk mandi dan siap-siap untuk ke kantor, tapi sebelum ke kantor Arkan kembali lagi ke rumah sakit, berharap Raffa sudah pergi dari sana.
Flashback end….
Tangan Arkan yang semula menggenggam tangan Nayna mulai terangkat dan mendarat di pipi yang kini masih basah oleh sisa-sisa air mata itu, diusapnya pipi lembut itu dengan sangat hati-hati.
"Maaf, jika beberapa waktu ini aku udah bikin kamu merasa terabaikan, aku hanya butuh waktu untuk memahami apa yang hati aku inginkan sebenarnya, aku tidak ingin salah dalam bertindak ataupun mengambil keputusan. Jadi aku memilih untuk menghindar beberapa saat, sampai aku benar-benar yakin, jika pilihan yang akan aku ambil ini tidak akan menyakiti siapa pun lagi."
Nayna lagi-lagi hanya terpaku pada mata Arkan, saat pria itu terus saja berbicara, entah dirinya yang gampang terbawa perasaan dan mudah untuk terbuai, hingga hanya mendengar dan mendapat perlakuan seperti itu pun, dia merasa debaran di dadanya itu kian meningkat.
"Tapi ternyata, aku tidak menyadari, jika apa yang aku lakukan itu ternyata menyakitimu secara tidak langsung."
Nayna masih diam, dia saat ini sedang ingin mendengar apa yang akan pria itu katakan lagi. untuk menunjukkan tentang persaannya yang sebenarnya, meskipun pria itu telah banyak bicara, tapi dia masih ingin mendengarnya lagi.
__ADS_1
"Apa kamu mau kalau kita mencoba untuk menjalin hubungan denganku, bukan hanya hubungan yang di atas kerta semata, karena bagiku meskipun pernikahan kita terjadi karena alasan seperti itu, tapi itu tetaplah ikatan yang sangat sakral, meskipun pada awalnya aku juga memiliki niat sebatas untuk menjagamu saja, sampai kamu akan pergi sendiri, tapi semua itu telah berubah dengan seiring berjalannya waktu."
"Apa Om benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun pada Mbak Listi?" tanya Nayna.
Dia merasa perlu memperjelas masalah itu, dia tidak ingin saat dia dan Arkan memutuskan untuk membuka lembaran baru tentang kehidupan mereka, suaminya itu malah belum bisa menghilangkan masa lalunya itu.
Nayna tidak ingin saat dia menjalin hubungan dengan Arkan, ternyata pria itu malah masih memiliki perasaan untuk Listi. Dan berujung perpisahan antara mereka.
Meskipun saat ini dia sendiri, masih berhubungan dengan Raffa, tapi hubungan mereka tidak akan bisa seperti masa lalu, karena saat ini dia benar-benar sudah tidak memiliki perasaan yang dulu sempat hadir di hatinya untuk laki-laki itu.
Dia berhubungan dengan Raffa, murni hanya karena dia adalah ayah biologis dari anaknya, tidak pernah terpikir sedikit pun, jika dia akan kembali bersatu dengan Raffa, baginya mereka kini adalah dua orang yang hanya terikat oleh anak dalam kandungannya saja.
"Aku memang sangat mencintainya, karena dulu dia adalah orang yang selalu ada di sampingku selain Ivan, tapi itu dulu, bagiku saat ini dia sama seperti Ivan aku hanya menganggapnya teman, aku masih mensupportnya saat ini adalah sebagai bentuk balas budi karena dia juga telah menemaniku dan memberikan dukungan padaku saat aku sedang dalam posisi terpuruk dulu," terang Arkan sesuai dengan isi hatinya.
"Apa Mbak Listi juga seperti itu, bagaimana kalau ternyata dia saat ini memiliki perasaan pada Om lagi dan menyalah artikan perhatian Om padanya itu." Nayna bicara seperti itu dengan bibir yang mengerucut.
Mengingat bagaimana Listi dan Arkan yang begitu dekat, membuat dia selalu tidak senang, meskipun dia dapat melihat jika Listi adalah orang baik, tapi kita tidak akan pernah tahu isi hati seseorang.
Karena sedalam-dalamnya lautan masih dapat kita ketahui isinya, tapi sedangkal-dangkalnya hati manusia, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya ada di sana.
"Masalah itu, biar jadi urusannya. Yang penting saat ini aku tidak memiliki niat untuk mengulang kembali masa yang pernah kita lalui dulu, karena yang ingin aku lalui sekarang adalah berjalan bersamamu, menciptakan sebuah kenangan yang akan kita kenang sampai akhir dari perjalanan kita kelak."
"Jadi, maukah kamu membantuku mewujudkan mimpi itu, untuk menciptakan mimpi indahku di masa depan?"
"Apakah aku harus menjawab, Iya Om?" tanya Nayna yang merasa gugup.
__ADS_1
"Kamu bisa menjawab sesuai dengan kata hatimu, jika saat ini kamu memang masih belum yakin, maka berikan aku waktu untuk membuatmu menjawab IYA."