Berawal dari Pernikahan Paksa

Berawal dari Pernikahan Paksa
BDPP. Part 63


__ADS_3

"Sebenarnya kita mau ke mana sih, Yang?" tanya Nayna menatap suaminya itu dengan heran.


Bagaimana tidak heran, setelah pulang kerja, pria itu tiba-tiba saja mengatakan, jika dia ingin membawanya ke suatu tempat, tapi setelah dia bertanya beberapa kali, tidak ada jawaban sama sekali dari suaminya itu.


Keningnya semakin mengerut, saat mobil yang membawa mereka itu, memasuki sebuah gerbang yang telah dibukakan oleh seorang pria dengan baju security.


"Ini rumah siapa?" tanya Nayna yang masih menatap suaminya dengan heran.


"Nanti kamu akan tau sendiri, sekarang ayo kita turun dulu," sahut Arkan sambil tersenyum, seolah tidak memedulikan Nayna tengah penasaran itu.


Dia kemudian turun terlebih dahulu dari mobil itu, security yang mendekat ke arah mobilnya, berniat akan membuka pintu mobil untuk Nayna, tapi segera Arkan larang dengan isyarat matanya.


"Ayo."


Meskipun masih bingung, Nayna hanya menurut dengan turun dari mobil, memperhatikan sekelilingnya, di depannya berdiri dengan kokoh rumah yang terlihat cukup mewah berlantai dua dengan perpaduan cat warna emas dan putih.


"Ayo kita masuk," ucap Arkan menggandeng tangannya, berjalan menaiki undakan tangga menuju ke teras.


Nayna hanya menurut saat Arkan terus menggandengnya, menuju ke pintu berwarna putih bersih yang cukup tinggi dan besar itu. Dia memperhatikan Arkan yang mulai menekan bell.


Cukup sekali menekan bell, pinti itu langsung terbuka, menampilkan sosok wanita yang lebih tua dari mereka, wanita itu tersenyum ramah pada mereka, sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Selamat sore Tuan, Nyonya," sapa wanita itu dengan ramah.


"Sore," sahut Arkan mengangguk, lalu berjalan memasuki rumah itu.


Nayna memperhatikan sekeliling rumah itu, tidak terlalu banyak furnitur di dalam rumah itu, entah rumah siapa dan apa tujuan Arkan membawanya ke sana.


"Selamat datang di rumah kita," ucap Arkan menghentikan langkah mereka tepat di tengah-tengah ruangan yang begitu luas itu.

__ADS_1


"Maksudnya apa?" tanya Nayna yang masih belum memahami apa yang terjadi itu.


"Ini adalah rumah kita, rumah masa depan kita. Tempat kita akan menghabiskan waktu bersama," ucap Arkan menghadap padanya dan menggenggam ke dua tangannya.


Nayna menatap dalam mata Arkan, melihat pancaran cinta yang ada di sana, dia menyunggingkan senyumnya, tidak menyangka jika pria itu telah menyiapkan rumah semewah itu untuk tempat tinggal mereka ke depannya.


"Tapi, bagaimana Mas bisa menyiapkan rumah semewah ini. Rumah ini pasti mahal, apa Mas menyicilnya," sahut Nayna dengan polosnya.


Arkan yang merasa gemas dengan ucapan bumil kesayangannya itu, segera menarik bumil itu ke dalam pelukannya, beberapa kali memberikan kecupan di puncak kepala Nayna untuk melampiaskan kegemenasannya itu.


"Aku membeli rumah ini udah dari lama, hanya saja aku baru saja merenovasinya."


"Mas beli rumah sama renovasi rumah ini pasti perlu nabung yang cukup lama." Nayna mendongak dan masih menatapnya dengan polos.


Sementara Arkan hanya terkekeh, mendengar hal itu, dia merasa lucu dengan pikiran polos istrinya itu. Namun, dia baru ingat, jika sebenarnya dia memang belum memberitahukan tentang dirinya yang sebenarnya pada Nayna.


"Tidak terlalu lama juga, sih." Arkan menjawab sekenanya. "Oh iya ada hal lain lagi yang ingin aku tunjukan, ayo kita ke atas," ajak Arkan.


Ternyata itu adalah sebuah kamar yang cukup luas, dengan ranjang king size yang ada di sana, Nayna lagi dan lagi memindai kamar itu dengan seksama.


"Ini adalah kamar kita nanti," terang Arkan membuat Nayna tersenyum ke arahnya.


"Nanti kamu bisa mendesain kamar ini sesuai dengan keinginanmu," ucap Arkan.


Nayna berjalan mengitari kamar itu, menyentuh barang-barang yang belum tertata semuanya, karena seperti yang Arkan katakan, jika rumah itu memang baru selesai direnovasi jadi barang-barangnya belum tertata.


Arkan berjalan menuju ke sebuah tirai, dia kemudian membuka tirai itu dan membuka pintu kaca yang semula tertutup oleh tirai. Lalu meminta Nayna untuk mendekatinya, mereka pun keluar menuju balkon.


Nayna terpaku dengan tatapan takjubnya saat melihat ke arah bawah, dengan tangan berpegangan pada pagar balkon. Menatap danau buatan yang nampak indah dan asri dengan tatapan takjub.

__ADS_1


"Suka?"


Nayna menatap ke sampingnya, menatap Arkan kemudian mengangguk dengan antusias juga tersenyum lebar.


"Meskipun pada awalnya aku bingung, untuk apa aku beli rumah dengan halaman belakang yang cukup luas, akhirnya aku memutuskan untuk membuat itu, agar nanti kita bisa bersantai dengan menikmati pemandangan alam asri."


"Dan itu di sana, itu akan aku buat sebuah tempat untuk dia main nanti, jadi kamu bisa mengawasinya sambil bersantai di sana," tunjuk Arkan pada samping danau buatan, sebuah tempat baru saja akan dibangun lagi.


"Bukankah itu masih lama, kenapa harus dibangun dari sekarang," ucap Nayna tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu.


"Persiapan dari sekarang apa susahnya. Aku jadi tidak sabar menunggu dia untuk terlahir ke dunia," ucap Arkan lalu mengusap perutnya dengan lembut.


"Oh iya untuk kamarnya, ada di sebelah kamar kita tapi sekarang masih belum siap," sambung Arkan lagi.


"Terima kasih untuk segalanya, aku tidak tau harus membalas semua kebaikanmu itu dengan apa," ucap Nayna menghadap ke arah Arkan dan menatapnya dengan dalam.


"Kamu cukup membalasnya dengan berada di sisiku selamanya," sahut Arkan dengan senyuman tersungging di wajahnya.


Nayna pun secara refleks memeluk Arkan dengan erat, lagi dan lagi dia merasa bersyukur karena telah dipertemukan dengan pria yang tidak pernah berhenti memberikannya cinta juga kebahagiaan yang tidak pernah dia sangka akan datang padanya.


"Aku benar-benar tidak salah sudah karena mencintaimu, dan menitipkan hatiku padamu, pria yang nyaris sempurna di mataku," ucapa Nayna melingkarkan tangannya di pinggang Arkan.


"Aku pun tidak salah karena telah mencintaimu, aku mencintaimu sangat, sangat mencintaimu," sahut Arkan membalas pelukan itu, dia mengusap punggung Nayna dengan lembut.


Di senja yang berwarna oranye itu menjadi saksi dua insan yang kini tengah menikmati manisnya cinta yang mereka rasakan, dengan harapan manisnya cinta itu akan selalu mereka rasakan.


Meskipun kelak, akan ada sedikit guncangan yang akan hadir di tengah-tengah mereka, tapi mereka berharap, sekuat apa pun guncangan yang akan menghampiri mereka. Mereka akan mampu menghadapinya dengan terus saling berpegangan tangan dengan kuat dan tak tergoyahkan.


Mereka melepaskan pelukan mereka, lalu saling menatap dengan dalam, masih dengan background langit senja yang semakin menambah kesan romantis di antara mereka.

__ADS_1


Nayna merasakan kebahagiaan yang benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bukan karena materi yang Arkan berikan padanya yang membuatnya begitu bahagia seperti itu.


Namun, kehadiran pria itu dan usaha pria itu yang selalu berusaha membuatnya untuk bahagialah yang mampu membuat dia, benar-benar mengerti apa itu bahagia yang sebenarnya, sebanyak apa pun yang Arkan berikan padanya. Baginya tidak lebih membahagiakan daripada kehadiran pria itu sendiri.


__ADS_2